
"Tentu..tentu pak Dewa. Silahkan. Bintang..obati dulu lukanya nak". Para guru mencibir sikap pak Baskoro yang berubah 180 derajat setelah mengetahui siapa Bintang.
Bintang berdiri, menatap Baskoro dan Catherine satu persatu. Untuk kali ini, dia akan menggunakan kekuasaan ayahnya.
"Lang, bisa minta tolong?". Langit langsung mengangguk patuh. Ia paham apa yang Dewa maksudkan.
"Sayang, kamu ikut mereka saja. Bantu Bintang mengobati lukanya, hm.." Kiran langsung menggeleng tegas.
Ia khawatir dengan Bintang. Tapi ia percaya pada Langit. Ada hal yang lebih ingin ia lakukan, yaitu mengintrogasi tiga gadis yang duduk diseberangnya saat ini.
"Aku percaya sama Langit mas. Ada hal yang harus aku selesaiin disini". Tatapan Kiran tajam menusuk tepat ke jantung Catherine dan dua temannya.
"Lang, mbak nitip Bintang ya". Langit mengangguk dan kemudian merangkul Bintang. Membawa gadis itu keluar dari ruang Bimbingan Konseling.
"Kali ini gw nggak akan biarin lo lepas!". Bintang menyempatkan dirin mengancam Catherine sebelum benar-benar keluar dari ruang BK.
"S*al! Badan gw sakit semua". Batin Bintang yang merasa seluruh badannya sakit akibat perkelahian barusan. Rasa sakitnya kini baru terasa setelah beberapa saat
Wajah dan lehernya serta beberapa bagian tangannya terasa perih akibat luka cakar Catherine dan kedua temannya.
Tatapan teduh yang tadi masih ada di sorot mata Dewa dan Juna langsung sirna saat tubuh Bintang hilang dibalik pintu ruang BK.
Suasana tiba-tibe mencekam, terlebih bagi pak Baskoro dan putrinya.
"Ah s*al! Kenapa mereka menakutkan begini. Harus nya tadi aku tidak menamparnya!! Tangan s-alan!". Pak Baskoro hanya bisa mengumpat kebodohan yang ia lakukan dalam hatinya. Entah apa yang akan terjadi pada dirinya setelah ini.
Tidak lama, pintu ruang BK kembali diketuk. Roman masuk kedalam ruang BK setelah dipersilahkan oleh pak Budi.
"Ada apa Roman?". Tanya pak Budi
"Saya mau mengantarkan ini pak. Barangkali bisa menjadi bukti tambahan". Catherine melirik Roman dan kertas-kertas yang ia bawa.
"Aaahhh s*al!!! Kenapa itu semua dibawa kesini sih". Batin Catherine berteriak.
Pak Budi melihat apa yang Sam bawa. Matanya melebar tak percaya. Bukan karena fotonya, namun coretan-coretan yang ada di foto-foto itu.
"Terimakasih, Roman. Kamu boleh kembali". Roman mengangguk, menatap Catherine dan kedua temannya yang terlihat semakin pucat.
Mata Catherine melebar saat melihat Roman membuat gerakan menebas lehernya sendiri dengan seulas senyum miring yang ditujukan pada gadis itu dan dua temannya.
"Mati lo". Catherine bisa melihat dengan jelas gerakan bibir Roman.
"Kurangajar!". Umpat Catherine dengan suara tertahan. Ia benar-benar berdiri ditepian jurang, salah sedikit saja melangkah. Maka tamatlah riwayatnya.
"Gila!! Jadi beneran si Bintang anak bungsu keluarga Laksmana?". Roman masih belum percaya dengan kenyataan yang baru saja diketahui olehnya.
Bagaimana bisa? Lalu kenapa bisa dirinya tidak menyadari? Ingatannya berputar pada kejadian beberapa bulan lalu saat Bintang terluka. Saat itu bu Ratih, istri tuan Laksmana datang dengan wajah khawatir dan memeluk Bintang.
Ah, harusnya ia tidak semudah itu percaya. Apalagi dengan ucapan Bintang yang mengaku sebagai anak dari asisten rumah tangga keluarga Laksamana.
__ADS_1
Meninggalkan para guru yang didera ketegangan karena harus berhadapan dengan keluarga berpengaruh seperti keluarga Laksmana. Tak ada yang mengira, gadis cerdas yang masuk ke sekolah lewat jalur prestasi itu adalah putri seorang konglomerat ternama. Bahkan pemilik yayasan sekolah yang menaungi mereka. Tempat mereka mengabdikan diri dan mencari nafkah.
Kini mereka tengah mengingat dosa apa saja yang pernah mereka lakukan pada Bintang. Adakah mereka melakukan kesalahan atau memarahi bahkan menghukum Bintang? Semua terdiam tampak berpikir.
Dalam perjalanan menuju ruang kesehatan, Bintang menghela nafasnya panjang. Kini semua penyamarannya sudah berakhir. Identitas yang selama ini ia sembunyikan sudah tidak akan bisa lagi ia simpan.
Ah masa bodoh dengan identitasnya. Yang Bintang pikirkan hanya memberi pelajaran setimpal pada Catherine dan pak Baskoro yang menamparnya dengan keras. Bahkan kini pipinya masih terasa perih.
Bintang terhenyak saat tiba-tiba Langit berdiri didepannya dan mengelus pipinya yang tadi ditampar oleh pak Baskoro. Masih merah tapi tidak separah tadi. Bintang meringis saat jemari Langit melewati pipinya, karena jujur memang itu terasa sangat sakit.
"Maafin gw Bin..maafin gw yang nggak bisa jagain elo". Langit menarik Bintang kedalam pelukannya. Lorong yang mereka lewati sangat sepi, karena sebagian besar siswa sudah masuk kekelasnya masing-masing untuk memulai pelajaran.
Bintang yang awalnya terkejut perlahan mengangkat tangannya, menepuk punggung Langit beberapa kali sebagai tanda kalau dirinya baik-baik saja, semua baik-baik saja.
Langit semakin mengeratkan pelukannya. Perasaan bersalahnya semakin besar menggerogoti hatinya. Andai saja ia tidak membiarkan Bintang sendiri. Andai..andai, banyak andai yang ingin Langit ulangi beberapa saat lalu.
"Lo mau bunuh gw, Lang. Lepas! Gw nggak bisa napas". Bintang menepuk punggung Langit berkali-kali karena merasa sesak Langit memeluknya sangat erat.
"Ah, sorry..sorry.." Langit tersadar dan segera melepaskan pelukannya.
"Ayo..kita obatin luka lo". Langit menarik Bintang dengan lembut.
Bintang pun tidak berniat melepaskan genggaman tangan Langit. Ia hanya menurut dan mengikuti langkah kaki Langit yang membawanya ke ruang kesehatan.
"Bulan.." Gumam Bintang yang langsung teringat pada sahabat baiknya itu. Bagaimana keadaan kakinya? Apakah sudah diobati?
"Dimana Bulan?". Tanya Bintang yang saat ini sudah masuk kedalam ruang kesehatan bersama Langit.
"Gw mau liat Bulan dulu". Langit menahan Bintang yang hendak turun dari ranjang.
"Bulan pasti udah diurus sama Sam. Sekarang kita obatin dulu semua luka lo". Tegas Langit.
"Nggak usah ngeyel! Liat penampilan lo sekarang". Langit menatap Bintang dari rambut hingga ujung kakinya. Tampak sangat berantakan dengan rambut acak-acakan.
"Tunggu disini! Jangan ngeyel apalagi coba-coba kabur! Kalo lo coba kabur, gw bener-bener bakal cium lo". Ancam Langit yang hendak pergi mencari obat-obatan untuk luka Bintang.
"Iya-iya, bawel deh". Akhirnya Bintang psrah, daripada Langit benar-benar mencium dirinya.
"Good girl". Langit menepuk pucuk kepala Bintang sebelum meninggalkan Bintang untuk mencari obat-obatan.
Sementara di bilik yang lain, Sam tengah mengoleskan krim anti nyeri ke pergelangan kaki Bulan yang terkilir.
plak!
Bulan menepuk keras punggung tangan Sam yang tengah mengolesi kakinya dengan krim.
"Pelan-pelan! Sakit!". Omel Bulan yang merasa sakit di pergelangan kakinya.
"Ck, diem aja deh. Tahan bentar". Sam duduk, kemudian dengan lihai tangannya bergerak mengurut pergelangan kaki Bulan yang terlihat sedikit membengkak.
__ADS_1
"Aw..aw..Sakit Sam!!". Bulan meringis saat tangan Sam mulai bekerja mengurut kaki nya.
Ia bahkan mencengkeram sprei untuk menyalurkan rasa sakit di kakinya.
"Stop, stop!!! Aduh, patah kaki ntar gw". Sam berdecak kesal karena Bulan berisik dan tak mau diam.
"Awwww!!! Samudra!!!". Bulan memekik saat Sam menarik kakinya hingga menimbulkan bunyi.
"Udah! Coba gerakin kaki lo". Perintah Sam
Bulan terdiam sesaat, mencoba merasai kakinya. Masih sakit, tapi sudah jauh lebih baik. Bahkan tidak terlalu sakit saat ia menggerakkan pergelangan kakinya.
"Eh.." Bulan tersenyum karena kakinya sudah tidak sesakit saat pertama kali terjatuh tadi.
"Wah, lo berbakat jadi tukang urut Sam". Puji Bulan membuat Sam mendelik kesal.
"Cih, nggak inget barusan teriak-teriak nabokin gw". Sindir Sam membuat Bulan nyengir.
"Makasih Samudra yang baik, murah senyum dan tidak sombong". Ucap Bulan, semua yang ia ucapkan berkebalikan dengan semua sifat Sam yang terkenal dingin dan minim senyum.
"Mau kemana lo?". Tanya Sam saat melihat Bulan turun dari ranjangnya.
"Mau nyariin Bintang.." Bulan sudah mampu berdiri dengan kedua kakinya. Meski masih sakit, namun sudah kuat untuk menopang berat tubuhnya.
"Ck, segitunya khawatir ama Bintang". Cibir Sam yang sampai saat ini masih heran melihat kedekatan kedua gadis itu.
"Sebenernya gw nggak cuma khawatir sama Bintang. Gw lebih khawatir sama si kucing sih". Bulan bergidik, membayangkan apa yang akan terjadi pada Catherine tadi jika Langit terlambat satu detik saja.
"Pegang!". Sam menyodorkan lengannya agar Bulan memegangnya sebagai tumpuan.
"Eh?? Apaan nih?", Tanya Bulan bingung melihat Sam menyodorkan lengannya.
"Lo mau nyariin Bintang kan?". Bulan mengangguk.
"Pegangan sama gw. Gw anterin nyari Bintang, kaki lo belum sembuh total". Bulan melongo sesaat sebelum sebuah senyum jahil tersungging dibibirnya.
"Cieee, yang perhatian banget sama pacar boongannya". Goda Bulan memainkan alisnya naik turun. Senyumannya terlihat meledek Samudra.
"Ck, bawel banget jadi cewek". Gerutu Sam yang memalingkan wajahnya dari Bulan. Menyembunyikan sudut bibirnya yang sedikit terangkat melihat dan mendengar ucapan dan tingkah Bulan.
"Makasih ya pacar boongan. Kamu so sweet banget.." Bulan semakin senang menggoda Samudra yang terdengar mendengus.
Bulan tertawa senang, tangannya pun merangkul lengan Sam dan berpegangan pada lengan berotot itu.
"Wah..ototnya menggoda". Batin Bulan yang melihat otot lengan Sam yang menyembul. Terlihat keren dan membuat Sam semakin terlihat maskulin.
...¥¥¥•••¥¥¥...
...Kreji up siang ini...semoga suka ya kalian semua🥰🥰🥰☺️...
__ADS_1
...Happy reading readers..sayang kalian banyakbanyak😘😘😘💋💐♥️🥰...