
Langit mengerjap beberapa kali saat mendengar suara sang ibu yang terus memanggil namanya serta gedoran di pintu kamarnya.
"Eeungh.." Langit melenguh, meregangkan otot tubuhnya dan berusaha mengumpulkan kesadarannya 100%.
"Lang..Langit.." Ketukan pintu diiringi suara sang mommy yang terus memanggil namanya masih terdengar.
"Langit udah bangun mom.." Teriak Langit yang sudah duduk diatas ranjangnya sambil mengusap wajahnya.
"Jangan tidur lagi ya, langsung mandi terus siap-siap. Ba'da magrib kita berangkat". Langit mengusap wajahnya beberapa kali.
"Langit!! Kamu denger mommy ngomong kan?". Langit tersenyum samar, ibunya itu memang paling cerewet. Namun meski begitu, Langit sangat menyayanginya.
"Iya mom..aku denger".
"Inget ya, langsung mandi terus siap-siap". Mommy Sekar kembali mengingatkan Langit sebelum berlalu dari depan kamar anaknya.
"Hah.." Langit menghela nafas panjang. Akhirnya hari ini datang juga.
Dengan langkah gontai, Langit menyeret langkahnya menuju kamar mandi. Membuka satu persatu pakaian yang menempel pada tubuhnya dan melemparkannya asal.
Pemuda dengan tubuh gagah itu berdiri dibawah shower. Mengguyur tubuhnya dengan air dingin agar kesadarannya cepat pulih dan tubuhnya segar.
Tak butuh waktu lama bagi Langit untuk membersihkan diri. 15menit kemudian Langit sudah keluar dari kamar mandi.
Hanya handuk yang membelit pinggangnya, sementara bagian atas tubuhnya dibiarkan terbuka dan memperlihatkan otot-otot perutnya yang menggoda. Untuk ukuran anak remaja, Langit memang memiliki tubuh yang diidamkan para pria.
Itu semua ia dapatkan dari hasil kerja kerasnya yang rajin berolahraga hingga otot-otot tubuhnya terbentuk sempurna.
Tangannya bekerja mengusak rambutnya yang basah dengan handuk kecil. Dengan bersiul, Langit membuka lemari pakaiannya, memilih pakaian yang akan ia kenakan untuk datang dipertemuan kali ini.
Langit diam cukup lama, melihat tumpukan baju di lemari pakaiannya. Setelah cukup lama memilih. akhirnya Pilihannya jatuh pada kemeja berwarna navy dan celana panjang hitam. Kakeknya bilang, malam ini hanya akan ada pengenalan antara dirinya dan gadis yang dijodohkan dengannya. Jadi rasanya pakaian yang ia pilih sudah sangat sopan.
Langit menilik penampilannya sekali lagi di cermin besar yang ada di kamarnya. Sudut bibirnya terangkat melihat penampilannya yang memang tak pernah gagal.
"Perfect.." Ucap Langit sambil mengedipkan sebelah matanya saat menatap pantulan dirinya di cermin.
"Langiiiit!!!". Langit kembali tersenyum mendengar lengkingan suara ibunda ratunya. Sebegitu tak sabarnya sang ibu untuk membawanya bertemu dengan calon jodohnya.
"Gue yang dijodohin kok mereka yang semangat sih. Aneh". Gumam Langit.
"Iya mom.." Langit balas berteriak sebelum mommy nya kembali berteriak dan memanggilnya.
Langit menuruni satu persatu anak tangga dengan santai. Meskipun malas dan tak berminat sedikitpun, namun Langit coba menutupi nya dengan bersikap santai.
"Yaampun..ganteng banget anak mommy". Puji mommy Sekar saat melihat tampilan Langit yang sangat rapi malam ini. Sangat berbeda dengan penampilan Langit sehari-hari yang selalu tampil urakan dengan celana robeknya.
"Ternyata masih punya celana yang utuh juga kamu". Langit hanya melirik sang kakek tanpa berniat menimpali ucapannya yang terdengar mencibir itu.
__ADS_1
"Dasar pak tua nyebelin". Cibir Langit dengan suara lirih. Ia tak mau sampai sang mommy memukul dirinya karena memanggil kakek dengan sebutan pak tua.
"Kita berangkat sekarang?". Daddy Prabu bersuara setelah sejak tadi hanya menjadi pendengar.
"Lebih cepat lebih baik". Ucap kakek Wira yang kini sudah berdiri dengan tongkatnya.
Mommy memberi perintah pada kepala pelayan untuk membantu membawa barang-barang yang akan ia bawa kerumah calon besannya ke dalam mobil.
"Langit mau bawa mobil sendiri". Semua langsung menatap tajam Langit. Tatapan semua orang pun terlihat mencurigai Langit.
"Ya ampun mom..Langit nggak akan kabur". Sadar arti tatapan kedua orang tuanya serta kakeknya, Langit menjelaskan. Namun sepertinya kecurigaan kedua orang tua dan kakeknya lebih besar dibanding rasa percaya merek terhadap Langit.
"Nggak ada ya bawa mobil sendiri. Mommy tau kamu ini suka bikin masalah. Jangan bikin daddy sama mommy malu ya Lang". Omel Mommy Sekar panjang lebar membuat Langit menghela nafas.
"Kita berangkat satu mobil. Nggak pake nawar". Imbuh mommy Sekar tak terbantahkan.
Akhirnya Langit pasrah saat digiring masuk kedalam mobil sang daddy.
"Padahal juga nggak akan kabur kali". Gumam Langit yang masih bisa didengar oleh kakek Wira yang hanya diam mengulum bibirnya menahan senyum mendengar keluhan cucu tersayangnya.
Langit memilih duduk didepan bersama sopir pribadi sang ayah. Sementara mommy dan daddy nya serta sang kakek duduk dibangku belakang sambil terus membicarakan keluarga calon jodoh Langit.
"Diomongin terus. Emang secantik apa sih tu cewek". Lirih Langit yang kini mulai penasaran dengan sosok gadis yang katanya akan dijodohkan dengannya itu.
Tepat pukul enam lebih keluarga Wiratmaja berangkat menuju kediaman calon istri Langit. Sepanjang perjalanan, Langit memilih diam dan asyik dengan ponselnya tanpa mau menimpali obrolan ketiga orang yang duduk dibelakangnya.
"Ya jelas sih. Pasti anak pengusaha juga". Batin Langit sambil memperhatikan lingkungan sekitar yang terlihat mewah dan juga dijaga dengan ketat sejak masuk kedalam kawasan perumahan.
"Ayo turun". Ucap kakek Wira saat mobil sudah terparkir sempurna dihalaman luas sebuah mansion mewah yang tak kalah luasnya dari mansion daddy Prabu.
"Jangan coba bikin masalah didalem". Langit kembali menghela nafas panjang. Entah sudah berapa kali sang mommy memperingati dirinya tentang hal yang sama.
Kedatangan Langit dan keluarganya sudah disambut oleh tuan rumah. Mata Langit melebar melihat siapa yang menyambut mereka. Ia sangat mengenali sosok itu.
Langit bisa melihat bagaimana akrabnya mommy Sekar dengan istri dari tuan rumah yang katanya adalah calon mertuanya itu.
"Ayo silahkan masuk.." Langit beserta keluarga dipersilahkan untuk masuk.
"Ya ampun jeng, kenapa harus repot-repot begini". Monmy Sekar tertawa dan mengatakan jika tak sedikitpun kerepotan.
"Prabu...apa kabar??". Sama seperti mommy, daddy Prabu juga terlihat sangat akrab dengan pemilik mansion yang kini tengah mereka kunjungi.
"Paman..apa kabar?". Kakek Wira tersenyum menerima pelukan hangat itu.
"Aku baik-baik saja. Kalian apa kabar?". Kakek balas bertanya.
"Baik paman. Kami sangat baik.." Langit masih diam, mengamati situasi dan interaksi antar keluarga.
__ADS_1
"Kita makan malam saja dulu..Kita bicarakan soal perjodohan ini nanti setelah perut kita terisi". Semua mengangguk menyetujui apa yang tuan rumah usulkan.
Disinilah semua orang berada, duduk mengitari meja makan. Sepanjang Langit datang, Langit belum melihat sosok gadis yang katanya akan dijodohkan dengannya.
"Sayang.." Suara berat itu membuat wanita yang tengah asyik mengobrol dengan mommy Sekar mengalihkan pandangannya pada sang suami.
"Biar aku panggil dulu.." Sosok wanita paruh baya yang sepertinya seusia mommy Sekar tampak tersenyum lembut.
Setelahnya, Langit melihat wanita itu menaiki tangga. Mungkin ingin memanggil putrinya. Entahlah, Langit tak terlalu memusingkannya. Ia justru sibuk melihat ke sekeliling rumah, seolah tengah mencari sesuatu.
"Jadi dia putramu?". Daddy Prabu mengangguk.
"Kenalkan, namanya Langit.."
"Langit ya.." Seulas senyum dari calon mertuanya membuat Langit tersenyum kaku.
"Kenalkan om, nama saya Langit.." Sopan Langit mencium punggung tangan laki-laki yang sangat ia tahu siapa dia.
Tak lama wanita yang baru saja menaiki tangga itu kembali turun dengan wajah pias. Terlihat ragu untuk memberitahu suaminya tentang apa yang ia temukan dikamar putrinya.
"Kenapa?". Pertanyaan yang terdengar sangat santai bahkan saat melihat wajah istrinya panik.
"Dia kabur?". Tebakan yang sangat akurat dari laki-laki yang akan menjadi mertua Langit membuat Langit mengangkat kedua alisnya. Jadi gadis yang akan dijodohkan dengannya kabur?? Baguslah..batin Langit.
Dirinya tak perlu bersusah payah membuat perjodohan ini batal. Namun gadis yang akan dijodohkan dengannya lah yang akan membuat rencana para orang tua dengan pikiran kolot itu batal.
Ragu-ragu, istrinya mengangguk. Membuat senyuman tersungging di wajah lelaki sahabat daddy Prabu itu.
"Putriku memang sedikit unik. Tolong tunggu sebentar ya.." Bukannya marah, daddy Prabu dan kakek Wira justru tertawa. Membuat Langit mengerutkan keningnya lantaran bingung dengan situasi saat ini.
Calon mertuanya terlalu santai untuk situasi yang tengah terjadi saat ini. Namun Langit masih diam dan menyimak tanpa berniat bertanya apapun.
"Rupanya bukan hanya cucuku saja yang menolak. Putrimu juga keberatan rupanya". Kakek Wira masih tertawa.
"Tenanglah, dia akan segera ditemukan". Melihat istrinya panik, daddy Prabu coba menenangkan mommy Sekar.
"Bukankah gadis itu unik? Bahkan dia kabur sebelum melihat siapa sosok yang akan dijodohkan dengannya". Tawa kakek Wira masih menggema.
Perhatian semua orang teralihkan pada suara bising yang berasal dari ruang tamu. Dan mereka tahu, siapa yang membuat keributan itu.
"Lepasin bang!! Kalo kaga dilepas, beneran gw pecat nih".
...¥¥¥•••¥¥¥...
...Gimana nih? Othornya beneran kreji up kan??😁😁 kalian juga jangan lupa kreji like nya atuh ya🤭😊😊🥰...
...Semoga tak bosan ya..happy reading dan sayang kalian banyakbanyak😘😘🥰💐💋♥️...
__ADS_1