Langit Untuk Bintang

Langit Untuk Bintang
ceo baru


__ADS_3

Pagi menyambut, membuat sosok yang masih bergelung didalam selimut tebal itu membuka perlahan matanya saat jam diatas nakasnya berbunyi dengan nyaring.


Tangannya meraba nakas dan mematikan jam yang terus berdering keras hingga mengganggu tidurnya.


Semalam Bintang kembali menangis, entah sampai jam berapa ia menangis. Ia bahkan lupa jam berapa ia tertidur.


Sepertinya sudah lewat tengah malam ia tertidur karena lelah menangis. Tapi ia juga tak mengingat jelas jam berapa.


"Aaah, pegel semua.." Meregangkan seluruh otot tubuhnya yang terasa kaku.


"Senin lagi..Males banget sih". Masih bergumam dengan wajah bantalnya yang tetap menunjukkan kecantikan alaminya.


"Resign aja gitu ya?". Lagi dan lagi kata-kata itu keluar dari bibir mungilnya itu.


sepertinya kata resign adalah mantra yang mampu membuatnya hidup dipekerjaannya selama ini.


Puas bermalas-malasan dan mengumpulkan kesadarannya, Bintang menyibak selimutnya dan menapakkan kakinya dilantai yang terasa dingin. Semakin membuatnya malas saja untuk pergi ke kamar mandi.


"Aaah, dingin banget.." Terus saja mengeluh yang dilakukannya saat tiba dikamar mandi.


Dengan cepat ia menyelesaikan ritual mandi nya. Ia tidak mau sampai kehabisan waktu untuk beribadah.


Sejak pindah ke apartemen, Bintang bisa lebih santai setelah subuh. Ia bisa membaca novel favoritnya atau sekedar menonton drama korea kesukaannya sebelum pergi ke kantor.


Jarak aparteman dan kantornya yang dekat membuatnya tak pernah lagi berlari-lari setiap memasuki lobby.


Bahkan kini hanya butuh waktu 10menit untuk dirinya sampai kantor. Dan itu cukup membahagiakan untuk gadis itu.


"Bodoh juga ada batasannya dong". Memaki saat dirinya membaca sebuah kisah di novel yang menurutnya sangat menyebalkan.


Bukan karena apa, tapi karena ceritanya yang bisa dibilang sama dengan jalan cintanya yang rumit dan menyedihkan.


"Jadi perempuan kok lemah banget". Oh ayolah, Bintang sadar. Sepertinya gadis itu tengah memaki dirinya sendiri yang bisa sama bodohnya dengan tokoh yang ada di novel.


"Apa-apaan sih! Ngeselin banget!". Dilempar juga akhirnya hp yang dipegangnya.


"Tuh author punya dendam apa sih ama tokoh ceweknya. Ampe dibikin segitu bodohnya". Masih terus memaki hingga tak menyadari jarum jam terus berputar.


"Nah kan!!! Jadi kesiangan kan?!". Masih saja menyalahkan ponsel dan novel yang dibacanya.


Melihat jam, sepertinya akan terlambat jika dirinya memakai mobil. Lebih baik memesan ojek online saja agar menghemat waktu.


Seperti biasa, memastikan semua aman sebelum keluar dari unit apartemennya. Bibir mungilnya masih tak henti menggerutu dan menyalahkan novel.


"Gara-gara novel nggak jelas". Sudah tahu tidak jelas, masih saja setiap hari dibaca.


"Kan jadi nggak sempet sarapan". Menatap ke atas, melihat nomor lantai yang terus berganti seiring lift yang semakin turun.


"Jangan sampai terlambat. Hari ini kita harus menyambut ceo baru kita". Pesan yang dikirimkan Alva membuat dirinya semakin panik.


Berlari keluar dan mencari ojek online yang katanya sudah menunggu dirinya didepan gedung apartemen.

__ADS_1


"Itu dia". Kembali berlari meski hari ini ia memakai heels yang lumayan bisa membuat kakinya sakit.


"Aish, salah kostum". Entahlah, pagi ini gadis cantik itu sepertinya senang sekali memaki dan menyalahkan segala sesuatu yang membuatnya terhambat.


"Ngebut ya mas. Langsung sat set.." Langsung nyerocos membuat driver ojol melongo sesaat. melihat kecantikan Bintang.


"Pake helm nya dulu mbak". Driver memberikan helm untuk Bintang yang langsung meraihnya dan memakainya.


"Ayo mas". Menepuk pundak driver ojol beberapa kali hingga membuat driver ojol sedikit meringis karena kerasnya tepukan Bintang.


"Sesuai titik ya mbak?", Gemas sekali rasanya Bintang pada ojol ini. Masih bertanya pula padahal Bintang sudah ketar-ketir takut terlambat.


"Iya mas!! Iya sesuai titik..astagfirullah".


"Ayo buruan mas!!". Kembali menepuk pundak ojol agar cepat menyalakan motor.


"Cepetan mas, astaga".


"Sebentar mbak, ini susah di puter kuncinya". Entah karena gugup atau karena apa, kunci yang biasanya mudah diputar mendadak macet dan sulit diputar.


Bintang turun dari boncengan dan membantu memutar kunci yang memang sedikit macet itu.


"Udah nih! Mau saya aja sekalian yang bawa motornya?". Menawarkan hal gila pada ojol yang langsung tergagap.


"Eh eng-enggak usah mbak. Mbaknya naik aja". Mendengus keras kemudian kembali duduk dikursi belakang.


"Sat set ya mas, nggak pake lama pokoknya". Menepuk pundak itu lagi untuk ketiga kalinya. Sekali lagi tepuk dapet piring cantik si Bintang🤦🏼‍♀️😅


"I-iya mbak. Siap". Sesuai permintaan, driver melajukan motornya dengan kecepatan tinggi agar penumpangnya tidak terlambat.


"Getok pala orang dosa nggak sih?", Bertanya entah pada siapa.


"Apa mbak??", Teriak ojol dari depan membuat Bintang tergagap. Untung si driver tidak mendengar ucapannya karena suara angin.


"Nggak apa-apa mas! Udah cepetan bawa motornya. Nanti saya kasih lebih".


plak!


Fix, Bintang dapet hadiah piring cantik karena kembali menepuk pundak driver. Dan kali ini sepertinya yang paling keras. Terbukti saat si driver meringis saat tepukan itu mendarat sempurna dipundaknya.


Berulang kali melirik arlogi yang melingkar indah dipergelangan tangan kirinya.


"Ah, pokoknya ini gara-gara si novel. Jadi kesiangan gini. Harus lari-lari lagi di lobby kalo gini sih". Bibir terus menggerutu dan mata yang memperhatikan jalan serta arlogi bergantian.


"Lagian itu ceo baru kenapa juga harus hari ini sih digantinya. Besok-besok lagi kan masih bisa". Semua saja disalahin, Bin🤦🏼‍♀️🥺


Senyumnya sedikit mengembang saat bangunan megah tempatnya bekerja sudah terlihat didepan matanya.


Masih ada 7menit lagi. Tapi kan tetap harus berlari kalau tidak mau dirinya disambut bersama dengan ceo.


"Gaspol mas.." Si driver hanya bisa menghela nafas dengan permintaan penumpangnya yang cantik tapi aneh menurutnya.

__ADS_1


"Ini udah pol mbak.." Masih ia sempatkan menjawab daripada sampai pundaknya kembali digeplak oleh penumpang cantiknya itu.


ciit..


Di rem tepat didepan gedung, terlihat lalu lalang para pegawai yang juga sepertinya sama seperti dirinya. Agak kesiangan, kenapa?? Karena mereka juga sedikit berlari, sama seperti yang akan ia lakukan sebentar lagi.


"Ini mas!". Meletakkan selembar uang berwarna merah dan bersiap berlari. Namun panggilan driver membuatnya mengurungkan niat.


"Apalagi mas?". Tanya Bintang gemas.


"Itu mbak. Helm saya mau dibawa kemana?", Melirik ke atas, dan benar saja. Ia masih mengenakan helm.


"Haha, maaf mas. Lupa saya soalnya takut telat". Tertawa hambar sambil melepas helm dan memberikan pada sang driver.


"Makasih ya mas.." Berbalik badan dan melangkah cepat.


"Mbak ini uangnya kebanyakan, kembaliannya mbak.." Berteriak saat menyadari uang yang diberikan Bintang terlalu banyak.


"Ambil aja mas. Rejekinya mas ojol.." Balas berteriak sambil mengibaskan tangannya.


"Alhamdulillah.." Seri driver ojol sambil meletakkan selembar uang seratus ribu itu didahinya.


"Makasih ya mbak..semoga harinya lancar hari ini. Dan dapat ganti rezekinya yangvlebih banyak". Masih berteriak sambil memanjatkan doa untuk penumpang baiknya yang dijawab acungan jempol oleh Bintang.


Bintang berlari cepat menuju lobby. Ada beberapa karyawan yang berlari sepertinya dan tujuannya sama, yaitu lobby.


Sampai di lobby, sudah banyak yang berdiri disana. Membuat barisan dikiri dan kanan menyisakan ruang ditengah-tengah mereka.


"Tinggal pasang red carpet udah berasa di acara award". Ditengah nafasnya yang tersengal, Bintang terkekeh sendiri dengan apa yang dibayangkannya.


Berjalan sambil merapikan rambutnya yang berantakan akibat angin. Bintang menyapu ruangan, mencari satu-satunya orang terdekatnya, siapa lagi jika bukan Alva.


Lambaian tangan seseorang membuat Bintang mengmbangkan senyumnya. Alva ada diujung barisan dengan senyum semanis madu.


"Sini.." Alva langsung menarik lengan Bintang begitu gadis itu mendekat.


"Telat satu detik aja, kelar hidup kamu.." Bukan sekedar ancaman, karena tepat setelah Alva menariknya, segerombolan orang dengan pakaian rapi masuk kedalam lobby perusahaan.


Bintang tak peduli, ia masih mengatur nafasnya yang terengah. Tak menyadari semua orang sudah menundukkan kepalanya pada sosok yang akan menjabat sebagai ceo baru perusahaan itu.


"Selamat datang dan selamat bergabung, pak Anggara.." Kepala Bintang dipaksa menunduk oleh Alva dengan cara memegang kepala bagian belakang Bintang dan sedikit menekannya hingga menunduk tanpa menyakiti Bintang.


"Terimakasih atas sambutannya.." Mata Bintang melebar mendengar suara yang sangat ia kenali. Namun segera ia menggeleng kuat, tidak mungkin. Batinnya mulai kalut.


"Sudah cukup.." Semakin takut saja Bintang saat mendengar suara itu.


Tepat saat Bintang menegakkan kepalanya. Matanya menangkap sosok tinggi tegap dengan rahang tegas. Sosok yang terlihat berkilau diantara para jajaran direksi yang berdiri dibelakangnya saat ini.


"Hal gila macam apa lagi ini??"


...¥¥¥•••¥¥¥...

__ADS_1


...Double up nya manteman🥰 semoga syuka ya😘...


...Happy reading🙏🏻🙏🏻 sarangheo semua😘😘😘😘🥰😅♥️💋...


__ADS_2