Langit Untuk Bintang

Langit Untuk Bintang
sisi lemah


__ADS_3

Langit menarik tubuh Bintang kedalam pelukannya. Ia dekap dengan erat tubuh Bintang yang bergetar hebat. Sungguh ia tak menyangka Bintang yang galak itu memiliki sisi lemah seperti ini.


"Tenang Bin..tenang". Langit masih mendekap tubuh Bintang. Sementara gadis yang sepertinya baru kehilangan ibunya itu sudah tidak berteriak. Saat Langit mencoba melihat, sepertinya gadis itu jatuh pingsan.


"Ibu.." Hanya satu kata yang terus Bintang ucapkan.


Langit melepas pelukannya. Menangkup wajah Bintang dan memaksa gadis itu menatap pada dirinya. Entah Langit tak tahu apa yang dilakukannya ini benar atau tidak. Tapi Langit akan mencoba mengalihkan fokus Bintang.


"Liat gw.." Mata Bintang terus melirik keberadaan gadis yang tadi berteriak memanggil mama nya.


"Liat gw Bintang!! Cuma liat gw! Jangan liat yang lain". Tegas Langit memaksa Bintang kembali menatap dirinya.


"Tenang.." Suara Langit melembut.


"Lo harus tenang, Bin. Oke.." Langit masih menangkup wajah Bintang. Kini tatapan keduanya bertemu.


"Gw tak-ut.." Lirih Bintang disela tangisannya.


"Liat gw..ada gw disini". Langit menghapus lelahan air mata yang membasahi pipi Bintang. Kemudian kembali menangkup wajah cantik itu.


"Cukup liat gw. Jangan liat yang lain, oke?!". Bintang masih diam, namun ia terus menatap wajah Langit seperti apa yang laki-laki itu perintahkan.


"Semua baik-baik aja. Percaya sama gw".


"Jangan liat yang lain. Liat gw..cukup liat gw". Langit terus merapalkan mantra itu. Berharap Bintang menuruti dirinya.


Langit mendekap pundak Bintang. Merapatkan tubuhnya dengan Bintang. Bintang berusaha untuk tidak melihat pada gadis yang tergeletak dilantai itu. Ia berusaha melirik Langit yang mendekapnya.


Tepat saat melewati gadis yang pingsan itu, Langit sedikit memiringkan tubuhnya hingga tidak ada yang bisa Bintang lihat selain dada Langit.


Bintang mendongak, menatap Langit yang berusaha mengalihkan ketakutannya. Ia tatap wajah tampan Langit yang ada disampingnya.


Langit tak melepaskan dekapannya sampai mereka tiba ditempat dimana tadi Dewa dan yang lain berada.


Alis Langit berkerut saat tak mendapati siapapun disana. Bahkan mobil Dewa yang tadi terparkir disana sudah tidak ada. Sang mommy pun ikut menghilang tanpa jejak.


"Mommy kemana sih?". Gumam Langit yang kini merogoh saku celananya.


Sebelah tangannya masih ia gunakan untuk mendekap pundak Bintang. Langit terlihat sibuk dengan ponselnya hingga tidak sadar jika sejak tadi Bintang terus menatapnya.


"Halo, mommy dimana?". Tanya Langit saat telepon sudah tersambung.


"Kenapa nggak bilang. Kita kan bingung nyariin". Langit menghela nafas panjang saat mendengar jawaban sang ibu.


"Mom, tolong tanyain sama kak Juna. Ponselnya buru-buru dipake apa nggak?".

__ADS_1


"Halo,, kak..maaf ganggu. Hp kakak buru-buru dipake apa enggak?". Tanya Langit saat mendengar suara Juna. Rupanya mommy Sekar memberikan ponselnya pada Juna.


"Langit mau ajak Bintang jalan-jalan sebentr sekalian makan siang". Bintang masih terus fokus menatap wajah Langit.


"Wajar kalo banyak suka sama elo, Lang". Batin Bintang yang mengakui ketampanan dengan segala pesona Langit.


Dilihat dari sisi manapun, Langit memang terlihat tampan dan menawan. Bahkan kini Bintang mengakuinya. Dengan sikap Langit seperti saat ini, pasti banyak sekali gadis yang tergila-gila padanya. Apalagi kekayaan yang keluarga Langit miliki. Wajar jika pemuda itu bagaikan gula yang selalu dicari keberadaannya oleh para semut.


Terlalu mengagumi Langit, Bintang tak sadar jika Langit sudah mengakhiri panggilan teleponnya dan kini tengah menatap dirinya.


"Gw ganteng banget ya Bin?". Bintang tersentak saat wajah Langit sangat dekat dengan wajahnya. Bahkan hidung keduanya hampir bersentuhan.


"Ap-apaan sih!". Bintang mendorong dada Langit, namun Langit tak bergeser sedikitpun.


"Lo ampe terpesona gitu liatin gw". Langit tersenyum jahil, apalagi saat melihat wajah Bintang merona karena ucapannya.


"Rese lo". Sungut Bintang yang membuat Langit tergelak.


Langit melepaskan rengkuhannya, kemudian tangannya beralih menggenggam tangan Bintang yang terlihat diam tak melakukan protes atas apa yang dilakukannya.


Kening Bintang berkerut saat Langit membawanya ke mobil milik pemuda itu.


"Kok kesini. Mas Dewa sama yang lain mana?". Pertanyaan Bintang membuat Langit tertawa kecil.


"Ck, kaga usah kepedean deh biawak". Ketus Bintang yang membuat Langit menyemburkan tawa.


"Aw.." Langit menghentikan tawanya saat Bintang menginjak kakinya dengan tenaga penuh. Membuatnya meringis merasa sakit pada ujung kakinya.


"Ck, galak banget sih". Gerutu Langit yang mengelus kakinya tanpa melepaskan genggaman tangannya.


"Mas Dewa sama yang lain udah balik duluan". Mata Bintang melebar mendengar penuturan Langit.


"Mommy?". Langit tersenyum, senang rasanya Bintang memanggil ibunya mommy, sama seperti dirinya.


"Mommy bareng yang lain. Lo nggak denger tadi pas gw telpon?". Bintang menggeleng, dirinya memang tidak mendengar bahkan tidak sadar Langit menelpon karena terlalu larut mengagumi ketampanan si titisan biawak itu.


"Itu gara-gara elo terlalu fokus mengagumi ketampanan gw". Bintang mencebik kesal meski dalam hati membenarkan ucapan Langit.


"Terus gimana?".


"Gimana apanya?". Langit balik bertanya.


"Hish, ngeselin banget sih lo". Langit tertawa lagi melihat Bintang yang terus mengomel.


"Ya lo balik bareng gw lah". Langit membukakan pintu untuk Bintang, memastikan gadis itu masuk kedalam mobil dengan aman.

__ADS_1


Bintang tak melepas tatapan matanya dari Langit. Bahkan saat pemuda itu berlari kecil memutari mobil pun Bintang masih memperhatikannya.


Bintang membeku saat tiba-tiba Langit mendekatkan tubuhnya pada Bintang. Reflek Bintang memejamkan matanya, entah apa yang gadis itu pikirkan.


"Jangan mesum..ngapain merem gitu?". Bintang segera membuka mata saat keningnya disentil pelan oleh Langit.


Ternyata pemuda itu hanya memasangkan sabuk pengamannya. Bintang benar-benar malu, memang apa yang ia pikirkan hingga ia memejamkan mata.


Ingin sekali Bintang bersembunyi dilubang terdalam yang tidak akan diketahui oleh orang lain. Apalagi melihat tatapan Langit dan senyum menggoda pemuda itu.


"Aaaaaa!!! Malu banget gw!!!". Batin Bintang berteriak. Ia memilih menatap keluar jendela mobil daripada harus kembali bertemu tatap dengan Langit yang kini masih tersenyum gemas.


"Kalo nggak inget pesen ayah buat jagain elo, udah gw cium dari tadi elo, Bin". Batin Langit yang sejujurnya juga tergoda saat Bintang memejamkan mata.


Sepanjang perjalanan, Bintang tak sedikitpun bersuara. Ia sangat malu dengan kejadian yang baru saja terjadi. Sangat memalukan! Batin Bintang.


"Eh, kok kesini". Gumam Bintang yang baru menyadari mobil Langit bergerak menjauh dari arah rumahnya.


"Kita makan dulu.." Bahkan sebelum Bintang bertanya pun, Langit sudah lebih dulu menjelaskan.


Bintang mengangguk dan menurut saja pada Langit. Sesaat kemudian ia kembali menatap Langit, pemuda itu sudah terlalu banyak tahu tentang dirinya.


Bahkan tadi pun Langit melihat sisi lemahnya. Sisi lemah seorang Bintang yang tidak diketahui siapapun kecuali keluarga dan sahabat baiknya.


Bintang masih ingat bagaimana Langit memeluk dirinya dan menenangkannya. Dekapannya terasa hangat dan setiap ucapan Langit terdengar tulus.


Apakah benar laki-laki yang tadi memeluknya itu adalah lelaki yang sama dengan laki-laki yang senang mempermainkan perempuan? Bintang masih terus menatap Langit.


"Kagumnya dilanjut entar ya..sekarang kita makan dulu". Bintang baru tersadar saat Langit bersuara dan melepaskan sabuk pengamannya.


Kali ini Bintang hanya tersenyum tipis mendengar bagaimana percaya dirinya Langit. Sebenarnya wajar lelaki itu memiliki tingkat percaya diri yang tinggi. Wajah yang tampan, serta ditunjang harta kedua orang tuanya. Sangat pantas jika Langit merasa diatas awan.


Seperti tadi, Langit kembali berlari memutari mobil dan membukakan pintu untuk Bintang.


"Silahkan tuan putri.." Bintang terkekeh sambil menggeleng melihat tingkah Langit.


"Lo cantik banget kalo senyum sama ketawa gini. Bikin gw makin cinta". Senyum di wajah Bintang memudar seketika mendengar ucapan Langit. Kini dadanya terasa berdebar keras. Apalagi Langit kembali menggenggam tangannya.


Bintang terhanyut dalam setiap perlakuan lembut Langit. Hatinya mulai jatuh dalam pesona Langit. Pesona yang sangat sulit Bintang tampik meski sudah berusaha keras untuk menjauh.


...¥¥¥•••¥¥¥...


...Yang calon-calon bucin nih bau-baunya🤭🤭☺️☺️ gemes deh liat Bintang sama Langit. Yang kadang akur, tapi banyak nggak akurnya🤭😅😊...


...Happy reading kalian, sarangheo sekebon🥰🥰😘😘😘💋♥️💐...

__ADS_1


__ADS_2