Langit Untuk Bintang

Langit Untuk Bintang
memulai dari awal


__ADS_3

Bintang tidak bisa menyembunyikan rasa terkejutnya melihat keberadaan Langit.


"Plak!! Sadar Bintang!!". Hatinya menampar hingga kesadarannya kembali.


"Ngapain kamu disini?!", Tak ada sedikitpun keramahan dari nada bertanya Bintang. Membuat Langit sedikit memudarkan senyumnya saat melihat wajah kesal Bintang.


"Bunda yang minta Langit makan disini, nak.". Bintang langsung menatap bunda, kemudian menatap ayah dan kedua kakaknya serta kakak iparnya bergantian.


"Maaf, Bintang nggak laper. Silahkan dilanjutkan". Tidak ingin bersikap tidak sopan dan kelewatan dihdapan keluarganya, Bintang memilih pamit.


"Bintang, sayang.." Suara bunda menahan langkah Bintang.


"Bintang udah kenyang, bun". Memberikan senyum palsunya pada Bintang.


"Bintang harus pulang, yah, bun. Besok udah kerja". Lebih baik pergi menjauh daripada harus menangis didepan laki-laki yang sudah meninggalkan dirinya.


"Sayang.." Bunda menahan lengan Bintang


kini semua orang bangkit dari duduknya, pun dengan Langit yang menatap sedih Bintang.


"Maaf kalau keputusan bunda membuat kamu tidak nyaman. Tadi Langit sedang membahas pekerjaan dengan ayah dan kedua kakakmu, makanya bunda memintanya makan bersama karena pekerjaan mereka belum selesai sedangkan ini sudah siang". Mencoba menjelaskan pada putrinya agar tidak terjadi salah paham.


"Iya, bunda. Nggak apa-apa".


"Lagian itu bukan urusan Bintang, bun. Bintang hanya mau pulang dan istirahat, soalnya besok udah kerja". Menjelaskan pada bunda dengan nada setenang mungkin agar sang bunda tidak melihat kekecewaan dan rasa kesal nya akibat keberadaan Langit.


"Kamu nggak usah pergi kalau itu semua hanya karena aku, Bintang. Biar aku yang pergi". Langit tidak bisa diam saja, semua ini karna keberadaannya.


"Kenapa harus karna anda?". Langsung dijawab oleh Bintang, bertanya dengan sebelah alis terangkat. Menatap dengan berani tanpa bergetar.


"Memang siapa anda? Sampai saya harus merasa tidak nyaman karena keberadaan anda?". Menyunggingkan senyum miring sambil menatap Langit dengan sorot mata tegas.


Langit terhenyak mendengar cara Bintang berbicara padanya. Bintang benar-benar menganggapnya orang asing.


"Silahkan lanjutkan pekerjaan anda, tuan. Saya permisi". Menundukkan sedikt kepalanya seperi jika dirinya tengah menghadap atasannya untuk menyerahkan design buatannya.


"Bintang pamit dulu, bun". Mencium punggung tangan bunda dan ayah bergantian. Kemudian kedua kakak dan kakak iparnya yang terlihat tak berani bersuara walau hanya sekedar menegur sikap Bintang.


"Aunty pergi dulu ya.." Pamit pada keponakan tersayangnya dan menciumi wajahnya.


"Kenapa buru-buru aunty". Masih tak rela membiarkan tante nya pergi dan kembali berpisah.


"Aunty harus istirahat. Besok aunty harus bekerja". Menjelaskan walaupun sudah sangat ingin pergi.


"Istirahat disini saja". Merengek dengan wajah memelas. Berharap sang aunty berbelas kasih dan menginap lagi.


"Minggu depan aunty pasti menginap disini lagi". Membujuk Revan yang tiba-tiba tidak ingin melepaskan tante nya.

__ADS_1


"Itu masih lama". Terus merengek membuat Bintang frustasi.


Sementara yang lain hanya mengamati tanpa berniat menegah apa yang Revan lakukan. Jika bisa, malah mereka ingin sekali mendukung tingkah Revan dan membuat Bintang tinggal.


"Besok Revan juga sekolah kan? Aunty juga bekerja..nanti saat Revan libur, aunty akan menginap. Aunty janji". Menjanjikan hal yang pasti akan ia tepati karena memang itu perjanjian nya dengan ayah. Tetap menginap dirumah ayah setiap weekend.


"Aunty bisa pergi bekerja dari sini". Bintang menghela nafas panjang. Kenapa saat dirinya ingin segera pergi, keponakannya justru berulah.


"Kalau aunty berangkat dari sini, aunty bisa terlambat bekerja, sayang". Suaranya sudah terdengar frustasi.


"Kak.." Menatap kakak dan kakak iparnya dengan wajah memelas minta bantuan.


Naura melirik suaminya yang langsung memalingkan wajah. Tak ingin membantu adiknya yang ingin melarikan diri.


"Aunty, menginap disini saja.." Terus merengek pada Bintang yang terlihat kebingungan.


"Revan..biarkan aunty pulang dulu ya". Bintang mengembangkan sedikit senyumnya saat Naura sudah bersuara.


"Tapi kan ini juga rumah aunty, mama". Bintang dan Revan yang tengah berdebat, sedangkan Langit mengamati wajah Bintang.


Mungkin jika Revan tidak menahan Bintang, Langit tidak akan bisa melihat wajah yang sangat ia rindukan itu lebih lama.


"Terimakasih Revan". Batin Langit yang tulus berterimakasih.


Lama membuat Revan mengerti dan mengijinkan Bintang pergi. Akhirnya meskipun harus dengan drama, Revan mengijinkan aunty nya pergi.


Laki-laki itu bahkan menyusul Bintang keluar rumah hingga kini berdiri disamping mobil baru milik Bintang.


"Bisa lepaskan tangan anda.." Melirik tangan Langit yang menggenggam tangannya.


"Kita perlu bicara..aku mohon". Tak mendengarkan ucapan Bintang. Langit kini memohon.


"Kita tidak punya urusan untuk dibicarakan, tuan". Hati Langit seperti dihancurkan berkali-kali mendengar cara Bintang berbicara padanya.


"Aku mohon jangan seperti ini.." Lirih Langit yang masih menggenggam tangan Bintang yang kini terlihat tersenyum miring.


"Aku tahu kamu masih marah dan kecewa..tapi ayo kita bicara". Langit menatap Bintang yang menatapnya datar.


"Marah?? Kecewa?? Kenapa?". Memaksa melepaskan tangan Langit dari tangannya.


"Saya tidak punya alasan marah apalagi kecewa pada anda, tuan. Jadi bisa tolong biarkan saya pergi?". Bertanya setenang mungkin walau rasanya jantungnya sudah seperti akan meledak.


"Baiklah kalau itu maumu". Langit menyingkir dari jalan Bintang yang langsung masuk kedalam mobilnya.


Bintang menghela nafas lega saat Langit membiarkan dirinya pergi. Namun rupanya ia belum benar-benar lolos.


Langit yang tadi hanya berdiri didepan mobilnya itu kini sudah masuk kedalam mobil dan duduk dikursi samping kemudi.

__ADS_1


"Apa-apaan ini?!". Tanya Bintang dengan suara kesalnya.


"Apanya?". Tanya Langit dengan wajah tanpa dosanya. Membuat Bintang semakin kesal saja dibuatnya.


"Turun!". Berkata dengan galak dan ketus.


"Tidak mau". Bukannya turun, Langit justru memasang sabuk pengamannya dan menyandarkan punggungnya.


"Saya bilang turun!". Masih tak menurunkan intonasi suara, namun Langit juga tetap tenang duduk ditempatnya kini.


"Tidak mau. Sebelum kamu mau bicara denganku". Menatap Bintang yang terlihat mencengkeram kemudinya.


"Kalau begitu, silahkan pakai mobil ini!". Bintang melepaskan sabuk pengamannya dan bergerak cepat keluar dari mobil. Meninggalkan Langit yang gelagapan dan segera melepaskan sabuk pengamannya juga.


"Bintang..Bin. Tunggu!". Berteriak memanggil Bintang yang berjalan cepat keluar gerbang rumah ayah Henry.


Sementara anggota keluarga yang lain tampak memperhatikan keduanya lewat jendela rumah. Mereka seperti mata-mata yang tengah mengawasi target buruan mereka.


"Apa tidak apa-apa yah, membiarkan mereka seperti itu?". Tanya Bunda khawatir saat melihat bagaimana Bintang nya bersikap pada Langit.


"Biarkan Langit berusaha dulu, bun. Kita lihat dan doakan saja yang terbaik untuk mereka berdua". Ayah menenangkan bunda yang tampak khawatir.


"Langit akan menjadi pemuda menyebalkan yah. Sama seperti Langit yang dulu dicintai Bintang". Ayah teringat kembali perkataan Langit saat tadi mengobrol diruang kerjanya.


"Ini resiko karena saat itu Langit memilih pergi daripada berdiam diri disini. Dan Langit akan menghadapi segala resiko dari semua yang Langit pilih saat itu".


"Maaf kalau nantinya Langit akan sering membuat kesal putri ayah.."


"Jika memang tidak berhasil dan Bintang merasa tidak nyaman dengan keberadaan Langit. Maka Langit akan menjauh yah, Langit akan membiarkan Bintang dengn seseorang yang memang bisa membuatnya nyaman dan bahagia."


"Tapi untuk saat ini, tolong biarkan Langit berjuang lagi.."


"Langit akan memulainya dari awal lagi, membuat Bintang jatuh cinta lagi pada Langit, sama seperti dulu sebelum aku pergi". Sorot mata penuh keyakinan itu akhirnya membuat ayah dan kedua kakak Bintang mendukungnya.


Entah apa ini keputusan yang tepat atau tidak. Membiarkan Langit terus menemui Bintang dan memperjuangkannya.


Ayah hanya memberi kesempatan pada Langit untuk memperjuangkan Bintang, putrinya. Karena ayah juga masih melihat cinta dimata putrinya untuk sosok lelaki yang kini sudah kembali setelah enam tahun lebih menghilang.


...¥¥¥•••¥¥¥...


...Ayo Lang, semangat💪🏻💪🏻 Pasti bisa kok Lang, jangan patah semangat👍🏻😉...


...Apa aja lah ya Lang asal Bintang maafin sama mau balik ke kamu lagi🤭😅...


...Satu dulu ya readers..ide nya lagi mentok hari ini🤭😂😂🙏🏻🙏🏻...


...Salam hangat untuk reader semua🥰🥰 sarangheo😘😘💋💋💐🥰🥰...

__ADS_1


__ADS_2