Langit Untuk Bintang

Langit Untuk Bintang
gadis asing


__ADS_3

Meregangkan ototnya yang terasa kaku setelah sejak pagi duduk didepan meja kerja nya. Bintang melihat jam diatas meja kerja nya. Sebentar lagi sudah waktunya makan siang.


Sudah berlalu beberapa hari sejak perintah direktur yang meminta nya dan Alva untuk membuat design khusus atas permintaan ceo mereka.


Hingga saat ini Bintang masih dibuat penasaran dengan 'seseorang' yang dimaksudkan ceo mereka.


"Apa mungkin pacarnya? Atau---calon istrinya??". Menebak dan menerka seseorang yang dimaksud Langit.


"Aaahh..emangnya apa peduliku". Menepis rasa penasarannya yang membuat hatinya tiba-tiba merasa tidak tenang.


"Aku tunggu design khusus yang aku minta ya😘".


"Aku kasih bonus besar kalo aku suka sama design yang kamu buat".


Pesan yang dikirimkan dari nomor yang belum ia simpan. Tapi ia tahu pasti siapa pemilik nomor itu. Melihat dari bagaimana caranya menulis pesan dan isi pesan yang dikirimkan padanya.


"Cih, sombongnya.." Mendecih kesal sambil melemparkan ponselnya ke atas meja.


Ia dan Alva jadi harus bekerja dua kali lipat lebih keras. Bahkan dua hari kemarin ia dan Alva harus lembur untuk membuat design khusus itu.


Bagaimana tidak, dirinya dan Alva harus tetap menyerahkan design untuk edisi bulanan perusahaan. Dan sekarang ditambah dengan permintaan khusus ceo mereka itu.


Mengeluh saja yang bisa dilakukannya. Namun tak bisa berbuat apapun.


"Memang dasar gila! Dia pikir mudah apa memikirkan dan menggambar design perhiasan?!". Mengumpat seseorang yang membuatnya harus lembur dua malam ini.


"Satu minggu. Apa dia benar-benar gila". Masih terus memaki seseorang itu.


"Dikira nya bikin design perhiasan kaya gambar pemandangan apa". Tak henti bibir mungil itu menggerutu.


"Ngomel mulu kamu tuh. Kalo ngomel nggak akan kelar.." Si dewasa Alva bersuara disampingnya sambil mengulurkan satu gelas kopi yang aromanya membuat Bintang memejamkan mata menikmati aromanya.


"Makasih kak.." Tulus memberikan senyum untuk Alva yang memang selalu mengerti dirinya.


"Tinggal finishing nya aja, kayanya nanti malem kita harus lembur lagi deh". Ucap Alva yang melihat design yang ia kerjakan bersama Bintang.


"Aaaa..capek kak". Merengek dan berharap hari ini dirinya tidak perlu lembur.


"Besok hasilnya sudah diminta sama ceo. Tadi staf sekretarisnya nelpon direktur". Bintang mengepalkan kedua tangannya dan menghentakkan kakinya ke lantai beberapa kali untuk menyalurkan rasa kesalnya.


"Bener-bener ngeselin deh. Seenaknya banget sih kak.." Menatap Alva dengan wajah memelas yang justru membuat Alva terkekeh sambil mengusap pucuk kepala Bintang.


"Udah-udah, makan siang dulu yuk". Mengulurkan tangannya pada Bintang. Karena memang sudah waktunya jam makan siang. Bahkan hanya menyisakan mereka berdua didalam ruangan karena yang lain sudah lebih dulu pergi.


Dengan lemas dan wajah ditekuk, Bintang meraih uluran tangan Alva dan berdiri. Sepertinya dirinya memang perlu asupan nutrisi yang banyak untuk menghadapi ceo barunya yang menyebalkan itu.


Alva membicarakan banyak hal, mencoba mengalihkan pikiran Bintang dari deadline yang mengejar mereka.


Cara dewasa Alva mampu membuat Bintang tenang. Namun tetap tidak bisa menggeser kedudukan seseorang di hatinya. Betapa bodohnya bukan? Saat ada yang mencintainya dan selalu ada disampingnya, ia masih memikirkan laki-laki yang entah masih mencintainya atau tidak.


"Permisi.." Keduanya menghentikan langkah kakinya saat seorang gadis berdiri didepan mereka.


"Maaf, bisa mengganggu waktunya sebentar.." Alva dan Bintang saling melirik sebentar lalu mengangguk kompak.


"Kalau ruangan kak Langit dimana ya?". Kembali terdiam setelah nama Langit disebutkan.

__ADS_1


"Siapa gadis ini?". batin Bintang bertanya pada dirinya sendiri. Pikirannya mulai berkelana dan menerka-nerka.


"Dari tadi aku tanya dibawah tapi nggak ada yang kenal Langit. Padahal aku yakin kok, kak Langit kerja di kantor ini". Alva melirik Bintang yang sepertinya tengah memperhatikan penampilan gadis didepannya.


"Cantik, kayanya lebih muda juga. Atau mungkin seumuran? Yang pasti dari keluarga kaya.." Hasil penilaian Bintang setelah melihat penampilan gadis didepannya.


"Kerja di bagian apa?". Tanya Alva mewakili Bintang yang entah tengah memikirkan apa.


"Aku nggak tahu sih. Telpon sama pesan aku nggak dibales". Wajahnya terlihat sedih.


"Ah, tapi aku ada fotonya kok.." Gadis itu langsung mengeluarkan ponselnya dan menunjukkan foto seorang laki-laki yang tengah ia peluk kepada Bintang dan Alva.


"Langit.." Tangan Bintang terkepal saat melihat foto yang ditunjukkan gadis didepannya.


Didalam foto terlihat gadis itu tengah memeluk perut Langit. Keduanya terlihat tersenyum lebar didepan kamera.


"Dasar pembohong!". Kepalan tangannya semakin menguat saja. Dan Alva menyadarinya.


"Empat lantai dari sini, ada dilantai 8.." Melihat Bintang yang merasa tidak nyaman, Alva segera memberitahu lantai dimana ruangan ceo berada. Berharap gadis itu segera pergi dari hadapan mereka.


"Terimakasih.." Tersenyum ramah pada Bintang dan Alva yang hanya mengangguk pelan.


"Ehm..maaf. Boleh anterin nggak? Aku takut kesasar.." Kini terlihat tersenyum canggung saat melihat tatapan Bintang dan Alva.


"Kakak aja yang anter. Aku tunggu di kantin.." Jelas Bintang enggan mengantarkan gadis itu.


"Baiklah. Pesenin sekalian ya.." Alva mengalah dan berniat mengantarkan gadis yang tak ia ketahui siapa namanya.


Bintang mengangguk dan sudah siap meninggalkan sosok gadis yang ia yakini sebagai 'seseorang' yang dimaksud Langit saat meminta design khusus pada dirinya dan Alva.


"Alva.." Semua menoleh ke sumber suara.


"Bisa ke ruangan saya sebentar?".


"Gimana?". Alva bertanya. Saling menatap dengan Bintang sebelum akhirnya Bintang menganggukkan kepalanya pada Alva setelah menghela nafas panjang.


Memang siapa mereka berani membantah perintah direktur mereka yang kadang menyebalkan itu.


Beberapa kali Alva menoleh ke belakang. Memastikan Bintang baik-baik saja dengan gadis asing yang mencari keberadaan Langit.


Bintang melambaikan tangannya pada Alva. Mengatakan jika dirinya baik-baik saja lewat bahasa tubuhnya.


Tinggal Bintang dan gadis asing itu. Mau tidak mau Bintang yang harus mengantarkan gadis itu meski sebenarnya enggan menginjakkan kakinya ke lantai dimana Langit berada.


"Mari nona.." Bersikap professional meski sebenarnya tidak ingin.


"Kemana semua orang? Nggak ada gitu orang lain?". Menggerutu sambil berjalan menuju lift yang akan membawa mereka ke lantai 8 dimana ruangan Langit berada.


Berharap bertemu seseorang yang bekerja di lantai 8 dan menyerahkan gadis itu padanya. Namun harapan tinggalah harapan semata. Ia tak bertemu atau sekedar berpapasan dengan siapapun.


"Silahkan nona, anda hanya tinggal lurus saja.." Berdiri didepan lift dan ingin segera kabur.


"Bisa tolong antarkan sampai didepan ruangan kak Langit nggak?". Meminta dengan wajah imut hingga membuat Bintang ingin mencakarnya.


"Tentu saja.." Memaki dirinya sendiri yang tidak bisa menolak permintaan gadis asing itu hingga membuatnya kini berdiri didepan pintu ruangan ceo.

__ADS_1


"Ini staff sekretaris pada kemana sih? Pada makan gaji buta". kini ganti memaki staf sekretaris yang tidak ada ditempat seharusnya mereka berada.


"Ini ruangannya nona. Saya permisi dulu.." Menundukkan kepala sambil menggeram kesal. Ingin segera pergi rasanya.


"Tunggu.."


"Apa lagiiii????!!!", Batinnya berteriak keras. Ingin sekali berteriak tepat didepan wajah gadis itu.


"Ada lagi yang bisa saya bantu??", Tetap bertanya dengan ramah padahal hatinya sedang memaki gadis itu.


"Aku ingin memberikan kejutan untuk kak Langit. Bisa tolong ketuk pintunya? Aku akan berdiri dibelakngmu".


"Kau pikir kau ini siapa hah????!!!", Menghela nafas panjang sebelum tersenyum dan mengangguk.


Bintang mengumpulkan kewarasannya dan menghela nafas panjang berulang kali. Sementara gadis yang membuatnya berdiri didepan pintu ceo itu kini tengah bersembunyi dibelakang tubuhnya yang memang lebih tinggi.


"Lakukan dengan cepat dan segera pergi, Bintang. Ayo!! Pasti bisa!!". Menyemangati dan meyakinkan dirinya sendiri untuk cepat menyelesaikan semua ini.


tok..tok..tok..


"Permisi tuan..saya Bintang, dari bagian design..." Mengetuk dan langsung memperkenalkan dirinya karena tak ingin berlama-lama.


Tidak ada sahutan dari dalam. Hanya terdengar suara langkah kaki yang terdengar tergesa.


Dan benar saja, tak butuh waktu lama untuk pintu terbuka. Menampakkan wajah berbinar lelaki penghuni ruangan itu.


"Bintang.." Tak bisa menutupi perasaan bahagianya saat melihat Bintang yang kini berdiri didepannya.


"Maaf mengganggu anda, tuan. Saya mengantarkan seseorang.." Bintang langsung menggeser tubuhnya, dan gadis yang diantarkannya berseru senang dihadapan Langit yang kini terlihat terkejut melihat keberadaannya.


"Kejutan!!". Seru nya yang terdengar nyaring di telinga Bintang yang hanya menatap datar pada keduanya.


"S-Sofia??".


"Sofia? Jadi namanya Sofia?". Batin Bintang yang masih berdiri ditempatnya.


"Aku kangen banget sama kak Langit.." Bintang nampak terhenyak sesaat melihat gadis yang diantarkannya memeluk Langit begitu saja didepannya.


Langit pun terlihat sama terkejutnya dengan apa yang dilakukan gadis bernama Sofia itu dan berusaha melepaskan pelukannya.


"Kalau begitu, saya permisi dulu tuan". Baik mata ataupun hatinya ternyata belum mampu menerima pemandangan seperti yang saat ini tengah tersaji didepannya.


Pergi adalah jalan ninja terbaik yang ia pikirkan saat ini untuk menjaga kewarasannya dan juga hatinya.


"B-Bintang, tunggu..."


...¥¥¥•••¥¥¥...


...Hayoloh sapa lagi nih Sofia?? Jangan macem-macem Lang, dimaafin juga belum..udah ada aja perempuan lain🤦🏼‍♀️🤦🏼‍♀️...


...Lagian si mbak Sofia ini main peluk-peluk aja sih. Emang siapa sih??...


...Yang penasaran jangan kemana-mana ya. Nanti kita kupas tuntas nih siapa Sofi terus dimana bisa kenal Langit, oke😉😉...


...dikasih double up sama othor, ampe kebul dikepalanya warnanya menghitam😂😂...

__ADS_1


__ADS_2