Langit Untuk Bintang

Langit Untuk Bintang
menyerah


__ADS_3

Langit tersenyum tipis melihat Bintang memalingkan wajahnya. Sepertinya ia kini harus menyerah dan menerima keputusan kakek dan daddy nya untuk menjodohkan dirinya.


Malam nanti dirinya harus mau datang ke rumah gadis yang katanya telah dijodohkan dengannya sejak masih kecil.


Langit kembali menghela nafas panjang. Tersenyum miring menertawakan nasib percintaannya yang kandas sebelum di mulai.


Aneh memang, dulu dirinya begitu mudah mendapatkan gadis manapun yang ia inginkan tanpa harus bekerja keras. Dan kini, karma seolah telah berbalik menyerangnya.


Saat dirinya merasa benar-benar jatuh cinta dan ingin setia dengan satu gadis, takdir membuatnya tak berdaya dengan penolakan gadis itu.


"Lang!". Tepukan dipundaknya menyadarkan Langit yang masih fokus menatap Bintang yang kembali berbincang dengan Bulan.


Langit mengangkat alisnya sambil menatap Roman yang juga tengah menatap dirinya.


"Lo yakin mau nurutin perintah kakek?". Langit tersenyum tipis mendengar pertanyaan Roman kemudian kembali fokus menatap Bintang.


"Mungkin kalo gue bisa milikin elo, gue bakal berjuang buat nolak perjodohan ini. Tapi gue nggak punya alasan lagi buat nolak perintah kakek sekarang". Batin Langit


"Percuma juga gue berontak. Si pak tua itu pasti bakal bikin gue nerima semua perintahnya". Langit terkekeh pelan.


"Emang udah waktunya gue menyerah sama semua keinginan si tua itu". Langit masih terkekeh saat menyadari dirinya tak memiliki daya lagi untuk menolak keinginan kakek dan sang daddy.


Meski sedang terlihat tertawa, namun Roman dan Sam tahu jika Langit tak sebahagia yang terlihat. Apalagi melihat dalamnya tatapan mata Langit terhadap Bintang.


"Lo nggak mau coba deketin dia lagi?". Langit paham siapa 'dia' yang dimaksudkan Roman.


"Gue nggak mau paksa dia Man. Selagi dia bahagia". Sahut Langit membuat Roman menggeleng.


"Perjuangin dia lagi lah, Lang. Mana Langit yang dulu. Masa kaya begini aja lo mundur". Roman coba memecut semangat Langit.


Namun semua sia-sia karena Langit tetap menggeleng. Bagi Langit, perjuangannya berbulan-bulan sudah cukup. Bintang tidak sedikitpun memberikan celah untuk dirinya bisa masuk kedalam kehidupan gadis itu. Kini memang sudah waktunya ia menyerah agar semua orang bahagia.


Langit masih ingat betul bagaimana tanggapan Bintang saat dirinya memberanikan diri untuk menyatakan perasaannya pada Bintang.


"Kita beda Lang. Gue cuma orang biasa. Lagian gue juga nggak mau pacaran".


"Gw nggak peduli. Apapun status lo, tapi gue cinta sama lo, Bin". Langit masih bersikukuh.


"Sorry Lang. Gue nggak bisa.." Bintang pergi meninggalkan Langit yang mematung tak bergerak.


Sekeras Langit mencoba mendekati Bintang, sekeras itu pula Bintang memasang tembok tinggi untuk memberi benteng pada Langit. Tembok yang sulit sekali Langit lewati.


"Langit.." Langit dan kedua temannya menoleh saat suara lembut Catherine menyapa pendengaran mereka.

__ADS_1


Sejak Langit tak lagi mendekati Bintang, Catherine seolah mendapat angin segar untuk mendapatkan peehatian Langit. Setiap hari gadis itu akan selalu mengunjungi Langit dan membawakan berbagai makanan dan minuman meski Langit tak pernah menerimanya.


Roman dan Sam hanya menatap sekilas Catherine yang sudah duduk disamping Langit dan mulai merangkul lengan Langit.


Tiba-tiba Roman tersenyum saat sebuah ide terlintas dibenaknya.


"Heh, jangan pegang-pegang lo". Roman menarik tangan Catherine agar tidak menggelayuti lengan Langit. Membuat Cath menatap tak suka pada Roman.


Sementara Langit tampak acuh saja. Fokus matanya masih pada Bintang. Setelah hari ini, mungkin ia akan lama tidak melihat wajah Bintang. Libur semester sudah didepan mata, jadi Langit akan memuaskan diri menatap Bintang hari ini sebelum mereka tak bisa bertemu lagi.


"Kenapa sih!!". Ketus Catherine tak suka saat Roman mengganggunya.


"Langit udah punya calon istri! Jangan macem-macem!". Bukan hanya Catherine yang melotot, namun Langit juga.


Bukan apa-apa. Langit belum siap jika Bintang mendengar kabar itu. Meski ia tak yakin Bintang peduli, namun Langit masih berharap Bintang peduli tentangnya.


"Nggak usah ngaco!!". Sinis Catherine yang jelas tak mempercayai ucapan Roman.


"Man!". Tegur Langit dengan kepala menggeleng pelan. Mengisyaratkan Roman untuk diam tak melanjutkan ucapannya.


Roman mencebik kesal namun tetap menuruti perintah Langit. Ia benar-benar hampir tak mengenal Langit yang sekarang. Kepribadiannya seperti tertukar dengan Sam yang kini lebih banyak berbicara. Sementara Langit lebih pendiam.


"Yang diomongin Roman nggak bener kan, Lang? Ya kali kamu dijodohin..nggak banget kan". Catherine tertawa


"Langit tunggu..bareng sampe depan". Catherine tak mau menyia-nyiakan kesempatan untuk dekat dengan Langit. Ia berlari mengejar Langit yang sudah berjalan menjauh.


Bintang hanya melihat sekilas pada Langit dan Catherine. Ia menghela nafas panjang untuk menenangkan dirinya.


Sudah berbulan-bulan, dan dirinya merasa baik-baik saja. Bahkan sangat baik.


---


"Kok tumben anak mommy udah pulang?". Kedatangan Langit disambut mommy Sekar.


"Pulang cepet salah, pulang telat diomelin". Gerutu Langit membuat mommy Sekar tertawa.


"Harusnya Langit yang nanya. Kenapa tumben mommy ada dirumah? Butiknya nggak ditungguin? Nanti diangkut semut lagi". Gantian Langit menggoda sang ibu yang terlihat mendelik kesal pada putranya sambil memukul pelan lengan putra tersayangnya itu.


"Dasar anak nakal. Mommy kan harus menyiapkan segala sesuatunya. Masa iya kerumah calon besan nggak ada persiapan apa-apa. Malu dong mommy". Langit kembali lesu, hatinya tak mau menerima perjodohan ini. Namun ia tak bisa melakukan apapun untuk menolaknya. Kabur pun akan percuma, karena pasti orang-orang suruhan daddy dan kakeknya akan dengan mudah menemukannya.


"Dia sudah tidak sabar ingin bertemu calon istrinya". Kelakar kakek Wira yang baru saja bergabung dengan ibu dan anak itu, membuat Langit mendengus.


"Dasar pak tua ngeselin". Gerutu Langit yang membuatny kembali mendapat pukulan dilengannya. Pelakunya tentu saja sang ibu.

__ADS_1


"Mommy sebenernya masih penasaran Lang..kenapa kamu tiba-tiba setuju sama perjodohan ini? Katanya kamu punya pacar? Terus kemana pacar kamu?". Langit memilih diam dan tak menjawab rasa penasaran sang mommy.


"Sepertinya pacar anakmu ini sudah sadar siapa dia. Jadi pacarnya itu milih ninggalin berandalan ini". Langit mencebik, kakeknya memang menyebalkan.


"Terserah kakek saja". Langit akhirnya pasrah saja saat terus digoda sang kakek.


"Kamu mau kemana Lang?". Tanya mommy Sekar saat melihat putranya beranjak.


"Kamar mom. Bangunin aja kalo udah mau berangkat". Dengan lesu, Langit berjalan menuju kamarnya.


"Apa papa yakin tidak akan apa-apa memaksa Langit tentang perjodohan ini?". Mommy Sekar menatap punggung putranya.


Sebagai seorang ibu, Sekar ingin putranya berbahagia. Ia tak ingin putranya terpaksa menerima semua ini hanya karena ancaman suami dan ayah mertuanya. Sama seperti dirinya yang menikah karena perjodohan. Meski kini ia dan sang suami sudsh saling mencintai, namun yang sudah mereka lewati tak semudah yang orang lihat saat ini.


"Tenanglah Sekar. Aku tidak akan memaksakan sesuatunya. Jika memang Langit tidak mau, aku akan membatalkannya. Biarkan mereka bertemu dulu". Mommy Sekar mengangguk paham.


Ia percayakan semua pada suami dan ayah mertuanya. Berharap apa yang direncanakan oleh suami dan ayah mertuanya akan membuat putranya bahagia.


Mommy Sekar melanjutkan kegiatannya menyiapkan buah tangan untuk dibawa kerumah calon besannya.


Sedangkan kakek Wira tampak merenung di ruang keluarga. Pertemuan tak sengaja nya dengan gadis yang ia jodohkan dengan Langit semakin membuatnya bersemangat untuk menjodohkan Langit dengan gadis manis baik hati itu.


"Semoga saja kalian memang berjodoh". Gumam kakek Wira dengan tatapan menerawang.


Langit menghempaskan tubuhnya keatas kasur. Matanya menatap langit-langit kamarnya yang berwarna putih.


Tangannya merogoh saku celananya untuk mengambil ponsel miliknya. Langit membuka galeri ponselnya, hal pertama yang ia cari adalah foto candid Bintang.


"Cantik.."


"Lo cantik banget Bin.." Puji Langit sambil mengelus layar ponselnya.


"Sama kaya nama lo..Bintang. Tempat lo terlalu tinggi buat gw gapai". Gumam Langit masih terus mengusap layar ponselnya yang menunjukkan wajah ayu Bintang saat tengah tersenyum.


Langit terus mengagumi Bintang, menganggap Bintang sulit digapai karena terlalu tinggi, ia lupa jika arti namanya juga sama tingginya dengan Bintang. Bahkan tak akan ada Bintang jika tidak ada Langit di semesta ini.


Lelah dengan semua pikirannya. Langit terlelap masih dengan mendekap ponselnya yang menampakkan wajah ayu Bintang. Langit berharap semua akan baik-baik saja setelah hari ini.


...¥¥¥•••¥¥¥...


...Nggak tau deh berapa bab..yang pasti othornya udah kreji banget up nya😁😁...


...Semua aku dedikasikan buat pembaca setianya Langit dan Bintang. Nggak peduli mau banyak atau sedikit yang baca, aku bakal selesaiin cerita ini😊...

__ADS_1


...So, makasih banyakbanyak buat kalian yang selalu setia baca dan dukung semua karya aku🙏🏻🙏🏻 makasiiiiih banget🙏🏻🙏🏻🥰 sayang kalian banyakbanyak pokoknya, sarangbeo sekebon lah ya pokoknya♥️♥️🥰🥰💋😘😘😘💐...


__ADS_2