
Hari ini Bintang sudah memutuskan untuk bersekolah. Tiga hari sudah lebih dari cukup untuk dirinya beristirahat.
Bintang meraba pelipisnya, berkat obat mahal yang bunda berikan, bekas luka dipelipisnya sudah mulai memudar. Kini dirinya hanya menutupi lukanya dengan plester kecil.
"Sudah siap nak?". Bintang menoleh, mendapati ibu sudah berdiri didepan pintu.
"Sudah bu.." Bintang menyambar tas nya. Hari ini ia dan Bulan akan ke sekolah dengan diantarkan bapak.
"Kamu beneran mau sekolah, Bintang?". Tanya bapak saat Bintang sudah bergabung di meja makan.
"Iya pak..Bintang sudah ketinggalan banyak". Bapak tersenyum dan mengangguk. Beruntung sekali putrinya memiliki sahabat seperti Bintang. Selain sopan dan rendah hati, Bintang juga gadis cerdas yang rajin hingga Bulan terbawa sikap disiplin Bintang.
"Jangan dipaksakan nak kalau memang belum pulih". Bintang menatap ibu yang terlihat mencemaskan dirinya.
Ia tersenyum lembut sambil mengelus punggung tangan ibu. Wanita yang menyayangi dirinya selayaknya ibu pada putri kandungnya sendiri.
"Bintang baik-baik aja, bu. Ibu nggak usah khawatir.." Bintang memasang senyum terbaiknya untuk meyakinkan ibu.
"Bagaimana ibu nggak khawatir. Sudah kedua kalinya kamu terluka". Bintang tersenyum kaku, tak bisa menyalahkan sikap ibu saat ini. Karena memang dirinya bersalah sudah membuat ibu dan bunda khawatir.
"Serasa Bulan ini anak tiri deh pak.." Celetuk Bulan yang melihat interaksi ibu dan Bintang. Meski bibirnya mengerucut, namun hatinya sangat senang melihat kedekatan sahabat dan ibunya.
"Sirik aja". Cibir Bintang yang dijawab Bulan dengan mendengus.
"Sudah-sudah, kebiasaan kalian ini. Setiap makan pasti ribut". Bapak menengahi sebelum kedua gadis itu melanjutkan debatnya.
"Habiskan makan kalian. Bapak ada rapat pagi ini, kalian juga bisa telat kalau terus berdebat begitu". Kedua gadis itu kompak mengiyakan dan segera menghabiskan sarapan mereka.
"Nanti Bintang pulang ke rumah ya bu..bunda udah ngomel-ngomel minta aku pulang". Ibu mengangguk paham. Memang ibu mana yang tidak merindukan putrinya.
"Maaf ya bu, Bintang selalu merepotkan bapak sama ibu". Ucap Bintang saat berpamitan pada ibu.
"Kamu anak ibu. Jadi jangan merasa merepotkan kami". Senyum lembut ibu selalu berhasil menenangkan Bintang. Sama seperti bunda, ibu juga sosok yang sangat Bintang sayangi.
"Bibin ayoooo!!!", Bulan menyembulkan kepalanya dari dalam mobil dan berteriak memanggil Bintang.
"Bintang berangkat dulu bu. Tarzannya ibu udah teriak-teriak". Ibu terkekeh mendengar ucapan Bintang.
"Assalamualaikum ibu.."
"Wa'alaikumsalam..hati-hati sayang". Ibu balas melambaikan tangannya pada Bintang dan Bulan, ibu menatap mobil sang suami yang bergerak menjauh.
Sepanjang perjalanan Bulan dan Bintang tak hentinya berbicara hingga membuat bapak menggeleng melihat energi dua anak gadisnya yang seolah tak pernah ada habisnya.
"Belajar yang bener ya.." Bapak mengusap kepala kedua anak gadisnya bergantian. Membuat kedua gadis itu mengangguk dengan senyum cerah di wajahnya.
"Bintang.." Bintang yang baru saja membalikkan tubuhnya kembali berputar.
"Iya pak?". Tanya Bintang kembali mendekat pada bapak.
__ADS_1
"Jaga diri baik-baik ya. Jangan terlalu lelah". Bintang mengangguk, ia tahu bukan hanya ibu yang mengkhawatirkan dirinya. Bapak pun menyayangi dirinya sama besarnya seperti ayah Henry menyayanginya.
"Yasudah sana masuk dulu.."
"Bapak hati-hati.." Seru Bulan dan Bintang yang kini melambaikan tangannya pada bapak yang sudah masuk kedalam mobil.
Keduanya berjalan bersisian sambil sesekali bersenda gurau. Tanpa mereka sadari jika teman-teman mereka sejak tadi tampak heboh. Entah apa yang mereka bicarakan tapi yang bisa Bintang tangkap dari percakapan mereka, mereka membicarakan murid baru yang tampan.
"Emang ada anak baru?". Tanya Bintang yang dijawab Bulan dengan mengendikkan bahunya.
"Gimana sih lo. Kan elo yang ke sekolah kemaren". Bukan karena Bintang penasaran, hanya sekedar formalitas saja bertanya.
"Ya mana gue tau lah". Bintang mencebik, Bulan sama seperti dirinya. Tak terlalu peduli dengan hal-hal yang tidak terlalu bermanfaat untuk mereka.
"Yaudah sih, nggak penting juga". Ucap Bintang kemudian melanjutkan langkahnya.
Keduanya kembali melanjutkan langkahnya menuju kelas. Suasana sekolah sudah mulai saat kedua gadis itu sampai di kelas.
Kedatangan Bintang disambut teman-temannya dengan antusias. Bintang selalu tersenyum pada teman-temannya yang menanyakan keadaannya. Namun senyumnya langsung sirna saat matanya bersirobos dengan mata tajam milik Langit.
Bintang mengalihkan pandangannya, tak ingin terlalu lama saling menatap dengan Langit. Dan semua yang terjadi tidak lepas dari pengawasan Bulan.
Kini Bulan semakin yakin ada sesuatu diantara Bintang dan Langjt. Melihat tingkah keduanya yang tidak seperti biasanya.
Jam pelajaran pertama adalah pelajaran bu Wita, namun Bintang meminta izin untuk tetap duduk dengan Bulan dengan alasan kepalanya masih sering sakit. Ia tidak akan bisa menjelaskan pada Langit tentang materi yang diberikan bu Wita.
"Baik kalau begitu.." Bintang bernafas lega saat bu Wita tidak banyak bertanya dan memenuhi keinginannya.
"Jadi lo bener-bener pengen ngejauh dari gue?". Batin Langit sambil menatap punggung Bintang.
Bintang mengikuti pelajaran dengan tenang. Setidaknya untuk hari ini dirinya bisa menghindar dari Langit. Dan itu akan terus ia lakukan. Ia benar-benar malas jika harus berurusan lagi dengan Catherine hanya karena Langit mendekatinya.
Bel berbunyi nyaring, membuat semua teman Bintang berhamburan keluar setelah guru keluar dari kelas.
"Kantin?". Bulan langsung mengangguk semangat.
"Tapi gue ke kamar mandi dulu ya". Giliran Bintang yang mengangguk.
"Lo mau apa? Ntar gue pesenin dulu". Bulan tampak berpikir sejenak.
"Samain aja deh, asal minumnya jangan jus jambu kaya elo". Bintang terkekeh, dirinya memang tak pernah melewatkan seharipun tanpa jus jambu.
"Oke, ketemu di kantin ya". Bulan mengacungkan jempolnya pada Bintang yang berjalan berlawanan arah dengannya.
Sampai di kantin, Bintang edarkan pandangannya keseluruh kantin. Hampir semua kursi sudah terisi oleh teman maupun senior dan juniornya.
"Penuh banget.." Gumam Bintang.
"Heh hiasan bumi". Bintang terdiam di tempatnya, ia mengenal panggilan istimewa dan suara itu meski sudah lama sekali tidak mendengarnya.
__ADS_1
Bintang membalikkan badannya untuk melihat sosok yang memanggil nya. Matanya bersirobos dengan sepasang mata coklat pekat seorang pemuda tampan yang memiliki rupa menawan.
Bintang mengerjapkan matanya beberapa kali untuk memastikan apa yang ia lihat adalah nyata dan bukan sebuah ilusi.
"Lah, dia bengong. Kaga kangen lo ama gue?". Suara itu kembali terdengar, bahkan kini pemuda itu tampak merentangkan kedua tangannya.
Semua interaksi itu mampu menyita perhatian seisi kantin. Karena rupanya, pemuda yang pagi tadi membuat heboh seisi sekolah mengenal sosok Bintang. Bahkan sepertinya mereka cukup dekat.
"Bisul??!". Ucap Bintang membuat pemuda didepanya itu mengangguk dengan senyum mautnya.
"Bisul?". Terdengar beberap orang membeo ucapan Bintang.
"Sini!! Kaga kangen emang??". Pemuda yang Bintang panggil Bisul itu menaik turunkan alisnya, menggoda Bintang.
"Aaaa...Bisul!!!!!". Bintang memekik kegirangan dan segera berlari melompat kepelukan lelaki itu. Pelukannya dibalas tak kalah erat oleh pemuda yang memanggil Bintang, hiasan bumi. Bahkan pemuda itu sedikit mengangkat tubuh Bintang dan memutarnya sekilas.
"Lo kemana aja sih!! Gue kangen banget tau!!". Masih dengan memeluk, Bintang memukul punggung lelaki yang memeluknya.
Bintang tak sadar jika apa yang ia lakukan saat ini membuat hampir semua orang membuka mulutnya tak percaya dengan apa yang mereka saksikan.
"Gue juga kangen banget sama lo". Semakin erat saja pelukan keduanya. Hingga Bintang tersadar dimana kini mereka berada. Buru-buru ia lepaskan pelukannya.
Dan benar saja, hampir seisi kantin tengah menatap mereka berdua dengan berbagai macam tatapan yang mampu membuat Bintang menundukkan wajahnya karena malu.
Terlampau rindu pada sosok pemuda itu membuatnya lupa situasi. Ia edarkan pandangannya keseluruh kantin, dan hampir semua mata tengah menatapnya.
Tatapan matanya bersirobos dengan mata tajam seorang lelaki yang berdiri mematung dipintu kantin menatap tajam pada dirinya.
Bintang buru-buru memalingkan wajahnya saat melihat tatapan menusuk yang Langit berikan padanya.
"Duduk dulu yuk.." Bintang tersadar saat tangannya tiba-tiba ditarik.
"Dimana ari-ari lo?". Bintang berdecak kesal mendengar pertanyaan pemuda yang belum Bintang sebut namanya itu.
"Bulan! Ari-ari pala lo". Bukannya takut melihat Bintang marah, pemuda itu justru terbahak.
"Dia tu udah kaya ari-ari lo aja. Kemana ada elo pasti ada si Bulan". Akhirnya Bintang ikut tersenyum.
"Bima?!".
"Noh ari-ari gue udah dateng". Kembali keduanya tertawa.
Sama seperti Bintang, Bulan juga tak kalah antusias saat melihat pemuda yang ia panggil Bima itu.
...¥¥¥•••¥¥¥...
...Segini dulu deh ya, othornya oleng gara-gara kemaren kreji up😂😂😅🤣 gini amat mak othor😅😅...
...Happy reading semuaaa🥰🥰😊 sayang kalian banyakbanyak😘 sarangheo sekebon readers🥰😘😘😘💐♥️💋...
__ADS_1