
Bintang yang masih terkejut dengan apa yang baru saja terjadi pada dirinya dan Langit tampak masih berdiri mematung bahkan saat Langit sudah menghilang dibalik pintu.
*plakk!!!
Bintang menampar pipi nya sendiri guna menyadarkan diri dari semua rasa terkejut.
Ia bergegas lari kedalam kamarnya. Sibuk mencari ponsel dan juga kunci mobilnya.
"ketemu". Serunya saat menemukan benda yang ia cari-cari.
" Aaaaa.. dasar Bintang gila!". Berteriak saat menyadari penampilannya.
Tubuh yang hanya ditutupi dengan sebuah tanktop dan bahkan hotpants. Masih beruntung semalam dirinya tak melepas pelindung asetnya. Entah akan seperti apa malunya jika saja ia tak memakai penutup aset seperti yang biasa ia lakukan saat tidur.
Pantas saja Langit semakin tak bisa mengontrol dirinya tadi. Pasti pakaiannya saat ini adalah salah satu penyebabnya.
"ahh, kemana sih ni jaket". Saking paniknya, bahkan jaket yang tergantung didepan mata saja tak terlihat oleh Bintang. Yang ada dipikirannya saat ini adalah segera pergi dari apartment nya agar tidak kembali bertemu Langit.
Karena ia yakin Langit akan kembali lagi. Dan bisa saja hal yang lebih gila terjadi lagi.
Bintang bergegas keluar dari unit apartment nya, ia sempatkan menyembulkan sedikit kepalanya lebih dulu untuk memastikan tidak ada Langit.
"Aman.. " Bergumam sebentar lantas bergegas menuju lift.
Ia bahkan tak mencuci mukanya, untung saja sudah cantik sejak lahir. Jadi meskipun penampilannya saat ini acak adul pun tetap terlihat menawan.
Bintang melajukan mobilnya membelah jalanan yang cukup padat di hari libur. Otak kotornya tiba-tiba memvisualisasikan adegan demi adegan yang terjadi antara dirinya dan Langit saat di apartment nya tadi.
"Aaaahhh!!! Dasar gila!! Bisa-bisanya malah bayangin kejadian tadi". Mencengkeram kuat kemudi nya
" Dasar otak mesum". Kini ganti menyalahkan otaknya.
"Lagian kenapa sih bisa-bisanya malah menikmati". Kini kemudi mobil yang ia pukul. Entah akan jadi seperti apa ia dan Langit tadi andai dirinya mengikuti hawa nafsu nya.
Bintang mengatur nafasnya saat sampai dihalaman rumah ayah Henry. Merapikan rambutnya sebelum turun dari mobilnya serta merapatkan jaket yang ia kenakan.
Sementara Langit yang sudah selesai menjinakkan sesuatu yang sempat membuatnya tersiksa itu kini tampak tengah berdiri di depan cermin untuk merapihkan rambutnya.
"Perfect.. " Tersenyum cerah saat melihat penampilannya kini. Sudah terlihat sangat menawan dengan rambut yang tertata rapi juga wajah yang sudah lebih segar karena habis mandi.
"Mommy.. " Gumamnya menatap layar ponsel yang berkedip-kedip diatas nakas.
Perlahan mengangkat ponselnya, menggeaer layar dan kemudian menempelkannya di telinga. Namun sedetik kemudian ponsel itu segera ia jauhkan dari telinga nya.
"Dasar anak nakal ya kamu. Bisa-bisanya pulang dari luar negeri bukannya pulang kerumah orang tuanya malah pulang ke apartement". Bahkan saat ponsel itu sudah sedikit dijauhkan dari telinga, masih terdengar jelas omelan sang ibu.
" Pulang sekarang! ". Perintah tegas mommy langsung terdengar setelah sesaat diam.
__ADS_1
" Nanti aku pulang mom.. sekarang aku ada keperluan dulu". Jelas saja enggan pulang, ia ingin segera menemui Bintang lebih dulu.
"Pulang sekarang Langit! ". Langit menghela nafas panjang sebelum akhirnya mengiyakan perintah mommy.
Toh percuma melawan mommy, bisa-bisa malah berbuntut panjang.
" Aku akan segera menemuimu setelah urusanku dan mommy selesai ". Ucapnya sambil menatap pintu apartment Bintang yang tertutup rapat.
Langit tidak tahu jika si pemilik unit sudah lebih dulu melarikan diri karena takut dengan keberadaannya.
__***
Braaakkk!!!
" Langit!!! " Sentak mommy yang sangat terkejut dengan kelakuan putranya yang menggebrak meja begitu keras. Mommy bahkan masih mengelus dadanya yang berdebar kencang.
"Apa-apaan lagi sih ini mom? ". Bertanya dengan suara yang coba ia tekan agar tidak sampai membentak sang ibu.
" Dad?! ". Kini menatap sang ayah yang tampak santai membaca laporan dari asistennya.
" Daddy setuju dengan mommy". Langit tersenyum sinis menatap kedua orang tuanya.
"Aku tidak mau dijodohkan dengan siapapun pilihan kalian! ". Tegas Langit penuh keyakinan.
" Tidak ingin melihat foto atau sekedar informasi dari gadis yang ingin kami jodohkan denganmu? " Tanya mommy membuat Langit langsung menggeleng.
Seharusnya kedua orang tuanya tahu, jika hanya Bintang yang ia inginkan untuk mendampinginya. Bukan gadis manapun.
"Tapi dia sangat cantik nak. Gadis ini juga sangat berbakat. Setidaknya bertemu lah dulu". Bujuk mommy Sekar yang mengulum bibirnya menahan senyuman yang sejak tadi ingin mengembang.
" Mom.. jangan gini dong". Memasang wajah memelas menatap sang ibu.
"Lagipula mommy mu hanya mencoba menawarkan yang terbaik untukmu. Kamu juga tidak berhasil kan mendekati Bintang dengan sgala cara dan usahamu".
" Aku melakukan semua ini demi Bintang, dad. Kalian juga tahu kenapa aku sekarang sulit mendapatkan kepercayaannya lagi". Sengit Langit menatap daddy dan mommy nya.
"Kamu yakin tidak mau mengenal calon yang kami pilihkan??". Bertanya sekali lagi pada anaknya yang langsung menggeleng dengan tegas.
" Aku tidak tertarik". Daddy tersenyum miring.
"Ya sudah kalau begitu. Simpan lagi saja fotonya mom. Nanti aku akan menghubungi Henry kalau Langit tidak mau". Ucapan daddy membuat Langit langsung menatapnya.
" Ayah? Kenapa ayah Henry?". Bertanya pada mommy dan daddy nya yang kini terlihat tidak peduli pada pertanyaan putranya yang sudah terlihat sangat penasaran.
"Mom... " Kini bahkan pemuda itu sudah berpindah duduk di samping ibunya sambil menggoyangkan lengan ibunya itu.
"Untuk apa kamu tahu? Katanya nggak mau sama yang mau dijodohin sama mommy". Langit yang gemas karena kedua orang tuanya justru bungkam melihat amplop coklat diatas meja langsung meraihnya.
__ADS_1
*Braaakkkkk!!!!
" LANGIIIIT!!! ". Mommy kembali berteriak karena putranya kembali menggebrak meja untuk kedua kalinya.
" Kamu mau bikin mommy jantungan? Kenapa dari tadi pukul meja sih". Mengomel namun tak didengarkan Langit.
" Kenapa fotonya Bintang ada disini mom?? " Tanya Langit pada mommy yang masih mengelus dadanya. Memang dasar anak durjana, sudah membuat ibunya kaget bukannya minta maaf malah menanyakan hal yang lain.
"Dad.. " Beralih pada sang ayah yang meletakkan ponselnya ke atas meja dan kini menatap putranya yang terlihat sangat penasaran.
"Untuk apa kamu tahu? Bukannya kamu sudah menolak? ". Bertanya dengan wajah meledek.
" Jadi.. maksud mommy sama daddy---"
" Tadinya sih mommy sama daddy mau jodohin kamu sama Bintang lagi. Soalnya mommy ngga lihat perkembangan dalam hubungan kalian. Tapi berhubung kamu nggak mau ya sudah.. " Mommy menjawab dengan tenang sambil memainkan kuku nya.
"Tapi ya sudah, karna kamu menolak. Daddy sama mommy bisa apa? ".
" Tunggu!! Kalian mau kemana?! " Menghadang kedua orang tuanya yang sudah berdiri.
"Mommy mau ke kamar, kalau daddy sih mommy ngga tau mau apa.. " Mengendikkan bahunya acuh tanpa peduli pada wajah putranya yang mulai terlihat panik.
"Daddy mau telpon om Henry dulu. Bilang kalau acara hari ini batal". Daddy meraih ponsel yang tadi sudah ia letakkan diatas meja, membuat Langit semakin panik dan tanpa sadar merebut ponsel ayahnya.
" Nggak boleh. Daddy nggak boleh telpon ayah Henry.. " Baik daddy maupun mommy sama-sama terlihat mengerutkan keningnya. Berpura-pura bingung untuk menggoda putra mereka.
"Kan sudah kamu tolak. Kasian kalau mereka sampai repot-repot menyiapkan semuanya dan kita tidak kesana". Senang sekali rasanya mommy menggoda putranya yang semakin gelisah.
" Langit mau. Mau.. mau.. mau!! Jangan dibatalin, pokoknya nggak boleh dibatalin! ". Tegas Langit membuat kedua orang tuanya tertawa mengejek.
" Dimana tadi yang ngotot nggak mau? Nggak mau.. nggak mau sama siapapun". Mommy menirukan ucapan Langit dan diakhiri tawa penuh ledekan.
"Kapan kita kesana? Sekarang? Ayo.. sekarang kita siap-siap.. " Kedua orang tua Langit kembali mencibir kelakuan putra mereka.
"Dasar nggak konsisten! ". Setelah mengucapkannya, daddy dan mommy kompak meninggalkan Langit yang memanggil keduanya, jangan lupakan senyum yang terus mengembang dibibir Langit.
" Ngomong dari tadi dong.. Langit sukarela dijodohin kalo tau itu Bintang". Berteriak dengan lantang agar kedua orang tuanya mendengar.
Mommy berbalik, sambil mencebik dan menatap jengah putranya.
"Makanya kalau orang tua ngomong itu didengerin dulu sampai selesai. Jangan main nolak-nolak aja". Dan setelah mengucapkannya, mommy langsung pergi meninggalkan Langit yang terlihat kegirangan bahkan sesekali berteriak.
......**¥¥¥••••¥¥¥¥......
...Segini dulu ya, nanti disambung lagi. Othornya mikir dulu😅😅 udah keabisan bahan, jadi maafkan kalau ngga seru🙏 Maafkan pula daku yang begitu lama menghilang, semoga kalian semua masih sabar menantikan😊...
...Salam sayang buat semua readers, semoga readers dalam keadaan sehat dan bahagia.. aamiin🤲🤲...
__ADS_1
...Sarangheo readers😍😍❤😘😘😘💐💐🌹...