
Senyum tak luntur dari wajah Bintang. Setelah satu minggu lama nya terkurung di rumah, akhirnya hari ini dirinya sudah bisa kembali ke sekolah.
Sebenarnya Bulan beberapa kali menginap diumahnya. Namun tetap saja, Bintang merasa bosan jika Bulan pulang.
"Seneng banget sih". Juna yang berpapasan dengan Bintang menggodanya.
"Iya dong, udah kangen banget mau sekolah tau.." Bintang merangkul lengan kakaknya dengan manja.
"Kangen sekolah apa kangen sama Langit?". Bintang langsung melepaskan tangannya sambil melotot pada sang kakak yang justru tergelak keras melihat reaksi adiknya.
"Ish, apaan sih". Sungut Bintang dengan bibir mengerucut.
"Tuh, yang dikangenin juga ada disini". Bintang menoleh ke arah ruang makan, dan benar saja, Langit sudah ada disana mengobrol dengan ayah. Bintang melotot galak pada sang kakak yang semakin keras tertawa.
"Kakak apaan sih! Nanti dia denger dikira beneran Bintang kangen". Bisik Bintang mencubit lengan kakaknya keras membuat Juna mengaduh.
"Tapi kan beneran kangen". Juna senang sekali menggoda adiknya yang kini wajahnya sudah memerah. Entah karena memang ucapannya benar atau karena gadis kecilnya itu kesal ia goda.
"Kakak.." Rengek Bintang dengan wajah memelas. Membuat Juna tertawa kemudian mengelus kepala adiknya.
"Oke-oke, kakak diem". Keduanya melanjutkan langkah menuju meja makan.
"Tuh Bintang nya udah turun Lang.." Ucapan bunda membuat atensi Langit beralih.
Juna mengecup pucuk kepala istrinya yang sudah lebih dulu duduk diruang makan. Membuat Langit yang melihatnya tersenyum. Ia membayangkan jika dirinya juga akan melakukan hal romantis itu saat nanti menikah dengan Bintang.
"Lo ngapain pagi-pagi disini?". Pertanyaan Bintang membuyarkan angan Langit.
Langit tersenyum kecut, karena sepertinya tidak akan bisa bersikap romantis seperti apa yang Juna lakukan pada Naura.
Dari sikapnya jelas saja sudah berbeda jauh antara Naura dan Bintang. Terlihat dari cara Bintang berbicara menanyakan alasan keberadaannya.
"Mau jemput elo lah.." Sahut Langit santai.
"Gw kirain mau numpang makan". Juna mengulum bibir melihat interaksi keduanya yang tampak lucu dan menggemaskan.
"Bintang, kok gitu ngomongnya". Tegur bunda yang merasa tak enak pada Langit.
"Ya abis pagi-pagi banget udah disini bun". Sahut Bintang tanpa rasa bersalah.
"Maafin Bintang ya Lang..kalo ngomong emang suka gitu". Langit mengangguk ketika mendengar bunda meminta maaf.
"Nggak apa-apa kok, bun. Udah biasa.." Jawaban Langit membuat ayah dan Juna saling menatap dan tersenyum dalam diam.
"Ini nggak seberapa kok bun. Anak bunda ini bisa lebih sadis lagi ngomongnya. Calon menantumu ini sudah sangat terlatih menghadapi mulut tajam anak gadismu itu". Imbuh Langit, namun hanya hatinya yang bersuara.
__ADS_1
"Maaf ya Lang, bibirnya nggak ada rem sih". Bintang mendengus kesal mendengar ucapan kakaknya yang kembali menggodanya.
"Haha, nggak apa-apa kak. Aku udah kebal kok". Keduanya tertawa karena Bintang semakin terlihat memberengut.
"Sudah-sudah, ayo makan. Nanti kalian terlambat ke sekolah". Akhirnya semua kembali fokus pada makanannya masing.
Hingga setelah selesai, semua pamit untuk menjalankan aktivitas mereka. Juna dan ayah yang akan ke kantor, dan Bintang bersama Langit akan ke sekolah.
"Bintang pergi dulu yah, bun.." Pamit Bintang sembari mencium punggung tangan kedua orang tuanya diikuti Langit yang melakukan hal yang sama.
"Kalau ada yang mengganggu disekolah, bilang pada ayah". Pesan ayah pada putrinya.
Bintang hanya mengangguk saja agar ayah nya puas dan tenang.
"Emangnya sekarang siapa yang bakal berani gangguin Bintang, setelah tahu siapa Bintang??". Mungkin itu yang terlintas dipikiran Langit dan Bintang saat ini saat mendengar pesan ayah.
"Ayah nggak usah khawatir. Bintang bisa jaga diri kok". Ucap Bintang menenangkan.
"Ayah percaya. Apalagi ada Langit sekarang". Ayah menepuk pundak tegap Langit beberapa kali sambil tersenyum.
"Ayah titip Bintang ya, Lang". Langit langsung mengangguk cepat sebagai jawaban. Tanpa diminta pun, Langit akan menjaga Bintang. Karena saat ini Bintang prioritas utamanya selain belajar dan bersekolah.
"Kita berangkat dulu yah, udah siang". Bintang segera mendorong punggung Langit setelah kembali berpamitan.
"Pegangan dek. Yang kenceng". Teriak Juna saat kedua anak muda itu sudah duduk diatas motor.
"Bintang udah gede ya yah.." Dua laki-laki beda usia itu masih menatap lurus ke depan, padahal Bintang dan Langit sudah melesat pergi.
"Iya, gadis kecil kita sudah dewasa sekarang". Bunda dan Naura yang mendengarnya hanya tersenyum.
Kedua wanita itu tahu betapa berartinya Bintang bagi hidup mereka. Dan betapa besar kasih sayang suami mereka itu pada Bintang.
Sementara Langit, pemuda itu baru saja menarik tangan Bintang agar berpegangan padanya.
"Pegangan. Ntar jatuh kan gw yang disalahin". Bintang berdecak namun mengikuti ucapan Langit dengan berpegangan pada perut rata pemuda itu.
Bintang baru melepaskan pelukannya saat motor yang dikendarai Langit sudah dekat dengan sekolah mereka.
Bintang sudah membayangkan kehebohan seperti apa nanti yang akan terjadi saat dirinya sampai. Jangan ditambah dengan posisinya yang memeluk Langit. Bisa satu tahun tidak habis dibahas oleh teman-temannya.
Dan benar saja, sejak Bintang turun dari motor hingga kini ia dan Langit berjalan menuju kelas mereka, Bintang menjadi pusat perhatian teman-temannya yang lain.
Banyak yang menyapa dirinya dengan ramah. Bahkan yang tidak ia kenal pun menyapa dirinya dengan sangat ramah.
Bintang sudah menduga hal ini pasti akan terjadi, namun tetap saja ia merasa tidak nyaman dengan perubahan sikap teman-temannya yang lain.
__ADS_1
"Nggak usah diliatin. Kalo nggak nyaman nggak usah disahutin". Langit tahu pasti Bintang tidak nyaman melihat perubahan sikap semua orang.
Bintang menoleh, menatap Langit yang selalu tahu apa yang membuatnya tidak nyaman. Pemuda itu tengah menatapnya dengan tersenyum.
"Aaah!! Lo mikirin apaan sih! Dasar Bintang gila!". Bintang mengumpati dirinya yang belakangan selalu memuji ketampanan Langit dan segala sikapnya pada Bintang.
"Gw tau kok, gw emang cowok idaman banget sih. Ganteng, kaya, pengertian lagi. Iya kan?". Bintang kembali menolehkan kepalanya dengan tatapan tak percaya.
"Cih.." Hanya berdecih tanpa ada niatan untuk menimpali kepercayaan diri Langit yang juga setinggi namanya.
"Hai Bintang..lama nggak ketemu, lo makin cantik aja". Bintang menghela nafas panjang saat Arsen mencegatnya, berdiri tepat didepannya.
Dan Bintang tahu, akan seperti apa kelanjutannya jika Arsen dan Langit bertemu, sementara dirinya ada diantara keduanya.
"Hah.." Menghela nafas kasar saat melihat Langit sudah berdiri didepannya, berhadapan dengan Arsen.
Seperti dugaannya, dua pemuda itu akan berdebat dan merasa paling memiliki hak atas Bintang yang kini memilih meninggalkan keduanya.
"Tu orang berdua bikin kepala gw pusing". Gerutu Bintang sambil berjalan menuju kelasnya.
"Bibin!!!", Sudah jelas siapa pemilik suara itu, karena hanya satu orang yang memanggilnya dengan panggilan itu.
"Aaaaaa..kangen banget". Bulan memeluk Bintang erat. Meskipun beberapa kali menginap, namun Bulan merindukan saat-saat bersama disekolah.
"Lebay!". Mendorong kening Bulan perlahan kemudian tergelak. Sementara Bulan mencebik sambil mengusap keningnya yang sebenarnya tidak apa-apa.
"Nyari apaan?". Tanya Bintang yang melihat Bulan celingukan seperti mencari sesuatu.
"Lo berangkat sendiri? Nggak bareng Langit?". Tanya Bulan yang tidak melihat Langit. Padahal biasanya Langit bagaikan bayangan Bintang yang akan selalu ada dimanapun Bintang berada.
"Bareng.." Sahut Bintang melanjutkan langkahnya yang masih terus diiringi tatapan teman-teman sekolahnya. Entah apa yang mereka bisikkan dan bicarakan. Bintang tidak mau ambil pusing.
"Terus kemana tuh bocah?". Tanya Bulan lagi, ia masih penasaran dimana keberadaan Langit.
"Tuh.." Bintang menunjuk lorong didekat parkiran yang masih terjangkau oleh pandangan mereka berdua.
"Lagi persiapan jadi presiden. Tuh lagi debat". Bulan menyipitkan matanya, melihat dengan siapa Langit sedang berbicara.
"Hemh, pantesan". Gumam Bulan yang mengenal sosok yang terlihat tengah berdebat dengan Langit.
"Kelas yuk". Ajak Bintang yang langsung dijawab anggukan kepala oleh Bulan.
...¥¥¥•••¥¥¥...
...Satu dulu ya manteman😊😊...
__ADS_1
...Semog suka ya..maaf kalau ceritanya kaya bertele-tele, tapi beneran othorny udah mikir maksimal ini da🤭😁...
...Happy reading reader sekalian..sarangheo banyakbanyak😘😘🥰♥️💐...