Langit Untuk Bintang

Langit Untuk Bintang
berkunjung


__ADS_3

Bintang dan Bima baru saja keluar dari mobil. Sebelum pulang, mereka mengantarkan Bulan pulang setelah sebelumnya makan bersama.


Kedatangan Bintang sudah disambut oleh bunda Ratih. Alis Bunda berkerut melihat putrinya datang dengan seorang pria.


Bunda mencoba menajamkan pandangannya. Lama tak berjumpa membuat bunda sedikit pangling dengan Bima. Apalagi kini Bima sudah beranjak dewasa. Postur tubuhnya juga semakin sempurna.


"Assalamualaikum.." Seru Bintang menyadarkan bunda yang masih coba mengingat wajah Bima.


"Wa'alaikumsalam.." Balas bunda dengan fokus pada Bintang.


"Apa kabar bunda?". Alis bunda semakin berkerut saat Bima menyapanya.


"Bunda lupa sama dia?". Bintang bertanya


"Bunda inget, tapi lupa..jadi gimana ya". Bunda nampak bingung sendiri. Samar ia mengingat wajah Bima, tapi karna cukup banyak berubah membuat bunda ragu jika itu benar Bima atau bukan.


"Si bisulan, bunda..bisulan, Bima Sultan Andaksa.." Bintang coba membantu bunda mengingat.


"Kaga gitu juga cara ngingetinnya, Bin". Protees Bima.


"Bima? Ini beneran Bima?". Bima mengangguk senang saat bunda sudah mengingatnya.


"Ya Allah, kamu berubah sekali. Tambah ganteng.." Puji bunda tulus membuat senyum Bima semakin lebar.


"Heleh, komodo kok di puji sih Bun..tambah gede kepalanya nanti". Cibir Bintang membuat Bima berdecak kesal.


"Mana ada komodo gede kepalanya". Gantian Bima mencibir Bintang.


Bunda hanya bisa menggeleng gemas melihat dan mendengar perdebatan keduanya. Sudah lama sekali rasanya tidak melihat keduanya bersama seperti ini.


"Ini Bima nggak disuruh masuk dulu apa Bun?". Tanya Bima membuat Bunda menepuk keningnya.


"Saking senengnya, sampe lupa diajak masuk".


"Ayo masuk dulu Bima.." Dengan senang hati Bima masuk kedalam rumah yang sudah bertahun-tahun tak ia kunjungi.


"Masih sama.." Gumam Bima saat memasuki rumah keluarga Laksmana.


"Udah pulang dek?". Suara lembut seorang perempuan membuat Bima menoleh. Matanya menyipit saat melihat sosok yang belum ia kenali. Apalagi perutnya membuncit.


"Iya kak.."


"Hallo ponakan aunty..kalian lagi apa didalem?? Kangen aunty nggak?". Bintang sudah mengelus perut buncit Naura, istri kakaknya. Kegiatan rutin yang Bintang lakukan setiap pulang sekolah.


"Hallo juga aunty..aku lagi olahraga. Dari tadi main bola diperut mama.." Naura bersuara layaknya anak kecil untuk membalas sapaan adik iparnya pada calon anaknya.


"Iiih gemesh..nggak sabar nunggu kamu lahir". Kadang Bintang gemas sendiri dengan perut Naura. Melihat perut membuncit itu membuat Bintang tidak sabar menunggu kelahiran keponakan pertamanya.


"Dia istrinya kak Juna.." Bunda yang melihat kebingungan di wajah Bima langsung menjelaskan.

__ADS_1


"Oooh..aku kira mas Dewa nikah lagi bun". Bisik Bima yang rupanya didengar oleh Bintang.


Sebuah bantal sofa melayang ke wajah tampannya. Dan pelakunya jelas lah adalah Bintang.


"Mulut lo ye, kaga berubah". Sengit Bintang membuat Bima nyengir.


"Mbak Kiran kemana?". Tanya Bima yang tak melihat Kirani. Istri Dewa.


"Mbak Kiran mah wanita karier". Ucap Bintang membuat Bima membulatkan bibirnya.


"Ini siapa Bin?". Tanya Naura penasaran. Pasalnya baru kali ini ia melihat adik iparnya pulang diantarkan seorang pria. Apalagi kelihatannya lelaki itu dekat dengan Bintang dan juga Bunda.


"Dia kak?". Naura mengangguk.


"Kenalin kak, nama aku Bima. Calon suaminya Bintang". Naura terkejut, menganggap serius ucapan Bima. Ia menatap Bintang dan bunda bergantian seolah meminta jawaban.


"Jangan didengerin kak. Orang sableng sih bebas mau ngomong apa juga". Bintang mencibir kelakuan Bima.


"Heh, tadi di sekolahan siapa yang panggil-panggil sayang, hah? Giliran sekarang diakuin jadi calon bini kaga terima". Balas Bima tak mau kalah.


Naura jadi bingung melihatnya. Hingga penjelasan bunda membuatnya memahami situasi dan hubungan antara Bima dan Bintang.


"Mereka bersahabat sejak kecil. Orang tua Bima sahabat baik ayah dan almarhumah ibu Bintang. Karena itulah, mereka memang sudah dekat sejak kecil". Terang bunda membuat Naura paham dan menganggukkan kepalanya.


"Yah, bunda mah nggak seru. Padahal biarin Bima dikira calon suami Bintang". Keluh Bima yang memasang wajah sendu, membuat Bintang gemas dan menoyor kepala Bima.


"Sayang, nggak boleh dong.." Tegur Bunda halus membuat Bima tersenyum penuh kemenangan.


Sementara Bintang mendelik kesal menatap Bima yang tampak santai saja seolah tidak melakukan apapun.


"Stop...Nggak boleh ribut lagi". Lerai bunda sebelum kedua anak itu kembali berdebat.


Bima menghabiskan waktunya dirumah Bintang. Menunggu ayah Henry serta Dewa dan Arjuna pulang dari kantor. Karena Bima juga ingin menyapa mereka setelah lama tidak berjumpa.


Tepat sebelum adzan berkumandang, tiga mobil memasuki pekarangan rumah besar itu. Kedatangan ketiganya sudah disambut oleh para istri yang terlihat memasang senyum teduh untuk menyambut para suami yang seharian lelah bekerja.


Dahi ayah dan kedua putranya berkerut melihat Bintang duduk bersama seorang pria. Duduk berdampingan tanpa jarak, bahkan keduanya tampak asyik menonton film action hingga tak menyadari kedatangan ayah.


Ayah menatap bunda meminta penjelasan. Namun bunda hanya tersenyum sambil mengendikkan bahunya. Ia ingin lihat apa yang akan suaminya lakukan ketika melihat putri kesayangannya berdekatan dengan seorang pemuda.


"Bintang.." Panggil ayah dengan suara dingin menusuk. Pun dengan Juna dan Dewa, mereka penasaran sekaligus waspada dengan sosok yang bisa mendekati adik mereka.


Bintang menoleh saat merasa namanya dipanggil. Ia tersenyum saat melihat ayah dan kedua kakaknya sudah pulang. Bukan tanpa alasan, dirinya sudah sangat lapar. Dan tradisi keluarganya, mereka akan makan malam bersama. Jadilah mereka menunggu ayah dan kedua kakaknya.


"Ayah.." Seru Bintang dengan wajah berbinar. Namun tidak dengan ayah. Ayah masih memasang wajah dingin saat melihat putrinya tersenyum.


"Heh, itu calon mertua dateng! Katanya calon mantu soleh lo. Buruan salim". Bintang menepuk keras pundak lelaki itu.


Bintang tak menyadari jika tatapan ketiga lelaki posesifnya semakin tajam saat Bintang menyebut jika pemuda itu adalah calon menantu keluarga Laksmana.

__ADS_1


"Oh ayah udah pulang?". Tatapan tajam ayah berubah jadi kerutan di kening. Suaranya cukup familiar di telinganya.


"Berani-beraninya dia panggil ayah". Geram Dewa yang hendak maju. Namun tangannya ditahan oleh Kiran.


"Waaah..calon mertua udah pulang. Calon kakak ipar juga udah pulang semua". Seru Bima setelah melihat ayah dan Dewa serta Juna.


Mata Dewa dan Juna melebar, kemarahan dan kekesalan mereka menguap begitu saja setelah melihat siapa sosok yang mengaku sebagai calon menantu dikeluarganya.


"Bima?!". Bima tersenyum melihat kekompakan Ayah Henry dan kedua putranya.


Bima berjalan mendekat, mengambil tangan ayah dan mencium punggung tangannya, kemudian ayah memeluk Bima sekilas. Bergantian dengan Juna dan Dewa yang melakukan hal serupa.


"Mas Dewa pasti udah sewot, dikira Bintang bawa siapa. Iya kan?". Tanya Bima


"Tau aja kamu.." Sahut Dewa terkekeh.


"Untung belum dikasih bogem kamu, Bim". Kelakar Juna yang menepuk pundak Bima beberapa kali.


"Udah gede kamu..beda sekali dari beberapa tahun lalu". Ayah menatap Bima tanpa berkedip. Mengagumi Bima yang sudah beranjak.


"Badannya doang yang gede yah. Kelakuannya mah masih kaya bocah". Cibir Bintang yang sudah berdiri disamping sang bunda.


"Liat aja tuh. Umurnya udah berapa coba, masih pake seragam SMA". Kini semua fokus pada pakaian Bima. Sama seperti Bintang yang senang bertemu Bima, ayah dan keluarganya tak menyadari jika Bima memakai seragam yang sama dengan Bintang.


"Dasar kamu ini, ayah kira kamu sudah berubah". Ayah Henry hanya menggelengkan kepalanya. Ia tahu seperti apa nakalnya Bima, hingga membuat temannya pusing memikirkan putra mereka itu.


"Udah stop!! Jangan ngobrol lagi". Bintang menyela saat melihat Bima hendak menimpali ucapan ayah.


"Aku udah laper banget ini yah. Masih untung nggak sampe pingsan". Keluh Bintang dengan wajah memelas.


Dirinya memang sudah sangat lapar. Jika harus kembali menunggu, mungkin dirinya akan benar-benar pingsan.


"Anak ayah sudah lapar?". Bintang mengangguk cepat dan segera memeluk lengan sang ayah.


Bima yang melihatnya menggeleng gemas. Ternyata memang tak ada yang berubah dari seorang Bintang. Sosok galak diluar rumah dan berubah menjadi gadis manja jika sudah dekat dengan keluarganya.


"Yasudah, ayo makan dulu. Kita akan melanjutkan obrolan setelah makan malam", Ayah Henry mengusap lembut kepala putrinya yang langsung tersenyum senang.


Makan malam terasa hangat diselingi canda tawa dan obrolan ringan. Juga perdebatan antara Bima dan Bintang.


Bima baru pamit pulang setelah jam menunjukkan pukul 8.30 malam. Ia berpamitan dan esok akan menjemput Bintang untuk pergi ke sekolah bersama-sama.


"Senang sekali bisa berkunjung kesini lagi.." Gumam Bima setelah duduk dibalik kursi kemudinya.


...¥¥¥•••¥¥¥...


...Satu dulu ya😊😊 semoga nanti dapat ilham jadi bisa kasih double up😁...


...Happy reading kalian🥰🥰 sarangheo banyakbanyak🥰🥰😘😘😘💋💐♥️...

__ADS_1


__ADS_2