Langit Untuk Bintang

Langit Untuk Bintang
Kesaksian Bulan


__ADS_3

"Tunggu disini, dan jangan membuat keributan". Peringat pak Budi saat mereka sudah sampai didepan ruang BK.


"Baik pak". Kompak Bulan dan yang lain menjawab.


"Ayo Bintang.." Bintang mengangguk kemudian mengikuti pak Budi yang sudah berjalan dibelakangnya.


Bintang menghela nafas panjang, mencoba meredam emosinya saat melihat wajah Catherine. Orang yang sudah membuat sahabat berharga nya terluka bahkan kesulitan berjalan. Ingin sekali Bintang membalas Catherine saat ini.


"Sini dek.." Kiran langsung melambaikan tangan begitu melihat adik iparnya.


Luka nya sudah diobati, beberapa yang terlihat lebih parah sudah ditutup plester luka oleh Langit. Rambut Bintang pun sudah terlihat lebih rapi dari saat pertama Kiran melihatnya tadi.


"Astaga, banyak banget lukanya.." Gumam Kiran yang menyentuh luka Bintang dengan lembut. Tatapan matanya menyiratkan kekhawatiran mendalam.


Namun tatapan lembut penuh kekhawatiran itu berubah tajam saat menatap Catherine yang langsung menundukkan kepalanya saat tidak sengaja bersitatap dengan Kirani.


"Kenapa bu Kiran serem banget sih". Batin Catherine yang sebenarnya sudah ingin menangis.


"Baik, karena yang bersangkutan sudah berkumpul semua. Mari kita mulai saja pembahasan tentang permasalahan ini.." Bu Ety selaku guru BK memulai pembicaraan.


"Sebelumnya maaf bu, kami disini bukan sebagai anak dari pemilik sekolah ini. Kami disini sebagai kakak, wali dari Bintang". Juna menjelaskan agar bu Ety tidak sungkan.


"Iya bu. Jadi ibu bisa menjalankan tugas ibu semestinya tanpa terbebani dengan siapa kami ini. Begitu juga dengan pak Baskoro, saat ini beliau tidak sedang menjabat sebagai kepala sekolah. Beliau hanya wali dari murid bernama Catherine". Pak Baskoro menelan kasar salivanya ketika matanya bersirobok dengan mata tajam Juna dan Dewa. Ditambah tatapan tidak bersahabat Kiran.


"Baik pak..saya akan bersikap adil tanpa melihat siapa mereka dan apa statusnya. Sebelumnya terimakasih atas pengertian bapak-bapak semua". Bu Ety tampak sangat lega mendengar ucapan Juna maupun Dewa.


Tadinya bu Ety memang merasa terbebani. Satu sisi, Catherine adalah anak kepala sekolah yang selalu menggunakan kekuasaannya. Di sisi lain ada Bintang, yang kini jelas statusnya adalah putri bungsu pemilik sekolah dimana dirinya menggantungkan hidup.


Bu Ery merasa kagum dengan keluarga Laksmana. Padahal bisa saja mereka langsung memecat pak Baskoro dan mengeluarkan Catherine dari sekolah. Toh sekolah itu milik keluarga mereka. Namun mereka lebih memilih menyerahkan semuanya pada guru yang bertanggung jawab daripada menggunakan status mereka untuk berbuat semaunya.


"Pantas saja Bintang menjadi gadis kuat dan rendah hati seperti ini. Dia dibesarkan di keluarga hebat". Batin para guru yang ada diruangan itu.


Pak Budi menatap kagum sosok murid kesayangannya itu. Tidak salah memang kalau Bintang menjadi salah satu murid favoritnya.


Kini pak Budi bertambah kagum setelah mengetahui siapa Bintang. Semua kejadian yang Bintang alami selama ini masih teringat jelas di kepala pak Budi. Bagaimana bisa gadis itu tetap diam sementara statusnya bisa digunakan untuk membungkam orang lain? Itu yang kini pak Budi pikirkan.


"menurut Catherine tadi, Bintang yang menampar Cath lebih dulu..apa benar Bintang?". Tanya bu Ety tegas, dan dijawab anggukan kepala Bintang tanpa ragu.


"Apa alasannya?". Tanya bu Ety


"Karna Catherine melukai Bulan bu". Sahut Bintang santai.

__ADS_1


Juna dan Dewa saling lirik. Mereka tahu, bukan masalah foto yang menjadi alasan utama Bintang mengamuk. Pasti semua karena Bulan yang terluka.


"Bulan? Kenapa dengan Bulan?". Tanya Bu Ety lagi.


"Kakinya terkilir, sekarang memar dan sedikit bengkak". Bintang menghunuskan tatapan permusuhan pada Catherine yang tak berani lagi menatapnya.


"Benar begitu Cath?". Kini bu Ety beralih pada Catherine.


"Eng-enggak bu. Saya nggak ngapa-ngapain Bulan, tadi---"


"Nggak ngapa-ngapain gimana?!! Kaki Bulan bengkak gara-gara elo!!", Bentak Bintang yang sudah berdiri membuat Catherine lansung bersembunyi dibalik punggung ayahnya.


"Tenang dek.." Dewa menarik lengan Bintang agar kembali duduk. Sementara Kiran mengelus punggung adiknya yang terlihat naik turun menahan kesal.


"Coba ceritakan, kenapa bisa Bulan terluka". Bu Ety meminta Catherine bercerita, menurut versi nya tentunya.


Catherine tetap mengelak, dan mengatakan jika tidak sengaja membuat Bulan terluka. Dan itu semakin membuat Bintang kesal dan meradang.


"Bulan ada didepan bu, perlu saya panggilkan?". Tanya pak Budi yang langsung membuat bu Ety menatapnya.


"Kenapa nggak dari tadi sih pak! Ini saya udah senam jantung dari tadi". Mungkin itu arti tatapan bu Ety pada pak Budi.


"Oh iya pak, bawa Bulan kesini. Kita harus mendengar cerita dari semua pihak". Akhirnya pak Budi keluar untuk memanggil Bulan.


"Mau masuk lah pak". Sahut keduanya santai.


"Kalian belum diperlukan. Sekarang hanya Bulan yang dipanggil". Mendesah pelan, Langit dan Sam kembali duduk. Sementara Bulan ikut masuk kedalam ruangan dengan berpegangan pada pak Budi.


"Hati-hati Bulan.." Peringat pak Budi saat keduanya masuk kedalam ruang BK.


"Awas Bul, pelan-pelan". Ucap Bintang yang langsung bangun dan menghampiri Bulan.


"Kaki kamu gimana?". Tanya Juna pada Bulan.


"Udah mendingan kok, kak". Bulan tersenyum meyakinkan. Karena memang kakinya sudah jauh lebih baik dibandingkan tadi.


"Bulan.." Panggilan bu Ety mengalihkan perhatian Bulan.


"Iya bu.." Bulan duduk dengan sikap sempurna. Duduk tegak dan siap mendengar semua pertanyaan yang akan diajukan oleh bu Ety.


"Bagaimana kaki kamu bisa terluka? Apa Cath yang melakukannya?". Tanya bu Ety lembut.

__ADS_1


Dan mengalirlah cerita Bulan dari pertama melihat foto yang ditempel di mading sekolah hingga memicu keributan antara dirinya dan Catherine.


"Foto? Foto apa?". Tanya bu Ety yang memang belum mendengar soal foto yang diceritakan Bulan.


"Ini bu. Tadi ada murid yang sudah mengamankannya dan diserahkan pada saya sebagai bukti". Catherine semakin menunduk, semua bukti dan saksi jelas memberatkannya.


meskipun Bintang bersalah karena menampar dirinya lebih dulu. Namun dirinya lah yang membuat keributan ini dengan menyebar foto dengan dibumbui berita palsu.


"Astaga! Apa-apaan ini Cath?!", Bu Ety memegang beberapa lembar foto yang didalamnya sudah terdapat beberapa coretan.


"Jadi ini pemicu masalah ini?". Bu Ety langsung menyerahkan lembaran foto saat Kiran mengulurkan tangannya untuk melihat juga.


"Apa-apaan tulisan ini! Berani sekali kamu menghina adik saya!". Bentak Kiran yang terlihat sangat marah setelah membaca coretan didalam foto.


"Sayang.." Peringat Dewa pada sang istri.


"Ini keterlaluan mas! Tulisan disini benar-benar menjatuhkan harga diri Bintang! Aku nggak terima mas". Dewa menghela nafas panjang, harusnya tadi ia tidak mengajak istrinya itu. Karena rasa sayang Kiran, pasti wanita itu menjadi yang paling tidak terima jika ada yang membuat Bintang terluka.


"Iya, aku tau---"


"Baca mas! Kalau mas Dewa nggak marah itu berarti mas Dewa aneh". Bintang mengulum bibirnya menahan tawa. Kakak iparnya adalah wanita dewasa anggun dan cantik. Tapi kenapa jadi menggemaskan jika sedang mengamuk.


Dewa menerima foto yang diberikan Kiran. Sesaat kemudian foto itu sudah tak berbentuk karena ia remas hingga kusut.


Kini tatapan matanya tajam menusuk tepat mengarah pada Catherine.


'sugar baby, gadis polos simpanan laki-laki beristri'


Itu baru salah satu dari sekian banyak coretan yang ada dalam foto. Melihat Dewa marah, bu Ety jadi panik sendiri. Ia menatap pak Budi untuk meminta bantuan.


"Saya mohon, bapak dan ibu tenang dulu.." Suara pak Budi memecah keheningan.


"Mungkin ini memang sudah sangat keterlaluan, dan bapak harap, kamu mau meminta maaf pada mereka Cath". Pak Budi menatap Catherine.


"Cepat minta maaf sebelum semua orang terkena imbas dari ulahmu". Jika bisa berkata, ingin sekali pak Budi menyuarakan isi hatinya.


"Bukan cuma aku yang salah, Bintang udah nampar aku duluan tadi". Masih saja bisa menjawab, Membuat Dewa dan Juna kesal.


"Tapi pak Baskoro tadi menampar Bintang". Dewa dan Juna menatap Bulan, kemudian menatap pak Baskoro dengan sorot mata membunuh.


...¥¥¥¥•••¥¥¥¥...

__ADS_1


...Segini dulu ya..kita nantikan nasib si kucing ama bapak kucing😆😆...


...Happy reading, sayang readers banyakbanyak🥰😘😘💋💐♥️...


__ADS_2