Langit Untuk Bintang

Langit Untuk Bintang
dia juga putriku


__ADS_3

Pembahasan tentang perjodohan Langit menguap begitu saja. Meskipun kakek masih ada di mansion sang daddy, lelaki yang kerap ia panggil pria tua itu sudah tak pernah lagi membahas perihal perjodohan.


Namun begitu, Langit bukannya tenang. Justru ia mulai memikirkan apa yang tengah direncanakan oleh sang kakek.


Langit tahu betul seperti apa kakeknya. Sikap keras kepala dan mau menang sendiri yang ia miliki memang berasal dari mana jika bukan dari sang kakek? Jadi dirinya sangat memahami jika diamnya sang kakek bukan karena menyerah menjodohkannya.


Sebenarnya pembahasan tentang perjodohan ini bukan pertama kalinya dibicarakan oleh sang kakek. Namun Langit selalu menolaknya. Bahkan dulu saat sang daddy hendak menjodohkannya dengan anak rekan bisnisnya, Langit memilih kabur dari rumah hingga satu minggu lamanya.


Entahlah, Langit tak peduli. Selagi kedua orang tuanya dan pria tua itu tidak mengganggunya, maka Langit tak akan peduli. Ia lebih memikirkan gadis yang tiga hari ini tak bisa ia lihat.


Ya, sudah tiga hari berlalu dan Bintang belum menampakkan dirinya disekolah. Sepertinya Gadis itu benar-benar ingin mengistirahatkan tubuhnya.


Luka di pelipis Bintang sudah mulai membaik meski bekasnya masih jelas terlihat.


Tidak ada hari yang Langit lewati tanpa menanyakan keadaan Bintang. Bahkan Bulan sampai bosan menjawab pertanyaan Langit yang setiap harinya selalu sama saja.


Dan soal Catherine, seperti kesalahan yang sudah ia lakukan sebelumnya. Tak ada yang berani mengusik Catherine. Bahkan dengan tak tahu malunya, gadis itu berulang kali datang ke kelas Langit yang sebenarnya juga kelas Bintang.


Catherine tak peduli walaupun sadar jika banyak pasang mata yang menatapnya penuh kekesalan bahkan mungkin membencinya.


Obsesinya pada Langit membuatnya membuang semua rasa malu dan juga kemanusiaannya.


Langit pun membiarkan Catherine, ia lebih memilih mengacuhkan gadis itu. Bukan Langit tak berani, ia hanya menunggu Bintangnya kembali. Dan jika Bintang mengijinkan dirinya untuk memberi pelajaran pada Catherine, maka dengan senang hati Langit akan melakukannya.


Jam istirahat tiba, Iwan yang menjabat sebagai ketua kelas menginstruksikan teman-temannya untuk jangan dulu keluar karena ada yang ingin dia sampaikan.


"Ada apa Wan?". Roman langsung bertanya sesaat setelah guru yang mengajar keluar.


"Hari ini rencananya gue mau jenguk Bintang. Barangkali ada yang mau mengajukan diri buat i---"


"Gue!! Gue ikut!". Seru Langit dengan suara lantang sambil mengangkat tangannya tinggi-tinggi. Padahal Iwan belum selesai berbicara. Tingkah Langit langsung mendapat sorakan dari teman-teman sekelasnya.


"Dasar calon bucin!". Cibir Roman namun Langit acuh saja.


Rupanya bukan hanya Langit, hampir setengah dari teman sekelas Bintang ingin ikut. Membuat Iwan jadi bingung sendiri mau mengajak siapa. Karena rasanya tak mungkin mengajak semuanya. Jumlahnya terlalu banyak dan juga kasian pada ibu Bulan.


"Yang mau ikut nggak apa-apa. Kata ibu boleh mau sekelas ikut juga". Bulan yang sejak tadi diam menyimak akhirnya angkat bicara. Rupanya diam-diam ia mengirimkan pesan pada Bintang dan juga ibu.


Ibu dengan senang hati mengijinkan teman-teman putrinya untuk datang menjenguk Bintang. Bintang pun tak tinggal diam. Ia menelpon bunda dan mengatakan jika akan ada teman-temannya datang menjenguk.


"Yakin lo Bul? Ini banyak banget loh.." Meski tak semua bisa ikut, namun tetap saja jumlahnya masih sangat banyak.


"Nyantai aja, biar Bintang cepet sembuh kalo banyak yang nengokin". Bulan memberikan senyumnya.


"Oke, karna udah dapet ijin dari yang punya rumah, nanti siapa aja yang mau ikut diijinin". Putus Iwan yang membuat semua mengangguk paham.


Sementara dirumah Bulan, ibu tampak membereskan ruang tamu. Padahal sudah terlihat rapi, tapi ibu tetap membersihkannya lagi.

__ADS_1


"Kamu duduk saja, Bintang". Selalu begitu setiap Bintang ingin membantu. Ibu selalu melarang.


"Bintang udah sembuh, bu. Kan Bintang yang bikin ibu repot, jadi biar Bintang bantu ibu.." Ibu tersenyum dan tetap menggeleng.


Tak lama bel rumah berbunyi, Ibu menatap Bintang yang sejak tadi ia perintahkan untuk duduk.


"Bantu ibu bukain pintu aja ya. Mungkin itu bunda mu". Bintang mengangguk, kemudian bangkit dan berjalan membuka pintu. Benar saja, sudah ada bunda didepan pintu.


"Bunda sama siapa?". Tanya Bintang sambil melongok kebelakang tubuh Bunda. Bukan sopir atau pengawal bunda, tapi dua orang laki-laki yang tidak Bintang kenali.


"Sama sopir, tapi bunda suruh pulang dulu". Bunda tak mau sopir atau pengawalnya melihat pelipis Bintang yang masih ditutup perban.


"Taruh didalam ya mas.." Kedua lelaki itu mengangguk dan membawa beberapa box yang Bintang belum tahu apa isinya.


"Itu kue sayang, buat temen-temen kamu nanti kalo kesini". Bunda menjelaskan saat melihat wajah berkerut Bintang.


Bibir Bintang membulat sambil kepalanya mengangguk paham. Ia kemudian memeluk dan mencium pipi bunda.


"Makasih bunda.." Bunda tersenyum


"Janji sama bunda kalau ini terkahir kalinya kamu terluka. Itu sudah lebih dari cukup". Bintang mengangguk dan kembali memeluk bunda.


"Ratih.." Bunda menoleh, mendapati ibu yang berjalan dibelakang dua lelaki yang berasal dari toko kue.


"Lela..apa kabar?". Bunda melepaskan Bintang dan menyapa ibu. Keduanya berpelukan hangat dan cipika cipiki.


"Alhamdulillah sehat.." Kedua wanita itu tersenyum hangat.


"Kenapa membawa kue banyak sekali". Ucap ibu.


"Bintang bilang teman-temannya akan kesini menjenguknya.." Ibu menggeleng pelan.


"Tidak perlu sebanyak itu seharusnya. Kamu kira mereka kesini untuk pindah makan?". Kedua ibu itu akhirnya tertawa.


Bunda duduk diruang tamu, ditemani ibu dan Bintang. Ketiga wanita itu mengobrol ringan sambil menunggu waktu.


Semua biasa saja hingga ucapan ibu membuat Bintang kesulitan menelan salivanya. Apalagi ditambah tatapan menggoda Bunda.


"Sepertinya anak kita ini sudah punya pacar.." Bunda langsung menatap Bintang penuh makna.


"S-siapa bu? Bintang nggak punya pacar kok". Bintang tidak berbohong, dirinya memang tidak memiliki pacar.


"oh ya? Berarti ibu yang salah mengira..ibu kira Langit itu pacar kamu sayang". Wajah Bintang memerah, kenapa harus Langit? Pikir Bintang.


"Langit?". Beo Bunda membuat ibu langsung mengangguk.


"Sudah dua kali ini Bintang diantar Langit. Sepertinya pemuda itu juga yang menolong Bintang. Iya kan sayang?". Pertanyaan ibu diarahkan pada Bintang yang terlihat salah tingkah.

__ADS_1


"i-iya bu". Tersenyum lagi kedua ibu itu, apalagi melihat bahasa tubuh Bintang.


Meskipun bukan putri kandungnya, namun selama ini ia tahu benar Bintang tak pernah berhubungan dengan pemuda manapun.


Melihat Bintang yang malu-malu, sepertinya Bintang memiliki ketertarikan pada sosok pemuda bernama Langit itu.


"Yakin nih bukan pacarnya??", Goda Bunda membuat Bintang langsung mengangguk.


"Padahal nggak apa-apa loh kalo pacarnya juga". Ibu kembali bersuara dan didukung bunda dengan menganggukkan kepalanya.


"Bunda sama ibu kenapa sih..orang bukan pacar. Bintang juga belum mau pacaran". Ucap Bintang merajuk membuat ibu dan bunda tertawa.


"Hah.." Tiba-tiba bunda menghela nafas, sehingga ibu dan Bintang menatapnya.


"Bunda kenapa?". Tanya Bintang


"Bunda harus pulang.." Jawaban bunda membuat Bintang bernafas lega.


"Sebentar lagi teman-temanmu pasti kesini. Jadi bunda tidak bisa disini, atau mereka akan bertanya lagi kenapa ada bunda disini". Bintang mengangguk, ia merasa bersalah pada bunda.


"Bener-bener nggak adil deh buat bunda..padahal bunda pengen lihat calon mantu bunda jengukin anak gadis bunda". Ibu tertawa lagi mendengar bunda menggoda Bintang, ditambah wajah Bintang yang langsung cemberut.


"Bundaaaa..." Rengek Bintang membuat bunda terkekeh.


"Kalau Bintang nyaman sama Langit, nggak apa-apa sayang. Bunda dukung kok.." Semakin ditekuk saja wajah cantik Bintang. Bunda tak hentinya menggoda dirinya.


Tak tahukah bunda, setiap mendengar nama Langit, jantung Bintang harus bekerja lebih keras dibanding biasanya. Kilasan kejadian saat bibir keduanya bertemu membuat dirinya selalu salah tingkah dan malu sendiri.


"Ratih, sudahlah. Lihat, wajah Bintang sudah sangat merah". Meskipun terdengar membela Bintang, namun Bintang tahu ibu juga tengah menggodanya.


"Ah iya..kamu benar". Kembali, ibu dan bunda tertawa bersama.


"Baiklah..maaf". Bunda memeluk putrinya yang tampak merajuk karena terus digoda.


"Bunda pulang dulu ya.." Meski sebenarnya masih ingin bersama bunda, namun Bintang juga tak mau terlibat dalam masalah jika sampai teman-temannya melihat keberadaan bunda.


"Hati-hati bunda. Maafin Bintang ya bun, nyusahin bunda terus.." Bunda mengangguk, memeluk Bintang kemudian mencium keningnya lama.


"Makanya nurut sama bunda..ngaku aja kalau kamu anak bunda sama ayah.." Bintang langsung mencebik dan bunda terkekeh.


"Yasudah, bunda pulang dulu.."


"Lela, titip Bintang ya. Maaf merepotkan mu.." Ibu tersenyum sambil menggeleng, bagi ibu, Bintang sudah seperti putrinya sendiri.


"Dia juga putriku..."


...¥¥¥••••¥¥¥...

__ADS_1


...Beneran kreji nih😅😅 ayo kalian juga kreji like sama komennya🤭😁😁...


...Happy reading semuaaaah🥰🥰 Sayang kalian banyakbanyak🥰😘😘😘💐💋...


__ADS_2