Langit Untuk Bintang

Langit Untuk Bintang
Ibu, Bintang kangen


__ADS_3

"Selesai..." Terdengar jelas jika semua orang langsung menghela nafas lega.


Namun Bintang belum melepaskan pegangan tangannya pada Langit, hingga membuat pemuda itu tersenyum tipis.


"Apa sebegitu menakutkan?". Batin Langit menatap Bintang yang masih setia memejamkan mata.


"Lo istirahat dulu aja ya.." Langit mendorong pelan bahu Bintang dengan sebelah tangannya karena Bintang masih setia mencengkeram lengannya. Meminta agar Bintang berbaring.


"Kamu istirahat saja disini, Bintang. Nanti kalau sudah merasa baikan, kamu bisa pulang. Saya sendiri yang akan memintakan izin". Pak Budi langsung bersuara meski Bintang tak merespon.


"Salah satu saja yang menunggu. Yang tidak menunggu kembali ke kelas". Langit dan Bulan saling menatap mendengar instruksi pak Budi. Keduanya lantas menatap Bintang yang masih memejamkan mata sambil berpegangan pada tangan Langit.


"Gue aja yang balik ke kelas". Langit sadar, yang Bintang butuhkan saat ini pastilah bukan dirinya, melainkan sahabat baiknya.


Namun Bulan justru menggeleng saat Langit hendak melepaskan tangan Bintang dari lengannya.


"Jangan. Dia butuh pegangan sekarang". Bulan berkata sangat pelan sambil melirik tangan Bintang dan Langit.


"Tapi ntar--"


"Ntar gue kesini lagi. Dia pasti ketiduran, darahnya banyak yang kebuang. Pasti lemes banget sekarang". Langit mengangguk dan duduk di kursi yang ada disamping ranjang Bintang.


"gue titip Bintang dulu". Langit mengangguk dengan fokus yang tak beralih dari wajah Bintang.


"Lang.." Langit langsung menoleh saat Bulan memanggil namanya.


"Jangan lepasin tangan Bintang sampe dia bangun nanti". Langit kembali mengangguk yakin membuat Bulan bisa tersenyum tenang meninggalkan Bintang yang sedang beristirahat.


Langit merapikan anak rambut yang menutupi wajah Bintang. Rambutnya pun terkena darah dibeberapa bagiannya. Membuat Langit meringis membayangkan betapa sakitnya luka Bintang.


Tak lama perawat datang dengan sebuah baki berisi air hangat dan handuk kecil.


"Biar saya aja mbak.." Perawat menatap Langit, bibirnya tersenyum jahil.


"Kamu pacarnya Bintang ini ya? Perhatian banget dari tadi saya perhatiin.." Goda si perawat membuat wajah Langit bersemu merah.


Langit merutuki dirinya sendiri yang langsung merasa malu hanya dengan pertanyaan konyol si perawat.


"Calon. Doain aja cepet jadian". Langit balas bergurau untuk menutupi rasa malunya.


"Iya deh, di doain. Kalian keliatan cocok kok". Langit hanya tersenyum sambil menggeleng pelan. Jika dilihat dari wajahnya, sepertinya perawat itu juga masih muda. Mungkin baru lulus dari pendidikannya.


Tanpa melepaskan tangan Bintang, Langit mulai membersihkan bekas darah yang sebagian sudah mengering di wajah Bintang.


"Pasti sakit banget ya?". Gumam Langit yang mengingat betapa kerasnya Bintang terjatuh.


"Kali ini lo nggak bisa diem, Bin. Lo harus bikin Catherine nerima hukuman setimpal ama yang dia lakuin ke elo". Langit mengetatkan rahangnya sambil meremas kuat kain yang ia genggam.


"Kalo lo nggak mau laporin Catherine, gue yang bakal bikin dia nerima akibatnya, Bin". Langit membulatkan tekad. Kali ini apa yang Catherine lakukan sudah sangat keterlaluan.


"Ibu.." Fokus Langit langsung teralihkan saat mendengar rintihan Bintang.


"Ibu..." Bintang kembali mengigau, wajahnya terlihat sangat sedih padahal gadis itu tengah tertidur.

__ADS_1


Membuat Langit semakin penasaran tentang ibu siapa yang sejak tadi jadi pembahasan Bintang dan Bulan.


"Ibu, Bintang kangen.." Langit terperanjat saat melihat lelehan cairan bening mengalir dari ujung mata Bintang.


Dengan lembut Langit mengusap lelehan cairan bening itu dengan jarinya. Hatinya merasa sakit melihat Bintang yang seperti saat ini.


Jujur ia lebih senang melihat Bintang yang galak dan selalu mengomeli dirinya. Melihat Bintang seperti ini, Langit seolah ikut merasakan penderitaan Bintang.


"Sebenernya kenapa elo, Bin". Langit mengelus perlahan wajah Bintang yang kini sudah tak sepucat tadi. Namun mata Langit melebar saat merasakan suhu tubuh Bintang cukup tinggi.


Langit menggenggam erat kedua tangan Bintang saat gadis itu terus mengigau. Dan yang Langit lakukan berhasil membuat Bintang kembali tenang.


Langit memanggil perawat dan mengatakan jika Bintang demam. Perawat membawa baskom bekas untuk membersihkan luka Bintang dan kemudian membawakan baskom berisi air hangat yang baru beserta handuk baru untuk mengompres Bintang.


"Jangan sakit kaya gini, Bin". Gumam Langit sambil mengompres kening Bintang. Semua ia lakukan dengan sebelah tangan, karena sejak tadi ia tak sedetikpun melepaskan genggaman tangan mereka.


Langit menatap dinding ruang kesehatan. Waktu istirahat masih cukup lama. Langit menghela nafas perlahan, sejujurnya ia lapar. Pagi tadi, ia tidak sempat sarapan. Dan kini cacing diperutnya sudah berdemo meminta untuk diisi.


Langit merebahkan kepalanya disamping Bintang tanpa melepaskan genggaman tangan mereka. Rasa lapar yang didukung suasana sepi dan dinginnya ac membuat Langit tertidur dengan mudahnya.


"Sudah sele---" Ucapan perawat yang hendak mengambil baskom dan handuk yang digunakan untuk mengompres Bintang menggantung di udara saat melihat Langit ikut tertidur.


Perawat itu senyum-senyum sendiri melihat posisi keduanya yang terlihat sangat menggemaskan dan juga terlihat sangat romantis.


"Kamu kenapa?". Dokter yang tak sengaja melihat perawat tersenyum sendiri jadi penasaran dan bertanya.


"Lihat deh dok, so sweet banget ya" Si perawat masih senyum-senyum sendiri sambil menatap Langit dan Bintang.


"Cocok banget ya dok, yang satu ganteng, yang satu cantik. Gemes liatnya". Dokter tersenyum tipis sambil menggeleng pelan melihat kelakuan perawat baru itu.


"Iya ih, aku kalah sama mereka yang masih putih abu. Ngenes begini nasib". Dokter hampir meledakkan tawanya melihat wajah memelas perawat yang selalu membantunya itu. Untung ia bisa menahannya.


"Yang sabar ya.." Dengan jahilnya, dokter justru menepuk pundak perawat beberapa kali. Seolah nasib perawat itu memang benar-benar tidak beruntung.


"Ish, dokter mah gitu.." Dokter tertawa kecil melihat perawat merajuk.


"Sudah-sudah, cepat selesaikan pekerjaan mu. Pelan-pelan, jangan sampai membangunkan mereka". Akhirnya perawat mengangguk dan menjalankan tugasnya dengan baik.


Langit masih terlelap bahkan saat Bintang mulai mengerjapkan matanya. Bintang ingin menggerakkan tangannya, namun tangannya digenggam dengan erat oleh seseorang.


"Bul.." Lirih Bintang yang mengira Bulanlah yang kini menggenggam tangannya.


Bintang meraba keningnya, ada kain setengah basah disana. Membuatnya menyunggingkan senyum tipis mendapat perhatian dari sahabatnya.


"Bubul.." Bintang menggunakan tangan kirinya untuk meraba kepala orang yang menggenggam tangannya.


Seketika matanya terbuka saat tahu jika yang menggenggam tangannya adalah seorang pria. Jelas itu bukan Bulan. Bintang melirik kesamping, mendapati seseorang yang sangat ia kenal tengah terlelap.


"Biawak.." Gumam Bintang lirih. Kepalanya masih terasa sakit, tapi sudah tak sesakit sebelum ditangani dokter.


Bintang kembali memejamkan matanya sejenak untuk mengusir pusing di kepalanya. Ia kemudian kembali membuka matanya.


"Lang.." Panggil Bintang pelan, ia benar-benar kehabisan tenaga untuk sekedar meneriaki Langit.

__ADS_1


"Lang.." Ulang Bintang saat Langit tak kunjung bangun. Senyum tipis tersungging di bibir Bintang, pasti lelaki itu kelelahan menungguinya sejak tadi.


"Makasih.." Lirih Bintang saat mengingat pemuda menyebalkan itulah yang tadi pertama menolong dirinya.


Bintang segera menarik tangannya yang ada dikepala Langit saat melihat pergerakan Langit yang sepertinya akan bangun.


Langit melenguh sambil meregangkan otot punggungnya yang terasa kaku karena tertidur dengan posisi duduk.


Tangannya masih menggenggam tangan Bintang. Ia seolah tak ingin melepaskan genggaman tangan itu. Ia ingin bisa melindungi dan selalu menjadi perisai untuk Bintang.


Langit menoleh dan mendapati Bintang sudah membuka mata dan kini tengah menatapnya. Langit segera bangun, memeriksa suhu badan Bintang yang sempat tinggi saat tadi mengingau.


"Alhamdulillah.." Gumam Langit yang merasa lega karena Bintang tak lagi demam.


"Masih sakit? Pusing? Atau apa yang lo rasain??". Tanya Langit beruntun dengan mata fokus menatap Bintang.


"Gue panggilin dokter dulu ya, biar diperiksa". Bintang memegang tangan Langit saat pemuda itu hendak pergi mencari dokter.


"Kenapa? Sakit??". Bintang bisa melihat dengan jelas sorot penuh kekhawatiran Langit. Dan itu mampu membuat dadanya berdebar.


"Kenapa ini?". Batin Bintang


"Kenapa hm?? Apanya yang sakit?". Langit kembali bertanya karena Bintang diam tak merespon.


"Nggak usah. Gue nggak kenapa-kenapa". Ucap Bintang pelan sambil melepaskan tangannya yang sempat mencekal lengan Langit.


"Lo mau ngapain?". Langit langsung membantu Bintang yang hendak duduk, pemuda tampan itu dengan sigap menata bantal untuk menopang punggung Bintang.


"Kurang nyaman?". Tanya Langit yang dijawab gelengan kepala oleh Bintang.


"Minum dulu.." Bintang kembali tersenyum tipis melihat bagaimana sigapnya Langit mengurus dirinya.


"Makasih.." Pelan Bintang bersuara.


Dengan dibantu Langit, Bintang meminum air yang sebelumnya disediakan perawat untuknya.


Hening, tak ada lagi yang bersuara setelahnya. Baik Langit maupun Bintang sama-sama bungkam. Bingung ingin memulai pembicaraan dari mana.


"Bin.."


"Lang..."


Keduanya saling menatap saat memanggil nama bersamaan. Langit tersenyum lembut, membuat Bintang memalingkan wajahnya.


"Lo dulu aja.." Lagi, keduanya saling menatap saat kalimat yang terlontar dari bibir mereka sama.


Mereka tertawa kecil sebelum sebuah teriakan membuat mereka terkejut dan mengalihkan pandangan.


"Bintang..!!!".


...¥¥¥•••¥¥¥...


...Segini dulu ya..incess nya mak othor lagi atit😭🥺 Doain ya, biar incess cepet sembuh, jadi bisa kasih banyak-banyak buat kalian....

__ADS_1


...Kalau kondisi incess memungkinkan, insyaallah nanti dikasih double up🥰🥰...


...Happy reading, sarangheo sekebon readers💋💋💐💐🥰😘🥰🥰😘...


__ADS_2