
Sam memarkirkan asal mobilnya dan segera turun kemudian berlari memasuki club dimana calon istrinya berada.
Sepanjang perjalanan ia terus memaki dirinya sendiri dengan segala kebodohan dan kecerobohannya yang membiarkan Bulan sendiri tanpa pengawasannya.
Sampai didalam, Sam disambut dengan dentuman musik yang begitu keras dan juga beberapa wanita pakaian minim yang mendekati dirinya.
Mengacuhkan semua itu, matanya menyisir seluruh ruangan untuk mencari posisi kekasihnya.
Tak menemukan Bulan, Sam kembali mencari. Hingga kerumunan banyak orang dan seruan membuat dirinya segera berlari mendekat.
Membelah orang-orang yang berdiri mengelilingi sesuatu, perasaan Sam semakin tidak karuan. Ia takut terjadi sesuatu yang buruk pada calon istrinya.
Jika sampai Bulan kenapa-kenapa, ia tidak akan pernah bisa memaafkan dirinya sendiri. Jika Bulan terluka, maka itu semua adalah kesalahannya.
Sam melihat dua orang wanita tengah adu jambak ditengah-tengah kerumunan. Matanya menelisik dengan jeli, berharap bukan Bulan salah satu diantaranya.
Dan ia bisa bernafas lega saat meyakini bukan calon istrinya yang tengah adu jambak diatas lantai itu.
Matanya kembali menyisir sekitar kerumunan. Menemukan yang ia cari, Sam segera mendekat dan menarik Bulan kedalam dekapannya.
"Kamu nggak apa-apa??". Tanya Sam memeriksa seluruh wajah dan tubuh Bulan. Bahkan membalikkan tubuh gadis itu untuk memastikan jika calon istrinya baik-baik saja tanpa lecet sedikitpun.
"Aku baik-baik aja, Sam.." Bulan memegangi kedua tangan Sam yang sibuk membolak-balikkan badannya.
"Tapi Bintang.." Mata Bulan menatap dua wanita yang masih asyik berkelahi diatas lantai.
Sam terdiam sesaat kemudian menatap dua wanita yang tak menghiraukan semua orang disekelilingnya itu.
Pantas seperti tidak asing, rupanya Bintang sudah lebih dulu datang dibanding dirinya.
"Ternyata aku masih kalah cepat". Batin Sam menarik sudut bibirnya hingga membentuk sebuah senyuman.
Hingga kini Sam memang tidak pernah menang jika mengenai Bulan dan segala yang dipikirkannya. Karena Bintang masih menjadi orang yang paling mengerti bahkan saat Bulan tidak mengatakan apapun.
Bahkan mungkin jika saja tadi Bintang tidak menelponnya, ia masih duduk tenang bersama teman-temannya.
Melihat beringasnya Bintang menampar dan mencakar wanita yang tak ia kenali itu, Sam bisa menduga jika pasti wanita itu sudah membuat Bulan nya terluka hatinya atau tersinggung.
"Pisahin mereka, Sam.." Pinta Bulan yang mulai terlihat khawatir saat sekilas melihat wajah Bintang terluka.
"Biarin aja.." Acuh mengatakannya dan kembali memeluk Bulan yang terlihat melotot kesal.
"Sam..!" Tegur Bulan yang membuat Sam menghela nafas.
Baru satu langkah Sam maju, sudah ada orang lain yang menarik Bintang dan memeluknya. Memilih kembali ke samping Bulan saat sudah ada yang memegangi Bintang.
"Laki-laki itu.." Gumam Sam yang merasa tidak asing dengan wajah lelaki yang tengah memeriksa wajah dan tubuh Bintang.
"Kak Alvaro.." Gumam Bintang yang membuat Sam menoleh.
"Aaah, iya. Alvaro.." Berkata pelan sambil menganggukkan kepalanya saat mengingat sosok lelaki yang saat ini masih terus menanyakan keadaan Bintang.
Sementara Langit dan yang lain baru sampai dan sudah disuguhi pemandangan yang mampu menggores kembali hati Langit.
__ADS_1
Bagaimana tidak, terlihat jelas Bintang tersenyum pada Alva yang terlihat begitu mencemaskan dirinya.
Arsen dan Roman mendekati Sam, sementara Langit, mematung ditempat yang tidak terlalu jauh dari tempat keributan berasal.
"Astaga, Bintang. Ini wajah kamu.." Panik sendiri sambil meringis saat melihat beberapa luka menghiasi wajah Bintang.
Pakaian Bintang? Jangan tanyakan lagi. Sudah acak-acakan sama seperti rambut dan wajahnya saat ini.
"Ayo ke rumah sakit.." Alva sudah menggenggam tangan Bintang dan siap membawanya.
"Haha, ngapain ke rumah sakit kak?". Malah tertawa saat Alva ingin membawanya ke rumah sakit.
"Luka kamu perlu diobatin, Bintang". Gemas sendiri rasanya Alva karena Bintang malah cengengesan.
"Tidak ada yang boleh keluar dari tempat ini. Kalian semua, ikut saya!". Seorang pria dengan penampilan necis yang disampingnya ada dua orang bodyguard menatap geram Bintang dan juga semua yang terlibat dalam kekacauan ini.
Bintang menoleh pada Alva yang juga menatap dirinya. Keduanya sama-sama mengangkat alisnya sambil mengendikkan bahu.
Dan disinilah mereka berada saat ini. Disebuah ruangan tertutup di lantai dua gedung club itu. Semua orang dipaksa ikut, termasuk Langit juga Arsen dan Roman yang bahkan tidak tahu apapun.
"Aku nggak salah! Dia yang ngajak ribut duluan!". Sandrina menuding Bintang yang duduk bersebelahan dengan Alva.
"Lihat! Luka aku lebih banyak dari perempuan gila ini!". Teriaknya lagi lebih nyaring.
"Enggak! Dia yang mulai nampar temen saya duluan". Jelas Bulan langsung membela. Bintang berada ditempat ini karena menolongnya.
"Kamu kan temannya. Pasti belain dia lah". Suaranya tak merendah sedikitpun. Malah semakin keras.
Langit yang sudah hendak bergerak kembali menghentikan langkahnya. Alva sudah lebih dulu membalut tubuh Bintang dengan jaket miliknya.
Langit mencengkeram kuat jas yang ada ditangannya. Mengapa sekarang rasanya ia selalu kalah dari Alva. Dalam hal apapun ia merasa jauh tertinggal dari laki-laki bernama Alva itu.
Remasannya semakin menguat saat melihat Bintang tersenyum dan mengucapkan terimakasih pada Alva. Meski tidak mendengar, namun Langit bisa melihat dengan jelas bibir itu bergerak.
Keributan yang ada didepannya kini tidak mampu membuatnya mengalihkan pandangannya dari Bintang.
"Semua kerusakan yang ada akan saya ganti". Semua langsung menatap Alva yang tiba-tiba bersuara.
"Kak.."
"Berapa nomor rekening anda?". Tanya Alva yang tidak menghiraukan panggilan Bintang.
"Saya suka yang seperti ini". Seringai licik muncul dibibir pemilik club.
Ia menyodorkan tangannya pada seorang pria besar yang berdiri dibelakangnya.
"Kak.." Bintang menahan tangan Alva yang siap meraih ponsel pemilik club untuk melihat nomor rekeningnya.
"Dia yang mulai duluan. Jadi biar perempuan ini yang ganti rugi". Bukan perkara uangnya, tapi Bintang tidak mau mengganti sesuatu yang bukan kesalahan darinya sepeenuhnya.
"Biarin aja. Kita harus cepet pergi, luka kamu harus cepet diobatin". Alva tetap meraih ponsel pemilik club meski Bintang menahannya.
Bintang melebarkan matanya saat mendengar nominal yang disebutkan oleh pemilik club. Benar-benar aji mumpung dan meminta ganti rugi dengan nominal yang bisa dibilang gila.
__ADS_1
"Jangan seenaknya dong pak. Ini sih namanya pemerasan". Otak kalkulatornya langsung bekerja cepat.
"Jadi masalah ini sudah selesai kan?". Ucapnya sambil menyerahkan kembali ponsel pemilik club dan menunjukkan bukti transfer.
Kembali menyeringai saat dengan mudah mendapatkan uang dengan nominal gila dari hasil ganti rugi yang sebenarnya tidak seberapa kerusakan yang diakibatkan keributan tadi.
"Kak, tapi itu namanya pemerasan dong". Masih tidak terima dan hendak merebut ponsel dari pemilik club. Namun Alva cepat menahannya.
"Kami bisa pergi?". Bertanya pada pemilik club yang hanya mengibaskan tangannya tanpa menatap mereka. Matanya sibuk menatap layar ponselnya.
"Ayo.." Alva menarik tangan Bintang, tak peduli dengan tatapan membunuh ceo nya yang sejak tadi tak lepas menatap Bintang.
"Anggap saja ini pembalasan dariku karna kau sudah membuat gadis yang aku sayangi ini menangis". Batin Alva sambil melirik Langit yang terlihat menahan kekesalan.
"Tapi kak..." Masih enggan meninggalkan ruangan itu karena merasa sayang pada uang banyak yang dikeluarkan Alva akibat ulahnya.
Alva terus menarik lembut tangan Bintang yang masih terus nyerocos membicarakan uang yang sudah ia berikan pada pemilik club tadi.
Diikuti Bulan dan Sam juga Langit. Sedangkan Roman dan Arsen dimintai tolong Sam untuk mengurus wanita bernama Sandrina yang sudah berniat melukai Bulan.
Alva menarik resleting jaketnya hingga kini menutup sempurna tubuh Bintang. Melindunginya dari dinginnya angin malam.
"Mana nomor rekening kakak? Aku ganti uang yang tadi.." Menyodorkan tangannya kedepan muka Alva.
tuk..
Sebuah sentilan yang cukup membuat Bintang meringis mendarat sempurna di keningnya. Jelas siapa pelakunya, karena sudah pasti Alva.
"Lain kali jangan kaya gitu, ngerti?". Bibir mungil Bintang mengerucut karena diomeli oleh Alva.
"Ini bukan masalah uangnya. Tapi keselamatan kamu.." Beralih memasangkan helm ke kepala Bintang yang masih diam.
"Kalau perempuan tadi ternyata lebih nekat terus bikin kamu lebih terluka gimana?? Kamu nggak mikirin ayah sama bunda kamu? Mereka pasti khawatir.." Panjang lebar menasehati Bintang.
"Aku tahu Bulan sahabat baik kamu. Tapi dia juga tidak akan mau kalau sampai kamu terluka.."
"Jadi lain kali, jika ada hal seperti ini. Bilang dulu sama aku..kita bisa selesaikan semua tanpa kamu harus terluka. Mengerti??". Akhirnya mengangguk patuh saat menyadari semua yang dikatakan Alva benar adanya.
"Iya, maaf.." Menunduk penuh penyesalan.
"Naik, kita pulang.." Mengangkat wajahnya dan menatap Alva yang sudah menatap dirinya penuh kehangatan.
"Pamit sama Bulan dulu, boleh?". Alva terkekeh sambil menepuk pucuk kepala Bintang.
Semua yang dilakukan Alva dan Bintang bagaikan drama yang tidak ingin Langit lihat. Hatinya tercabik berkali-kali melihat bagaimana kedekatan yang semakin terlihat antara Bintang dan Alva.
"Sakit sekali..rasanya sakit sekali".
...¥¥¥•••¥¥¥...
...Sakit banget ya Lang??🥺🥺 Maafin othor ya Lang..nggak akan lama-lama kok Lang..nanti langsung dibikin bahagia☺️...
...Yang sabar ya Lang, othornya lagi pengen kejam ke kamu🙏🏻😂😂😂...
__ADS_1
...Kemarin udah kejam ama Bintang dibikin sedih enam tahun lamanya, sekarang gantian dulu ya🙏🏻🙏🏻🤭🤭...
...Kreji up terus pokoknya, ampe ikutan kreji😂😂😅 Happy reading semua😘☺️☺️...