
"Sayang.." Bunda mengetuk pintu kamar putrinya. Namun belum ada jawaban dari dalam.
"Bintang..ini bunda, nak. Boleh bunda masuk?", Akhirnya bunda masuk karena tak kunjung mendapat jawaban Bintang.
Semalam ayah sudah menyampaikan jika pagi ini Langit akan berangkat. Meski kemana tujuannya tak diberitahukan oleh ayah.
Dan pagi ini ayah dan bunda akan ke rumah Langit untuk mengantarkan kepergian Langit, sekedar mengucapkan selamat jalan, sekaligus memberi semangat pada pemuda itu.
Sejak semalam Bintang menjadi jauh lebih pendiam. Saat makan yang biasanya diisi obrolan juga semalam terasa berbeda karena bungkamnya Bintang.
Namun begitu, baik ayah maupun bunda masih bersyukur karena Bintang tetap mau makan seperti biasa. Meski jelas nampak jika porsi makan gadis itu jauh lebih sedikit.
Pagi ini rencananya bunda akan mengajak Bintang ke rumah Langit. Karena semalam, Bintang tidak menjawab ajakan ayah.
Saat masuk kedalam kamar, bunda hanya bisa menghela nafas panjang. Melihat betapa berantakan kamar putrinya. Benar-benar belum pernah bunda melihat kondisi kamar putrinya seberantakan ini.
Sepertinya rencana perginya Langit benar-benar mempengaruhi putrinya itu. Bahkan belum pernah bunda melihat keadaan kamar seperti saat ini.
Bintang masih terlihat bergelung dibawah selimut yang membalut tubuhnya. Perlahan bunda mendekat, melihat dengan seksama wajah putrinya.
Masih nampak jejak air mata diwajah ayu itu. Kerutan didahi Bintang sudah menandakan jika tidur nya sama sekali tidak nyenyak.
Bahkan lingkaran hitam dibawah mata Bintang sudah bisa menjelaskan jika gadis itu sepertinya menangis hingga larut malam. Entah jam berapa gadis itu tidur.
"Bintang, sayang.." Dengan lembut bunda memanggil Bintang. Mengelus pipi Bintang dengan lembut. Membuat gadis itu menggeliat karena merasakan sentuhan seseorang.
"Ehmm..." Bintang hanya bergerak sedikit, kemudian merapatkan selimutnya lagi tanpa berniat membuka matanya.
"Sayang..nak, ayo bangun. Bunda sama ayah mau ke rumah Langit.." Mata yang sejak tadi terpejam itu mulai terbuka saat kata rumah Langit terdengar.
Baru beberapa jam ia melupakan permasalahannya, dan kini ia sudah kembali teringat pada Langit.
"Ayo bangun.." tutur bunda terdengar sangat lembut.
"Bintang dirumah aja bun.." Lirih Bintang yang kembali merapatkan selimutnya.
"Jangan begini sayang..Langit pasti akan sedih, ayo kita antar kan dia.."
Bintang tetap menggeleng dengan ajakan bunda. Membuat bunda menghela nafas kemudian berdiri.
"Susul kami kalau kamu berubah pikiran ya..masih ada cukup waktu sampai jam keberangkatan Langit". Bunda mengusap kepala Bintang yang sudah membelakanginya.
Ayah menatap bunda saat istrinya keluar dari kamar putrinya. Melihat bunda menggeleng, ayah hanya bisa menghela nafas. Mereka pun tak ingin memaksa Bintang jika memang gadis itu tidak mau.
---
"Semua sudah kamu periksa?". Tanya mommy dijawab anggukan kepala oleh Langit. Saat ini semua orang sudah berdiri didepan rumah Langit untuk mengantar pemuda itu pergi.
Langit sengaja melarang semua orang untuk mengantarkannya ke bandara. Karena itu hanya akan semakin membuat langkahnya terasa berat.
Langut berulang kali menatap gerbang rumah. Langit masih berharap Bintang akan datang. Setidaknya untuk mengucapkan selamat jalan.
"Kamu masih bisa mundur.." Suara daddy membuat Langit menoleh pada ayahnya yang tengah menatap dirinya.
__ADS_1
"Langit pergi dulu, mom". Langit memeluk sang ibu.
"Mommy akan segera menyusul setelah semua urusan disini selesai nak". Mommy mencium kening putranya. Langit hanya mengangguk sambil memaksakan senyumannya.
Kini Langit beralih memeluk bunda. Wanita yang juga sudah ia anggap sebagai ibu kandungnya sendiri.
"Cepat kembali nak". Ucap bunda saat ia memeluk Langit sebelum benar-benar melepas kepergian pemuda tampan itu.
"Pasti bun. Langit akan berusaha sekuat tenaga agar bisa cepat kembali". Bunda mengelus pucuk kepala Langit dengan mata berkaca-kaca. Teringat bagaimana kesedihan yang ia lihat di mata putri tercintanya sejak kemarin.
"Tolong jaga Bintang untuk Langit, bun. Bantu Langit untuk meyakinkan Bintang.." Lirih Langit dijawab anggukan kepala oleh Bunda. Meski sejujurnya bunda juga ragu bisa membujuk Bintang dan meyakinkan gadis itu jika perginya Langit adalah untuk kebaikan semua orang.
"Jadilah kuat secepat mungkin. Kamu adalah pemuda kuat, bertambahlah kuat dengan cepat dan kembalilah untuknya". Kini gantian ayah memeluk Langit sambil menepuk punggungnya beberapa kali. Mencoba menyalurkan kekuatan dan keyakinannya pada Langit yang langsung mengangguk didalam pelukannya.
"Ayah percaya padamu..tidak usah merisaukan Bintang.. kami akan menjaganya dengan baik selama kamu pergi". Langit hampir menumpahkan airmatanya mendengar kata-kata ayah.
"Langit pergi dulu..assalamualaikum.."
"Wa'alaikumsalam.." Lambaian tangan mengiringi mobil yang membawa Langit keluar dari gerbang tinggi itu.
Tak lama ponsel bunda berdering, dilayar terpampang nama menantunya.
"Siapa bun?". Tanya ayah
"Naura yah.." Setelah menjawab ayah, bunda mengangkat panggilan dari Naura.
"Wa'alaikumsalam nak. Kenapa?".
"Apa??". Seru bunda membuat semua menatapnya penuh tanya.
"Ya sudah, biarkan saja nak.."
"Bunda tutup dulu. Assalamualaikum.."
"Kenapa bun? Ada apa??? Naura nggak kenapa-kenapa kan?". Begitu Panggilan berakhir, bunda langsung dicecar pertanyaan oleh ayah.
"Sepertinya Bintang menyusul ke bandara. Naura baru memberitahu bunda.." Semua tersenyum, meski ada ketakutan tersendiri dalam senyum mereka. Takut nantinya malah Bintang semakin marah pada Langit.
"Kita percayakan saja pada mereka. Seperti yang kita yakini, jika memang mereka berjodoh..sejauh apapun mereka terpisah, nantinya akan kembali bersama". Ayah menenangkan bunda dan mommy yang tampak gelisah.
Sementara seorang gadis tengah berpacu dengan waktu. Sesekali melirik jam tangan yang melingkar dipergelangan tangannya. Memastikan jika dirinya tidak akan terlambat.
"Lo nggak boleh pergi Lang!!". Gumam Bintang.
"Pak tolong lebih cepat ya.." Ucap Bintang pada pengemudi ojek.
"Siap neng". Dan benar saja, kecepatan motor bertambah.
Setelah bergulat dengan kemacetan, akhirnya Bintang sampai di bandara. Melirik jam sekilas sebelum melepaskan helm yang ia pakai.
"Makasih pak!", Bintang memberikan tiga lembar uang berwarna merah pada tukang ojek yang berteriak.
"Neng!! Ini kebanyakan neng!!", Namun Bintang tak peduli, ia terus berlari kedalam bandara. Mengedarkan pandangan ke seluruh sisi, berharap melihat sosok yang ia cari.
__ADS_1
"Lang...kamu dimana". Gumam Bintang yang matanya sudah kembali berembun.
Sekuat tenaga ia menahan airmatanya. Berlari kesana kemari mencari Langit namun tak kunjung ia temukan. Ingin bertanya namun dirinya tidak tahu kemana lelaki itu akan pergi.
"Kamu dimana Lang.." Akhirnya menyerah dan terduduk disudut. Menekuk kedua kakinya dan menyembunyikan wajahnya untuk menyembunyikan air matanya yang sudah mengucur.
"Jangan pergi Lang..aku mohon jangan". Lirih Bintang terisak.
Entah berapa lama Bintang menangis, ia tidak peduli bahkan saat ada beberapa orang menatapnya dengan bingung. Mengapa ada seorang gadis menangis seorang diri? Biarlah mereka berspekulasi sendiri tentang alasan Bintang menangis.
"Bin-tang..." Terdengar ragu saat memanggil. Namun suara itu berhasil menarik kesadaran Bintang ke permukaan.
Perlahan mengangkat wajahnya yang sembab, Bintang langsung berdiri dan menghambur kepelukan orang yang memanggilnya.
"Lang..jangan pergi Lang". Tangis Bintang pecah, ia menangis sambil memeluk tubuh Lamgit dengan erat seolah tak akan pernah ia lepaskan lagi.
"Bintang..." Lirih Langit membalas pelukan Bintang. Membiarkan gadis itu menangis dalam pelukannya.
Langit hanya mengusap punggung Bintang sambil sesekali mengecup pucuk kepala gadis itu yang masih menangis.
"Jangan pergi Lang.." Pinta Bintang sambil menatap Langit dengan wajah penuh air mata.
"Jangan nangis.." Langit mengusap pipi Bintang. Hatinya hancur melihat Bintang menangis karena dirinya.
"Kamu nggak akan pergi kan??". Pertanyaan itu seperti sebuah harapan Bintang.
"Lang! Jawab, bilang kalo kamu nggak akan pergi". Ucap Bintang lagi lebih mendesak.
"Kamu janji nggak akan ninggalin aku Lang!". Suara Bintang semakin terdengar pilu.
"Bintang..."
"Jangan bicara apapun kecuali kamu janji nggak akan pergi". Sahut Bintang cepat.
"Aku---"
"Kamu bohong!! Kamu jahat!". Airmata kesedihan itu kini berbalut kemarahan juga ketakutan.
"Maaf sayang.." Lirih Langit.
"Lang.." Langit dan Bintang saling menatap.
"Kalau kamu pergi, kita akan benar-benar berakhir. Nggak akan ada lagi kita Lang". Ancam Bintang bersungguh-sungguh.
Jika Langit benar-benar pergi, maka ia akan melupakan lelaki itu. Menganggapnya tak pernah hadir dalam kehidupannya. Dengan sangat yakin Bintang berbicara, namun tak sedikitpun keyakinan didalam hatinya. Karena ternyata Langit sudah menempati seluruh sisi hatinya hingga yang terdalam.
Langit terhenyak mendengar setiap kata yang terucap dari bibir Bintang. Hatinya seperti tergores benda tak kasat mata. Sakit tak berdarah, mungkinkah seperti ini rasanya?? Batin Langit sedih.
Panggilan untuk penerbangannya sudah terdengar. Artinya sudah waktunya lelaki itu meninggalkan cintanya dengan segala kekecewaaan dan kemarahan.
"Maafin aku, Bintang", Langit mengecup kening Bintang lama. Menyalurkan segala rasa yang ia miliki untuk Bintang.
Bintang menutup bibir dengan telapak tangan saat Langit hendak mencium bibirnya. Namun bukannya mundur, Langit justru mengecup dengan lembut punggung tangannya yang menutupi bibirnya.
__ADS_1
"Aku pergi..tapi aku akan kembali. Hanya untukmu". Langit memberikan senyum terbaiknya untuk Bintang.
Bintang tak bisa menahan air matanya saat Langit melangkah mundur dan akhirnya berbalik kemudian berjalan menjauh. Semakin jauh, dan tak lagi terlihat. Meninggalkan dirinya yang menangis pilu, ia tak tahu jika lelaki yang berjalan menjauh darinya pun tengah menangis sedih.