Langit Untuk Bintang

Langit Untuk Bintang
pergi dengan Dewa


__ADS_3

Ponsel Bintang bergetar, menandakan panggilan masuk. Segera ia merogoh ponsel yang ia masukkan kedalam saku rok nya.


"Mas Dewa?". Gumam Bintang ketika melihat id penelpon.


"Hallo, assalamualaikum mas.."


"Nggak ada kegiatan mas, kenapa mas?". Bintang bertanya setelah mendengar suara dari seberang sana.


"Bisa mas".


"Iya, wa'alaikumsalam mas.."


Bulan yang duduk disamping Bintang sudah beralih menghadap Bintang. Wajahnya terlihat penasaran, karena tidak biasanya mas Dewa menghubungi Bintang.


"Mas Dewa minta ditemenin cari hadiah buat mbak Kiran". Terang Bintang saat melihat wajah penasaran sahabatnya.


"Oooh..kirain ada apa". Sahut Bulan.


"Awas, bentar lagi bel masuk". Langit yang sudah kembali dari kantin mengusir Bulan yang duduk dikursinya.


"Kita tukeran aja lah ya. Gw mau duduk sama Bintang".


"Iya lah. Tukeran aja, lo duduk ama si kulkas". Timpal Bintang yang sependapat dengan Bulan.


"Nggak ada, nggak bisa tuker-tukeran. Gw harus jagain elo, itu pesen ayah". Bintang mencebik kesal karena setiap apapun yang ia katakan, Langit selalu bersembunyi dibalik nama ayah.


Harus melindungi lah, harus menjaga, memastikan Bintang baik-baik saja, dan berbagai alasan lain yang mengatasnamakan amanah ayah.


"Gw lagi di kelas Lang. Nggak lagi didalem hutan, lo nggak usah jagain juga gw kaga bakal kenapa-kenapa". Gerutu Bintang yang didukung Bulan dengan menganggukkan kepala.


"Udah pindah aja". Sam menarik Bulan untuk kembali duduk disampingnya. Sungguh, Bulan dan Bintang tidak mengerti dengan dua pemuda itu.


Karena sudah malas berdebat, akhirnya Bintang dan Bulan memilih diam dan duduk dengan tenang disamping Langit dan Sam yang terlihat puas karena berhasil membuat dua gadis itu duduk disamping mereka.


Hanya Roman yang terlihat mencebik melihat tingkah kedua temannya. Ia yang duduk dibelakang Sam dan Langit hanya bisa menggerutu karena sekarang ia harus duduk bersama Ardi.


"Man, mereka beneran pacaran?". Tanya Ardi saat Roman baru mendaratkan pantatnya di kursi.


"Halusinasi tu bocah berdua aja. Ngaku-ngaku anak perawan orang jadi pacar". Cibir Roman.


Sudah bukan rahasia lagi, kedekatan antara Langit dan Bintang serta Samudra dan Bulan. Hampir seisi sekolah tahu kedekatan mereka.


Bahkan Langit sudah berulang kali memproklamirkan hubungannya dengan Bintang. Meski berulang kali Bintang menyangkalnya, namun tindakan Langit dan perhatian Langit membuat semua orang percaya jika keduanya benar-benar berpacaran.


Apalagi Bintang selalu datang dan pulang bersama dengan Langit. Satu bulan semenjak sekolah, belum pernah Bintang datang dan pulang tanpa Langit. Keduanya selalu datang dan pulang bersama-sama. Membuat semua percaya pada ucapan Langit.


Masuk jam pelajaran terakhir, para siswa sudah mulai hilang fokus dan beberapa menguap. Bahkan ada beberapa yang sudah menjatuhkan kepalanya diatas meja dengan mata sedikit terpejam.

__ADS_1


Pelajaran di jam terakhir memang sebuah ujian berat bagi para murid sekolah bukan. Bahkan Bintang dan Bulan yang termasuk jajaran anak yang rajin saja sudah beberapa kali menguap.


Bel tanda berakhirnya pelajaran seperti air yang menyirami tenggorokan kering mereka. Wajah yang tadinya lesu berubah bersinar dan bersemangat.


"Ayo.." Langit sudah menyampirkan tas nya dibahu kirinya. Ia hanya menunggu Bintang yang sedang membereskan peralatan menulisnya.


"Kemana?". Tanya Bintang dengan wajah polosnya.


"Pulang lah, emang lo mau kemana hm??". Langit mengacak pelan pucuk kepala Bintang yang langsung mencebik.


"Gw balik sama mas Dewa. Tadi udah telpon". Bintang sudah biasa pulang dan berangkat dengan Langit, dengan segala perlakuan Langit pun Bintang sudah mulai biasa.


"Kok nggak ngomong?". Langit yang sudah berdiri, kembali duduk disamping Bintang.


"Lupa.." Sahut Bintang enteng.


"Bin, gw balik duluan ya.." Bulan berpamitan pada Bintang yang langsung mengangguk.


"Ati-ati dijalan Bul.." Giliran Bulan yang mengangguk sambil berlalu. Dibelakang Bulan, Sam sudah seperti seorang bodyguard yang siap menjaga Bulan.


Langit tampak mengeluarkan ponselnya yang bergetar, nama mas Dewa ada dilayar ponselnya.


"Mas Dewa.." Ucap Langit pada Bintang yang ikut melirik layar ponsel Langit.


"Halo Assalamualaikum mas.." Bintang ikut menempelkan telinganya dipunggung ponsel Langit. Membuat Langit menarik sudut bibirnya melihat tingkah kekanakan Bintang.


"Nggak repot kok mas. Langit seneng bisa sama Bintang.."


"Iya mas, wa'alaikumsalam". Langit memasukkan kembali ponselnya saat panggilan sudah berakhir.


"Ayo.." Bukannya menjawab rasa penasaran Bintang, Langit justru bangkit dan menggandeng tangan Bintang. Bahkan lelaki itu tak segan membawakan ransel milik Bintang.


"Kan udah gw bilangin, gw mau dijemput mas Dewa". Meskipun bibirnya berkata demikian, namun Bintang tetap mengikuti Langit.


"Mas Dewa nggak jemput, dia ngajak ketemu langsung di mall aja. Kalo nggak percaya cek aja hp lo". Bintang merogoh ponselnya dengan sebelah tangan yang bebas, sementara tangan lainnya ia biarkan Langit menggenggamnya.


"Eh iya.." Gumam Bintang saat melihat ada beberapa pesan dari sang kakak.


Meskipun pemandangan seperti saat ini sudah mulai biasa mereka lihat, namun masih ada saja yang merasa iri dengan Bintang. Perhatian Langit, dan sikap Langit yang tak segan-segan menunjukkan pada semua orang jika Bintang adalah kekasihnya membuat sebagian siswi selalu menggigit jari ketika melihat Langit dan Bintang melintas.


Dari jarak yang cukup jauh, Arsen tersenyum penuh makna melihat bagaimana Langit memperlakukan Bintang. Dari sekilas pandang saja, semua orang sudah bisa melihat jika Langit benar-benar menyukai Bintang.


"Lo bener-bener udah berubah kayanya Lang". Gumam Arsen yang kemudian menyalakan mesin mobilnya, melajukan kuda besinya meninggalkan area sekolah.


"Nanti gw cuma nganterin lo aja ya, gw harus pulang. Nganter mommy arisan". Sambil memakaikan helm ke kepala Bintang, Langit menjelaskan.


"Yaudah nggak usah nganterin gw kalo gitu. Anter aja mommy". Langit menahan tangan Bintang saat melihat gadis itu hendak melepas helmnya.

__ADS_1


"Yang ada kepala gw dipenggal ama mommy kalo nggak nganterin calon mantu kesayangannya ini dulu". Mencubit gemas hidung Bintang sambil tersenyum lebar.


Bintang memalingkan wajahnya yang ia yakini pasti sudah bersemu merah. Semakin kesini, ia merasa semakin nyaman dengan keberadaan Langit disekitarnya. Segala ketengilan, sikap menyebalkan dan juga segala perhatiannya sudah membuat Bintang terbiasa.


"Tambah cantik kalo malu-malu gini". Semakin senang saja Langit menggoda Bintang.


"Ayo naik". Langit sudah duduk dengan gagah diatas motornya, motor yang sempat ia jadikan barang taruhan dengan Sam.


Namun dengan baik hati, Sam tidak mengambilnya karena merasa sudah cukup dengan melihat Langit mengejar satu gadis yang tidak lagi bermain-main dengan banyak gadis.


Langit menarik tangan Bintang agar melingkar di perutnya. Bintang pun tidak menolak, karena akan percuma sekalipun ia menolak, Langit akan punya ribuan cara untuk membuat dirinya memeluk Langit.


"Pegangan yang kenceng ya". Bintang hanya berdehem saja menjawab Langit. Namun ia mengaitkan kedua tangannya hingga membelit perut rata Langit.


Sepanjang perjalanan hanya ada kesunyian, baik Langit maupun Bintang sama-sama diam dan meresapi setiap hal yang mereka lewati kini.


"Gw harap akan selalu seperti ini, Bintang". Gumam Langit dibalik helmnya.


"Nyaman.." Gumam Bintang sambil memejamkan matanya sesaat.


Langit benar-benar hanya mengantarkan Bintang, memastikan Bintang sudah bertemu dengan Dewa kemudian pamit untuk pulang pada calon kakak iparnya itu.


"Ati-ati dijalan". Langit mengembangkan senyumannya mendengar ucapan Bintang. Ia merasa diperhatikan oleh Bintang.


"Makasih ya Lang, maaf kalau merepotkan". Langit langsung menggeleng saat Dewa bersuara.


"Sama sekali nggak ngerepotin kok mas. Langit seneng bisa nganterin Bintang". Dewa terkekeh pelan melihat tingkah malu-malu adik perempuannya.


"Hati-hati dijalan. Kalau sudah sampai dirumah, kabari Bintang. Dia pasti menunggu kabar darimu". Dan Dewa langsung mendapat hadiah capitan keras dari adiknya yang wajahnya sudah memerah.


"Pasti mas. Langit bakal langsung telepon nanti kalau sudah sampai rumah. Langit pamit dulu mas". Dewa mengangguk setelah Langit menyalami dirinya dan mencium punggung tangannya.


"Pulang dulu ya calon istri, baik-baik sama kakak ipar gw". Langit mengusap pucuk kepala Bintang yang kini wajahnya kian memerah.


Selepas kepergian Langit, Bintang yang sejak tadi memang sudah melingkarkan tangannya dilengan Dewa mulai menarik tangan kakaknya itu. Ia sudah tidak sabar mencari berbagai macam barang untuk hadiah kakak iparnya yang sebentar lagi berulang tahun.


Dewa pun tak segan mendaratkan beberapa kali kecupan dipucuk kepala Bintang. Apalagi saat adiknya yang dengan semangat menunjuk ke berbagai toko. Terlihat sangat menggemaskan di mata Dewa.


Keduanya tidak menyadari jika ada beberapa pasang mata yang menatap tak percaya dengan apa yang tengah mereka lihat.


Bahkan mereka mengambil beberapa foto dan video Bintang yang tengah berjalan dengan Dewa. Bintang yang tengah merangkul mesra lengan Dewa menjadi pusat perhatian mereka.


"Cih, murahan".


...¥¥¥•••¥¥¥...


...Satu lagi...semoga suka dan terimakasih atas semua dukungannya🙏🏻🙏🏻🥰...

__ADS_1


...Sarangheo banyakbanyak readers🥰🥰😘😘😘💋♥️💐...


__ADS_2