Langit Untuk Bintang

Langit Untuk Bintang
tawaran ayah


__ADS_3

Rupanya Bintang belum puas menangis. Sampai di unit apartment nya ia melanjutkan acara menangisnya. Bahkan kini ia sesekali berteriak memaki nama Langit.


"Kamu pikir kamu siapa Lang??!!!". Berteriak sambil menunjuk sebuah foto yang terbingkai rapi.


"Bisa-bisanya kamu pergi lagi tanpa ngejelasin apapun". Masih terus menyalahkan selembar foto yang tak akan bisa menjawab semua kekesalan serta makiannya.


"Seharusnya kamu lebih berusaha membujukku dan menjelaskan! Kenapa? Mudah sekali kamu menyerah dan memilih pergi lagi", Sadar jika dirinya juga bersalah karena tidak pernah memberi kesempatan pada Langit menjelaskan apapun.


Namun rasa kecewa dan sakitnya membuatnya tetap menyalahkan Langit. Bukankah wanita memang seperti itu??✌🏻😅


Menangis hingga tertidur karena kelelahan. Bintang terbangun dengan kondisi menyedihkan.


Rupanya dirinya tertidur sangat lama. Segera mencari ponselnya dan berharap Langit akan menghubungi dirinya sekedar mengirim pesan.


Namun semua harapannya pupus. Tak ada satu pesanpun dari Langit. Ia menghela nafas kasar. Kembali memaki Langit.


Hanya ada pesan dari Nindy yang menanyakan dirinya yang tiba-tiba menghilang. Juga pesan dari Bulan yang sepertinya mengkhawatirkan dirinya setelah acara selesai.


Bintang kembali melemparkan ponselnya setelah membalas pesan Bulan dan Nindy. Ia mengatakan jika kurang enak badan sehingga kemarin ia pulang lebih dulu tanpa pamit. Ia juga meminta maaf karena membuat mereka khawatir.


Bintang bangkit, menyeret langkah kakinya menuju kamar mandi. Ia harus menyegarkan tubuh dan otaknya agar tidak terus-terusan memikirkan Langit.


"Ayah.." Tiba-tiba teringat penwaran sang ayah beberapa waktu lalu tentang perjodohan.


Dalam keadaan marah dan kecewa, Bintang memacu kendaraannya menuju rumah kedua orang tuanya. Hari ini ia akan menyetujui penawaran sang ayah dan bunda tentang perjodohan.


Meminta bantuan pada Alva tidak akan membuahkan hasil karena laki-laki itu tahu pasti seperti apa hatinya saat ini.


Masa bodoh dengan siapa ia akan dijodohkan. Ia percaya pada kedua orang tuanya. Mereka tidak akan memilihkan laki-laki yang salah untuk ya.


"Kamu lihat aja Lang. Aku akan bisa lupain kamu". Mencengkeram kuat kemudi mobilnya saat mengingat Langit yang pergi lagi, bahkan kini tanpa pamit.


Dikuasai rasa marah dan sekaligus kecewa, Bintang memantapkan hatinya untuk menerima saja tawaran sang ayah untuk di jodohkan.


Satpam langsung membukakan gerbang saat melihat wajah anak majikannya. Ia menunduk sopan pada Bintang yang membalasnya dengan senyum ramah.


Meskipun tengah diliputi rasa kesal juga kecewa dan marah. Namun Bintang tidak ingin melampiaskannya pada orang yang tidak bersalah.


"Ayah sama bunda dimana, bi??", Tanya Bintang pada salah seorang art yang berpapasan dengan dirinya.


"Sedang bersantai di taman belakang, non", Bergegas mencari ayah dan bunda nya setelah mengucapkan terimakasih pada art yang memberitahunya.


"Aunty!!!". Teriak Revan saat melihat tante kesayangannya ada dirumah sang kakek.


"Hallo ganteng.." Menangkap tubuh Revan yang berlari menabrak dirinya. Keduanya berpelukan seperti orang yang sudah lama tak bertemu.

__ADS_1


Ayah hanya melirik sekilas putrinya, ia tahu Langit pergi. Dan sepertinya ia juga tahu alasan kedatangan anak gadisnya itu.


Karena dirinya memang sempat menawarkan sesuatu pada putrinya itu beberapa waktu lalu. Namun dengan tegas putrinya itu menolak tawarannya.


"Aku mau bicara sama ayah sama bunda. Penting". Alis bunda berkerut, sementara bibir ayah berkedut karena mencoba menahan senyumannya.


"Ada apa sayang??". Tanya bunda lembut, ia menepuk kursi disebelahnya. Mengisyaratkan sang putri untuk duduk disana.


"Aku terima tawaran ayah". Alis sang bunda semakin dalam berkerut. Tak memahami apa maksud sang putri.


"Tawaran?? Tawaran apa maksudnya??", Tanya Bunda bingung.


"Ya benar. Tawaran apa memang?", Tanya ayah berpura-pura lupa hingga membuat Bintang semakin kesal.


"Ayah nggak usah pura-pura lupa deh". Kesal Bintang.


"Memang ayah menawarkan apa padamu, sayang??". Tanya Bunda mendesak membuat Bintang menghela nafas panjang.


"Bintang terima tawaran ayah tentang perjodohan itu". Mata bunda melebar mendengar ucapan Bintang.


"Perjodohan??". Beo bunda yang langsung menatap tajam suaminya. Pasalnya tak ada pembicaraan tentang hal ini.


"Nanti akan aku jelaskan". Bisik ayah pada istrinya yang saat ini terlihat sangat menyeramkan di matanya. Nyalinya sedikit menciut melihat wajah garang istrinya itu.


"Yakin". Tegas menjawab seolah tak memiliki setitik pun keraguan.


"Siapapun yang nanti nya akan ayah jodohkan? Kamu akan setuju?", Tanya ayah lagi yang langsung dijawab anggukan kepala oleh Bintang.


"Pikirkan dulu baik-baik. Karena setelah kamu mneyetujui perjodohan ini, ayah tidak mau mendengar alasan apapun untuk kamu membatalkannya nantinya". Memeluk mesra pundak istrinya dan kembali meminta di suapi buah yang sempat dipotong istrinya itu.


"Bintang udah pikirin yah. Bintang udah yakin, Bintang janji nggak akan kabur atau bikin perjodohan ini gagal". Dalam diamnya ayah menyeringai.


"Baiklah..serahkan semua pada ayah. Ayah yang akan mengurus semuanya. Kamu hanya perlu menyiapkan diri menjadi istri yang baik untuk calon suamimu kelak". Suami?? Ah..memang akan kemana sebuah perjodohan jika tidak bermuara pada sebuah pernikahan.


"Apa aku benar-benar siapa hidup dengan laki-laki pilihan ayah??", Sisi labilnya kembali muncul dan dirinya mulai meragu,


Namun cepat ia menepis rasa ragu nya itu. Ia meyakinkan dirinya jika siapapun lelaki pilihan ayahnya sudahlah pasti adalah laki-laki bertanggung jawab dan akan membahagiakannya.


Revan yang sejak tadi duduk disamping aunty nya itu segera menarik sang aunty setelah kakeknya selesai berbicara dengan tante kesayangannya.


Ia sudah tidak sabar bermain dengan wanita cantik yang menyebut dirinya sebagai aunty tercantik sedunia itu.


---


Weekend yang Bintang habiskan dirumah orang tuanya tak serta merta membuat hatinya tenang. Justru kini dirinya semakin gamang dengan keputusannya yang menerima perjodohan yang pernah ditawarkan ayahnya hanya karena merasa marah dan kecewa pada Langit.

__ADS_1


Dirinya benar-benar merasa menjadi manusia paling labil saat ini. Berulang menanyakan apa mau hatinya.


Sudah satu minggu berlalu sejak Langit kembali pergi. Setiap harinya tak pernah terlewat Bintang mengumpati nama itu.


Meski menepis perasaannya, nyatanya dirinya tetap mengingat Langit dan segala kenangan mereka. Membuatnya semakin kesal pada dirinya sendiri.


Ingin bercerita pada Alva, namun laki-laki itu juga tiba-tiba ikut menghilang. Kata direkturnya, Alva mendapat tugas darinya untuk menemui klien VIP perusahaan yang meminta kiriman seorang designer.


"Kenapa sih. Di saat aku butuh malah semua orang nggak ada". Keluhnya lagi hingga membuat dirinya kesal sendiri. Mengapa kini dirinya benar-benar menjadi manusia menyebalkan.


Sehari ingin ini, tiba-tiba berubah. Begitu aeterusnya hingga membuatnya kesal pada dirinya sendiri. Sama kaya othor, kesel banget ama Bintang😤


Tak ada pekerjaan yang berjalan lancar selama satu minggu ini. Ditambah dengan telepon sang ayah yang memintanya untuk datang ke rumah karena laki-laki yang akan dijodohkan dengannya ingin berkunjung ke rumah esok hari.


Beralasan banyak pekerjaan menumpuk, Bintang mengatakan akan datang esok pagi saja. Rasa-rasanya hatinya mendadak tak siap dengan datangnya hari esok. Padahal dirinya yang meminta sang ayah untuk menjodohkan dirinya. Kini justru dirinya sendiri yang ragu.


"Dasar gila". Mengumpati dirinya sendiri dan semua sikapnya saat ini.


Ia benar-benar tak menyangka jika akan secepat ini ayahnya mengabulkan semua permintaannya.


Membenturkan kepalanya ke meja kerja miliknya beberapa kali sambil merutuki bibir yang seenaknya meminta dijodohkan.


"Ini semua gara-gara kamu, Lang", Kembali menyalahkan Langit atas semua yang tengah dan akan ia hadapi.


"Aaah!!!". Tiba-tiba berteriak sambil menjambak rambutnya hingga membuat rekan kerjanya terkejut dan menanyakan ada apa dengan dirinya.


"Hehe, nggak apa-apa kok. Lagi pusing mikirin design aja". Beralasan sambil tersenyum kaku menampakkan deretan giginya pada semua rekan yang menatapnya.


"Udah dulu kerja nya. Udah waktunya pulang". Bukannya senang karena sudah waktunya pulang. Bintang justru terlihat Semakin lesu saja. Itu artinya esok akan segera datang.


Melambaikan tangannya pada rekan kerja yang mulai meninggalkan meja kerja nya. Dengan malas ia mulai memasukkan barang-barangnya ke dalam tas.


"Gimana besok??", Gumamnya sambil menyeret langkah menuju lift.


"Apa aku bener-bener siap?", Bergumam dan bertanya pada dirinya sendiri.


"Aaah, gimana ini. Kenapa sih aku harus ngomongin hal itu ke ayah". Menyesali sesuatu yang tidak akan bisa ia tarik kembali.


"Dasar bodoh!". Memukul pelan kepalanya. Menyalahkan kebodohan yang telah ia lakukan.


...¥¥¥•••¥¥¥...


...Dikasih double up buat readers semua🥰🥰 harap maapkeun othor yang sering ilang ngga jelas ini🙏🏻🙏🏻...


...Happy reading😘😊 Sarangheo readers😘😘💋🥰💐💋💐💐💐♥️♥️...

__ADS_1


__ADS_2