Langit Untuk Bintang

Langit Untuk Bintang
bertemu lagi


__ADS_3

"Ayo aunty.." Keponakannya sudah kembali bersama sang mama yang dirangkul mesra oleh papanya.


"Oke, let's go". Seru Bintang menggenggam tangan mungil Revan.


"Tangan kamu kecil banget sih". Ucap Bintang sambil meremas lembut tangan Revan yang kini bibirnya langsung manyun. Padahal tangan Bintang juga termasuk tangan yang mungil untuk ukuran tinggi seperti dirinya.


"Nanti kalau Revan udah besar, pasti tangan aunty yang kelihatan kecill". Tidak terima sekali aunty nya bilang tangannya kecil.


"Iya-iya deh". Mengalah saja daripada keponakannya merajuk.


"Heh, nggak boleh body shaming ya kamu". Yang punya anak tidak terima membuat Bintang memasang wajah mengejek.


"Eh dikasih tau sama yang lebih tua malah ngeledek". Ucap Juna lagi.


"Iya deh iya, yang tua mah.." Puas sekali membuat kesal kakaknya itu.


"Ayo Revan, nanti keburu siang banget kalo nunggu papa kamu selesai ngamuknya". Menarik lembut tangan keponakannya.


Meninggalkan Juna yang masih merepet menasehati adiknya yang sudah berlalu pergi.


"Udah pa..lagian Bintang sama Revannya juga udah pergi". Naura mengelus lembut lengan suaminya.


Bintang dan Revan berjalan dengan riang. Tangan keduanya saling bertaut saat berjalan keluar rumah.


Hingga sosok yang tengah mengobrol dengan ayah membuat Bintang menghentikan langkahnya seketika. Ia bahkan tanpa sadar melepaskan genggaman tangannya pada Revan.


"Bintang..." Sosok yang membuat Bintang terdiam itu tak lain adalah Langit.


Laki-laki yang semalaman kembali membuat dirinya menangis pilu itu kini ada dihadapannya.


Keduanya terdiam dengan mata saling bertaut. Lama keduanya diam namun mata mereka tak berpaling sedikitpun.


"Aunty.."


"Aunty..!!"


"AUNTY!!!", Kesal karena berulang kali memanggil tak direspon, akhirnya Revan berteriak.


Bintang tersentak dari rasa terkejutnya karena teriakan Revan yang mampu memekakkan telinga.


"Jadi pergi enggak?". Tanya nya galak membuat Bintang tersenyum sambil mengacak rambut keponakannya itu.


"Ayo". Bintang kembali menggenggam tangan Revan.


"Nak.." Panggilan ayah membuat Bintang menoleh.


"Bintang pergi dulu sama Revan yah". Pamit Bintang yang mencium punggung tangan ayah dan Revan mengikutinya.


"Tapi, Langit--"


"Dia tamu ayah. Kita pergi dulu yah". Tanpa menatap Langit, Bintang menarik Revan meninggalkan Langit yang menatapnya sendu.


"Oh, hai uncle.." Sapa Revan yang sebelumnya memang pernah bertemu Langit.


"Hai, Revan.." Langit membalas sapaan Revan membuat Bintang mengerutkan keningnya.


"Jadi mau pergi nggak nih?". Tanya Bintang pada Revan yang tengah menyapa Langit.


"Jadi.." Serunya berlari mendekati Bintang.


"Daaa uncle Langit.." Bintang menatap keponakannya dengan alis berkerut dalam.


Kapan keponakannya itu pernah bertemu Langit? Kapan mereka berkenalan?? Banyak lagi yang ingin Bintang tanyakan pada Revan, tapi nanti. Tidak sekarang, tidak didepan Langit.


"Bin.." Lirih Langit yang benar-benar merasa sesak karena Bintang mengacuhkan dirinya, bahkan seperti menganggap dirinya tak ada.


"Sabar Lang.." Tepukan di pundak membuatnya menoleh. Ayah menatap sedih padanya.

__ADS_1


"Tidak apa, yah. Langit tahu, pasti Bintang masih marah dan kecewa dengan keputusan Langit enam tahun lalu.." Langit memaksakan senyumnya dihadapan ayah.


"Ayo kita masuk dulu". Ayah menepuk lagi pundak Langit beberapa kali. Membuat Langit tersenyum dan mengangguk.


Sementara Bintang dan Revan tengah berjalan keluar komplek perumahan untuk mencari kendaraan umum.


"Revan.." Panggil Bintang membuat Revan mendongak.


"Kamu kenal uncle tadi?". Tanya Bintang to the point. Ia tidak bisa berlama-lama menyimpan rasa penasarannya.


"Kenal.." Sahut Revan singkat.


"Kenapa aunty?". Balas bertanya pada tante nya yang terlihat penasaran itu.


"Kenal dimana kamu? Memang sebelumnya pernah bertemu? Ketemu nya dimana?". Memberondong keponakannya dengan pertanyaan yang langsung membuat Revan melongo.


"Satu-satu aunty, nanya nya". Wajah imut Revan terlihat kesal karena diberondong banyak pertanyaan oleh Bintang.


"Ya kamu jawab nya satu-satu aja. Inget kan apa aja yang aunty tanyain barusan?". Kepala Revan menggeleng lucu. Membuat Bintang menghela nafas guna mengusir kesal.


"Revan kenal sama uncle tadi dimana??", Demi rasa pensarannya, akhirnya Bintang mengulang pertanyaannya.


"Dirumah.." Mata Bintang melebar, membuat kerutan di dahinya terlihat.


"Kapan?". Tanya Bintang lagi semakin penasaran.


"Waktu---" Revan tampak berpikir, mengingat kapan bertemu Langit.


"Berapa kali ketemu nya??". Belum juga ingat kapan ia bertemu Langit, aunty cantiknya sudah kembali bertanya membuat nya mendesah kesal.


"Berapa kali Revan?". Desak Bintang


"Hemmmmm, tiga.." Mencoba meyakinkan dirinya dan menghitung berapa kali bertemu uncle Langit.


"Tiga??", Beo Bintang membuat Revan mengangguk.


"Dirumah.." Jawaban Revan membuat Bintang terkejut.


"Uncle yang kamu bicarakan kemarin itu...uncle yang tadi?". Tanya Bintang dan Revan kembali menganggukkan kepalanya.


"Jadi dia sudah lebih dulu menemui ayah dan bunda sebelum menemuiku?", Gumam Bintang


Niat hati ingin bersenang-senang bersama Revan, justru Bintang kini terpikirkan tentang Langit.


"Kenapa? Kenapa tidak langsung menemuiku dan justru menemui ayah dan bunda?". Terus bertanya pada dirinya sendiri namun tak juga menemukan jawaban pas.


"Revan.." Keponakannya mendongak.


"Kita ke taman komplek aja yuk.." Dahi Revan terlihat berkerut.


"Kenapa?". Tanya Revan sedikit kecewa.


"Aunty tiba-tiba pusing". Memegang kepalanya untuk membuat keponakannya yakin.


"Aunty sakit?". Menatap tante nya dengan tatapan khawatir. Membuat Bintang merasa bersalah sudah membohongi Revan.


"Kita pulang aja aunty, kalau aunty sakit". Bintang langsung menggelengkan kepalanya.


"Hanya sedikit, sayang", Mengelus kepala Revan yang terlihat tulus mengkhawatirkan dirinya.


"Kita jajan di taman aja ya.. pergi ke tempat yang Revan mau minggu depan aja. Nggak apa-apa kan??", Bertanya dengan lembut pada keponakannya.


"Kalau aunty sakit, kita pulang aja. Revan nggak apa-apa kok.." Jelas Bintang tidak mau, ia ingin keluar rumah sedikit lama. Tentu saja dengan harapan Langit sudah pergi saat ia dan Revan kembali nanti.


"Aunty hanya sedikit pusing, takutnya nanti semakin pusing kalau naik angkot dulu. Jadi kita duduk ditaman aja ya.." Akhirnya Revan setuju dan keduanya berbalik arah untuk pergi ke taman komplek.


"Nanti kamu mau beli apa?". Tanya Bintang pada Revan.

__ADS_1


"Ehm..." Terlihat berpikir sejenak sebelum kembali bersuara.


"Liat nanti disana aunty.." Bintang mengangguk dan tersenyum. Lalu mengangkat tubuh Revan kedalam gendongannya.


"Aunty gendong saja, kamu pasti capek jalan bolak-balik". Mengecup pipi gembul keponakannya berulang kali hingga membuat Revan terkekeh kegelian.


Sampai ditaman, masih banyak pengunjung disana. Meskipun hari sudah menjelang tengah hari, namun karena ini hari minggu, membuat taman masih ramai pengunjung meskipun matahari sudah terasa menyengat kulit.


Keduanya langsung mengedarkan pndangannya keseluruh taman. Mencari jajanan yang sekiranya menarik.


"Aunty, aku mau itu.." Menunjuk stand sosis bakar yang jika dilihat dari gambarnya memang terlihat menggoda.


"Ayo.."


Entah berapa stand makanan yang mereka datangi. Yang jelas saat ini bangku panjang yang mereka duduki sudah penuh dengan keresek berisi berbagai macam jajanan.


"Selamat makan.." Seru keduanya kompak dan kemudian mulai melahap jajanan yang mereka beli itu.


Berkali-kali memuji rasa jajanan yang memanjakan lidah mereka, sambil melihat taman yang indah diterpa sinar matahari.


Beruntung masih banyak pepohonan yang ditanam ditaman itu. Hingga ia dan Revan terlindungi dari sengatan sinar matahari.


"Aaah, aunty kenyang banget, Revan.." Mengelus perutnya yang kekenyangan.


"Revan juga aunty.." Keduanya saling bersandar satu sama lain. Merasakan perutnya yang terasa penuh karena kini semua jajanan yang tadi ada didalam keresek sudah berpindah kedalam perut mereka.


"Aunty, ayo pulang.." Ajak Revan yang mulai mengantuk. Selain karena kekenyangan, Revan juga sudah terbiasa tidur siang.


Bintang melirik jam tangannya. Angka sudah menunjukkan pukul 11.20, sudah cukup lama mereka pergi. Harusnya Langit sudah pulang, itu yang ada dipikiran Bintang.


"Oke, ayo, Aunty juga harus pulang ke apartemen". Bintang bangkit, pun dengan Revan.


Keduanya lantas membereskan sampah sisa jajanan mereka dan kemudian memasukkannya kedalam tempat sampah.


Bintang melepaskan topi yang ia pakai, memakaikannya dikepala Revan agar kepala keponakannya itu terlindungi dari sengatan sinar matahari.


Berjalan dan terus berjalan hingga keduanya sampai dirumah ayah. Bintang melihat halaman rumah, tidak ada mobil asing yang tadi terparkir saat dirinya pergi. Itu artinya Langit sudah pulang bukan?


Jelas Bintang lega, ia menyunggingkan senyumnya sambil berjalan semakin masuk kedalam rumah.


"Kalian sudah pulang?", Pertanyaan yang sebenarnya tidak perlu sebuah jawaban.


"Sudah nenek.." Revan yang menyahuti pertanyaan sang nenek.


"Kalau begitu bersihkan diri kalian lalu turun ya. Kita makan siang sama-sama". Revan dan Bintang saling menatap. Perut mereka saja masih terasa penuh. Sudah disuruh makan lagi saja.


Ingin mengeluh dan menolak tapi tidak berani. Karena jika itu mereka lakukan, pasti Naura dan bunda akan langsung menginterogasi keduanya.


Akhirnya yang dilakukan hanya pasrah dan mengikuti perintah yang sudah diberikan oleh Bunda.


Semua orang sudah berkumpul dimeja makan saat Bintang turun dari kamarnya.


"Maaf Bintang lama.." Ucap Bintang yang langsung mendudukkan tubuhnya.


"Nggak apa-apa". Bintang membeku mendengar suara itu. Tunggu dulu!


Perlahan Bintang mengangkat kepalanya. Menatap semua orang, namun belum berani menolehkan kepalanya.


Begitu Bintang menoleh ke kanan, wajah seseorang yang ingin sekali ia hindari juga ia lupakan langsung menyambut matanya.


"Hai..kita bertemu lagi". Senyum semanis madu diberikan sosok yang membuat Bintang tak mampu bersuara lagi.


...¥¥¥•••¥¥¥...


...Hiyaaaaa, ketemu lagi kan🤭🤭😅...


...Ayo Lang, semangat Lang..bisa yuk bisa rebut lagi hatinya Bintang🥰🥰...

__ADS_1


...Kasih semangatnya yuk buat Langit..buat othornya juga yuk kasih like sama komennya😊🥰🥰...


__ADS_2