
Alva menghentikan laju motornya ketika sampai diparkiran sebuah minimarket yang memang buka 24jam.
"Tunggu disini.." Perintahnya pada Bintang dan kemudian masuk ke dalam minimarket.
Bintang memperhatikan Alva dari luar minimarket. Ia diminta duduk dikursi yang disediakan diluar minimarket.
Tak lama Alva sudah keluar dengan membawa satu kantong kresek berwarna putih.
"Kakak beli apa?". Tanya Bintang melirik keresek yang diletakkan Alva diatas meja.
Tak menjawab pertanyaan Bintang, Alva mulai mengeluarkan isi didalam keresek. Ada beberapa plester dan salep untuk memar serta obat merah.
"Diem! Jangan banyak gerak sama jangan banyak tanya". Bintang tersenyum, baru juga membuka mulutnya. Alva sudah memberi ultimatum.
"Oke boss.." Menurut saja dan membiarkan Alva mengobati luka nya. Ia merasa seperti memiliki sosok kakak baru yang sangat perhatian dan menyayanginya.
Entah mengapa, Bintang merasa Alva menyayanginya sebagai sosok seorang adik. Bukan sebagai wanita yang dicintai.
Sorot matanya pun tidak seperti saat dulu Langit menatap dirinya. Terlihat berbeda, ia seperti melihat tatapan mata Dewa dan Juna saat tengah khawatir padanya.
"Kakak ganteng ya ternyata.." Jarak wajah keduanya bisa dibilang cukup dekat. Dilihat dari jarak sedekat ini membuat Bintang menyadari jika Alva juga tampan.
"Walaupun masih kalah tampan dari Langit..Ehh", Merutuki suara hati yang berkhianat lagi.
"Makanya pacaran sama aku kalo tau aku ganteng". Membalas ucapan Bintang dan memasang wajah serius.
"Kakak beneran pengen pacaran sama aku??". Alva justru terdiam saat Bintang menanyakan kesungguhannya.
"See.."
"Kakak tuh nggak beneran suka sama aku.." Alva langsung menoyor kening Bintang tanpa berkata apapun.
Ia kembali melanjutkan kegiatannya mengobati luka-luka di wajah dan lengan Bintang.
Kegiatannya harus terhenti saat mendengar perut Bintang berbunyi yang cukup nyaring. Sementara pemilik perut sudah nyengir sambil mengusap perut ratanya.
Alva menggeleng pelan dengan seulas senyum tipis, lalu mengusap lembut kepala gadis yang ia sukai. Atau?? Ah entahlah, Alva jadi meragu sendiri dengan perasaannya saat Bintang menantangnya tentang kesungguhan perasaannya pada gadis itu.
"Pake lagi jaketnya.." Kembali memberi perintah setelah ia selesai mengobati dan memasang plester di beberapa luka Bintang.
Ia akan membawa gadis itu makan lebih dulu sebelum mengantarkan gadis itu pulang nantinya. Ia tidak mau Bintang kelaparan di apartemennya.
"Mau makan apa?". Tanya Alva saat keduanya sudah duduk diatas motor.
"Ehm..apa aja deh". Apa saja yang penting ia bisa makan, itu yang Bintang pikirkan.
"Kamu tinggal dimana?", Ya, sampai detik ini, Alva belum mengetahui dimana Bintang tinggal.
"Apartemen Xxx". Sahut Bintang santai, dan Alva sudah tidak terkejut. Mengingat siapa Bintang dan siapa orang tua gadis itu. Sudah pasti menempati apartemen mewah adalah hal lumrah.
"Kita cari makan yang searah jalan pulang. Ini udah malem, kamu perlu istirahat". Kembali tersenyum saat Alva memberikan perhatian padanya.
__ADS_1
"Siap kakak ganteng.." Bukannya tersipu, Alva malah berdecak sebal dengan pujian Bintang.
Dan disepanjang perjalanan itu, Bintang terus bercerita. Tak henti-hentinya bicara seperti radio yang diputar terus menerus.
Tapi Alva juga tidak bosan mendengarnya. Ia senang mendengar gadis dibelakangnya terus berceloteh. Padahal ia yakin, hati Bintang pasti tidak baik-baik saja setelah kembali berhadapan dengan Langit.
"Satu kesempatan. Hanya satu kesempatan. Dan jika kau gagal. Maka aku akan membawanya pergi bersamaku. Perset*n ini cinta atau hanya rasa peduli. Aku akan tetap membawanya pergi jika kau menyakitinya lagi". Alva membulatkan tekadnya pada Bintang. Bahkan meskipun memang benar bukan cinta, perasaan yang ia miliki untuk Bintang. Ia akan tetap membawa pergi gadis itu jika sampai laki-laki yang dicintai Bintang kembali mengecewakan gadis itu.
"Kakak.." Entah sudah berapa kali Bintang memanggil Alva. Namun karena terlalu larut dengan pikirannya, Alva sampai tidak mendengar panggilan Bintang. Hingga akhirnya Bintang menepuk pundaknya dan menyadarkannya.
"Hah?? Iya apa???", Teriak Alva
"Kakak ngelamun ya??? Bahaya tau! Kalo jatuh gimana?? Nanti bisa-bisa aku tambah babak belur.." Bukannya menjawab pertanyaan Alva, Bintang malah nyerocos memarahi Alva.
"Hah, Iya..iyaaa..maaf". Mengalah saja kalau tidak ingin masalah semakin panjang dan ocehan gadis itu semakin lama.
"Aku mau makan itu..." Berteriak agar Alva mendengarnya.
Alva mengikuti telunjuk mungil Bintang. Bibirnya menyunggingkan sebuah senyuman saat melihat warung tenda lah yang kembali dipilih Bintang sebagai makan malam mereka.
Sebuah warung nasi goreng dipinggir jalan yang jika dilihat dari kejauhan cukup ramai pengunjung.
"Sesuai permintaan anda, tuan putri.." Bintang tergelak keras mendengar gombalan Alva.
Keduanya masuk kedalam warung nasi goreng yang ternyata ramai pengunjung. Dari aromanya, sepertinya nasi goreng disana cukup enak.
"Nasi goreng ayam pedes.." Belum ditawari, Bintang sudah menyebutkan menu yang ia inginkan. Membuat Alva kembali menggeleng gemas dengan kelakuan Bintang.
"Masih lama nggak kak??", Tanya Bintang, padahal Alva baru selesai memesan.
"Antri neng, antri. Mana ada baru dateng langsung dapet". Mencubit hidung mancung Bintang yang langsung mengerucutkan bibirnya.
"Laper.." Setengah berbisik namun Alva masih bisa mendengarnya.
"Sabar ya..sebentar lagi". Kini beralih mengusap pucuk kepala Bintang yang mengangguk lemah sambil meletakkan kepalanya diatas meja. Terlihat lucu dimata Alva yang hanya bisa tersenyum tipis melihat kelakuan Bintang.
Cukup lama keduanya menunggu pesanan nasi goreng mereka tersaji. Mata Bintang langsung berbinar begitu dua piring nasi goreng diletakkan dimeja mereka.
"Maaf ya mas nunggu nya lama.." ucap Pedagang nasi goreng sambil meletakkan pesanan Alva.
"Yang pedes yang mana mang?". Tak peduli dengan permintaan maaf si kang nasi goreng, Bintang lebih fokus pada nasi goreng yang aromanya sudah menari-nari di hidungnya.
"Oh, ini..yang ini yang pedas mbak.."
"Makasih". Mengucapkan terimakasih dan langsung melahap nasi goreng miliknya setelah membaca doa.
"Maaf ya mang. Kelaperan dia.." Ucap Alva pada pedagang nasi goreng yang terlihat menatap Bintang.
"Oh iya, nggak apa-apa mas. Sekali lagi maaf membuat lama menunggu". Alva menganggukkan kepalanya sebagai jawaban tidak apa-apa.
Saat ia menoleh, Bintang tengah melahap nasi goreng miliknya sambil huh hah huh hah karena pedasnya nasi goreng pesanannya.
__ADS_1
"Pelan-pelan..nanti keselek". Mengusap sudut bibir Bintang yang terdapat butiran nasi.
"Laper.." Sahutnya setelah menelan nasi goreng yang sudah ia kunyah sempurna.
"Kamu tuh, nggak ada kalem-kalemnya makan didepan laki-laki". Menggeleng kemudian mulai menyendok nasi goreng bagiannya. Dan rasanya memang enak.
"Pantas saja ramai sekali". Gumam Alva yang memakan nasi gorengnya perlahan. Sangat berbanding terbalik dengan gadis yang duduk disampingnya. Lagi-lagi Alva hanya bisa menggeleng gemas melihat kelakuan Bintang yang ia anggap tidak ada jaim-jaim nya sama sekali didepan laki-laki.
"Aaaah, Alhamdulillah..kenyang banget kak". Mengusap perut yang rasanya mau meledak karena kekenyangan.
"Mau langsung pulang sekarang?". Tanya Alva pada Bintang. Karena biasanya gadis itu akan meminta waktu barang 5 atau 10menit untuk menunggu makanannya dicerna sempurna.
"Bentar lagi kak.." Benar bukan, sebenarnya Alva sudah hafal kebiasaan gadis itu, namun tetap menanyakannya karena melihat malam sudah semakin larut.
"Aku bayar dulu ya.." Bintang mengangguk mengiyakan sambil meminum teh hangatnya.
Sekembalinya Alva, Bintang sudah menyampirkan tasnya. Menandakan ia siap untuk pulang sekarang.
"Mang makasih ya. Nasi goreng nya enak banget". Menyempatkan berteriak sedikit untuk memuji kang nasi goreng yang langsung tersenyum lebar mendapat pujian dari Bintang.
"Ayo.." Ajakan Alva langsung disambut anggukan kepala oleh Bintang.
Alva melajukan motornya dengan kecepatan sedang. Udara malam ini cukup dingin, ditambah ia tidak memakai jaket karena ia pakaikan pada Bintang.
"Aku nggak masuk ya..aku anternya sampai sini aja nggak apa-apa kan?", Ucap Alva saat berdiri didepan unit Apartemen Bintang.
Jujur hati Bintang menghangat. Betapa menjaga kehormatan dirinya apa yang Alva lakukan saat ini. Ia benar-benar lelaki dewasa yang terlampau baik hati hingga kini membuat Bintang kian merasa bersalah saja.
"Makasih banyak buat semuanya ya kak.." Alva mengangguk kemudian menepuk kepala Bintang sebelum menyuruhnya masuk kedalam rumahnya.
"Jaket kakak.." Bintang melepaskan jaket yang membalut tubuhnya. Jaket yang melindunginya dari dinginnya angin selama diperjalanan tadi.
"Langsung istirahat ya..besok kita harus ke ruangan ceo". Bintang terdiam, memang mau apa mereka ke ruangan ceo?
"Besok kan udah satu minggu dari waktu yang dia kasih". Menjelaskan tanpa diminta karena tahu Bintang bingung.
"Kenapa bukan direktur aja si kak? Kan biasanya juga direktur yang kasih design ke ceo sama presdir". Terlihat jelas jika gadis itu enggan bertemu lagi dengan Langit.
"Mungkin karena ini permintaan langsung dari laki-laki itu. Makanya kita sebagai orang yang bertanggung jawab atas design nya yang disuruh mempresentasikannya langsung". Hanya menebak saja, karena ia juga tidak tahu pasti apa maksud ceo mereka itu.
"Sudahlah. Ikuti saja perintah mereka". Pungkas Alva yang tidak ingin ambil pusing dengan segala perintah atasan mereka itu.
"Jangan lupa bawa hasil design. Besok ceo mau lihat langsung". Bintang mengangguk patuh dan kemudian masuk kedalam unit apartemennya setelah memastikan Alva masuk kedalam lift.
...¥¥¥•••¥¥¥...
...Ya Allah, mas Alva aku kok jatuh cinta padamu sih ya🥰🤭😂😂😂😂...
...Tapi jangan Bintang ya. Nanti dicariin jodoh lain, Bintang nya mau dibalikin ke yang kesurupan. Takut kesurupannya makin parah😂😂😂😅🙏🏻...
...Happy reading readers kesayangan😘😘😘🥰🥰💋💐☺️...
__ADS_1