Langit Untuk Bintang

Langit Untuk Bintang
percobaan pertama


__ADS_3

"Lepas!!". Teriak Bintang saat tiba-tiba Langit mengangkat tubuhnya dan membawanya masuk kedalam mobilnya.


"Nggak akan. Dan jangan ngarep". Seringai kecil muncul dibibir seksi Langit.


"Lepas atau aku bakal teriak!". Ancam Bintang sambil memukul punggung Langit.


Saat ini Langit mengangkat Bintang seperti tengah membawa sebuah karung.


"Teriak aja". Santai Langit menjawab. Toh tidak ada siapa-siapa disekeliling mereka. Posisi mereka juga belum jauh dari rumah ayah.


"Toloooong!!", Bintang benar-benar berteriak keras, membuat Langit justru tertawa.


"Suara kamu kurang keras, Bintang". Malah meledek dan membuat Bintang semakin keras memukul punggungnya.


Langit menurunkan Bintang disebelah mobil yang pintunya sudah ia buka.


"Kamu nggak akan bisa kabur". Langit memeluk erat pinggang Bintang saat gadis itu mencoba kabur.


Mendorong pelan tubuh Bintang masuk kedalam mobil dan memasang sabuk pengaman untuk Bintang yang masih coba berontak.


Langit menutup pintu dan segera berlari memutari mobil untuk duduk dikursi kemudi. Tepat saat dirinya masuk, Bintang sudah melepaskan sabuk pengamannya dan bersiap kabur.


Namun Bintang kalah cepat. Langit lebih dulu mencekal tangannya dan menarik tubuhnya hingga membuat tubuh keduanya bertubrukan.


Langit mengamati wajah Bintang yang terlihat terkejut. Sudut bibirnya sedikit terangkat saat melihat wajah Bintang memerah. Karena kini wajah keduanya sangat dekat, bahkan Langit maupun Bintang bisa merasakan hangatnya hembusan nafas satu sama lain.


"L-lepas!". Setelah sadar, Bintang mendorong dada Langit. Berharap bisa memberi jarak pada tubuhnya dan Langit.


Namun Langit justru meraih pinggang Bintang dan membuat posisi keduanya kian dekat.


"Masih sama.." Lirih Langit mengamati setiap detail wajah gadis didepannya ini.


"Cantik.." Puji Langit dengan menyunggingkan senyum menawannya yang mampu membuat Bintang terpaku sesaat.


Mata Bintang melebar saat merasakan benda kenyal menempel dibibirnya. Untuk kesekian kalinya, Langit kembali mencuri ciumannya.


Semua pergerakan yang direncanakan Bintang sudah bisa dibaca oleh Langit. Sebelum Bintang memundurkan kepalanya, Langit sudah lebih dulu menahan tengkuk Bintang dan memperdalam ciumannya.


Tanpa sadar Bintang menitikkan air matanya. Ia memaki dirinya yang begitu lemah hingga Langit bisa dengan mudah kembali mencium dan menyentuh dirinya.


Ia juga memaki hatinya yang tak bisa membenci Langit bahkan setelah yang dilakukan Langit padanya.


Langut tersentak saat merasakan bibir yang diciumnya bergetar. Ia segera melepaskan ciumannya dan mendapati Bintang yang tengah menangis.


"M-maaf.." Hatinya berdenyut sakit melihat wanita yang dicintainya menangis, apalagi itu karena ulahnya.


"Jangan nangis..aku minta maaf". Langit mengusap air mata yang membanjiri pipi Bintang.


Bukannya mereda, tangis Bintang kian menjadi saat Langit mengusap air matanya. Terus memaki diri dan hatinya yang tak bisa menolak saat Langit membelai lembut ppipinya. Bahkan ia sangat menikmatinya, setiap sentuhan yang ia rindukan itu.


Langit menarik Bintang kedalam pelukannya. Mengusap punggung Bintang dan memberi kecupan dipucuk kepala Bintang beberapa kali.

__ADS_1


"Lemah!!", Memaki dirinya yang justru menikmati pelukan hangat Langit.


Lama Langit memeluk Bintang. Meski Bintang diam dan tak membalas pelukannya. Namun diamnya Bintang sudah cukup memberi Langit harapan jika masih ada sedikit rasa yang tersisa dihati Bintang untuknya.


Wajah Bintang memerah saat Langit mengurai pelukannya. Antara malu dan sisa tangisannya, Bintang langsung menundukkan kepalanya.


Langit tersenyum melihat wajah Bintang yang bersemu. Wajah malu-malu yang begitu ia rindukan selama bertahun-tahun lamanya.


"Bin.." Langit meraih jemari Bintang. Namun Bintang langsung menjauhkan tangannya hingga Langit menarik kembali tangannya.


"Bisa kamu turun dari mobilku? Aku mau pulang". Lirih Bintang tanpa mau menatap Langit.


"Bin..aku--"


"Tolong". Bintang memohon meski tak menatap Langit. Ia benar-benar merasa lelah hari ini. Tak sanggup lagi jika harus berhadapan dengan Langit.


"Baiklah.." Meskipun sebenarnya tak rela. Namun Langit mengalah dan tidak memaksa Bintang lagi pada akhirnya.


Mungkin memang butuh waktu dan harus perlahan untuk bisa membuat Bintang memaafkan dan menerima dirinya kembali seperti dulu.


"Aku akan menemui kamu lagi nanti.." Ucap Langit sebelum membuka pintu mobil dan keluar.


Menghela nafas panjang setelah Langit keluar dari mobilnya. Bintang berpindah tempat duduk tanpa keluar dari mobil.


Langit menatap mobil Bintang yang mulai berjalan menjauh dari tempatnya berdiri. Ternyata tak semudah yang pernah ia bayangkan dahulu.


"Maaf Bintang.." Lirih Langit yang menatap sendu mobil Bintang yang kian tak terlihat.


Semua rasa yang ia miliki untuk Langit seolah berperang saat ini. Rasa rindu yang begitu besar dibalut dengan kebencian dan juga kekecewaan.


"Aku kangen banget sama kamu, Lang. Tapi aku juga benci sama kamu.." Menangis dan menangis lagi hingga rasanya muak pada dirinya sendiri yang begitu lemah dan labil pada perasaannya sendiri.


Bintang menghapus air matanya saat sudah sampai dibasement apartemen tempatnya tinggal sekarang.


Mengatur nafasnya, menghela panjang nafasnya sebelum turun dari mobil. Dan ternyata matanya sudah lumayan bengkak hanya karena menangis sepanjang perjalanan pulangnya.


Sementara Langit disambut tatapan khawatir ayah dan bunda saat kembali dengan berjalan kaki.


"Kenapa kamu jalan kaki, Lang?". Tanya bunda


"Dimana Bintang?". Imbuhnya lagi.


"Bintang sudah pulang, bun". Memberi senyuman yang bunda lihat jelas menyimpan sejuta kekecewaan.


"Langit masih gagal.." Lirih Langit kemudian membuat ayah dan bunda saling menatap sedih.


"Sabar lah.." Ayah menepuk pundak Langit beberapa kali untuk sekedar memberi penghiburan.


"Pasti Bintang masih terlalu kaget dengan kembalinya kamu, nak. Hanya butuh waktu untuk membiasakan diri dengan keberadaanmu lagi". Bunda ikut menenangkan meski sebenarnya ia teringat dengan sosok Alva yang diakui Bintang sebagai kekasihnya.


Bukan hanya bunda, sejujurnya Langit pun penasaran dan ingin bertanya lebih banyak tentang sosok laki-laki yang datang ke acara reuni semalam bersama Bintang.

__ADS_1


"Ayo masuk dulu. Kamu belum sempat makan". Ajak Bunda kemudian.


"Iya, terimakasih bun. Maaf Langit selalu ngerepotin". Jujur sebenarnya Langit sungkan, apalagi mendapat perlakuan yang sama dari kedua orang tua gadis yang sudah ia buat kecewa.


"Sama sekali tidak.." Senyum teduh bunda tak pernah berubah. Selalu bisa menghangatkan dan mendamaikan hati siapapun yang berbicara dengannya.


Akhirnya Langit masuk kembali kedalam rumah. Semua sudah selesai dengan makan siangnya yang sempat tertunda tadi.


Kini hanya menyisakan Langit yang sedang makan dengan ditemani bunda.


"Ke ruang kerja ayah setelah nanti selesai makan, ya". Ayah berlalu pergi ke ruang kerja nya setelah melihat anggukan kepala Langit.


Sepeninggal ayah, hanya ada bunda dan Langit yang terlihat sama-sama sibuk dengan pikiran mereka masing-masing.


"Percobaan pertama aku gagal. Tapi aku nggak akan nyerah, Bintang. Aku akan berusaha..sampai aku mendapatkan maaf dan juga cintamu lagi". Batin Langit yang tidak sadar jika bunda memperhatikannya.


"Lang.." Panggilan bunda membuyarkan lamunan Langit.


"Iya bun.." Menyahut cepat sambil menatap bunda yang terlihat ragu menyampaikan sesuatu padanya.


"Ada apa bun?". Akhirnya Langit bertanya karena bunda masih diam.


"Apa semalam kamu bertemu Bintang dan--" Langit tersenyum tipis sambil mengangguk bahkan sebelum bunda selesai dengan pertanyaannya.


"Apa dia pacar Bintang, bun?", Ada yang berdenyut sakit saat mulutnya menanyakan hal itu pada bunda.


"Entahlah.." Sahut bunda lirih sambil kemudian menghela nafasnya yang terdengar berat.


"Bunda tidak tahu, bunda juga tidak yakin..tapi---" Akhirnya mengalirlah cerita ketika Alva datang menjemput Bintang dan bagaimana sikap ayah dan kedua kakak Bintang.


Bunda juga menceritakan apa yang Bintang ucapkan saat pulang dari acara reuni semalam pada ayah dan kedua kakaknya.


Semakin sakit yang Langit rasakan didalam hatinya. Seperti ada ribuan pisau yang menancap langsung ke hatinya.


Benarkah? Apakah semua benar-benar seperti itu? Benarkah hati Bintang sudah dimiliki laki-laki bernama Alva itu?


Kini Langit merasakan ketakutan besar. Bahkan makanan yang tadi terasa begitu nikmat dilidahnya itu tiba-tiba terasa hambar setelah bunda menceritakan semuanya.


"Bunda tidak bermaksud apapun menceritakan semua ini, Lang. Hanya saja, bunda takut jika Bintang memang sudah berpaling. Bunda hanya takut jika nantinya kamu juga akan terluka sama seperti Bintang yang terluka". Melihat Langit yang diam membuat bunda merasa bersalah. Apakah keputusannya memberitahu Langit perihal Alva dan yang terjadi semalam itu salah?


"Tidak apa-apa, bun. Jika memang Bintang sudah melupakan Langit dan bahagia dengan laki-laki lain. Maka Langit akan ikut bahagia untuk Bintang dan pergi menjauh". Bunda tahu Langit terluka meski bibirnya menunjukkan senyuman.


"Bunda berdoa yang terbaik untuk kalian berdua,nak. Sudah cukup penderitaan kalian selama ini. Bunda mohon berbahagialah kalian berdua". Doa tulus dari seorang ibu untuk anak-anak yang sudah seperti anak kandungnya.


...¥¥¥•••¥¥¥...


...Mengsedih mulu ini berdua🥺😭...


...Sabar aja Lang, namanya juga perjuangan😌 Kuat-kuatin mental aja ya Lang dijudesin Bintang. Anggep aja lagi nostalgia jaman pertama-pertama kenal dulu😂😂😅...


...Happy reading semua🥰😊 sarangheo💋💋😂😘🙏🏻🙏🏻💐♥️...

__ADS_1


__ADS_2