Langit Untuk Bintang

Langit Untuk Bintang
amarah Bintang 2


__ADS_3

"Langit!!!". Langit yang tengah berbicara dengan seseorang menoleh saat seseorang meneriakkan namanya.


"Lang!! Langit!!". Lagi, Nindi kembali berteriak. Ia hampir kehabisan tenaga karena berlari, kini harus berteriak.


"Urusan kita belom kelar!". Setelah mengucapkannya, Langit berbalik dan berjalan mendekati Nindi yang juga menghampirinya.


"Lo kenapa?". Tanya Langit yang melihat Nindi terengah.


"Itu---hah, Bulan---" Alis Langit berkerut, bingung dengan ucapan Nindi yang setengah-setengah.


"Apaan sih?". Tanya Langit yang tak bisa memahami kemana arah pembicaraan Nindi.


"Hah lama! Ikut gw cepetan, sebelum terjadi perang dunia!". Tanpa banyak bicara lagi, Nindi menarik tangan Langit dan memaksa pemuda itu mengikuti dirinya.


Nindi tak menjelaskan apapun sepanjang perjalanan menuju tempat terakhir ia meninggalkan Bulan. Bahkan saat Langit bertanya berulang kali.


Bukan tak ingin menjelaskan, namun dirinya sendiri juga bingung mengapa Bulan terlihat sangat khawatir sekaligus takut jika sampai Bintang menghampiri Catherine.


Sementara Bulan yang tidak bisa berjalan normal, terlihat tengah mengomeli Samudra.


"Cepetan dong Sam! Gimana sih ah, keburu Bintang nyampe kelasnya si kucing". Sam berdecak kesal, bukan salahnya mereka tidak bisa berjalan cepat. Kaki Bulan sakit, itulah penyebabnya.


"Ck, sini gw gendong kalo mau cepet". Kini gantian Bulan yang berdecak. Berulang kali ia mengumpat dalam hati karena kakinya tak bisa diajak bekerjasama.


Nindi sampai didepan mading, kepalanya celingukan mencari keberadaan Bulan dan Sam yang tadi ia tinggalkan ditempat itu.


"Lo liat Bulan nggak?". Tanya Nindi pada seorang siswa.


"Jalan ke sana sama Samudra tadi". Nindi mengangguk setelah mengucapkan terimakasih.


"Ayo buruan Lang!". Langit tengah berdiri terpaku didepan mading, memandangi beberapa foto Bintang dan Dewa serta beberapa coretan yang memprovokasi.


"Dimana Bintang?". Sepertinya Langit sudah mulai bisa membaca situasi.


"Gw nggak tau, tapi ayo kita cari". Ucap Nindi yang langsung berjalan ke arah dimana temannya menunjuk tadi. Langit juga berjalan cepat disamping Nindi.


Sementara yang lain kebingungan mencari keberadaannya, Bintang tengah berdiri didepan gadis yang baru saja ia tampar keras.


"Lo gila ya!!!". Teriak Catherine tak terima.


Beberapa siswa yang melihat seolah tak percaya dengan apa yang kini tengah terjadi. Bintang menampar Catherine lebih dulu? Sesuatu yang sangat-sangat jarang, bahkan hampir tidak pernah terjadi.


Seisi sekolah tahu bagaimana Catherine selalu memprovokasi Bintang. Namun selama ini Bintang selalu tenang dan tidak menanggapi Catherine. Tapi yang baru saja terjadi? Semua bahkan melongo tak percaya.


Kini Bintang menarik rambut Catherine hingga kepala gadis itu mendongak. Cengkeraman tangan Bintang benar-benar kuat hingga Catherine merasa beberapa helai rambutnya rontok karena Bintang mencengkeramnya dengan kuat.


Tak terima, Catherine berusaha menggapai rambut Bintang. Hingga kini akhirnya keduanya saling jambak.


"Gw nggak pernah peduli lo ganggu hidup gw, tapi lo bikin kesalahan fatal bikin sahabat gw terluka!". Desis Bintang di sela pertarungannya dengan Catherine.


"Gw nggak peduli!! Lo berdua sama-sama cewek miskin murahan!!", Teriak Catherine yang sebenarnya merasakan kulit kepalanya seperti terkelupas.


Bintang yang kesal karena Catherine tidak menyadari kesalahannya menghempaskan keras cengkeramannya hingga Catherine terjerembab ke lantai.

__ADS_1


"Bantuin gw!". Bentak Catherine pada kedua antek-anteknya yang langsung maju membantu memegangi Bintang.


plak!!!


Catherine segera bangkit dan membalas tamparan Bintang. Tersenyum puas setelah melakukannya.


Kekuatan Bintang jika sedang marah jelas bukan tandingannya para gadis manja itu. Dengan mudah Bintang menarik rambut dua gadis yang memegangi lengannya itu.


"Aw..lo gila ya!! Sakit!!", Pekik keduanya yang merasa perih di kulit kepala mereka.


Melihat peluang, Catherine maju dan langsung menarik rambut Bintang dengan kedua tangannya. Tangannya juga bekerja memberikan cakaran diwajah dan leher Bintang.


Tampilan keduanya sudah entah seperti apa sekarang ini. Kedua teman Catherine yang berhasil melepaskan tangan Bintang segera menjauh. Sementara Catherine dan Bintang masih terlibat perkelahian.


Bintang menghempaskan tangan Catherine, kemudian mencengkeram pergelangan tangan Catherine sampai gadis itu meringis kesakitan.


Kepalan tangan Bintang sudah melayang di udara dan siap mendarat mulus di wajah Catherine.


"Bintang stop!!!", Bulan berteriak saat melihat Bintang hendak memukul Catherine. Namun sepertinya semua sudah terlambat.


Bulan menutup matanya rapat. Tak siap melihat wajah Catherine yang entah akan seperti apa nantinya.


Siswa yang lain juga hanya berteriak menyerukan nama Bintang dan sebagian meneriakkan nama Catherine. Tak berbeda jauh dari Bulan, mereka juga takut melihat Bintang yang seperti sekarang.


Langit datang tepat waktu, tepat sebelum kepalan itu mendarat di wajah Catherine. Langit berhasil menarik mundur Bintang hingga tinju Bintang hanya menghempas udara didepan wajah Catherine.


Semua bernafas lega, karena jika dilihat dari kekuatannya, sepertinya Catherine akan patah tulang hidung jika sampai tinju Bintang mengenai wajahnya.


"Tenang Bin.." Ucap Langit yang masih memegangi Bintang.


"Bulan nggak kenapa-kenapa! Dia disini". Ucap Langit lagi mencoba menyadarkan Bintang.


"Ada apa ini?!". Suara tegas pak Baskoro, ayah Catherine membuat semua bungkam dan membisu. Tak ada yang berani bersuara.


"Catherine?! Astaga!". Pak Baskoro terlihat kaget melihat kondisi putrinya yang babak belur itu.


"Papa..sakit.." Catherine merintih dan mengadu pada sang ayah. Menunjuk Bintang beberapa kali hingga membuat pak Baskoro kehilangan kendali atas dirinya.


Lelaki gempal itu berjalan mendekati Bintang dan tanpa aba-aba menampar keras wajah Bintang hingga wajahnya berpaling dan sudut bibirnya terluka hingga mengeluarkan darah.


"Berani-beraninya kamu melukai anak saya!". Bentak pak Baskoro.


Pak Budi yang baru saja merapat terlihat terkejut melihat pak Baskoro menampar Bintang. Apalagi disaksikan banyak siswa lain.


"Apa yang anda lakukan pak?!". Pak Budi langsung berdiri didepan Bintang sebagai perisainya.


"Keluarkan dia dari sekolah ini! Panggil orang tua dari anak tidak punya sopan santun ini! Dasar berandal!". Pak Baskoro benar-benar tidak berpikir apa yang tengah dilakukannya ini adalah awal dari kehancuran karirnya.


"Tidak seperti ini pak caranya". Pak Budi masih berdiri didepan Bintang yang tengah dipeluk Langit.


Sama seperti pak Budi, Langit juga tengah berusaha melindungi Bintang. Gerakan pak Baskoro yang tiba-tiba menampar Bintang benar-benar diluar prediksi Langit. Ia tidak sempat melindungi wanitanya itu.


"Seret dia ke ruang BK! Pastikan orang tuanya datang kesini!!". Perintah pak Baskoro tak bisa dicegah.

__ADS_1


"Pak, biarkan dia mengobati lukanya dulu". Ucap Pak Budi mencoba bernegosiasi.


"Berandalan tengik seperti itu tidak perlu diobati!". Pak Baskoro melenggang pergi meninggalkan Bintang yang mengepalkan tangannya.


Hari ini akan selalu ia ingat. Wajah orang-orang yang menghinanya akan ia ingat. Wajah orang yang berdiri didepannya untuk melindungi dirinya pun akan selalu diingat olehnya.


"Bin...?". Bulan sudah berdiri disamping Bintang, mengelus pipi sahabatnya dengan tangan gemetar.


Rambut acak-acakan, luka cakar dimana-mana, Bulan meringis sendiri membayangkan bagaimana sakitnya. Ditambah luka merah yang membentuk telapak tangan dipipi kiri Bintang, bekas tamparan keras pak Baskoro.


"Obatin kaki lo". Bintang menggenggam tangan Bulan yang tengah mengelus pipinya, menurunkannya perlahan.


"Tapi elo juga harus diobatin". Lirih Bulan


Bintang tak bergeming, tatapan matanya tetap dingin tak berubah. Bahkan masih terlihat amarah yang tersisa disorot matanya.


"Tolong bantuin obatin luka Bulan". Bintang hanya menatap Samudra tanpa menyebutkan namanya.


Benar-benar baru kali ini mereka melihat amarah Bintang yang sesungguhnya. Sebagai lelaki saja, Sam sedikit merinding melihat bagaimana tatapan tajam Bintang tadi.


"Lebih bahaya bikin Bulan terluka daripada ganggu atau lukain Bintang secara langsung". Itu yang dapat Sam simpulkan saat ini. Karena selama ini Bintang memang tidak peduli jika hanya namanya yang dijelekkan atau dirinya yang diganggu dan dilukai.


"Bintang.." Suara pak Budi membuat Bintang menatapnya.


"Saya akan telpon ayah saya pak". Sahut Bintang yang paham jika pak Budi tidak akan bisa melawan kehendak kepala sekolah.


"Maafkan bapak, bapak tidak bisa berbuat banyak untuk kamu". Pak Budi menunjukkan tatapan bersalah karena merasa gagal melindungi Bintang. Bahkan hanya sekedar untuk membiarkan Bintang mengobati lukanya saja pak Budi tidak bisa berbuat lebih.


"Nggak apa-apa pak. Saya paham". Bintang tersenyum samar pada pak Budi.


Bintang merogoh ponselnya, mencari nama sang kakak dan menghubunginya. Ia tidak menghubungi sang ayah karena tahu jika hari ini ayah dan bunda nya sedang pergi ke luar kota untuk urusan bisnis mereka.


"Assalamualaikum..Mas Dewa bisa ke sekolah? Aku buat masalah di sekolah". Hanya itu yang Bintang ucapkan saat panggilan terhubung.


Di seberang sana, Dewa sedikit terkekeh setelah adiknya mematikan sambungan telepon. Sudah lewat empat tahun sejak kejadian itu, baru kali ini adiknya menghubungi dirinya untuk datang ke sekolah karena sebuah masalah.


Namun senyum di wajahnya hilang seketika saat Langit mengirimkan foto Bintang yang terluka. Rahangnya mengeras dengan tangan terkepal erat.


Kiran yang melihatnya sedikit heran dengan perubahan ekspresi wajah dari suaminya itu.


"Mas.." Kiran menggenggam tangan Dewa yang terkepal.


"Kenapa? Ada apa?", Tanya Kiran khawatir.


Tanpa menjawab pertanyaan istrinya, Dewa menyodorkan ponselnya kehadapan sang istri yang langsung menerimanya.


Kiran membekap mulutnya melihat foto yang ada di layar ponsel suaminya.


"Maaf, acaranya kita tunda dulu ya. Kamu nggak marah kan?". Tanya Dewa lembut menatap istrinya meski Kiran tahu tersirat amarah dan kekhawatiran dalam sorot mata itu


"Kamu ngomong apa sih mas. Ayo kita berangkat sekarang, Bintang butuh kita". Kiran menyambar tas nya dan langsung menarik Dewa.


...¥¥¥•••¥¥¥...

__ADS_1


...Nah loh rame nih, nggak ada babe nya, abangnya juga jadi. Siap-siap pingsan aja tu si kucing ama bapak kucing😂😂...


...Happy reading semua, sarangheo banyakbanyak🥰🥰😂😘😘💋💐♥️...


__ADS_2