Langit Untuk Bintang

Langit Untuk Bintang
pergi bersama


__ADS_3

Pagi-pagi, Langit sudah duduk diruang tamu rumah Bintang sambil menunggu Bintang yang tengah bersiap.


"Hari ini, atau nggak sama sekali". Gumam Langit meyakinkan dirinya sendiri.


"Lang.." Suara ayah membuat Langit mengangkat wajahnya.


"Sudah lama?", Tanya ayah lagi sambil menepuk pundak Langit yang tengah mencium punggung tangannya.


"Belum yah.." Ayah mengangguk, kemudian duduk bersebrangan dengan Langit.


"Kamu yakin dengan keputusanmu? Ayah tidak memaksa jika kamu tidak mau, ayah bisa membujuk daddy mu". Ayah berbicara setelah berulang kali menatap tangga, memastikan putrinya tidak ada disana.


Langit menghela nafas panjang. Pertanyaan ayah kembali mengusik keyakinannya. Namun cepat ia tepis keraguan itu.


"Langit memang nggak sepenuhnya yakin, yah. Tapi Langit akan melakukannya.." Langit berhenti sejenak untuk menenangkan dirinya sendiri.


"Langit ingin menjadi laki-laki yang pantas saat nanti meminta Bintang menjadi pendamping Langit". Ayah melengkungkan bibirnya. Meskipun sebenarnya kurang setuju, namun ia bangga dengan pemikiran Langit.


"Tapi ayah tidak bisa berjanji, saat kamu pulang nanti bisa jadi Bintang sudah memiliki kekasih". Ucapan ayah mampu membuat jantung Langit berhenti berdetak sesaat. Bahkan Langit menahan nafasnya beberapa detik.


Namun kemudian, lelaki tampan itu tersenyum tipis. Senyum yang membuat ayah sedikit mengernyit karena heran.


"Tapi Langit percaya pada Bintang, yah. Mungkin saja Bintang akan membenci Langit, dan pastinya dia akan kecewa, tapi..."


"Tapi Langit percaya kalau Langit memiliki tempat sendiri dihati Bintang. Walaupun nantinya Langit harus memulai semua dari awal, harus meluluhkan kembali hati Bintang yang mungkin akan lebih keras dari sebelumnya, tapi Langit tidak akan malu mengangkat wajah ini dihadapannya. Langit akan kembali sebagai laki-laki yang benar-benar pantas untuk memperjuangkan Bintang". Ayah tak bisa menyembunyikan senyum bangga nya.


Sebenarnya ayah pun tidak yakin jika putrinya akan berpaling pada laki-laki lain. Karena pada kenyataannya, beberapa waktu terakhir, putrinya itu sering sekali membicarakan Langit. Langit ini, Langit itu, dan segala hal tentang Langit dan kebaikan serta kelebihannya.


Mungkin Langit benar, jika namanya memang sudah memiliki tempat sendiri dihati Bintang, putrinya.


"Langit janji akan berusaha keras agar bisa cepat kembali yah.." Ayah mengangguk, ia hanya bisa memberi semangat jika yang mau menjalani saja sudah mantap dan yakin.


"Cepet kembali dari mana?". Kedua lelaki beda usia itu segera menoleh, keduanya tampak terkejut melihat Bintang sudah berdiri ditengah tangga.


Namun Langit lebih terkejut melihat penampilan Bintang kali ini. Sangat jauh berbeda dari Bintang yang selalu ia lihat.


Gadis yang jika pergi selalu memakai celana dan kaos itu, kini nampak anggun dan cantik dengan dress berwarna biru muda dengan corak bunga yang menghiasi ujung dress yang panjangnya sebatas lutut itu.


Rambut Bintang yang biasa dikucir kuda, kini terlihat diikat sebagian dan menyisakan setengah rambutnya digerai. Dibelakang, rambutnya dijepit dengan jepitan berbentuk pita yang sangat cantik. Kakinya dibalut sepatu berwarna putih yang membuat Bintang terlihat semakin menawan.


Langit bahkan tak berkedip melihat penampilan Bintang kali ini. Tanpa kesengajaan, Bintang bahkan seperti menyiapkan perpisahan terbaik untuknya dan Langit hari ini.


Bintang menunduk saat menyadari tatapan Langit yang terus tertuju padanya. Ia bahkan lupa dengan pertanyaan yang baru saja ia lontarkan.


Bintang menarik ujung dressnya, kini ia merasa tidak percaya diri dengan penampilannya karena Langit yang diam saja sejak tadi sambil menatap dirinya.

__ADS_1


Ayah menatap putrinya yang tampak malu-malu dengan wajah memerah, lalu ayah alihkan tatapannya pada Langit yang tampak terpesona melihat penampilan putrinya.


Sejujurnya bukan hanya Langit, bahkan ayah hampir berteriak saat melihat penampilan anak gadisnya yang sangat tidak biasa.


"Bintang aneh ya yah?". Tanya Bintang lirih pada sang ayah. Ia tak bertanya pada Langit karena pemuda itu benar-benar seperti orang yang tidak sadar. Hanya matanya yang mengikuti kemanapun Bintang melangkah.


"Kata siapa? Kamu cantik, sangat cantik nak.." Puji ayah tulus dan jujur. Melihat Bintang seperti ini benar-benar mengingatkan ayah pada mendiang istri pertamanya, ibu kandung Bintang.


"Tapi.." Lirih Bintang sambil melirik Langit yang masih tak berkedip menatap dirinya.


Ayah tertawa menyadari putrinya tidak percaya diri karena Langit yang terus menatapnya dalam diam. Sementara Langit, jelas ayah tahu jika pemuda itu pasti tengah mengagumi penampilan dan kecantikan Bintang.


"Dia itu sedang kagum. Sama seperti ayah, tapi sepertinya dia jauh lebih kagum melihatmu". Ucap ayah membuat wajah Bintang semakin merona.


Ayah bangun dari duduknya dan mendekati Langit. Ia takut Langit malah kesurupan jika tidak cepat disadarkan dari kekagumannya itu.


Ditepuknya pundak Langit dengan sedikit kuat. Membuat si empu nya pundak tergagap dan akhirnya sadar dari rasa kagumnya.


"Hah, apa? Kenapa yah?". Tanya Langit bingung membuat Bintang mengulum bibir menahan tawanya, sedangkan ayah sudah menyemburkan tawanya saat melihat Langit bingung sendiri.


"Putri ayah memang cantik.." Goda ayah membuat Langit malu, lelaki itu tersenyum canggung dan menggaruk kepalanya yang sebenarnya tidak gatal.


"Kalian sudah siap?". Suara bunda mengalihkan pandangan semua orang.


Kini terlihat bunda yang berdiri mematung ketika melihat penampilan putri bungsunya. Terlihat sangat anggun dan cantik. Bahkan bunda mengedipkan matanya beberapa kali untuk memastikan jika apa yang dilihatnya adalah benar.


"Astaga, cantik sekali sayang". Bunda segera menghampiri Bintang setelah menyadarkan dirinya dari keterkejutan. Dipeluknya sang putri dengan lembut sambil tak henti memuji penampilan Bintang kali ini.


"Kamu cantik sekali. Bunda hampir tidak mengenali kamu.." Tak henti mulut bunda memuji Bintang.


"Ehm..nggak aneh kan bun?". Tanya Bintang pelan membuat bunda memundurkan tubuhnya sambil menelisik penampilan Bintang.


"Aneh? Kata siapa aneh? Ini cantiiik sekali.." Ucap bunda dengan mata berbinar.


"Benar kan yah???", Ayah mengangguk cepat.


"Langit saja sampai tidak bisa berkata-kata karena terlalu terpesona". Senang sekali ayah menggoda Langit dan Bintang yang wajahnya langsung memerah.


"Memang rencananya mau kemana, Lang?". Tanya ayah pada Langit setelah sesaat lalu mereka tertawa bersama.


"Hanya jalan-jalan yah, menghabiskan hari libur". Ucap Langit yang dijawab anggukan kepala oleh ayah.


"Baiklah.."


"Ya sudah kalau begitu, sana berangkat. Nanti keburu siang". Ucap bunda membuat kedua anak muda itu mengangguk.

__ADS_1


"Hati-hati dijalan ya.." Pesan bunda saat keduanya berpamitan padanya dan ayah.


"Jaga Bintang ya, Lang". Langit mengangguk saat ayah berbicara.


Dan disinilah mereka saat ini, didalam mobil Langit yang melaju membelah keramaian kota.


"Kita mau kemana?". Tanya Bintang yang kini menatap Langit.


"Kemana aja, asal sama kamu.." Langit menoleh sekilas dan memberikan senyumnya.


deg..deg..deg..


Jantung Bintang berdetak kencang mendengar Langit memanggilnya 'kamu'. Memang sejak kapan lelaki itu begitu lembut memanggilnya?


"Kamu mau kemana sekarang? Aku ikut deh kemana aja.."


"Bener kan? Bener kan dia tadi manggil 'kamu??'. Huaaaa..sejak kapan ni orang manggil gw pake kamu, kamuan segala". Batin Bintang berteriak.


"Lang..lo sehat kan?". Tanya Bintang membuat Langit tertawa.


"Ish, gw beneran nanya ini. Lo beneran sehat kan?", Tawa Langit semakin pecah, apalagi melihat wajah Bintang.


"Kenapa emang??", Bukannya menjawab, Langit justru balik bertanya.


"Sejak kapan lo manggil gw pake 'kamu-kamu' gitu??". Tanya Bintang dengan wajah bingung sekaligus aneh.


"Sejak hari ini..nggak boleh ada lo gw buat hari ini dan seterusnya. Oke?". Langit kembali menoleh sekilas untuk melihat reaksi Bintang.


"Ke-kenapa emang?". Tanya Bintang gugup.


Entah memang benar atau hanya perasaannya saja jika hari ini Langit memang sangat-sangat berbeda dari Langit yang biasanya. Dan hati Bintang tiba-tiba merasa tidak tenang hanya dengan memikirkan hal itu.


"Nggak ada alasan khusus, Bin. Cuma...aku ngerasa kita udah dewasa aja..kayanya udah nggak pantes lo gw lo gw terus". Jelas Langit membuat Bintang terdiam.


Gadis itu terlihat memilin jemari satu dan lainnya. Entah gugup atau malah malu gadis itu.


"Gw mau hari ini jadi hari yang akan pernah kita lupain, Bintang. Dan gw harap dengan pergi bareng gini, lo bisa selalu inget sama gw dan semua kenangan tentang kita saat nanti gw pergi. Karna besok gw udah harus pergi jauh dari lo". Batin Langit sedih, namun ia menyetel wajahnya biasa saja dan bahkan tersenyum.


...¥¥¥•••¥¥¥...


...Huaaa, Bintangnya mau ditinggalin sama babang Langit🥺🥺...


...Sabar ya Bintang..nanti juga ketemu lagi kok🥰😘...


...Buat readers..makasih banyak ya dukungan dan kesetiaannya baca novel ini🙏🏻🙏🏻...

__ADS_1


...sayang readers banyak-banyak😘😘 sarangheo😂😘😘🥰💐♥️💋...


__ADS_2