Langit Untuk Bintang

Langit Untuk Bintang
masakan nusantara


__ADS_3

Bulan menyusul Bintang yang ada didapur. Ia mengamati Bintang yang tengah sibuk memilih camilan untuk dihidangkan pada teman-temannya.


"Astagfirullah.." Bintang terlonjak kaget saat mendapati Bulan yang sudah berdiri didepannya saat ia berbalik.


"Kamu ngagetin aku, Bul". Bintang mengelus dadanya yang terasa berdebar kencang.


"Kamu boong kan?". Tanya Bulan tiba-tiba membuat alis Bintang berkerut.


"Boong apanya?", Bintang balas bertanya dan kembali berdiri memunggungi Bulan.


"Kamu nggak punya pacar kan?". Desak Bulan yang tahu pasti jika sahabatnya tengah berbohong.


Bulan melirik teman yang lain. Mereka ada di ruang tamu dan tengah mengobrol. Ia tidak mau percakapannya dengan Bintang didengar oleh yang lainnya.


"Huft.." Bintang menghela nafas panjang. Percuma saja berbohong pada Bulan. Karena tidak akan berhasil.


"Kenapa?". Tanya Bulan lembut.


"Aku capek Bul.." Lirih Bintang menjawab.


Memang siapa yang tidak akan lelah. Enam tahun lamanya menunggu seseorang yang bahkan tak sekalipun memberinya kabar.


Hanya bermodalkan sebuah janji manis seorang bocah remaja kala itu. Bintang mencoba mempercayai Langit. Namun hingga enam tahun lamanya, Langit tak kembali.


"Mungkin Langit masih berusaha, Bin". Bulan coba menenangkan.


"Enam tahun Bul.." Bulan menghela nafas panjang. Ia tahu jika sulit menjadi Bintang, jangan enam tahun, mungkin jika itu dirinya, Bulan akan menyerah bahkan sebelum satu tahun.


"Aku mau nyerah aja Bul. Aku udah capek". Bintang memaksakan senyumnya.


Entah mengapa terbersit dalam benaknya untuk mulai membuka hati untuk laki-laki lain. Meski tak ada keyakinan dalam hatinya, namun sepertinya Bintang akan mulai mencoba membuka hatinya.


"Mungkin udah waktunya aku kasih kesempatan buat laki-laki lain, Bul". Ucap Bintang tersenyum.


Bulan bisa melihat kepahitan yang terselip disenyuman Bintang.


"Kak Varo?". Tanya Bulan yang dijawab anggukan kepala Bintang.


"Kak Alva baik, perhatian juga. Nggak ada salahnya kasih kesempatan dia.." Kini Bulan yang terdiam.


"Alvaro..mungkin emang jodoh aku tuh dia, Bul". Senyum palsu Bintang membuat hati Bulan berdenyut.


"Jangan dipaksakan Bin..bukan cuma kamu yang tersakiti kalau sampai salah langkah". Bulan mengelus pundak Bintang.


Ia tak mau sampai Bintang salah mengambil langkah dan justru membuat hatinya kian sakit. Lebih buruknya, mungkin akan ada hati lain yang tersakiti.


Bintang hanya tersenyum menanggapi nasehat Bulan. Ia juga tak sebegitu serius untuk menjadikan Alva pelariannya. Ia tak sejahat itu menjadikan lelaki baik itu sebagai pelarian.


Ia melakukan semua ini hanya agar teman-temannya tak lagi mengungkit Langit ketika mereka bertemu.


Tanpa diungkit dan diingatkan saja Bintang sudah selalu ingat. Ditambah teman-temannya yang selalu menyebut nama Langit setiap pertemuan mereka membuat Bintang semakin kesulitan hanya untuk sekedar lepas dari bayang-bayang Langit meski sekilas.


"Hah..udah yuk gabung ama yang lain ke depan". Bintang menghela nafas panjang dan menarik Bulan untuk kembali bergabung dengan teman yang lain.


"Aku harap kamu cepet balik Lang. Sebelum semua bener-bener terlambat dan Bintang bener-bener kasih kesempatan laki-laki lain buat ngisi kekosongan hatinya". Bulan menatap punggung Bintang, ia seolah ikut merasakan rasa sakit Bintang selama enam tahun ini.


"Mungkin emang udah waktunya aku kasih kesempatan buat kak Alva. Enam tahun rasanya udah cukup aku nunggu kamu Lang.." Tubuh Bintang ada disana namun pikirannya melayang entah kemana.


Disisi lain ada Sam dan yang lain. Mereka duduk berhadapan. Entah apa yang kini tengah mereka pikirkan, namun hanya keheningan yang melingkupi mereka.


"Gimana ini?", Tanya Iwan yang hanya dijawab yang lain dengan mengangkat bahu.

__ADS_1


Semua berkumpul diruang tamu. Bersenda gurau sambil bernostalgia mengingat hal-hal lucu sekaligus konyol kala mereka duduk dibangku SMA.


Hingga suara perut Nindy membuat obrolan mereka terhenti. Semua kompak menatap Nindy yang hanya nyengir menampakkan deretan giginya.


"Hehe sorry..udah waktu makan malam nih. Perut aku udah kasih kode". Kembali nyengir menampakkan giginya. Sedangkan yang lain tertawa melihat tingkah Nindy.


"Aku masakin deh. Kalian mau makan apa?". Kini semua beralih menatap Bintang yang sudah berdiri.


"Kamu bisa masak Bin?". Tanya Nindy dengan raut wajah kaget.


"Serius bisa masak??". Ardi menimpali karna juga kaget mendengar Bintang ingin memasak.


"Jangan remehin aku.." Menatap semua temannya dengan tatapan bangga. Bangga pada dirinya sendiri.


"Bisa masak apa aja?", Iwan tak kalah penasaran. Pasalnya, selama dirinya menjadi bayangan Bintang, gadis itu tak pernah terlihat sekalipun bisa memasak.


"Ehm..banyak". Semakin melongo saja teman-temannya.


Bahkan Sam dan Roman saling lirik seolah bertanya lewat tatapan mata mereka.


"Kalian mau apa?". Tanya Bintang lagi saat teman-temannya justru sibuk mempertanyakan kemampuan memasaknya.


"Ada apa aja emangnya? Sebutin dulu, baru kita bisa milih". Roman bertanya meski masih meragukan kemampuan memasak Bintang.


Hanya Bulan dan Arsen yang tak berkomentar dan hanya mengulum bibir mereka dengan senyum tipis.


"Soto, rendang, ayam cabe hijau juga ada. Mau ayam goreng juga bisa..jadi kalian mau apa?". Semua semakin melongo tak percaya mendengar nama-nama masakan yang disebutkan Bintang.


Tidak ada yang simple, semua masakan itu termasuk masakan rumit. Yang jadi pertanyaan mereka, sejak kapan Bintang bisa memasak masakan itu?


"Jadi pada laper engga nih?". Bintang bertanya untuk kesekian kalinya, karena teman-temannya justru menatap dirinya.


"Ini beneran kamu Bin??". Tanya Nindi menatap Bintang penuh kekaguman.


"Apanya?", Bintang bertanya dengan alis berkerut.


"Sejak kapan kamu bisa masak?". Tanya Ardi polos membuat Bintang mencebik.


"Aku kan cinta Indonesia, jadi kalo cuma masak masakan nusantara kaya yang tadi itu sih gampang". Tersenyum penuh kebanggaan sambil melirik reaksi teman-temannya yang terlihat semakin syok.


"Cepet mau pada makan apa? Aku bikinin sekarang.."


"Emang ngga akan kelamaan ya kalo masak menu yang tadi?". Otak cerdasnya bekerja cepat. Iwan ternyata masih meragukan kemampuan Bintang


"Enggak lah, Wan. Sebentar juga jadi". Bintang tampak santai.


"Mungkin udah ada di kulkas x ya, Bintang tinggal ngangetin aja". Batin Iwan


"Aku mau rendang deh Bin". Seru Nindy yang memang sudah sangat lapar.


"Yang penting cepet-cepet makan aja deh". Batin Nindy.


"Malem gini makan soto kayanya enak. Anget.." Ardi bersuara didukung anggukan kepala Iwan yang juga ingin makan soto.


"Kalian mau apa?". Tanya Bintang pada Sam dan Roman.


"Aku soto aja deh". Roman yang sebenarnya masih ragu memilih menu soto, sama seperti Iwan dan Ardi.


"Kamu apa Sam?". Tanya Bintang.


"Samain kaya Nindy aja. Biar nggak banyak masaknya". Sahut Sam

__ADS_1


"Kamu kaya biasanya kan Bul?". Tanya Bintang dan dijawab anggukan kepala oleh Bulan.


"Kamu Sen?". Kini giliran Arsen yang ditanya.


"Nggak usah. Udah makan tadi. Bikinin kopi aja kaya biasanya.." Bintang mengangguk dan segera pergi ke dapur.


Meninggalkan teman-temannya yang menatap dirinya dari jauh.


"Emang beneran tuh anak bisa masak Bul?". Nindy yang pertama kali bertanya.


"Masakannya layak makan apa nggak Bul?", Ardi ikut menimpali.


"Bener lo, Di. Kaga bakal keracunan kan kita?", Tiba-tiba Roman memikirkan hal terburuk ketika memakan masakan Bintang.


Bulan terkekeh pelan, sedangkan Arsen mencoba menahan tawa yang siap meledak.


"Layak kok. Masakan Bintang malah nggak pernah gagal". Sahut Bulan menenangkan.


Tak butuh waktu lama, bahkan belum sampai 30menit berlalu. Bintang sudah berseru dari arah dapur.


"Selesaiii..." Seru nya senang, yang justru membuat teman-temannya kebingungan.


"Kok cepet banget sih. Mateng kaga ya itu masakan". Bisik Roman yang membuat Bulan semakin kesulitan menahan senyumnya.


Sam melirik kekasih hatinya. Ia memiliki firasat buruk tentang masakan Bintang. Melihat reaksi Bulan dan juga Arsen yang terlihat mencurigakan.


"Jangan-jangan kita dikasih bahan mentah lagi ama si Bintang", Spekulasi semakin ngawur saja dari mulut teman-teman Bintang.


Tak lama Bintang datang membawa nampan berisi mangkok dan piring.


"Kaya kenal aroma ini.." Gumam Nindy yang coba mengendus aroma masakan Bintang.


"Eh iya bener, Nin. Nggak asing gitu bau nya". Kini semua mengendus aroma masakan yang semakin tercium hidung mereka.


"Taraaaaa...makanan udah siap". Semua menjatuhkan rahang hingga mulut mereka terbuka lebar saat Bintang meletakkan nampan yang ia bawa.


Nampan yang berisi mie instan dengan berbagai rasa, ada yang goreng dan ada yang kuah. Bulan dan Arsen yang sudah tahu tidak lagi bisa menyembunyikan tawanya saat melihat reaksi teman-teman mereka yang terlihat sangat lucu saat ini


Bahkan Sam yang terkenal acuh dan dingin saja sampai tak mampu berkata-kata saat Bintang meletakkan sebuah piring berisi mie goreng rasa rendang didepannya.


"Ardi sama Iwan, soto kan". Dua mangkok mie instan rasa soto Bintang letakkan didepan Iwan dan Ardi yang masih belum menutup mulut mereka.


"Kamu juga soto kan, Man?", Baru kali ini Roman mati gaya sampai tak mampu bereaksi.


"Ini punya kamu Bul". Sebuah mangkok berisi mie instan rasa ayam disuguhkan Bintang untuk sahabat terkasih.


"Makasih Bin.." Di sela tawanya, Bulan mengucapkan terimakasih.


"Kok bengong..ayo makan". Dengan wajah tanpa dosanya, Bintang mempersilahkan para tamunya untuk menikmati hasil karyanya.


"BINTAAAAANG!!!!". Teriakan itu menggema mengisi setiap sela udara diapartemen Bintang.


Sedangkan tawa Bulan dan Arsen semakin pecah melihat wajah frustasi teman-temannya.


"Akhirnya kalian kena juga". Batin Arsen yang rupanya adalah korban kedua dari seorang Bintang setelah Bulan yang menjadi korban pertamanya.


...¥¥¥•••¥¥¥...


...Kasian banget temen-temennya Bintang kena prank😂😂😅...


...Harap maklum ya, yang cantik dan kaya itu belum tentu pinter masak juga🤭😅...

__ADS_1


...Lagian kan itu makanan pemersatu bangsa ya readers, mie instan😂😂...


...Happy reading readers😊 sarangheo💋😘♥️♥️🥰🥰😘😘😘💐...


__ADS_2