
Bintang datang ke perusahaan pagi itu untuk melakukan interview kerja serta menunjukkan beberapa hasil karya nya pada perusahaan tempatnya melamar pekerjaan.
Bibirnya tak lepas menyunggingkan senyum saat menjabat orang perusahaan yang baru saja menginterview dirinya.
Dirinya diterima bekerja sebagai karyawan magang selama tiga bulan. Dan jika kinerjanya bagus serta hasil kerja memuaskan, maka Bintang akan diangkat sebagai karyawan tetap.
Hingga kejadianitu terjadi. Saat baru satu minggu Bintang bekerja.
Siang itu lift penuh sesak, karena memang sudah masuk waktu makan siang. Bintang yang sudah masuk pertama otomatis terdesak sampai belakang.
Semua terlihat normal saja hingga matanya menangkap sesuatu yang sangat tidak patut.
Bintang masih diam, karena takut jika dirinya hanya salah lihat juga salah menduga. Namun semakin diperhatikan, ternyata yang dilihatnya memang benar.
Seorang pria yang sengaja menyalakan vitur videonya dan merekam gadis dengan rok pendek didepannya.
Sepertinya tidak ada yang menyadari selain dirinya. Karena yang lain nampak sibuk berbincang dengan teman mereka. Bahkan wanita yang tengah direkam pun tak menyadarinya.
ting..
Lift berhenti tepat di lobby, dan bertepatan dengan itu Bintang langsung memelintir tangan lelaki yang sejak tadi sibuk dengan ponselnya itu.
Mendorong paksa keluar lelaki yang berteriak kesakitan karena ulah Bintang. Namun Bintang tidak peduli, bahkan saat dirinya di maki dan kini menjadi tontonan banyak karyawan yang melihatnya.
"Lepaskan saya!! Kamu gila!!!". Bentak si lelaki yang tangannya masih dipelintir oleh Bintang.
"Anda yang gila! Anda tidak malu melakukannya?!". Balas Bintang sengit. Ia benar-benar membenci lelaki kurangajar seperti itu.
"Apa yang gadis itu lakukan?".
"Apa dia cari mati?",
"Apa dia tidak tahu siapa yang sedang dia sakiti?".
"Bukankah itu anak magang?".
Alva yang berada dalam satu lift dengan Bintang coba mendekat. Ia juga belum tahu apa penyebabnya, karena itulah ia ingin tahu mengapa Bintang berbuat demikian.
__ADS_1
"Lepaskan tangan saya!!!". Bentak lelaki itu lagi.
Bintang mengambil ponsel ditangan lelaki itu lalu menghempaskan tangannya dengan kasar.
"Apa yang kamu lakukan! Minta maaf sama pak Hendra!". Bintang tersenyum miring saat wanita yang hendak ia tolong justru memarahi dirinya dan memintanya meminta maaf pada laki-laki kurangajar itu.
"Saya sedang menolong anda, bu". Sahut Bintang tenang.
Benar-benar sangat tenang, tak sedikitpun terlihat ketakutan disorot mata anak magang itu. Mungkin itu yang ada dipikiran banyak orang yang melihat kejadian saat ini.
"Siapa dia??". Tanya laki-laki yang bernama pak Hendra itu.
"Kenapa perusahaan menerima orang seperti dia?!". Masih berteriak sambil menatap sinis Bintang yang justru tersenyum sinis menatap pak Hendra.
"Ya, itu juga pertanyaan saya pak. Kenapa perusahaan mempekerjakan orang mes um seperti anda?!". Balas Bintang tak gentar.
Membuat yang melihatnya ketakutan karena menurut mereka Bintang terlalu berani.
"Kurangajar!!! Mau saya pecat kamu hah!!". Tak terima, pak Hendra coba menggertak Bintang.
Dengan santai Bintang justru membuka ponsel pak Hendra. Bibirnya menyunggingkan senyum miris saat melihat isi galeri ponsel lelaki paruh baya itu.
Dan benar saja, didalam galeri ponsel lelaki itu, terdapat banyak foto dan video serupa yang mampu membuat Bintang terpancing emosi.
Keributan itu membuat seorang petinggi perusahaan yang baru saja datang mendekati kerumunan.
Bintang memutar salah satu video di ponsel pak Hendra. Sementara laki-laki itu berusaha mengambil kembali ponselnya dari tangan Bintang.
"Wah, anda benar-benar sudah profesional ya pak". Sindir Bintang menatap kesal pak Hendra.
"Kamu benar-benar lancang!! Sudah bosan bekerja disini kamu rupanya". Bentak pak Hendra yang belum menyadari keberadaan atasannya diantara kerumunan itu.
"Saya sih lebih senang di pecat daripada harus ada di satu perusahaan sama laki-laki tua tapi mesum seperti anda!", Alva segera mendekat, Bintang adalah anak magang dibawah bimbingannya. Ia tak mau gadis cantik itu terkena masalah.
"Maaf pak..ada masalah apa?". Alva berdiri ddepan Bintang.
"Kamu pembimbingnya?". Tanya pak Hendra membuat Alva mengangguk.
__ADS_1
"Maaf kalau Bintang melakukan kesalahan pak, saya akan menegurnya nanti. Tolong beri dia kesempatan". Bukan tanpa sebab, tapi Alva melihat Bintang memiliki kemampuan yang tak bisa diremehkan.
"Saya tidak peduli! Saya tidak mau melihat dia lagi berkeliaran dikantor ini!". Bentak pak Hendra.
"Dia sudah mempermalukan saya!", Imbuhnya lagi.
"Anda yang mempermalukan diri anda sendiri! Dan juga para wanita yang ada didalam video anda ini!". Belum sempat Alva menjawab, Bintang sudah mengangkat ponsel pak Hendra sambil memutar salah satu video koleksi pak Hendra.
Banyak mata membelalak melihat apa yang ada dalam ponsel pak Hendra. Mereka tak percaya jika pak Hendra melakukannya.
"Nggak perlu di pecat! Saya yang akan mengundurkan diri! Saya juga nggak sudi satu kantor yang pemimpinnya bermoral bejad seperti anda!!". Bintang menyerahkan ponsel pak Hendra ke tangan Alva dan berlalu meninggalkan kerumunan. Tujuannya adalah ruangan tempatnya bekerja, ia ingin mengambil tas miliknya dan segera pergi dari perusahaan ini.
Bintang tak tahu jika sepeninggalnya, atasan pak Hendra langsung mengambil alih ponsel di tangan Alva dan membawa pak Hendra bersamanya.
"Cegah gadis itu pergi. Saya ingin bicara nanti setelah mengurus masalah ini". Hanya pesan itu yang dititipkan pada Alva.
Mulai saat itu, Bintang diangkat sebagai karyawan tetap perusahaan itu. Sebagai bentuk apresiasi atas keberanian Bintang.
Alva menatap Bintang yang tengah fokus pada design liontin kalung yang tengah ia kerjakan. Bibir Alva tak henti melengkung. Ia mengingat bagaimana kejadian kala itu.
Keberanian gadis itu semakin membuat kekagumannya pada sosok Bintang kian besar. Dan dari rasa kagum itu mulai muncul perasaan lain yang tak bisa ia cegah.
"Jangan liatin terus kak, nanti suka". Tanpa menatap Alva, Bintang berbicara. Membuat Alva sedikit tersentak karena terkejut sekaligus malu kedapatan memperhatikan Bintang.
"Kan emang aku udah suka sama kamu. Kamu nya aja nggak peka". Bintang menghela nafas panjang mendengar ucapan Alva.
"Iya..iya, tau. Jangan rusak pertemanan kita sama perasaan cinta". Sebelum Bintang mengomel, Alva sudah lebih dulu berbicara.
"Good". Bintang mengacungkan jempolnya sambil tersenyum pada Alva yang hanya bisa menghela nafas panjang.
Sejujurnya Alva sangat penasaran, tentang mengapa Bintang tak mau lebih dari sekedar berteman dengannya.
Jika dilihat dari segi wajah, visualnya sudah cukup diatas rata-rata. Materi yang ia punya pun sudah terbilang cukup. Karirnya terus menanjak, ia jadi bingung mengapa Bintang tak mau menerima perasaannya.
Jika karena memiliki laki-laki lain, atau kekasih, nyatanya selama dua tahun lebih mengenal Bintang, tak sekalipun Alva melihat Bintang dekat dengan laki-laki atau sekedar diantar jemput oleh laki-laki.
...¥¥¥•••¥¥¥...
__ADS_1
...Double up manteman🥰🥰😊...
...Jangan lupa like komennya ya😊🙏🏻💋♥️💐🥰😘😘...