
Alva berlari mencari keberadaan Bintang. Hampir semua tempat yang biasa mereka sambangi sudah ia datangi, namun tak menemukan keberadaan Bintang.
Hal itu membuat Alva semakin khawatir dengan kondisi Bintang. Apalagi jika apa yang dipikirkannya tentang gadis asing tadi benar adanya. Ia yakin saat ini Bintang tidak baik-baik saja.
"Bodoh! Harusnya tadi aku tidak membiarkan Bintang mengantarkan gadis itu". Memaki dirinya yang merasa ceroboh membiarkan Bintang mengantar gadis tadi ke tempat Langit.
Ke tempat laki-laki yang jelas Alva tahu masih dicintai Bintang dan belum bisa dilupakan. Sudah pasti Bintang tidak akan baik-baik saja. Memang manusia mana yang akan baik-baik saja saat harus mengantarkan orang asing mencari sosok yang masih menghuni hatinya.
Alva kembali membawa kakinya untuk berlari, ia teringat satu tempat yang mungkin saja didatangi Bintang saat ini.
"Aaakh!! Dasar bodoh!! Kenapa baru terpikirkan!!". Kembali memaki dirinya yang tidak teringat satu tempat itu.
Tempat yang satu tahun terakhir sering mereka gunakan untuk menenangkan diri saat mereka penat dengan pekerjaan. Atau sekedar mencari pencerahan saat otaknya sudah tidak menemukan ide membuat design yang harus diserahkan pada direktur mereka.
"Ketemu!!". Dengan nafas tersengal, Alva menarik sudut bibirnya hingga membentuk sebuah senyuman tipis saat melihat sosok gadis yang tengah duduk dengan menekuk lutut dan menyembunyikan wajahnya diantara lututnya.
Tanpa bersuara, Alva duduk disamping gadis yang sejak tadi ia khawatirkan itu. Masih mencoba mengatur nafasnya yang memburu karena berlari menaiki anak tangga hingga sampai diatas gedung ini.
Alva menepuk lembut pundak Bintang yang terlihat naik turun. Menandakan gadis itu tengah menangis.
"Kakak.." Begitu mengangkat wajahnya, terlihat jelas lelehan air mata yang membasahi kedua pipi Bintang.
Alva menepuk dadanya, kemudian merentangkan kedua tangannya. Ia seolah tengah memberitahu Bintang jika dadanya siap menerima segala keluh kesah Bintang.
"Kakak..." Menghambur kedalam pelukan Alva dan menangis didalam pelukan Alva yang hanya diam dan mengusap punggungnya.
Untuk kali pertama Bintang menangis didalam pelukan Alva. Menumpahkan segala kesakitan yang tiba-tiba memeluk erat hatinya saat melihat gadis bernama Sofia tadi memeluk Langit didepan matanya.
"Ja-Jahat..k-ken-apa di-a jah-at kak". Bicara terbata masih didalam pelukan Alva yang masih diam membiarkan Bintang menumpahkan segala kekesalan yang mengganjal dihatinya.
"Huaaaa..." Kembali menangis sambil mencengkeram baju Alva dengan erat.
puk..puk
Tepukan lembut Alva berikan dikepala belakang Bintang, kemudian kembali mengusap punggung gadis itu yang masih bergetar. Alva mengeratkan pelukannya pada Bintang.
Seseorang yang juga baru sampai di atap gedung mengurungkan niatnya saat melihat gadis yang dicintainya berada dalam pelukan laki-laki lain dan dalam keadaan menangis.
"Maaf.." Lirih bibirnya bersuara. Hatinya ikut merasakan sakit melihat gadis itu kembali menangis.
Cukup lama Bintang menangis dalam pelukan Alva. Dan melepaskan dirinya setelah tenang. Mengusap air matanya yang meleleh membasahi pipi.
"Ma-af kak.." Masih sedikit sesenggukan karena cukup lama menangis.
Bintang mengusap kemeja Alva yang basah akibat ulahnya yang tidak bisa mengontrol diri dan menangis dipelukan Alva. Kini Alva sudah melihat sisi lemahnya sebagai seorang gadis yang selama ini dikenal setegar karang.
"It's okay..nggak apa-apa. Nanti juga kering sendiri". Selalu saja bersikap tenang dan dewasa, membuat Bintang semakin malu.
Hening, Alva membiarkan Bintang dengan segala apa yang dipikirkannya. Ia hanya akan menemani gadis itu sampai nanti tenang.
"Kak.." Alva menoleh, mendapati Bintang yang tengah menengadahkan wajahnya menatap hamparan langit dan awan-awan yang indah.
"Makasih ya.." Alva mengernyitkan dahinya mendengar ucapan terimakasih dari Bintang.
__ADS_1
"Makasih buat semuanya.." Kini Bintang menatap Alva dan memberikan senyuman lebar hingga membuat matanya menyipit.
"Kamu nggak apa-apa?", Bukannya senang, Alva malah mencemaskan Bintang yang tiba-tiba bersikap aneh.
Bintang menggeleng, masih menampakkan senyumnya hingga membuat Alva semakin khawatir. Ia takut Bintang terguncang karena melihat gadis yang datang mencari Langit tadi.
Apalagi dia tidak tahu apa yang terjadi saat Bintang mengantar gadis asing tadi ke ruangan ceo baru mereka.
"Aku?? Aku nggak apa-apa kak". Matanya yang bengkak karena menangis terlihat semakin menyipit karena senyuman.
"Sebenarnya apa yang terjadi diruangan ceo tadi? Dan siapa gadis itu? Apakah calon istri laki-laki itu?". Alva jadi penasaran dengan apa yang terjadi saat Bintang mengantar wanita tadi. Dan siapa juga wanita tadi? Alva benar-benar dibuat pensarana namun tak bisa bertanya.
Meskipun tidak percaya. Namun Alva memilih diam dan membiarkan Bintang. Meski sejujurnya ia merasa senang karena untuk pertama kalinya Bintang mau menunjukkan sisi lemah dihadapannya.
Kembali hening, keduanya larut dengan pikiran mereka masing-masing dengan mata menatap hamparan langit yang dihiasi awan yang bergerak silih berganti.
"Aku laper kak.." Tiba-tiba kembali berbicara membuat Alva langsung menoleh dan terkekeh pelan. Sepertinya gadis disampingnya ini lelah menangis hingga kelaparan.
Ia bahkan sampai lupa jika dirinya juga belum makan karena langsung mencari Bintang begitu kembali dari ruangan direktur.
"Masih ada waktu.." Ucap Alva melirik jam di pergelangan tangannya.
---
Siang berganti senja, para karyawan sudah mulai berkemas dan merapikan meja kerjanya dan bersiap pulang.
Namun tidak dengan Alva dan Bintang yang masih berkutat dengan gambar cincin dan kalung serta sebuah gelang.
Berulang kali keduanya menghela nafas panjang. Bintang yang sejak pagi merengek untuk tidak lembur, tiba-tiba meminta lembur dan segera menyelesaikan design khusus pesanan ceo mereka.
Padahal sebelumnya Bintang malas-malasan mengerjakan project yang berhubungan dengan ceo mereka itu.
Kembali fokus pada design mereka yang sebenarnya sudah hampir rampung. Besok mereka sudah bisa memberikannya pada ceo menyebalkan yang hanya memberi mereka waktu satu minggu untuk menyelesaikan tiga macam perhiasan.
"Selesai.." Keduanya berseru kompak saat gambar yang sudah menyita waktu mereka selama satu minggu itu rampung.
"Aaah, akhirnya..." Bernafas lega setelah bekerja keras seharian.
"Iya, akhirnya selesai.." Alva menimpali dan ikut menghela nafas lega.
Terlalu sibuk dengan gambar mereka sampai tidak menyadari jika malam sudah semakin larut.
"Pulang sekarang?". Tanya Alva sambil membantu Bintang merapikan meja kerja nya. Karena keduanya memang mengerjakan dimeja kerja Bintang.
Bintang mengangguk, meraih ponselnya untuk melihat jam. Alisnya berkerut saat mendapati beberapa pesan yang dikirimkan Bulan.
"Bulan?". Gumam Bintang sambil membuka pesan yang dikirimkan Bulan.
"Ngapain ni bocah ngirim foto.." Terus bergumam sambil membuka kiriman foto dari Bulan.
"Selesai. Ayo pulang.." Ajak Alva yang sudah selesai merapikan meja Bintang.
"Sebentar kak.." Alva menurut dan menunggu Bintang yang masih sibuk dengan ponselnya.
__ADS_1
"Halo.."
Alva melirik Bintang yang tengah berbicara dengan seseorang di telepon.
"Sam, dimana Bulan?". Tanya Bintang pada seseorang yang ia telepon, yang tidak lain adalah Samudra.
"Kamu nggak sama dia?". Tanya Bintang lagi.
"Dimana acara kantornya??". Terus bertanya sambil memasukkan barang-barang pribadinya kedalam tas miliknya.
"Nggak apa-apa, thanks". Bintang memutus sambungan telepon sebelum Sam kembali bertanya.
"Kak, anterin aku.." Bintang berdiri, menyambar tas nya dan menarik tangan Alva.
"Eh, kemana??". Bertanya sambil mengikuti langkah Bintang yang seperti berlari.
Bintang membawa Alva berlari menuju motor lelaki itu. Karena memang ia tidak membawa kendaraan sendiri.
"Ayo kak cepet.." Sudah duduk diatas motor dan menepuk pundak Alva beberapa kali.
"Iya kita mau kemana?". Alva bingung karena Bintang belum mengatakan kemana tujuannya.
Bintang menepuk keningnya karena lupa memberitahu Alva kemana ia minta diantarkan oleh lelaki itu.
"Club xx, jl. Xxx kak. Cepetan kak.." Meskipun bingung apa tujuan Bintang kesana, namun Alva tetap mengantarkannya.
Berulang kali Bintang meminta Alva menaikkan kecepatan kendaraannya.
"Pegangan!". Teriak Alva yang langsung dipatuhi oleh Bintang. Gadis itu melingkarkan tangannya diperut Alva dan memeluknya erat saat Alva kembali menambah kecepatan motornya.
Bukan mencari kesempatan, namun Alva takut Bintang akan terjatuh karena ia benar-benar melajukan motornya dengan kecepatan tinggi.
"Disana kak!". Menunjuk sebuah club yang lumayan terkenal dikota itu saat melihatnya dari kejauhan.
Alva menghentikan laju kendaraannya. Bintang melompat turun dan langsung melepaskan helmnya.
"Hati-hati Bin. Kamu bisa jatuh.." Teriak Alva yang ngeri sendiri melihat Bintang berlari, padahal gadis itu tengah memakai heels yang lumayan tinggi.
Alva segera mengikuti Bintang. Memasuki sebuah ruangan yang dipenuhi lautan manusia, dengan suara musik yang membuat telinganya berdengung.
Ia memutar kepalanya, mencari keberadaan Bintang yang seperti hilang ditelan lautan manusia yang tengah mencari kesenangan duniawi.
"Astaga, dimana anak itu.." Bergumam sambil terus mencoba mencari keberadaan Bintang.
Ia merasa tidak nyaman saat ada beberapa wanita dengan pakaian minimnya datang mendekat padanya dan mulai meraba hampir seluruh tubuhnya.
Sementara Bintang tengah berjalan membelah laitan manusia yang menghalangi jalannya untuk sampai ke tujuannya.
Entah apalagi yang akan terjadi setelah ini. Yang pasti suasana hati Bintang sedang tidak baik sejak siang tadi.
...¥¥¥•••¥¥¥...
...Hayoloh ngapain lagi si Bintang pergi ke club? Kira-kira ngapain nih readers🤔...
__ADS_1
...Othornya udah kasih kreji up nih, se kreji otak othor yang ngebul terus mikir jalan cerita selanjutnya para anak manusia itu😅😅...
...Happy reading semua🥰🥰😊...