
"Ayo". Langit menarik tangan Bintang untuk mengikutinya.
"Tas gw dimana?". Bukan karena tas nya, tapi karena buku didalamnya.
"Tadi dimana?". Langit balik bertanya karena memang tidak melihat tas Bintang.
"Dimana ya?". Bintang juga tidak ingat dimana meletakkan tasnya.
"Ck, gimana sih. Kan elo tadi bawa sendiri". Bulan dan Sam saling menatap saat kedua temannya justru berdebat perihal tas.
"Ya mana gw inget. Makanya gw nanya, gw lupa". Sengit Bintang membuat Langit berdecak.
"Ntar gw beliin tas baru".
"Bukan masalah tas nya, tapi buku catetan gw". Bintang dan Langit terus berdebat.
"Ntar gw catetin yang baru". Langit ingin segera pergi dari sekolah tapi Bintang justru mempersulit.
"cih, buku lo aja masih bersih kaga ada catetan. Sok-sokan mau nyatetin gw". Cibir Bintang membuat Langit tergelak.
"Udah ah ayo pulang". Meskipun menggerutu, namun Bintang menurut dan mengikuti Langit.
"Lo bawa motor apa mobil Sam?". Tanya Langit pada Samudra.
"Mobil". Jawaban singkat seperti biasa
"Oke, ketemu di rumah Bintang". Sam mengangguk.
"Bintang nggak bareng kita aja, pake mobil?". Bulan seperti enggan hanya berdua dengan Sam.
"Nggak bisa. Bintang nggak boleh jauh-jauh dari gw". Langit langsung menarik Bintang sebelum gadis itu berubah pikiran dan ikut bersama mobil Sam.
"Ck, kan dia lagi luka gitu. Biar nggak kepanasan". Bulan beralasan.
"Masih pagi. Panasnya juga masih bervitamin. Bagus buat kulit calon bini gw". Bintang mendengus, pun dengan Bulan yang baru menyadari siapa yang ia ajak berdebat. Langit, laki-laki yang pandai bersilat lidah itu jelas akan menang berdebat.
"Banyak ngomongnya lo pada. Udah ayo", Gantian Sam yang menarik Bulan.
"A..aa..aaa!! Pelan-pelan dong! Dasar kulkas, sakit kaki gw". Keluh Bulan yang membuat Sam segera meminta maaf. Ia lupa jika kaki Bulan terluka.
"Ati-ati Sam! Gimana sih lo". Omel Bintang yang panik melihat Bulan kesakitan.
"Aaah lama". Tanpa aba-aba, Sam langsung mengangkat tubuh Bulan yang langsung memekik karena kaget.
"Woii Sam! Ati-ati bawa temen gw". Teriak Bintang yang tidak dihiraukan Samudra yang terus berjalan. Sesaat kemudian ia meringis sambil meraba sudut bibirnya.
"Kenapa? Lo juga pengen di gendong?". Bintang langsung menoleh menatap Langit yang tersenyum lebar.
"Yang sakit muka ama tangan gw. Bukan kaki gw". Ketus Bintang yang langsung berjalan menuju tempat dimana Langit memarkirkan motornya.
"Ck galaknya nggak ketulungan. Untung sayang". Gumam Langit berjalan cepat menyusul Bintang.
Semakin hari, perasaan sayangnya pada Bintang kian dalam. Bukan lagi sekedar rasa kagum ataupun sekedar obsesi, tapi benar-benar perasaan sayang, atau bahkan mungkin cinta.
__ADS_1
"Pake.." Langit melepaskan jaket miliknya. Memakaikannya ke tubuh Bintang".
"Kan elo yang didepan". Ucap Bintang, namun tetap diam saat Langit memasangkan jaket ke tubuhnya.
"Gw laki-laki, yang penting elo". Jujur Langit, selain itu. Luka di lengan Bintang juga baju yang berantakan lah yang ingin Langit tutupi dari tatapan mata laki-laki lain.
Sementara Langit dan Bintang sedang beruwwu ria, lain halnya dengan Catherine dan pak Baskoro yang seperti kehilangan setengah nyawa mereka.
Kini keduanya sedang ada didalam ruangan kepala sekolah. Sementara dua teman Catherine sudah diperintah kan untuk pulang oleh guru BK.
"Dasar b*doh!! Sekarang bagaimana nasib kita hah!!". Bentak pak Baskoro pada putrinya.
Mungkin ini kali pertama Catherine dibentak oleh ayahnya itu. Karena selama ini Catherine selalu dimanjakan dan dituruti semua keinginannya.
"Kok papa nyalahin aku sih. Kan tadi papa yang nampar Bintang. Yang bikin kakaknya Bintang marah kan gara-gara papa tampar Bintang". Catherine balik menyalahkan sang ayah. Karena merasa jika masalahnya semakin rumit karena kesalahan sang ayah.
"Bisa-bisanya kamu menyalahkan papa!! Kalau kamu tidak gegabah menyebarkan foto itu dan menyebarkan berita seperti itu, kita tidak akan menghadapi masalah seperti ini!". Suara pak Baskoro masih meninggi, dan tidak ada tanda-tanda jika ia akan melunak pada putri kesayangannya itu.
"Ya aku mana tahu kalo dia anak pak Henry. Dia cuma sekolah disini karna beasiswa pa. Siapa yang bakal ngira kalo dia adiknya pak Dewa sama pak Juna". Catherine benar-benar tidak mau disalahkan.
Pak Baskoro memijit pelipisnya. Berpikir keras bagaimana caranya mempertahankan posisinya saat ini.
Menghadapi dua anak pak Henry saja sudah membuat lututnya gemetar. Ia tengah menyiapkan mentalnya jika sampai bertemu pak Henry. Apalagi memikirkan ancaman Sadewa yang akan melaporkannya ke pihak berwajib karena kecerobohannya menampar Bintang.
"Aaaahhh!!". Catherine berjingkat saat tiba-tiba papanya berteriak keras.
Selalu dimanjakan dan dituruti semua keinginannnya menjadikan gadis itu egois. Bahkan saat sang ayah tengah pusing memikirkan nasib mereka ke depannya, Catherine justru masih menyimpan kekesalan pada Bintang perihal Langit.
Dia benar-benar tidak belajar dari kejadian hari ini. Bahkan gadis itu masih berpikir bagaimana cara memisahkan Langit dengan Bintang.
"Gw harus lakuin sesuatu". Batin Catherine yang tidak memikirkan hukumannya. Tapi justru memikirkan cara apa yang akan ia lakukan selanjutnya untuk menjauhkan Bintang dari Langit.
---
Langit dan Bintang sampai lebih dulu ke rumah Bintang. Menggunakan motor membuat keduanya terhindar dari kemacetan.
"Ya Allah, non Bintang.." Pekik bi Lilis saat melihat wajah Bintang.
"Ssstt..jangan teriak-teriak bi. Nanti Revan kaget". Masih ingat dengan keponakannya, padahal kondisinya sendiri babak belur.
"Masuk non..bibi buatkan minum dulu". Bi Lilis sudah berkaca-kaca melihat penampilan Bintang.
"Aku nggak apa-apa bi..jangan nangis". Bintang memeluk pundak bi Lilis untuk menenangkannya.
"Tapi muka non.." Bintang tersenyum. Tanpa ragu memeluk asisten rumah tangganya.
"Bintang nggak kenapa-kenapa bibi.."
Langit tersenyum melihat bagaimana Bintang memperlakukan asisten rumah tangganya. Gadis itu memang sangat baik dan berhati lembut, meski sangat galak jika pada dirinya.
"Bintang?". Mendengar namanya dipanggil, Bintang menoleh. Mendapati Naura menuruni satu persatu anak tangga.
Naura langsung berjalan cepat menghampiri Bintang. Suaminya sudah sempat menghubungi dirinya dan memberitahu perihal Bintang agar saat Bintang pulang, Naura tidak terlalu terkejut.
__ADS_1
"Kenapa bisa begini.." Naura memeluk adiknya. Ia benar-benar terkejut, bahkan menangis saat suaminya menelpon beberapa saat lalu.
"Ayo duduk dulu.." Ucap Naura lembut, menggiring Bintang agar ikut duduk di kursi yang ada diruang tamu.
"Ayo Langit.." Langit tersenyum dan berjalan mengikuti kedua wanita beda usia itu.
"Pasti sakit banget ya.." Lirih Naura mengelus perlahan pipi Bintang yang terlihat ada beberapa memar.
"Nggak apa-apa kok, kak. Bintang baik-baik aja". Ucap Bintang menenangkan.
Naura itu mirip seperti bunda, mudah menangis dan khawatir berlebih. Jadi pasti selalu menangis jika melihat ada anggita keluarga sakit apalagi terluka.
"Kenapa pak Baskoro tega sekali, menampar kamu sampai sekeras ini". Terselip kemarahan di suara Naura. Ia tak pernah membayangkan seorang laki-laki dewasa akan tega menampar seorang gadis dengan kekuatannya yang jelas berkali lipat dari Bintang.
"Dia harus di hukum dek.." Bintang tersenyum. Hatinya selalu menghangat, mendapat perhatian dan kasih sayang besar dari keluarganya.
"Kak Naura jangan marah-marah, nanti cantiknya ilang". Ucap Bintang mencoba mengalihkan perhatian Naura.
Ia tidak mau kakak iparnya stress memikirkan perihal dirinya dan berdampak pada produksi asi untuk keponakannya.
"Revan mana kak?". Tanya Bintang saat tidak melihat keponakannya.
"Revan tidur.." Sahut Naura yang masih fokus menatap wajah adik iparnya.
"Aku nggak apa-apa kak, ya ampun". Bintang jadi gemas sendiri.
"Kata kak Juna, Bulan ikut kesini. Lalu mana dia?". Tanya Naura yang teringat ucapan suaminya.
"Masih dijalan kak, dianter sama temen". Langit yang menyahut membuat Naura mengangguk.
Tidak lama terdengar suara yang lebih seperti perdebatan. Dan sudah jelas siapa pelakunya. Bulan dan Samudra yang masih saja berdebat mempermasalahkan kaki.
"Ya kalo masih sakit mau gimana". Sungut Bulan yang terdengar sampai ruang tamu.
"Ya makanya gw tadi bilang, gw gendong aja. Lo lama jalannya..mana ngomel mulu lagi". Sam tak kalah menggerutu.
Sejak tadi ia selalu disalahkan oleh Bulan. Bahakan bergerak pun dianggap salah, membuatnya sedikit kesal.
"Ya jalannya pelan-pelan! Niat nolongin kaga sih". Omel Bulan membuat Sam kembali menghela nafas panjang.
"Tadi gw juga udah pelan-pelan! Elo yang ngomel suruh cepet jalannya. Giliran cepet, lo bilang pelan-pelan". Balas Sam mencoba menekan suaranya agar tidak sampai berteriak.
"Ya cepetnya jangan kelewat cepet dong. Kaki gw kan masih sakit". Bulan tak mau kalah dan itu membuat Sam benar-benar kesal.
Tanpa aba-aba, ia kembali mengangkat tubuh Bulan dan menggendongnya. Lebih baik mendengar Bulan mengomel sebentar tapi cepat sampai ditempat tujuannya daripada mendengar omelan Bulan lebih lama.
Mereka tidak sadar jika perdebatan lucu mereka sudah memantik tawa Bintang dan Langit juga Naura.
...¥¥¥•••¥¥¥...
...Segini dulu ya..mudah-mudahan si kang ilham menyambangi othor jadi bisa dapet ide buat lanjut hari ini😂😂😂...
...Happy reading readers kesayangan..satangheo banyakbanyak 🥰🥰🥰💋💐♥️😘😘😘...
__ADS_1