
"Mana yang kamu suka nak?". Tanya mommy Sekar menunjukkan dua buah gaun berwarna cantik.
Bintang jadi bingung sendiri. Mau menolak rasanya tidak sopan, tapi jika ia ambil salah satunya, maka itu hanya akan menjadi koleksinya saja tanpa ia pakai. Sama seperti gaun-gaun sebelumnya yang dibelikan bunda.
"Bintang tidak suka pakaian seperti itu mom". Langit yang sejak tadi hanya diam kini angkat suara. Ia tahu Bintang tidak suka pakaian-pakaian seperti itu.
"Benarkah? Lalu apa yang disukai Bintang?". Tanya mommy penasaran.
"Ini". Mata mommy membeliak melihat apa yang Langit sodorkan pada calon menantunya.
Sebuah hoodie berwarna biru langit yang mampu membuat mata Bintang berbinar. Ditambah celana berwarna biru terang dengan robekan dibeberapa bagian.
"Jangan ngaco Lang". Omel Mommy
"Mana mungkin Bintang memakai pakaian seperti ini". Omelan mommy masih berlanjut, sementara Langit masih terlihat santai karena yakin Bintang akan memilih apa yang ia pilihkan dibanding gaun yang dipilih mommy.
"Tanya aja sama Bintang. Langit lebih tau apa yang disukai sama Bintang, mom". Ucap Langit pongah.
Ia tidak sadar jika Bintang tertegun sesaat karena ucapan laki-laki itu. Bahkan kini mommy tersenyum gemas melihat tingkah Langit.
"Jadi, Bintang pilih yang mana?". Tanya mommy membuat Bintang tersenyum kikuk.
"Maaf mom, tapi Bintang lebih suka yang Langit pilih.." Lirih Bintang merasa tidak enak pada mommy karena menolak pilihan mommy.
"Maafin Bintang mom.." Bintang menunduk, tapi lebih baik dirinya jujur daripada harus berpura-pura suka tapi dirinya berbohong pada mommy Sekar.
"Nggak apa-apa sayang. Mommy malah seneng, ternyata Langit memang benar-benar tahu apa yang kamu sukai". Mommy tersenyum menggoda membuat wajah Bintang sedikit merona.
Langit tersenyum bangga karena apa yang ia pilihkan diterima baik oleh Bintang.
"Biar Bintang yang bayar, mom". Mommy langsung melotot galak.
"Hari ini mommy yang bayar. Anggap saja ini hadiah perkenalan dari calon mertuamu". Bintang kembali dibuat tertegun karena ucapan mommy.
Sekarang ia benar-benar semakin takut. Takut nantinya membuat hati mommy Sekar terluka jika pada akhirnya ia dan Langit tak berjodoh.
"Jangan terlalu baik, mom. Bintang takut nantinya mengecewakan mommy dan menyakiti hati mommy". Helaan nafas panjang terdengar dari Bintang.
Tak jauh berbeda dengan Bintang. Saat ini Bulan tengah dibuat pusing dengan pilihan mama Mira. Wanita paruh baya itu bahkan mengambil lebih dari empat gaun dan meminta Bulan untuk mencobanya.
"Ma, udah lah. Kasian Bulan suruh bolak balik cobain baju". Sam yang tidak tega melihat Bulan akhirnya bersuara.
"Maaf sayang, mama terlalu bersemangat. Kamu pasti lelah ya". Bulan menggeleng, ia merasa sungkan berkata jujur pada mama Mira yang sudah sangat baik padanya.
"Kita ambil semua saja. Semuanya cocok denganmu". Mata Bulan membeliak mendengar perkataan mama Mira.
Ia menatap Sam sambil menggeleng pelan. Meminta Sam untuk mencegah keinginan mama Mira.
"M-maaf ma, t-tapi jangan semua ma. Ini terlalu banyak ma.." Bulan menatap Sam tajam, seolah meminta bantuan lelaki itu untuk membujuk mama Mira.
"Tapi semua terlihat indah saat kamu memakainya sayang.." mama Mira menatap gaun yang tergantung didepannya kemudian menatap Bulan.
"Biarkan Bulan memilih salah satunya saja ma..jangan dipaksa". Meskipun awalnya enggan menurut, akhirnya mama Mira menurut dan meminta Bulan memilih satu diantara empat gaun yang sudah ia pilih.
"Yang ini saja". Bulan segera menoleh saat Sam lebih dulu mengambil gaun yang memang sudah menjadi incarannya sejak pertama kali melihat.
__ADS_1
"Ish! Katanya biar Bulan sendiri yang milih. Gimana sih". Gerutu mama Mira
"Bulan mau yang mana? Nggak usah nurut sama Samudra". Mama Mira mengelus lengan Bulan.
"Ini yang paling cocok untuk Bulan, ma. Lagipula modelnya cocok untuk usia Bulan. Sederhana tapi tetap elegan". Bulan mengerjap, benarkah lelaki disampingnya ini adalah Sam?? Wah, Bulan bahkan hampir tak mengenalinya.
"Gimana? Lo suka nggak?". Bulan mengangguk cepat. Karena memang yang dipilihkan Sam adalah pilihannya juga.
"Kamu perhatian banget sih. Mama gemes liat kalian". Mama Mira semakin gemas melihat Bulan dan Sam yang kini saling menatap.
Sam dan Langit berdiri didepan kassa untuk membayar belanjaan yang sudah dipilih oleh mama Mira dan Mommy Sekar.
Keduanya saling menatap sesaat kemudian tersenyum tipis. Entahlah, apa yang ada dipikiran kedua pemuda tampan itu.
Sementara Bulan dan Bintang tengah duduk dengan diapit oleh mommy dan mama Mira. Bintang merogoh tasnya karena merasa ponselnya bergetar.
"Bunda.." Gumam Bintang saat menatap ponselnya yang sejak tadi bergetar.
"Maaf, Bintang angkat telepon dulu. Bunda menelpon.." Pamit Bintang yang kemudian berdiri setelah mommy Sekar dan mama Mira mengangguk.
"Assalamualaikum..ada apa bun?",
"Apa??!!". Tanpa sadar Bintang berseru karena terkejut dengan apa yang baru didengarnya.
"Bintang kesana sekarang, bun. Assalamualaikum". Bintang menutup panggilan teleponnya dengan bunda dan dengan tergesa memasukkan ponselnya kedalam tas nya lagi.
Mommy yang mendengar Bintang setengah berteriak segera menghampiri gadis itu dan menanyakan apa yang terjadi.
Pun dengan Bulan dan mama Mira yang ikut terlihat panik melihat Bintang yang wajahnya kini terlihat panik.
"Tante, ah maksud Bintang mommy. Maaf, Bintang harus pulang sekarang".
"Iya tapi kenapa? Ada apa?". Tanya mommy yang khawatir melihat wajah panik Bintang. Ia jadi berpikir yang tidak-tidak. Apalagi Bintang terlihat panik setelah menerima panggilan dari bunda Ratih.
"Ada apa?". Langit yang baru kembali setelah membayar belanjaan terlihat bingung saat semua berkumpul. Apalagi melihat wajah semua orang yang terlihat panik.
"Iya ada apa, sayang? Jangan bikin mommy khawatir". Mommy Sekar mendesak.
Langit menatap Bintang, wajah gadisnya itu terlihat panik sekaligus bingung.
"Bintang harus kerumah sakit sekarang mom.."
"Apa?! Kenapa?!!". Semua orang berseru membuat Bintang terkejut melihat reaksi orang-orang.
"Anu..itu..aaah apa sih.." Bintang yang panik juga terkejut jadi bingung sendiri. Lidahnya terasa belibet untuk sekedar menjelaskan alasannya ingin kerumah sakit.
"Tenang Bin, jangan panik. Tarik nafas dulu.." Bulan mengelus pundak sahabatnya.
"Udah lebih tenang kan?". Bintang mengangguk setelah berulan kali menghela nafasnya kemudian menghembuskannya perlahan seperti apa yang Bulan katakan.
"Lo nggak apa-apa?". Tanya Langit yang juga ikut khawatir.
"Mom, Bintang pamit dulu". Karena panik, Bintang tak menjawab pertanyaan Langit.
"Iya, tapi kamu kenapa? Siapa yang di rumah sakit?". Tanya Mommy Sekar yang masih mencegah Bintang pergi.
__ADS_1
"Ah itu, kak Naura mau lahiran". Sahut Bintang yang sudah tidak tenang sejak tadi.
"Bintang harus pergi sekarang, mom". Bintang mencium punggung tangan mommy Sekar.
"Kamu mau naik apa?". Tanya mommy Sekar yang mengkhawatirkan Bintang.
"Taksi. Naik taksi mom".
"Jangan. Biar Langit yang antar kamu". Perintah mommy tak dapat dibantah. Membuat Bintang mengangguk patuh.
"Ayo!". Langit langsung menarik tangan Bintang.
"Bintang pergi dulu mom. Assalamualaikum". Bintang berteriak meski sudah mulai menjauh. Membuat senyum mommy Sekar mengembang.
"Dia benar-benar gadis yang baik". Gumam mommy Sekar yang melihat Bintang dan Langit semakin menjauh.
Senyumnya semakin mengembang saat melihat Bintang melepaskan genggaman tangan Langit kemudian berganti ia yang menggenggam tangan Langit kemudian mengajaknya berlari.
Tinggalah mommy Sekar dan mama Mira serta Sam dan Bulan yang terlihat tidak tenang.
"Gw nyusul Bintang ya". Ucap Bulan sambil menatap Sam. Membuat mama Mira yang mendengarnya menoleh.
Dari cerita yang ia dengar dari Bintang dan Bulan, kedua gadis itu rupanya bersahabat baik.
"Kamu mau menyusul Bintang nak?". Bulan menoleh menatap mama Mira.
"Ah, i-iya ma..B-Bulan mau menemani Bintang", Lirih Bulan membuat mama Mira tersenyum.
"Pergilah.." Bulan mengangkat wajahnya menatap mama Mira.
"Antarkan Bulan, Sam. Dia pasti mengkhawatirkan Bintang.." Senyum teduh mama Mira membuat Bulan ikut tersenyum.
"Terimakasih ma.." Bulan reflek memeluk mama Mira yang balas memeluknya sambil mengelus punggung gadis itu.
"Sama-sama sayang.."
"Pergilah". Ucap mama Mira
"Bulan pergi dulu, ma.. Assalamualaikum". Bulan mencium punggung tangan mama Mira dan mommy Sekar bergantian.
"Ayo Sam!". Bulan menarik tangan Sam yang tersenyum tipis melihat tangannya ditarik oleh Bulan.
"Daaa..hati-hati kalian". Mama Mira berteriak sambil melambaikan tangannya.
"Nggak berasa ya jeng..mereka udah gede". Mommy Sekar tersenyum lebar. Senyuman yang menular pada mama Mira.
"Ya..semoga hubungan mereka berlanjut ya jeng..aku sudah suka sekali dengan Bulan". Timpal mama Mira yang memang sudah menyukai Bulan sejak pertama tadi dikenalkan oleh Sam.
"Akupun begitu jeng..Bintang adalah tipe menantu idamanku". Kedua mama itu melanjutkan kegiatan belanja mereka. Membiarkan kedua anak mereka dengan kekasih mereka masing-masing.
...¥¥¥•••¥¥¥...
...Langsung lampu ijo kaga tuh Bulan sama Bintang..mantap jiwa kali ya😅😅...
...Gimana nih? Masih mau lanjut nggak??🤔🤔...
__ADS_1
...Jangan lupa tampol like sama komennya ya manteman😊😊🥰...