Langit Untuk Bintang

Langit Untuk Bintang
Pergi lagi?


__ADS_3

Bintang segera menoleh saat merasakan sebuah tangan kekar merangkul pundaknya. Ia mendapati wajah tampan milik Langit tepat disampingnya.


Saat ini dirinya dan teman-teman yang lain tengah berfoto bersama Bulan dan Sam.


"Oke semua fokus kesini ya.." Instruksi dari fotographer yang sudah siap dengan kameranya membuat Langit memegang dagu Bintang dan membuat wajahnya menatap lurus ke depan.


"Aku tau aku ganteng, tapi nanti aja mengagumi ketampanan aku. Sekarang kita foto dulu.." Bisik Langit tepat ditelinga Bintang membuat mata gadis itu melebar.


Menelan kembali kata-kata yang sudah ada di ujung lidahnya. Bintang memilih fokus pada lensa kamera didepan mereka. Ia tak ingin hasil foto mereka tidak sempurna.


Berbagai macam gaya dan pose mereka ambil. Langit pun tak pernah berpindah posisi. Ia masih tetap berdiri tepat disamping Bintang. Tak pernah melepaskan tatapan matanya dari wajah ayu Bintang.


"Bubul..sekali lagi selamat ya. Aku bener-bener ikut bahagia buat kamu". Sekali lagi memeluk dan mengucapkan selamat untuk sahabat baiknya.


Langit?? Tentu saja pemuda itu masih membuntuti Bintang. Ia sudah seperti seorang anak yang mengikuti ibunya kemanapun ibunya itu pergi.


"Makasih Bin. Makasih buat semuanya ya.." Mata Bulan berkaca-kaca. Mengingat semua kebaikan dan pengorbanan sahabat baiknya. Segala hal yang Bintang lakukan untuk dirinya. Ketulusannya. semua tentang Bintang yang terukir begitu indah didalam hati dan pikirannya.


"Apa sih.." Menyeka ujung matanya yang sudah berair. Ia tidak ingin Bulan melihatnya menangis.


"Kalau kamu mau berterimakasih, berbahagialah.." Diam sesaat untuk mengatur suaranya yang mulai bergetar.


"selamanya". Imbuhnya setelah berhasil mengatur suara dan wajahnya agar tidak terlihat menahan tangis.


"Kamu juga harus bahagia, Bin". Lirih Bulan kembali memeluk Bintang.


"Aku udah bahagia.." Bintang menepuk punggung Bulan dan membisikkan kata untuk tidak menangis.


"Jangan menangis. Wajahmu akan menyeramkan kalau sampai make up di wajahmu luntur. Kan nggak lucu banget..pengantinnya yang cantik ini berubah jadi menyeramkan". Kelakar Bintang membuat Bulan mencebik namun sesaat kemudian terkekeh.


"Aku harap kamu juga akan secepatnya menikah, Bin". Ucap Bulan sungguh-sungguh sambil melirik Langit yang berdiri dibelakang Bintang.


"Menikah dalam waktu dekat tidak ada dalam daftar impianku". Sahut Bintang tenang, berbeda dengan Langit yang wajahnya menunjukkan reaksi sebaliknya.


"Kita sudah cukup umur Bintang..kamu harus segera memikirkan tentang jodoh, Bin". Bukan tanpa tujuan Bulan mengatakan semua hal ini. Selain karena memang ingin sahabat baiknya segera menikah. Sejujurnya ia juga penasaran sekali dengan hubungan antara Langit dan Bintang.


Bagaimana kelanjutannya setelah beberapa waktu lalu Bintang pernah bercerita jika ada gadis yang mengaku sebagai calon istri Langit.


"Kenapa jadi bahas aku sih. Kan aku udah bilang, aku---"


"Kami juga akan segera menyusul. Doakan saja supaya kami cepat menyusul kalian". Sahut Langit cepat hingga membuat semua yang mendengar segera menatapnya.


"Kenapa??". Bertanya saat semua menatap dirinya dengan tatapan berbeda.


"Katanya tadi mau cepet liat Bintang nikah. Kan aku belum lamar dia, makanya dia belum nikah". Alis Bintang bertaut, namun karena tak ingin membuat keributan di acara pernikahan Bulan dan Sam ia memilih diam.

__ADS_1


"Jangan membuat semua salah paham". Setelah mengatakan hal itu, Bintang memilih turun dari panggung setelah memeluk Bulan sekilas.


Langit terlihat menghela nafas panjang. Ia juga pamit setelah mengucapkan selamat pada sepasang pengantin berbahagia itu.


Niatnya untuk menyusul Bintang harus ia urungkan. Ponselnya tak henti bergetar dan nama sekretarisnya sudah memenuhi layar ponselnya.


Dan Langit sangat tahu mengapa sekretarisnya itu terus menerus menghubungi dirinya.


"Dasar pekerjaan s*alan!". Umpat Langit yang memilih mengacuhkan telepon sekretarisnya.


Ia mengedarkan pandangan, mencari keberadaan Bintang. Berniat untuk sekedar pamit dan berjanji akan segera kembali.


Namun sayang, ia tak melihat Bintang. Bahkan bayangan gadis itu pun tak terlihat. Langit kembali menghela nafas berat. Sepertinya kali ini dirinya pergi tanpa bisa berpamitan pada gadis pujaan nya itu.


Sementara Langit tengah bingung mencarinya. Bintang tengah menetralkan debaran jantungnya didalam kamar mandi. Jantungnya terus berdebar kencang setelah berada dekat dengan Langit dan mendengar semua ucapan laki-laki itu.


"Apa sebenarnya mau laki-laki itu??!". Bertanya pada pantulan dirinya dicermin.


"Nggak bisa. Semua ini emang harus segera diluruskan". Menatap pantulan wajahnya di cermin, memeriksa riasan wajahnya dan memastikan semuanya masih sempurna.


Ia sudah memutuskan meminta penjelasan Langit saat ini juga. Ia akan menyeret Langit keluar dari hotel ini dan memaksanya menjelaskan semua alasannya tak pernah memberi kabar pada dirinya, dan siapa gadis bernama Sofia yang selalu mengaku sebagai calon istrinya itu.


"Ayo Bintang. Cepat selesaikan". Menyemangati dirinya sendiri dan bergegas keluar.


Ia akan mencari Langit dan meluruskan semua permasalahan mereka. Apapun nanti penjelasan Langit, Bintang akan mendengarkannya dan akan memutuskan akan dibawa kemana hubungan tak jelas antara keduanya itu.


"Itu mereka.." Gumam Bintang yang melihat Roman dan Arsen yang terlihat sedang mengobrol.


Bintang berjalan cepat menghampiri Roman dan Arsen. Namun belum sempat Bintang memanggil keduanya, ia sudah menghentikan langkah saat mendengar pembicaraan mereka.


"Kasian bener temen lo". Ucap Arsen sambil menggeleng.


"Temen lo juga koplak!", Menoyor kepala Arsen yang tergelak.


"Kalo dipikir rumit banget ya hubungan si Langit ama Bintang. Belum juga ngejelasin apa-apa". Ucap Roman kemudian yang dijawab anggukan kepala oleh Arsen.


"Tu bocah udah pergi?", Arsen bertanya dan kini Roman mengangguk.


"Setengah jam lagi penerbangannya dia". Tubuh Bintang tiba-tiba gemetar.


Apa-apaan percakapan mereka. Pergi? Penerbangan?? Memang Langit mau kemana lagi?? Banyak sekali pertanyaan di kepala Bintang.


"Bintang.." Arsen yang baru menyadari keberadaan Bintang tampak sedikit terkejut.


"Penerbangan?". Tanya Bintang membuat Arsen dan Roman saling menatap.

__ADS_1


"Langit mau kemana??". Tanya nya lagi saat tak mendapat jawaban dari pertanyaan pertamanya.


"Roman! Arsen! Jawab dong". Bintang sudah gelisah karena tak kunjung mendapat jawaban dari dua sahabat Langit.


"Langit.."


"Iya! Langit..kemana dia??", Tanya Bintang mendesak dan tak sabar.


"Dia mau ke negara XX, ada---" Tanpa menunggu Arsen menyelesaikan penjelasannya, Bintang sudah berlari meninggalkan mereka berdua.


"Lah, mau kemana tu bocah", Arsen hanya mengendikkan bahunya saat Roman bertanya. Karena ia pun tak tahu kemana pergi nya Bintang.


Bintang mengangkat kain yang membelit di kaki indahnya. Berharap dengan begitu langkahnya akan lebih mudah.


Berlari keluar hotel dengan cepat, dan menghentikan taksi yang lewat disana.


"Ke bandara sekarang pak. Cepet ya pak.." Nafasnya terengah karena berlari.


"Lebih cepat ya pak. Saya buru-buru". Duduk dengan gelisah saat supir taksi sudah mulai melajukan mobilnya.


"Kamu mau pergi lagi Lang??". Gumam Bintang dengan perasaan yang tak karuan.


"Jangan pernah berani pergi lagi sebelum kamu jelasin semuanya Lang". Kembali bergumam sambil kedua tangannya saling meremas.


Sepanjang perjalanan Bintang terus melirik jam yang melingkar di pergelangan tangannya. Untung saja jarak hotel dan bandara tidak terlalu jauh.


"Makasih pak". Memberikan beberapa lembar uang berwarna merah setelah sampai di bandara. Ia bahkan tidak menghiraukan teriakan supir taksi yang memanggilnya untuk memberikan kelebihan pembayaran.


"Dimana?? Dimana???". Kebingungan sendiri sambil terus berlari semakin masuk ke dalam area bandara.


"Kalau kamu pergi, ini benar-benar akan menjadi akhir Lang. Aku akan benar-benar melupakan mu!". Bersumpah dengan air mata yang sudah tidak lagi mampu ia bendung.


Tiba-tiba ketakutan menggelayuti hatinya. Ia benar-benar takut jika pada kenyataannya Langit benar-benar pergi lagi meninggalkan dirinya dengan semua perasaan yang mengganjal ini.


Tubuhnya ambruk saat mendengar pengumuman jika penerbangan menuju negara XX sudah take off.


Untuk kedua kalinya Bintang menangis. Menangisi orang yang sama, yaitu Langit. Menangis dengan alasan yang sama juga karena ditinggalkan Langit, lagi.


"Cukup!!". Setelah cukup lama menangis dan menjadi pusat perhatian beberapa orang yang lewat. Bintang menghapus kasar airmata nya.


"Udah cukup, Lang! Kali ini aku akan lupain kamu!". Berkata dengan sangat yakin meski setelahnya ia kembali menangis sesenggukan.


...¥¥¥•••¥¥¥...


...Maapkeun pemirsah semuaa🙏🏻🙏🏻🙏🏻 Semoga masih mau menanti kelanjutan hubungan ngga jelas mereka ini🙏🏻😊🤭...

__ADS_1


...Jangan diamuk dulu othornya✌🏻 nggak lama lagi kok, sabar ya..😊😊☺️...


...Happy reading readers😘😘 sarangheo sekebon♥️ muahmuah💋💋♥️🥰🥰😘😘💐💐💐💐...


__ADS_2