
Saat ini semua orang sudah duduk di ruang tamu kecuali Juna dan Naura. Kehamilan Naura yang sudah memasuki trimester ketiga membuat wanita itu mudah lelah.
Sejak tadi Bintang hanya diam dengan kepala terus menunduk. Bahkan ia terpaksa duduk bersebelahan dengan Langit yang sejak tadi terus memasang senyum terbaiknya pada semua orang. Sangat berbanding terbalik dengan Bintang yang tampak tidak bersemangat sama sekali.
"Lo cantik banget.." Bintang langsung menoleh saat Langit berbisik memuji dirinya. Wajahnya sedikit merona mendengar pujian Langit hingga membuatnya segera memalingkan wajah.
Bintang memilih menatap bunda dan mommy Sekar yang terlihat sangat akrab seperti orang yang sudah lama saling mengenal.
Kedua ibu itu memang sudah akrab satu sama lain meski baru beberapa kali bertemu. Mommy Sekar yang humble dan bunda yang ramah membuat keduanya cepat akrab meski ini baru pertemuan ketiga mereka.
"Mereka akrab banget.." Gumam Bintang yang melihat sang bunda terlihat sangat bahagia ketika mengobrol dengan mommy Sekar.
"Iya, udah cocok banget kan kalo besanan?". Bintang mendelik saat Langit kembali berbisik.
Deheman ayah membuat semua orang berhenti mengobrol dan memfokuskan mata mereka pada ayah.
"Sesuai apa yang paman dan papa pernah bicarakan sebelumnya. Kita semua berkumpul disini untuk menjalankan apa yang papa dan paman janjikan dulu.." Ayah menjeda ucapannya untuk melihat reaksi semua orang termasuk putrinya.
"Apa paman tidak keberatan jika malam ini hanya sekedar mengenalkan mereka berdua?". Kakek Wira tersenyum dan mengangguk.
"Meskipun mereka sudah saling mengenal, tapi biarkan mereka mengenal lebih dalam pribadi masing-masing sebelum kita bicarakan kelanjutan hubungan mereka". Kakek Wira berbicara dengan tenang sambil menatap Langit dan Bintang.
"Diantara kalian berdua..apa ada yang keberatan untuk mengenal lebih dekat satu sama lain?". Pertanyaan ayah membawa angin segar untuk Bintang. Bukankah jika ia menjawab keberatan, maka perjodohan ini akan mudah dibatalkan? Begitu pikir Bintang.
"Tidak om..sama sekali tidak. Iya kan, Bintang". Bintang menelengkan kepalanya untuk menatap Langit yang juga tengah menatap dirinya.
Langit tersenyum, namun dibalik senyumnya itu, Bintang tahu ada sebuah ancaman di baliknya.
"Iya kan?". Tanya Langit lagi masih dengan senyumnya. Dan akhirnya Bintang mengangguk meski samar.
Kedua keluarga nampak bernafas lega karena tidak ada kendala berarti pada acara malam ini kecuali rencana kaburnya Bintang yang dapat digagalkan.
"Good girl.." Bintang bisa membaca dengan jelas gerak bibir Langit. Dalam hati ia memaki Langit.
"Kenapa nggak dari dulu aja gue terima perjodohan ini. Kalo tau yang mau dijodohin ama gue itu Bintang, nggak usah repot-repot nolak gue". Batin Langit yang tersenyum sangat manis pada Bintang.
Berbeda dengan Bintang yang bibrinya komat-kamit, dan Langit yakin jika gadis itu tengah mengumpati dirinya.
Entahlah, Langit tidak peduli. Bahkan jika harus mengancam Bintang sekalipun, akan Langit lakukan. Kali ini Langit tidak akan mundur. Semesta sudah mendukung dan memudahkan langkahnya. Ia tak akan menyia-nyiakan kesempatan kali ini untuk meluluhkan hati Bintang dan memiliki gadis itu.
Obrolan berlanjut. Para lelaki mulai membahas perihal pekerjaan dan bisnis mereka yang tengah maju.
Sementara bunda Ratih dan mommy Sekar terlihat mengobrol ringan tentang hobi dan kegemaran mereka yang rupanya sama-sama senang membuat kue. Kirani juga tak kalah antusias membahas hobinya yang juga membuat aneka jenis kue.
Sedangkan Bintang dan Langit hanya diam mendengarkan obrolan para orang dewasa yang tak semuanya bisa ia pahami.
__ADS_1
"Ayo.." Bintang menoleh saat Langit mengulurkan tangannya.
"Ada yang mau gue omongin". Alis Bintang berkerut. Firasatnya mengatakan jika Langit pasti akan membahas tentang statusnya sebagai putri seorang Laksmana.
"Ngomong aja disini". Bintang berpura-pura acuh, hingga membuat Langit tersenyum miring.
Langit kembali duduk disamping Bintang dan kini mendekatkan wajahnya ditelinga Bintang.
"Lo yakin mau gue ngomong disini?". Bintang berjengkit saat hembusan nafas hangat Langit menerpa telinganya. Membuat bulu kuduknya berdiri karena ulah si titisan biawak itu.
Bintang mendengus kesal. Saat ini dirinya ada diposisi lemah karena Langit sudah mengetahui semua rahasianya. Ia tak memiliki kekuatan untuk menolak jika ingin Langit tetap bungkam.
"S*al!". Umpat Bintang lirih namun Langit masih bisa mendengarnya. Langit hanya mengulum bibir menahan senyum melihat wajah masam Bintang.
"Ayah.." Ayah Henry yang sedang mengobrol dengan daddy Prabu dan kakek Wira serta Dewa menoleh pada Bintang.
"Ada apa nak?". Tanya ayah Henry lembut. Langit bisa melihat bagaimana besarnya kasih sayang ayah Henry kepada Bintang.
"Ehm..Bintang mau ngobrol sama Langit di luar ya". Ayah Henry dan semua yang mendengar tersenyum dan kemudian mengangguk.
Bintang berjalan lebih dulu diikuti Langit. Langkah keduanya disertai tatapan gemas para orang tua yang melihat interaksi Bintang dan Langit.
"Sepertinya lebih mudah dari yang kita bayangkan". Daddy Prabu membuka suara setelah memastikan anak-anak muda itu keluar.
"Tidak sesulit bayangan kita rupanya". Timpal ayah yang disambut tawa daddy Prabu dan kakek Wira.
"Ya..sangat menggemaskan". Bukan bunda, namun mommy Sekar yang menjawab.
"Biarkan saja dulu sampai mereka merasa nyaman dengan keberadaan satu sama lainnya". Bunda tersenyum lembut, sejak pertama melihat Langit, bunda sudah tahu jika pemuda itu memiliki perhatian lebih pada putrinya. Dan saat itupun, Bintang juga terlihat berbeda jika berinteraksi dengan Langit.
"Kamu benar jeng..Sepertinya tanpa dipaksa pun mereka akan menerima semua ini". Bunda mengangguk membenarkan ucapan mommy Sekar. Ia juga berpikiran sama seperti monmy Sekar.
Bintang menghempaskan bokongnya di kursi yang ada di teras rumahnya, diikuti Langit yang duduk disebelahnya.
"Ish, ngapain sih duduk sini. Tuh disana ada kursi nganggur". Bintang melirik salah satu bangku yang masih kosong.
"Lo nggak akan batalin perjodohan ini kan, Bin?". Tanpa menggubris omongan Bintang, Langit justru mengajukan pertanyaan yang membuat Bintang bingung harus menjawab apa.
"Bintang.." Panggil Langit karena Bintang memalingkan wajah darinya.
"G-gue nggak tahu". Sahut Bintang tanpa menatap Langit. Karena ia yakin jika saat ini Langit pasti tengah menatap dirinya.
"Jangan pernah berpikir buat batalin perjodohan ini, Bin. Karna semua rahasia lo ada sama gue". Bintang langsung menoleh pada Langit yang saat ini tengah tersenyum padanya.
"S*alan!". Umpat Bintang saat apa yang ia takutkan benar-benar terjadi.
__ADS_1
"Dan lo kira gue takut sama ancaman lo?". Bintang berpura-pura menggertak. Namun Langit juga tak mau kalah.
"Ya nggak apa-apa sih kalo elo nggak takut". Bintang terus mengumpat dalam hati. Ia memang tak takut jika semua tahu siapa dirinya. Ia hanya malas harus berhadapan dengan orang-orang bermuka dua yang suka menjilat.
Langit benar-benar mengetahui kelemahannya. Entah apa lagi yang direncanakan si titisan biawak itu untuk Bintang.
"Tunggu! Apa mau lo?". Bintang menahan lengan Langit saat Langit sudah berdiri.
Langit yang tengah membelakangi Bintang tersenyum penuh kemenangan saat rencana awalnya berjalan dengan mulus.
"Nggak banyak.." Feeling Bintang mengatakan jika apa yang akan diminta Langit jelas tidak akan mudah ia lakukan.
"Jangan pernah coba buat gagalin perjodohan ini. Apapun alesan lo". Langit kembali duduk dan langsung menatap Bintang yang kini mengerjap bingung.
"Hanya itu? Hanya itu yang dia mau? Tidak mungkin.." Batin Bintang menatap intens wajah Langit. Ia tidak percaya jika Langit hanya menginginkan dirinya untuk tidak membatalkan perjodohan ini.
"Mulai sekarang, lo nggak akan bisa ngejauh dari gue, Bintang. Nggak akan pernah bisa". Batin Langit yang merasa senang karena bisa membuat Bintang menurut.
Keadaan kembali hening setelah keduanya sama-sama diam dengan pemikiran mereka masing-masing.
"Perasaan gue nggak berubah, Bin. Dan gue nggak main-main sama omongan gue". Ucap Langit yang saat ini menatap lurus ke depan.
Bintang menoleh, menatap Langit dari samping. Dan s*alnya, lelaki itu tetap terlihat tampan dari sisi manapun Bintang menatapnya.
"Gue tau kalo gue ganteng sih..jadi nggak usah terpesona gitu". Bintang berdecak kesal mendengar Langit yang sangat percaya diri itu. Sikap tengilnya kembali terlihat setelah beberapa saat lalu wjaah lelaki itu terlihat sangat serius.
"Tapi gue serius sama omongan gue Bin.." Bintang kembali menoleh saat Langit menggenggam tangannya.
"Jadi lo..harus siap-siap kejebak sama gue buat selamanya". Langit mencuri kecupan singkat di bibir Bintang lalu masuk kedalam rumah, meninggalkan Bintang yang mematung.
Bintang mematung, bahkan saat Langit sudah masuk kedalam rumah. Lagi dan lagi, laki-laki yang dulunya sangat ia benci itu berhasil mencuri kecupan dari bibirnya
"Tiga kali.." Gumam Bintang meraba bibirnya dengan tangan yang sedikit gemetar.
Bintang mengedarkan pandangannya ke seluruh halaman. Memastikan tidak ada yang melihat apa yang baru saja Langit lakukan pada dirinya.
Bintang baru bisa bernafas lega saat meyakini tidak ada orang selain dirinya disana saat ini. Bahkan bayangan Alex pun tidak ia lihat. Setidaknya dirinya aman.
"Ayo masuk..mau gue cium lagi". Tiba-tiba kepala Langit menyembul keluar membuat Bintang berjingkat karena kaget.
"Cantik deh kalo kaget gitu". Goda Langit sambil mengedipkan sebelah matanya, kemudian masuk sebelum sepatu yang Bintang pakai melayang dan mengenai kepalanya.
...¥¥¥•••¥¥¥...
...Lagiiii...jangan bosen ya kalian🤭😂🙏🏻...
__ADS_1
...Mumpung lagi semangat banget nih nulisnya..semoga kalian semua suka🥰...
...Happy reading☺️☺️ sarangheo sekebon kalian semua🥰😘😘😘♥️💐💋...