Langit Untuk Bintang

Langit Untuk Bintang
hampir saja


__ADS_3

Entah pukul berapa semalam dirinya terlelap. Rasanya baru saja matanya terpejam. Dan kini tidurnya harus terganggu dengan bunyi bel apartment nya yang sejak tadi terus berbunyi.


"Siapa sih". Gumamnya dengan suara kesal. Sungguh ia masih sangat mengantuk saat ini. Ditambah dirinya yang tengah kedatangan tamu bulanan membuatnya semakin bermalas-malasan karena tidak harus bangun saat subuh. Namun apalah daya, kenikmatan tidurnya harus terusik dengan bel yang sangat mengganggu itu.


Tangannya meraba nakas disamping ranjangnya. Mencari keberadaan jam. Dengan mata menyipit ia mencoba melihat jarum jam disana.


Seketika matanya melebar saat melihat jam masih menunjukkan pukul 6 pagi.


"Haishhh!!". Dengan kesal menyibak selimut yang menutupi tubuhnya. Berjalan cepat meraih handle pintu namun kemudian melepaskannya lagi.


Ia berjalan kembali ke ranjangnya. Mencari ikat rambut, namun s*alnya tak ketemu. Akhirnya dengan asal menggelung rambutnya dan memasangkan sebuah jepit rambut yang besar.


"Dasar orang gila! Dia tidak tahu ini jam berapa?". Mengumpati orang yang masih memencet bel apartment nya dengan brutal itu.


"Apa manusia ini tinggal dihutan?? Tidak tahu ini hari libur?!!". Masih terus mengomel sambil berjalan cepat menuju pintu apartment nya.


"YAAAA!!!!". Begitu pintu ia buka, ia langsung berteriak marah.


"Gila lo ya!! Nggak tau apa ini jam berapa??!! Ini masih jam 6 pagi!!! Lo tau ini hari apa?? Sabtu!! Gw mau tidur ampe siang dasar orang gi---" Makian yang sejak tadi keluar dari mulutnya tiba-tiba menghilang saat melihat siapa yang berdiri didepannya saat ini.


Sementara sosok yang sejak tadi di maki bahkan diteriaki hanya tersenyum senang melihat Bintang. Apalagi muka bantal Bintang saat ini. Sungguh sangat menggemaskan.


"L-Langit..." Suara nya hampir tak terdengar saat menyebut nama Langit.


Ia menundukkan matanya, mengerjap beberapa kali bahkan mengucek matanya. Kemudian kembali menatap sosok yang berdiri tegak didepannya saat ini.


"Nggak mungkin". Gumam Bintang yang seolah tak percaya dengan apa yang dilihatnya.


"Aku kangen banget sama kamu". Belum selesai dengan keterkejutannya, Bintang dibuat kaku saat Langit tiba-tiba menarik tubuhnya dan memeluknya begitu erat.


"Aku kangen banget sama kamu, Bintang". Bahkan kini Bintang merasakan kecupan bertubi-tubi dipucuk kepalanya.


Hatinya berteriak keras. Logikanya mengatakan untuk memberontak, namun tubuhnya menikmati pelukan Langit yang ternyata sangat ia rindukan tanpa ia sadari.


Setelah berperang dengan batinnya. Ia berhasil menguasai dirinya dan kemudian mendorong dada Langit hingga pelukan keduanya terlepas.


Jelas terlihat sorot terluka dan kecewa di mata Langit. Namun coba Bintang abaikan karena tak ingin kembali terjerumus didalam pesona mata itu.


"Mau apa kamu? Ngapain kesini?? Bukan, kenapa disini?", Memberondong pertanyaan pada Langit.


Mata Bintang melihat sebuah koper disamping laki-laki itu. Tunggu? Dia baru kembali? Benarkah?? Lalu kemana dia? Jika saja diucapkan, mungkin itu yang ingin Bintang tanyakan saat ini.


"Aku pulang buat kamu.."

__ADS_1


"Cih.." Mendecih tak peduli dan tak percaya meski hatinya kembali bersorak senang.


"Dasar penghianat!". Mengumpati hatinya yang tak sejalan dengan logikanya.


"Aku kangen banget sama kamu, Bin.." Lirih Langit melangkah maju. Namun Bintang juga memundurkan langkahnya, sengaja menjaga jarak dari Langit.


"Aku sengaja mempercepat semua pekerjaanku hanya untuk cepat pulang dan bisa segera bertemu denganmu". Langit dengan kaki panjangnya melangkah cepat dan segera meraih tubuh Bintang yang langsung memberontak.


"Untuk apa kembali. Kamu pergi tanpa pamit, seharusnya tidak usah kembali saja sekalian". Mulut dan hati yang sama sekali tidak sejalan.


Langit tersenyum tipis saat Bintang memalingkan wajahnya dan tak mau menatap matanya. Ia tahu Bintang juga merindukan dirinya, namun rasa kesal dan kecewanya pasti lebih mendominasi.


"Awas! lepas!". Mencoba melepaskan tangan Langit yang membelit pinggangnya, namun Langit malah mempereratnya hingga tubuh keduanya rapat tanpa celah.


Bintang dapat merasakan nafas hangat Langit menerpa keningnya. Ia bahkan tak berani mendongakkan kepalanya untuk sekedar menatap Langit karena takut jika lelaki itu dapat melihat binar bahagia di matanya karena kehadiran Langit.


"Aku pernah melakukan kesalahan dengan meninggalkan kamu sekali. Sekarang tidak lagi..tidak akan pernah, Bintang..." Suara Langit terdengar berat. Tangannya pun semakin erat merangkul pinggang ramping Bintang.


Bintang mendongakkan kepalanya, bersiap memberikan ceramah panjangnya pada Langit. Namun bibir yang baru terbuka sedikit itu sudah lebih dulu disambar oleh Langit.


Mata Bintang melebar merasakan bibirnya yang di kuasai oleh Langit. Memukul dada Langit dan berharap Langit melepaskan tautan bibir mereka.


Namun bukannya melepaskan, Langit justru memperdalam ciumannya. Ia bahkan terus mendorong Bintang lebih masuk kedalam apartment nya dan kemudian menutup pintu dengan kakinya.


Tangan Langit mulai bergerak nakal, menyusup disela kain yang tengah dikenakan Bintang. Mengelus lembut punggung halus milik Bintang.


Bibirnya turun ke leher Bintang, meninggalkan jejak kepemilikan disana hingga membuat des*han lolos dari bibir Bintang tanpa bisa ia cegah.


Bintang benar-benar merutuki tubuhnya yang justru sangat menikmati apa yang tengah ia dan Langit lakukan. Meski berusaha berpikir jernih, nyatanya sentuhan lembut tangan Langit mampu membuatnya terlena dan tak mampu memberontak.


Kini Langit kembali meraup manisnya bibir Bintang, bahkan kini sebelah tangannya ia gunakan untuk menahan tengkuk Bintang dan semakin memperdalam ciumannya. Membangkitkan sesuatu yang membuat Bintang tersentak saat merasakannya. Matanya terbuka lebar saat merasakan suatu benda keras menekan perutnya.


Mendorong keras Langit hingga tautan bibir mereka terlepas. Wajah Bintang memerah menahan malu. Apalagi melihat sesuatu yang menonjol dibalik celana Langit.


"Maafkan aku . Aku benar-benar merindukanmu". Bintang bukan lagi gadis remaja, ia sudah menjadi wanita dewasa yang sangat memahami apa yang tengah terjadi saat ini.


"Aku akan pergi dulu. Terlalu berbahaya ternyata menemui dirimu saat aku benar-benar merindukanmu". Tersenyum kecut sambil menahan rasa yang cukup mampu menyiksa dirinya.


"Aku akan kembali secepatnya". Memberikan senyum menawan pada Bintang yang masih terlihat syok sekaligus malu.


Ingin rasanya Bintang menenggelamkan dirinya ke dasar samudra. Entah harus bagaimana jika nanti kembali bertemu dengan Langit.


"Apa?? Apa yang baru saja aku lakukan??". Bertanya sambil meremas rambutnya sendiri.

__ADS_1


"Waah...sepertinya aku memang sudah benar-benar gila". Mencemooh dirinya yang hampir kehilangan akal dan melakukan sesuatu yang mungkin akan ia sesali seumur hidupnya.


Meskipun jujur jauh dilubuk hati terdalamnya masih tersimpan rapi nama Langit, namun ia tidak ingin mengecewakan ayah dan bunda nya dengan hal-hal yang tidak pantas.


"Pergi. Ya, aku harus segera pergi sebelum dia kembali kesini". Bintang bergegas ke kamar. Mencari ponsel dan kunci mobil serta tas yang berisi dompetnya.


Ia menyambar hoodie dan mengenakannya. Bahkan kini ia baru sadar jika hanya menggunakan sebuah tanktop.


"Hah! Dasar gila!". Kembali mengumpati kebodohan dan kecerobohannya. Masih beruntung dirinya mengenakan penutup aset, karena biasanya Bintang selalu melepaskan pelindung dua asetnya itu.


Bintang segera keluar dari apartment nya. Bahkan tanpa mencuci wajahnya terlebih dahulu. Masa bodoh dengan penampilannya saat ini, yang ada dipikirannya hanya segera mungkin melarikan diri agar tidak lagi bertemu Langit. Ia tidak cukup berani untuk kembali bertatap muka dengan Langit setelah apa yang baru saja mereka lakukan.


"Aaaa!!! Dasar Bintang bodoh!! Bodoh kau!!!". Memukul kepalanya beberapa kali dengan sebelah tangannya. Sedangkan sebelah tangannya mencengkeram kemudi mobil.


Wajahnya terus memerah ketika mengingat ciuman panas nya dengan Langit beberapa saat lalu.


"Bisa-bisanya..." Ingin sekali berteriak keras saat semua adegan tadi seolah berputar ulang dikepalanya.


"Mau ditaruh dimana ini muka kalo ketemu sama dia lagi". Masih belum puas merutuki kebodohannya.


Bahkan dengan tidak sopannya, otaknya malah memikirkan hal apa lagi yang akan mereka lakukan jika saja kesadaran mereka tak cepat kembali tadi.


"Aaaakh!! Aku benar-benar sudah gila sekarang". Berteriak sambil memaki dirinya sendiri.


Sementara ditempat berbeda. Langit tengah mendinginkan tubuhnya dibawah guyuran air dingin. Berharap dengan begitu sesuatu yang sudah terlanjur bangun dapat ia tenangkan kembali.


"****". Mengumpati dirinya yang begitu mudah kehilangan akal saat berada didekat Bintang.


Beruntung Bintang masih waras. Jika tidak, bisa ia pastikan hal yang lebih gila akan ia lakukan pada Bintang dan itu sudah pasti akan menjadi penyesalan terbesarnya.


Tak terbayangkan akan seperti apa kecewanya Bintang pada dirinya jika sampai hal yang ia bayangkan benar-benar terjadi.


"Hah, Hampir saja. Jika sampai itu terjadi, aku pasti akan benar-benar menyesalinya". Bergumam dibawah guyuran air yang mengaliri tubuhnya.


Meskipun perasaan cintanya pada Bintang begitu besar. Namun dirinya benar-benar tidak ingin menghancurkan Bintang dan merenggut sesuatu yang dijaga oleh Bintang. Ia memang ingin memiliki Bintang, tapi dengan cara yang benar.


"Aku harus segera membuatnya kembali. Tidak!! Aku harus segera memiliki Bintang. Aku harus menemui ayah Henry dan meminta Bintang untuk menjadi istriku". Di tengah rasa yang menyiksa, Langit memantapkan diri untuk segera menemui ayah dan meminta izin untuk meminang Bintang.


...¥¥¥•••¥¥¥...


...Huft, nafas dulu ya readers😪...


...Langsung dikasih kreji up nih, biar ngga dimarahin lagi soalnya lama🤭😅...

__ADS_1


...Happy reading semua🥰🥰♥️😘💐💋...


__ADS_2