
Langit yang awalnya berniat pergi ke kamar mandi menghentikan langkahnya saat netra tajamnya melihat sosok gadis yang sudah satu minggu ini tak ia lihat.
Netranya semakin menajam saat melihat siapa yang duduk dihadapan gadis itu.
Langit berjalan mendekat ke arah keduanya dengan tangan terkepal. Apalagi melihat wajah Bintang yang terlihat tidak nyaman karena keberadaan Arsen.
Langkah kaki Langit semakin cepat saat melihat Bintang berdiri. Bahkan kini Langit seperti setengah berlari karena melihat tangan lancang Arsen yang mencekal tangan Bintang.
"Jangan berani sentuh pacar gw!!!".
Langit menghempas kasar tangan Arsen hingga terlepas. Langit menarik Bintang agar berdiri di belakangnya.
Arsen yang sempat terkejut kini menarik sudut bibirnya hingga membentuk sebuah senyum miring.
"Ayo". Langit menggenggam tangan Bintang dan hendak membawanya pergi.
"Santai dong Lang..kita bisa ngobrol dulu disini". Arsen kembali mencekal pergelangan tangan Bintang. Hingga kini kedua tangan Bintang sama-sama dipegang oleh dua lelaki.
"Lepas!". Langit menatap tajam tangan Arsen. Namun sepertinya Arsen tak berniat untuk melepaskan tangan Bintang.
"Gue bilang lepas!". Langit menekankan kata-katanya dengan sorot mata tajam.
"Serem banget si biawak kalo kaya gini". Batin Bintang yang melihat wajah Langit menggelap.
Bintang menatap sekeliling, sudah ada beberapa pasang mata yang menatap mereka bertiga.
Tak ingin menjadi pusat perhatian. Bintang menghempaskan dengan kasar tangan keduanya hingga kini tangannya bebas.
Bintang menatap tajam Langit dan Arsen bergantian. Kemudian tanpa kata, Bintang berjalan meninggalkan keduanya.
"Jangan pernah deketin pacar gw!". Peringat Langit kemudian berlari mengejar Bintang yang sudah keluar restoran.
"Sorry Lang. Tapi gw nggak mau!". Arsen berteriak kemudian terkekeh pelan menatap Langit yang kini menunjukkan kepalan tangan yang ditujukan padanya.
"Bintaang!!". Langit berteriak memanggil nama Bintang yang berjalan tanpa mau menoleh ke belakang.
Niat hati ingin menghilangkan rasa bosan, malah kini Bintang menjadi kesal. Sudah Bulan menghilang tanpa jejak dan kabar, ditambah bertemu lelaki aneh seperti Arsen, masih ditambah Langit.
Bintang menghentikan langkahnya saat tangannya digenggam seseorang. Dan Langit lah orangnya.
Wajah pemuda itu masih terlihat mendung, namun sudah tidak semenyeramkan saat tadi bertatapan dengan Arsen.
"Lepas". Ucap Bintang membuat Langit menoleh.
"Nggak. Gue nggak akan lepasin lo. Ntar lo ilang, apa enggak diganggu lagi sama orang". Bintang mencebik mendengar jawaban Langit.
Ia biarkan Langit menggenggam tangannya. Memang lebih baik diganggu Langit daripada diganggu orang asing aneh seperti Arsen tadi bukan.
"Lo ngapain disini sendiri?". Langit bertanya
"Lo sendiri ngapain disini?". Bukannya menjawab, Bintang justru balik bertanya.
"Gw? Gw nganterin calon mertua elo belan--"
"Mommy!!". Seru Langit yang baru teringat jika tadi dirinya pamit pada sang ibu untuk menuntaskan hajatnya.
__ADS_1
"Heh Lang!! Lo mau bawa gw kemana?!". Bintang bertanya sambil terus mengikuti langkah Langit yang setengah berlari.
"Mati gw Bin. Pasti mommy ngamuk". Alis Bintang berkerut tak paham apa maksud Langit. Namun ia tetap mengikuti langkah kaki Langit membawanya.
"Mama liat apa sih?". Tanya Sam pada sang mama yang sejak tadi terlihat memfokuskan pandangan ke sudut lain restoran.
"Tidak apa-apa". Mama Mira kembali menatap Bulan dan Sam.
Kembali pada Langit dan Bintang. Saat ini keduanya tengah berdiri didepan sebuah butik ternama. Langit menghela nafas panjang sebelum menarik Bintang masuk ke dalam butik.
Awalnya Bulan menolak. Namun Langit memaksa menarik tangannya hingga kini keduanya sudah berada didalam butik.
"Dasar kamu anak nakal!", Tiba-tiba sebuah tas tangan mendarat di pundak Langit beberapa kali. Hingga Langit meringis karena rasanya cukup terasa sakit.
"Ampun mom..aduh ampun. Sakit mom". Langit coba melindungi dirinya. Sepertinya mommy Sekar belum melihat keberadaan Bintang yang tertutup tubuh Langit.
"Dari mana saja kamu hah?!! Main tinggalin mommy sendiri! Kamu tau enggak mommy capek nungguin kamu!". Mommy Sekar masih merepet mengomeli putranya.
Sementara Bintang yang berdiri dibelakang Langit tersenyum senang melihat Langit dipukuli oleh mommy nya.
"Aw..aw..Langit jemput calon mantu mommy!". Gerakan mommy Sekar terhenti mendengar ucapan Langit. Ia melongok ke belakang tubuh putranya. Seketika wajah galaknya berubah berbinar melihat Bintang ada dibelakang tubuh putranya.
"Aaah ya ampun..anak mantu mommy". Pekik mommy Sekar kegirangan melihat Bintang disana setelah Langit menggeser tubuhnya.
"Bilang dari tadi dong kalo Bintang disini". Langit menghela nafas panjang, masih saja disalahkan oleh sang mommy.
Langit mengelus pundaknya, tidak terlalu sakit sebenarnya. Tapi malu saja rasanya karena banyak pengunjung dan karyawan butik yang tadi menyaksikan dirinya dipukuli oleh sang ibu.
"Mommy seneng banget ketemu kamu, sayang". Mommy Sekar memeluk Bintang yang terlihat tersenyum canggung.
Dan entah bagaimana ceritanya, kini Langit dan Bintang sudah ada didepan bioskop, beserta mommy Sekar.
Bintang menatap galak pada Langit yang hanya bisa tersenyum kaku sambil menggaruh tengkuknya.
"Gw kan nggak tau kalo mommy bakal ngintilin kita, Bin". Ucap Langit saat Bintang terus menatap galak padanya.
"Ck". Bintang hanya bisa berdecak.
Mommy terlihat tengah mengobrol dengan wanita yang mungkin seusia dengannya. Beberapa kali mommy menunjuk pada Bintang dan Langit yang terpaksa duduk bersebelahan.
Tak lama mommy datang bersama temannya itu dan menghampiri Langit dan Bintang.
"Cantik sekali..jadi ini calon mantu jeng Sekar?". Mommy Sekar mengangguk senang.
"Kamu pintar sekali sih memilih calon istri Lang". Langit melirik Bintang kemudian tersenyum.
"Apalagi ini ya Allah?", Hanya batinnya saja yang terus berteriak.
"Cantik kan? Calon menantuku memang sangat cantik". Puji mommy Sekar menatap Bintang yang tampak malu karena terus dipuji.
"Siapa nama mu nak?". Tanya teman mommy menatap Bintang.
"Kenalkan, nama saya Bintang tante.." Bintang menyalami tangan teman mommy dan mencium punggung tangannya.
"Nama yang cantik, secantik orangnya". Pujinya membuat Bintang tersenyum.
__ADS_1
"Dia memang sangat cantik..dan baik". Mommy Sekar seolah tak bosan memuji Bintang. Padahal ini baru kali kedua mommy Sekar bertemu Bintang.
"Tapi pacar anakku juga tidak kalah cantik". Langit tampak mulai tertarik mendengar percakapan ibunya.
"Benarkah?? Lalu dimana anakmu dan pacarnya?". Tanya mommy Sekar menatap sekeliling.
Teman mommy pun melakukan hal yang sama. Ia mencari keberadaan anak dan pacar anaknya yang tadi pamit membeli tiket untuk nonton.
"Ah..itu dia mereka". Seru teman mommy.
Mommy Sekar, Bintang serta Langit mengikuti kemana teman mommy itu menunjuk. Dan betapa terkejutnya Langit dan Bintang melihat siapa yang menjadi pacar anak teman mommy.
"I-itu pacar Sam, tante?". Tanya Langit terbata.
"Iya..cantik juga kan. Namanya Bulan..."
"Eh..ngomong-ngomong namanya kok sama-sama benda langit ya, Bulan..Bintang". Teman mommy yang tak lain adalah mama Mira tampak tersenyum.
"Ma..ini ti---" Sam tak melanjutkan ucapannya saat melihat siapa yang ada disamping mama nya.
"Sam, sini nak. Ajak Bulan kesini cepat. Mama mau mengenalkan Bulan sama tante Sekar". Mama Mira tampak bersemangat. Sangat berbeda dengan wajah Sam dan Bulan yang terlihat memucat.
Baik Bulan maupun Bintang sama-sama mematung. Tatapan mereka seolah terkunci satu sama lain.
"Sayang, kenalkan. Ini tanta Sekar, sahabat baik mama". Mata Bintang semakin melebar saat mendengar mama Mira menyebut dirinya mama pada Bulan.
"H-halo tante, kenalkan..nama s-saya Bulan". Susah payah Bulan mengenalkan dirinya.
"Halo Bulan..panggil saja tante Sekar. Ini anak tante, namanya Langit. Dia ini sahabatnya pacar kamu ini". Mommy Sekar menjelaskan, namun yang dimengerti Bulan hanyalah, mommy Sekar adalah ibunda Langit.
"Ah, benar. Ternyata kamu juga cantik. Sama seperti calon menantu tante". Kini giliran Bulan yang dibuat terkejut.
"Bintang, sayang. Kemari nak.." Mommy Sekar melambaikan tangan pada Bintang.
"Mereka berdua benar-benar cantik. Kita sangat beruntung bukan?". Mama Mira terlihat sangat bahagia.
"Kapan-kapan kita harus bawa mereka ke arisan jeng. Pasti yang lain merasa iri". Mommy Sekar tak kalah semangat dari mama Mira.
"Ide bagus". Keduanya tertawa bersama, tanpa menyadari wajah tegang anak-anak muda itu.
Keempatnya berdiri saling berhadapan dan kaku seperti patung. Apalagi saat ibu mereka mengenalkan masing-masing gadis sebagai calon menantu mereka.
"Lo hutang penjelasan sama gue". Mungkin itulah arti tatapan Bintang pada Bulan. Pun sebaliknya.
Berbeda dengan para gadis, Langit dan Sam tampak lebih tenang dan santai. Keduanya bahkan terlihat menyunggingkan senyum tipis walau hanya sekilas.
Mommy Sekar dan mama Mira masih asyik mengobrol sambil membanggakan Bulan dan Bintang. Keduanya tak tahu jika kini kedua gadis itu seolah tak bernyawa karena terlalu terkejut dengan apa yang terjadi kini.
...¥¥¥•••¥¥¥...
...Hiyaaaa...gimana tuh mau jelasinnya? Sama-sama kejebak sama hubungan tak terduga yaaa😅😅🥰...
...Nantikan terus kelanjutannya..happy reading readers🥰🥰☺️...
...Sarangheo banyakbanyak buat kalian semua🥰😘😘😊💐♥️💋...
__ADS_1