Langit Untuk Bintang

Langit Untuk Bintang
berkeluh kesah


__ADS_3

Alva mengantarkan Bintang sampai pintu rumah. Memastikan gadis itu masuk ke dalam rumah dengan selamat sebelum ia meninggalkan rumah megah itu.


Bintang sempat menawarkan untuk mampir. Namun Alva juga cukup tahu diri untuk menolak tawaran Bintang.


"Udah malem banget. Pasti keluarga kamu juga udah istirahat. Aku nggak mau ganggu mereka istirahat". Itu jawaban Alva saat Bintang menawarinya untuk masuk.


"Sampaikan permohonan maafku pada ayah dan bunda mu serta kedua kakakmu. Maaf mengantarkan pulang terlalu larut.." Imbuh Alva yang mampu membuat sudut hati Bintang menghangat.


"Istirahat dan jangan terlalu memikirkan hal-hal yang terjadi. Jalani saja seperti air mengalir dan jangan mencoba melawan arusnya". Sebuah tepukan lembut dikepala Bintang dan nasihat yang menenangkan sebelum Alva meninggalkan Bintang yang bersikukuh melihat Alva pulang sebelum masuk ke dalam rumah.


"Terimakasih banyak untuk hari ini kak. Maaf sudah merepotkan kakak.." Ucap Bintang tulus berterimakasih pada Alva yang sudah sangat membantu dirinya hari ini.


Jika ditanya mengapa Bintang nyaman dekat dengan Alva. Maka jawabannya sikap dewasa dan mengayomi yang Alva miliki lah yang membuat Bintang nyaman untuk dekat dan berteman baik dengan Alva.


Tidak ada alasan untuknya menolak pertemanan yang Alva tawarkan pada dirinya.


Bintang melambaikan tangan dan bibirnya tersenyum pada Alva saat mobil pria itu bergerak menjauh dari halaman rumah orang tuanya.


Senyum dibibirnya memudar saat mobil yang baru mengantarnya itu menghilang dibalik gerbang tinggi rumah besar orang tuanya.


Senyuman itu berganti dengan helaan nafas panjang. Tubuh serta pikiran dan hatinya mendadak lelah setelah kejadian di acara reuni tadi.


Hal yang sudah tidak ia harapkan itu tiba-tiba muncul saat dirinya sudah mencoba meyakinkan diri untuk mengubur cerita masa lalu itu.


"Harusnya jangan pernah kembali lagi". Gumamnya menatap gelapnya langit malam itu.


"Kenapa baru kembali. Saat aku sudah lelah menunggu dan akan menyerah". Aah entahlah, sudah berapa ribu kali kata 'menyerah' itu ia gaungkan. Namun nyatanya tak semudah itu menyerah pada sesuatu yang bahkan tak pernah ia lihat.


Menghela nafasnya kembali lebih panjang sebelum tangannya memegang handle pintu dan membukanya perlahan.


Jam sudah menunjukkan pukul 11.15 malam. Ia yakin penghuni rumah sudah beristirahat semuanya. Hanya menyisakan beberapa satpam yang berjaga di gerbang utama dan dekat pintu utama.


Bintang dikejutkan dengan keberadaan kedua orang tua dan kedua kakak lelakinya yang terlihat duduk menunggu dirinya diruang tamu.


"Ayah sama bunda belum tidur?". Tanya Bintang sambil berjalan mendekat.


Meraih tangan keduanya dan mencium punggung tangannya silih berganti. Dan melakukan hal serupa pada kedua kakaknya.


"Kami menunggu kamu pulang, nak". Sahut bunda sembari menepuk sofa disampingnya. Meminta Bintang untuk duduk disana.


"Bagaimana acaranya?". Tanya sang bunda begitu lembut sambil mengelus rambut panjang Bintang.


"Seperti biasa, bun. Hanya lebih asyik karna aku bersama kak Alva". Masih melanjutkan dramanya.


Karena Bintang sangat yakin, jika kedua orang tua dan kedua kakaknya pasti sudah mengetahui kehadiran Langit di acara tadi.


Mata-mata ayah dan kedua kakaknya ada dimana-mana. Jadi Bintang yakin pasti sudah ada yang melapor hingga mereka menunggui dirinya pulang.

__ADS_1


"Lalu dimana Alva sekarang?". Tanya ayah yang sudah terdengar lebih ramah saat menyebut nama Alva. Sepertinya ceramah panjang Bunda cukup berpengaruh pada cara ayah menyebut nama Alva.


"Kak Alva?". Beo Bintang yang dijawab anggukan kepala oleh ayah.


"Dia pulang yah. Tadi Bintang sudah menawarkan untuk mampir dulu sekedar minum teh bersama. Tapi kakak menolak.."


"Kenapa? Dia tidak nyaman karna perkataan kami tadi?". Dewa bertanya cepat bahkan sebelum adiknya selesai menjelaskan.


"Bukan.." Bintang mengibaskan kedua tangannya.


"Kakak bilang sudah terlalu larut. Tidak pantas bertamu hingga selarut ini. Kakak juga menyampaikan maaf karena mengantarku pulang terlalu malam". Jelas Bintang lagi, karena memang seperti itu yang sebenarnya Alva katakan sebelum pulang tadi.


"Kakak tidak mau mengganggu istirahat ayah dan bunda, juga yang lain katanya.." Senyum penuh kebanggaan, mencoba memberikan keyakinan pada anggota keluarganya jika dirinya dan Alva memang memiliki hubungan istimewa.


Dewa dan Juna saling menatap sekilas. Entah apa yang mereka bicarakan lewat tatapan mereka itu. Bintang tidak tahu, namun berharap semoga kedua kakak posesifnya itu percaya pada hubungan palsunya dan Alva.


"Bintang lelah..Bintang ke kamar dulu ya, yah..bun". Pamit dan melarikan diri sebelum semakin banyak pertanyaan yang mungkin saja akan menjebaknya.


"Ayo bunda antar.." Merangkul pundak putrinya yang hanya bisa tersenyum pasrah.


"Hah, ternyata nggak semudah itu lepas". Batin Bintang yang sudah tahu apa tujuan bunda nya mengantar dirinya ke kamar.


Sepeninggal bunda dan Bintang, tertinggallah tiga lelaki yang membisu. Diam dengan segala pemikiran mereka saat ini.


"Bagaimana ini yah?". Tanya Dewa sambil menatap sang ayah yang juga terlihat sama bingungnya.


Semua kejadian ini benar-benar diluar dugaan mereka. Enam tahun lamanya Bintang diam, bahkan tak pernah ada laporan masuk tentang kedekatan Bintang dan seorang lelaki pun.


"Ayah juga tidak tahu harus bagaimana". Ayah Henry menatap lurus kedepan.


"Apa kita ancam saja laki-laki tadi yah? Kita minta dia untuk menjauhi Bintang". Usulan gila keluar dari mulut Juna yang langsung mendapatkan hadiah pelototan tajam dari ayah dan Dewa.


"Kau sudah siap berurusan dengan istri dan bundamu kalau sampai ketahuan?". Juna langsung bungkam dan menggeleng cepat.


Hal yang paling mengerikan baginya adalah amarah istri dan bundanya. Marahnya mereka lebih menyeramkan dibandingkan ayah.


"Belum lagi Bintang, kalau sampai dia tahu, Tamat sudah riwayat kita". Dewa bergidik membayangkan kemarahan adik serta istri dan ibundanya.


Aaah sepertinya ia akan lebih memilih tumpukan pekerjaan yang tidak bisa diselesaikan dalam waktu satu bulan dibanding harus menerima kemarahan para wanita tersayangnya itu. Satu kata untuk para wanita dikeluarganya itu.


"Mengerikan". Gumam-gumam ketiga lelaki itu sambil bergidik.


"Hah..." Kembali terdengar hembusan nafas kasar dari ketiga pria yang kini terlihat diam dan melamun itu.


Sementara didalam kamar, bunda tengah menunggu Bintang yang sedang mencuci muka dan mengganti pakaiannya.


"Semoga bunda sudah kembali ke kamarnya". Sengaja berlama-lama didalam kamar mandi, berharap bunda bosan menunggu dan meninggalkan kamarnya.

__ADS_1


Namun sepertinya harapannya terlalu tinggi untuk bisa tercapai. Nyatanya saat dirinya keluar dari kamar mandi, bunda masih duduk manis diatas ranjang sambil memberikan senyum lembutnya.


"Jangan terlalu berharap, Bintang". Tersenyum bibirnya walau batinnya menangis.


Menepuk kembali sisi kosong disebelahnya, meminta putri kesayangannya untuk duduk disana.


Dengan patuh duduk seperti keinginan bunda. Dan menjatuhkan kepalanya dipaha bunda. Meminta sang ibu untuk mengelus kepalanya.


"Sayang.."


"Dia datang, bun". Lirih Bintang sambil memejamkan mata menikmati sentuhan tangan bunda yang terasa begitu menenangkan hatinya yang tengah kalut.


"Kenapa sekarang dia datang bun?". Bertanya pada bunda yang masih terus mengelus kepalanya.


"Sayang.."


"Bintang benci sama Langit, bun". Bunda bisa merasakan cairan hangat yang menebus celana yang saat ini tengah ia pakai.


Ia yakin putrinya kembali menangis saat ini. Membuat hatinya seperti diremas dengan kuat. Ikut merasakan kesakitan yang Bintang rasakan.


"Dia pergi tanpa perduli Bintang merasa kehilangan. Dia pergi tanpa peduli kesakitan yang Bintang rasakan. Bahkan sekalipun dia tidak pernah memberi kabar pada Bintang. Sebuah pesan pun tidak, bun". Suara Bintang terdengar parau karena isak tangisnya.


"Lalu kenapa sekarang dia kembali lagi saat Bintang baru ingin memulai hidup Bintang dengan baik, bun". Bunda melipat rapat bibirnya. Tak ingin bersuara karena takut Bintang mengetahui jika dirinya kini ikut menangis bersamanya.


"Dia pikir, dia itu siapa bun? Bisa seenaknya pergi dan kembali sesukanya". Bintang sampai sesenggukan.


Setelah sejak tadi di acara reuni coba menahan dirinya agar terlihat santai dan tenang, kini ia menumpahkan segala rasa yang menyesakkan dada setelah kehadiran Langit.


"Mungkin Langit memiliki alasan melakukan ini, nak". Berbicara setelah mampu menguasai dirinya. Bunda bertutur sangat lembut sambil tak henti mengusap kepala anaknya yang masih belum beranjak dari pahanya.


Bunda mendengar Bintang terkekeh pilu. Meski tak merasakan, namun bunda bisa membayangkan bagaimana hati putrinya itu saat ini.


"Alasan? Ya,..dia memang selalu punya alasan, bun". Lirih Bintang.


"Tapi Bintang tidak ingin tahu apa alasannya. Karna bagi Bintang, dia sudah tidak penting lagi sekarang". Bunda reflek menghentikan gerakan tangannya saat mendengar ucapan Bintang.


Benarkah? Apakah yang baru ia dengar benar-benar keluar dari mulut putrinya?? Benarkah Bintang sudah benar-benar melupakan perasaannya pada Langit?


Jika iya, lalu mengapa saat ini putrinya menangis sepilu ini?? Bunda bergulat dengan hati dan logika nya sendiri. Mencoba menilai apakah apa yang dikatakan putrinya sebuah kejujuran atau hanya sekedar ungkapan kemarahan dan juga kekecewaan yang sudah sekian lama dipendamnya.


Entahlah, bunda belum menemukan jawabannya. Ia hanya berharap putrinya bahagia.


...¥¥¥•••¥¥¥...


...Double up nya semua😊😊 Buat nemenin tahun baruannya nih🥰🤭...


...Readers pada tahun baruan kemana nih?? ...

__ADS_1


...Semoga ditahun yang baru ini, kita semua senantiasa diberikan kesehatan dan kelapangan rezeki oleh sang pencipta, dijauhkan dari hal-hal buruk dan selalu didekatkan dengan kebaikan, aamiin🤲🏻🤲🏻...


...doa terbaik juga untuk readers semua..semoga apa yang kita cita-citakan bisa tercapai ditahun ini ya readers😊😊 aamiin🤲🏻🤲🏻🤲🏻...


__ADS_2