Langit Untuk Bintang

Langit Untuk Bintang
kembali sekolah


__ADS_3

Dan seperti yang sudah Bintang perkirakan. Kedatangannya bersama Langit dalam satu mobil menyebabkan kegemparan diantara para murid. Bintang hanya bisa menghela nafas panjang sambil melirik sebal lelaki yang dengan santainya berjalan disampingnya, seolah tak ada beban apapun.


Bintang sudah meminta Langit turun lebih dulu dari mobil, dan dia akan menyusul. Namun bukannya menuruti, Langit justru membukakan pintu untuknya hingga membuat yang melihat semakin kasak kusuk membicarakan hubungan antara keduanya.


"Gw kan udah bilang, lo duluan. Malah sekarang jlan disamping gw gini". Bintang terus menggerutu, ia bisa melihat dengan jelas tatapan tak suka dari para gadis yang memang terang-terangan menunjukkan rasa suka nya pada Langit.


"Nggak usah mikirin mereka kenapa sih". Bintang terkejut saat Langit tiba-tiba meraih jemarinya dan menggenggam tangannya erat.


"Aaaaa!!! Biawak s*alan!!! Lo mau ngegali lubang kubur buat gw!!!", Batin Bintang berteriak sambil terus mencoba melepaskan genggaman tangan Langit yang kian erat.


"Lo kalah jauh deh Cath, liat mereka. Kayanya malah jauh lebih deket sekarang". Tak jauh dari Bintang dan Langit, Catherine dan kedua temannya melihat segalanya.


Tangan Catherine terkepal, amarahnya sudah di ubun-ubun. Apalagi melihat tangan Langit menggenggam tangan Bintang. Catherine tidak terima.


Pesona Langit memang tidak bisa diremehkan meski kini masih duduk dibangku sekolah atas. Segala yang Langit miliki memang sudah cukup mampu membuat semua gadis meliriknya.


"Dia nggak dengerin peringatan gw rupanya". Geram Catherine meremas kepalan tangannya sendiri.


"Lang! Lepasin!", Bintang bahkan menarik tangannya dengan tangan yang lain. Tapi tak berpengaruh apapun.


Tiba-tiba Langit menghentikan langkahnya, menatap Bintang dan menundukkan kepalanya hingga wajah keduanya sejajar. Membuat Bintang segera memundurkan wajahnya.


"Pilih gw pegangin tangannya, atau gw cium disini? Kayanya bisa lebih rame nanti". Mata Bintang melebar, kesal sekaligus geram dengan segala kelakuan Langit.


"Good girl.." Langit menepuk pucuk kepala Bintang saat Bintang bungkam. Yang diartikan Langit jika Bintang tak akan memberontak lagi dengan genggaman tangannya.


"Halo Langit..lama nggak ketemu ya". Langit menghentikan langkahnya saat melihat siapa yang berdiri didepannya. Matanya menatap tak percaya dengan sosok yang kini berdiri didepannya.


Langit segera menarik Bintang dan menyembunyikan gadis itu dibelakangnya. Membuat seseorang yang baru saja menyapa Langit tersenyum miring.


"Ngapain lo disini", Sengit Langit membuat seseorang itu terkekeh.


Tanpa menjawab pertanyaan Langit, ia hanya melirik pakaian yang kini ia kenakan. Membuat Langit mengikuti arah pandangnya.


"Gw sekolah disini bro.." Tawa itu bukan tawa ramah, entah apa arti tawa lelaki didepan Langit itu.


"Halo Bintang, kita ketemu lagi cantik.." Mata Bintang menyipit, mencoba mengingat sosok yang ada didepan Langit.


Wajahnya tidak asing, tapi Bintang tidak tahu siapa nama lelaki itu. Lagipula tidak penting siapa nama lelaki itu.


"Jangan ganggu pacar gw! Urusan lo sama gw". Langit semakin menyembunyikan Bintang dibelakang punggungnya.


"Kenapa sih mereka berdua?", Batin Bintang yang diam dibelakang punggung Langit meskipun bingung dengan situasi didepannya.

__ADS_1


"hahaha..jadi dia pacar lo? Gimana kalo buat gw aja?!". Pertanyaan yang jelas memancing emosi Langit.


Langit melepaskan tautan tangannya dengan Bintang dan langsung menyambar kerah baju laki-laki didepannya.


Mata Bintang melebar melihat apa yang Langit lakukan. Bukan apa-apa, jika sampai terjadi keributan apalagi perkelahian, sudah jelas namanya akan ikut terseret. Dan Bintang tidak mau itu terjadi.


"Jaga mulut lo sebelum gw robek!", Bukannya takut dengan ancaman Langit, pemuda yang tengah terpojok itu justru tertawa keras.


"Santai man..kita bisa milikin dia bareng-bareng kan??". Mata Langit semakin menyala marah mendengar penuturan lelaki itu.


Tangannya yang mengepal sudah terangkat ke atas, siap menghadiahkan pukulan keras ke wajah lawannya yang sangat menjengkelkan itu.


"Stop Lang!!!", Bintang memegang tangan Langit yang hendak memukul lawannya. Bintang menggeleng pelan sambil menatap Langit penuh permohonan.


Keributan yang belum lama dimulai itu saja sudah ditonton banyak siswa lain. Baik adik kelasnya atau pun teman-temannya se angakatannya.


"Nggak usah diladenin. Nggak penting". Bintang melepaskan paksa sebelah tangan Langit yang masih mencengkeram baju lelaki didepannya itu.


"Ayo ke kelas". Bintang menarik tangan Langit tanpa ingin berbicara dengan pemuda yang tak ia tahu namanya.


"Bintang!!!! Nama gw Arsen, Arsenio Pradipta!!", Meskipun mendengarnya dengan jelas, namun Bintang tak berniat berbalik sedikitpun.


Ia terus berjalan sambil menarik Langit menuju kelas mereka. Dalam diamnya, ia menghela nafas panjang.


Ini baru hari pertama masuk sekolah, dan sudah disuguhi pemanndangan melelahkan seperti barusan.


"Bisa enggak sih apa-apanya tuh nggak usah pake emosi! Nggak usah main tonjok main hajar! Kalo nggak suka tu udah tinggalin aja, nggak usah buang-buang tenaga percuma kaya tadi. Kaya bocah tau nggak sih". Sepanjang jalan menuju kelas mereka, Bintang terus mengomel sambil menarik tangan Langit yang justru terus tersenyum mengikuti Bintang.


Bintang tak menyadari jika kini keduanya jadi pusat perhatian teman-temannya karena tangannya menggandeng Langit.


Berita keduanya berpacaran semakin kencang berhembus. Padahal sempat surut karena kedatangan Bima. Tapi kini keduanya terlihat kembali dekat seperti beberapa bulan lalu.


"Lo dengerin gw apa nggak sih!", Bintang berhenti saat sudah memasuki kelas, ia tak menyadari tatapan teman-temannya yang terlihat bengong.


"Cieeee..Bintang..." Suara teman-temannya menyadarkan Bintang. Dilihatnya teman-teman nya itu satu persatu, tatapan mata mereka sama. Terlihat menggoda dengan memainkan alisnya naik turun.


"Kayanya bener deh, dulu kalian pacaran. Terus berantem, sekarang udah balikan lagi ya?", Semakin tidak paham saja Bintang. Bahkan masih tak menyadari jika tangannya menggenggam tangan Langit.


Sementara Langit tampak tenang bahkan cenderung senang digoda teman-teman sekelasnya. Ia bahkan menikmati genggaman tangan Bintang dipergelangan tangannya.


"Apaan sih lo pada, pagi-pagi udah nggak jelas". Ucap Bintang menatap teman-temannya bergantian.


"Bintang masih malu-malu aja, nggak apa-apa Bin. Kita dukung kok, ya nggak gaes??". Ardi bersuara yang langsung disahut teman-temannya dengan semangat.

__ADS_1


"Bintang segitu takutnya Langit dicomot orang. Ampe masih dipegangin udah nyampe kelas juga". Ucapan Nindi benar-benar menyadarkan Bintang.


Ia langsung melepaskan tangannya sambil berteriak.


"Lo kenapa diem aja sih dari tadi! Ish, ini gara-gara elo sih. Kalo tadi lo nggak ribut sama siapa tu orang tadi kan gw nggak usah narik-narik elo!". Sudah merepet saja mulut Bintang mengomeli Langit yang justru tergelak senang.


Bintang bahkan tidak menyadari jika Bulan sudah ada didalam kelas, tengah menertawakan interaksi sepasang muda mudi itu yang terlihat seperti pasangan kekasih.


Namun senyumnya redup saat menatap pemuda yang duduk disampingnya. Ah jika mengingat pagi tadi, Bulan jadi kesal sendiri.


Kesalahpahaman semakin berlarut tentang hubungannya dengan Sam. Sedangkan penyebab kesalahpahamannya tampak santai seperti tidak terjadi apapun diantara mereka.


Ingin sekali Bulan mencakar wajah datar dan dingin milik Sam. Namun dirinya hanya terus mengumpat dan menggerutu dalam diamnya saja.


Kembali pada Bintang dan Langit, pemuda tampan itu hanya diam sambil tersenyum saat Bintang terus mengomel padanya.


"Pagi-pagi udah ribut aja ni anak berdua". Roman yang baru datang langsung menyela dna berjalan diantara Langit dan Bintang.


"Ck, percuma ngomong ama biawak ngeselin". Ketus Bintang yang hendak mencari tempat untuk duduk.


Bahkan kini dirinya baru menyadari keberadaan Bulan yang sudah duduk bersebelahan dengan Sam.


"Sam.." Panggil Bintang. Yang dipanggil hanya acuh saja dan terus memainkan ponsel.


"Samudra!!!". Bintang memanggilnya lagi dan jawaban Sam benar-benar membuatnya kesal.


"Hem.." Bukan hanya Bintang, Bulan pun tak kalah kesalnya.


"Sam, pindah sana lo. Gw duduk sama Bintang". Kini giliran Bulan yang berbicara.


"Iya sana lo, gw mau duduk". Sam mengangkat wajahnya, menatap Bulan dan Bintang bergantian.


"Kenapa?". Alis kedua gadis cantik itu mengernyit. Apa maksdu pertanyaan batu berjalan itu?


"Kenapa gw yang harus pindah? Kan masih banyak kursi kosong.." Bukan suara Sam. Tapi Roman.


"Samudra!!!!". Pekik Bintang dan Bulan bersamaan hingga Sam menutup telinganya karena teriakan keduanya yang mampu membuat telinganya berdengung.


"Berisik. Sini sama gw". Langit menarik Bintang dan mendudukkan gadis itu disampingnya. Membuat seisi kelas kompak menggoda kedua pasangan itu.


Hingga bel berbunyi, semua kompak berhamburan keluar kelas untuk mengikuti upacara yang memang dilakukan setiap hari senin.


...¥¥¥•••¥¥¥...

__ADS_1


...Dikasih satu lagi ya🥰☺️☺️ maapin kalo ceritanya agak gaje, nggak nulis beberapa hari bikin kreativitas nya rada rudet😂😂🤦🏼‍♀️ harap maklum ya pemirsah🙏🏻🙏🏻...


...Happy reading semua🥰😘😘♥️💋💐...


__ADS_2