
Mulut Bintang terbuka lebar melihat gedung menjulang tinggi didepannya. Ia tatap sang kakak dan kedua orang tuanya yang tampak tenang saja.
Apa-apaan ini? Bahkan mungkin manager ditempatnya bekerja tidak akan mampu menyewa salah satu unit apartemen didepannya ini. Sedangkan dirinya? Dirinya yang hanya seorang designer pemula diperusahaan itu memiliki salah satu unitnya?
"Waah, sepertinya jika ada yang tahu. Mereka akan berpikir aku simpanan presdir". Mungkin itu isi hati Bintang saat ini.
"Kak, mas..yang bener aja dong. Di kota ini kan banyak apartemen yang kelas menengah, kenapa harus disini sih?". Protes Bintang yang masih berdiri kaku didepan gedung itu.
"Kamu masih bisa menolak dan kembali ke rumah kok". Skakmat, entah sudah berapa kali kata keramat itu terucap dari bibir ayah.
"Aaah, baru kali ini aku ngerasa ayah nyebelin banget". Gerutu Bintang yang membuat ayah maupun kedua kakaknya tertawa.
"Jadi? Mau pulang aja?". Tanya Dewa menggoda adiknya.
"Mas Dewa masih bisa sewain ke orang lain kok". Alis kakaknya bergerak naik turun, dan itu terlihat lebih menyebalkan dimata Bintang.
"Aaakh, nyebelin semuanya". Menghentakkan kakinya beberapa kali sebelum akhirnya melangkahkan kakinya masuk kedalam gedung yang akan menjadi tempat tinggalnya kedepannya.
Bintang sudah beberapa kali melihat apartemen mewah, namun lidahnya tetap berdecak kagum melihat setiap sudut bangunan itu.
Pantas saja kakaknya memilihkan apartemen ini untuk tempat tinggalnya. Selain karena lingkungannya yang bersih dan nyaman, keamanan digedung itu tak perlu diragukan. Beberapa petugas keamanan yang berjaga juga cctv hampir disetiap sudut gedung pasti menjadi pertimbangan khusus kakaknya memilihkan tempat ini sebagai huniannya.
"Ini rumah siapa, papa?". Revan, bocah berusia enam tahun itu tampak penasaran.
"Rumah aunty dong.." Si jahil Bintang yang menjawab.
"Rumah aunty??". Tanyanya lagi meyakinkan pendengarannya.
"Ya, rumah aunty. Bagus kan??". Bintang menaik turunkan alisnya menatap keponakan tampannya.
Hanya ayah dan bunda serta kedua kakaknya serta Revan yang mengantarnya. Karena kedua kakak iparnya tengah hamil besar.
Ya, akhirnya setelah sekian lama menanti kehadiran buah hati. Kirani hamil calon anak pertamanya dengan Dewa.
Kehamilan Kiran adalah anugerah terbesar bagi keluarga kecilnya. Terutama bagi Kiran dan Dewa yang memang sudah menantikan kehadiran sosok mungil ditengah keluarga kecilnya itu.
Sedangkan Naura, ibu satu anak itu juga tengah hamil. Usia kandungannya hanya berbeda satu bulan dengan Kiran. Jadi nantinya usia anak mereka sebaya.
"Papa.." Revan menatap Juna, meminta sang ayah yang menjawab karena tak percaya pada tantenya.
"Ck, nggak percayaan banget sama aunty". Bintang berdecak kesal.
"Iya, ini rumah baru aunty.." Juna menjawab lembut sambil mengusap kepala putra pertamanya.
"Aunty akan tinggal disini?". Tanya Revan dengan wajah sendu. Ia sedih saat mengetahui aunty nya akan tinggal terpisah dengannya.
Meskipun hampir setiap hari keduanya berdebat dan memperebutkan hal-hal sepele, namun Revan sangat menyayangi aunty nya itu. Dan Revan tahu jika Bintang juga sangat menyayanginya.
__ADS_1
Melihat wajah Revan berubah sendu, Bintang berjalan mendekat. Berjongkok didepan Revan dan menangkup wajah tampan keponakannya itu.
"Kenapa hm?? Kan enak nggak ada aunty.." Bintang menoel hidung keponakannya.
"Jadi kakek sama nenek punya Revan semua. Nggak akan digangguin aunty". Ucapan Bintang bukannya membuat Revan senang malah terlihat semakin sedih.
"Tapi Revan suka berebut dengan aunty". Cicit Revan membuat Bintang terkekeh dan menarik tubuh mungil keponakannya kedalam pelukannya.
"Kenapa sih jadi sedih gini..muka kamu nggak cocok tau sendu-sendu gini". Ledek Bintang membuat Revan memberontak dalam pelukan Bintang.
"Aunty nyebelin.." Ketus Revan membuat tawa Bintang pecah.
"Ayo aunty, kita pulang. Jangan disini". Revan menarik tangan Bintang yang hanya bisa tersenyum lirih.
"Papa, ayo bawa aunty pulang". Kini Revan beralih menatap ayahnya.
"Revan..dengerin aunty". Bintang kembali menarik Revan mendekat padanya.
"Aunty harus tinggal disini dulu sementara waktu.." Sebenarnya Bintang bingung harus bagaimana menjelaskan pada keponakannya itu.
"Kenapa?? Memang dirumah kenapa?". Pertanyaan Revan malah membuat Bintang semakin bingung.
"Ya nggak apa-apa sih dirumah. Cuma dirumah kakek, jauh dari kantor aunty". Jelas Bintang membuat alis Revan berkerut. Sepertinya bocah itu belum puas dengan jawaban Bintang.
"Aunty kan nggak jalan kaki ke kantornya. Jadi tidak apa-apa kalau jauh kan?". Dewa dan Juna memalingkan wajah menyembunyikan senyumannya. Apalagi melihat wajah kebingungan Bintang.
Ayah dan bunda pun sama, keduanya tersenyum geli melihat kebingungan Bintang menanggapi pertanyaan keponakannya.
"Lagian kenapa sih ini bocah masih kecil tapi manya bikin kepala pusing", Gumam Bintang hampir tanpa suara.
"Aunty lelah sayang.." Bunda yang kasihan akhirnya membantu Bintang.
"Kenapa kasihan nenek??", Ah sepertinya otak cerdas ayahnya benar-benar menurun pada Revan.
Bocah yang tidak puas sebelum mendapat jawaban jelas dan pasti.
"Sini.." Bunda melambaikan tangannya pada Revan. Meminta cucunya itu mendekat padanya yang tengah duduk disofa ruang tamu.
"Dari rumah kesini tadi, kenapa Revan tidur?". Tanya bunda
"Lelah. Revan lelah, nenek. Kenapa jauh sekali". Jawab bocah itu polos membuat bunda tersenyum.
"Revan lihat itu.." Bunda menunjuk sebuah gedung yang tak kalah tinggi dari apartemen itu.
"Lihat.." Sahut Revan.
"Apa itu lebih jauh?". Revan menganggukkan kepalanya menjawab pertanyaan bunda.
__ADS_1
"Itu tempat aunty bekerja.." Bintang melongo, mendengarkan bunda yang begitu tenang menjelaskan tanpa terlihat kebingungan seperti dirinya.
"Kenapa jauh sekali?". Tanya Revan menatap Bintang, kemudian menatap bunda.
"Jauh kan kalau dari rumah kakek?". Kepala kecil itu kembali mengangguk lucu.
"Kalu dari sini jauh nggak?". Tanya bunda lagi, dan kali ini Revan menggeleng.
"Karena alasan itu, aunty harus tinggal disini dulu untuk sementara.." Penjelasan bunda pasti bisa dimengerti Revan, apalagi ditambah suara lembut bunda.
"Tapi..." Revan seperti masih tak bisa menerima jika Bintang tidak lagi satu rumah dengannya.
"Aunty akan sering pulang kerumah. Satu minggu sekali aunty akan menginap dirumah kakek.." Jelas bunda membuat Revan langsung menatap Bintang.
"Iya..aunty janji sama Revan". Mengerti arti tatapan keponakannya, Bintang mengacungkan jari kelingkingnya dan menautkannya dengan jari kelingking Revan.
Setelah beberapa saat, bunda dan ayah pamit. Meskipun masih berat, namun akhirnya mereka meninggalkan Bintang dirumah barunya, dengan kesendirian dan sepi yang menemani.
"Hah..." Helaan nafas kasar terdengar setelah semua orang pergi. Hanya tinggal dirinya dan sepi.
Bintang menjatuhkan tubuhnya diatas sofa ruang tamu, membiarkan kakinya menjuntai ke lantai.
Ditatapnya langit-langit ruang tamunya. Dan s ial nya. Wajah itu lagi yang kini terlihat jelas diatas sana.
"Mau sampai kapan kamu bikin hidup aku kaya gini, Lang". Lirih Bintang yang benar-benar merasa bodoh.
"Aku bodoh banget kan Lang? Aku bener-bener percaya sama janji yang pernah kamu buat. Janji yang kamu ucapin..janji kalau kamu bakal balik kesini lagi cuma buat aku". Terdengar lagi helaan nafas Bintang.
"Kenapa kamu bawa semua cinta yang aku punya Lang.." Mata indah itu mulai berembun. Sekali berkedip saja sudah pasti ada cairan bening yang mengalir dari sana.
"Kamu tahu betapa tersiksanya aku? Bahkan sekarang aku memilih sendiri, hanya supaya tidak ada yang tahu dan melihat kebodohanku". Tertawa lagi, menertawakan kebodohannya yang hingga kini masih mempercayai janji yang Langit ucapkan.
Nyatanya kebencian yang selalu ia teriakkan itu hanya ada dimulut. Hatinya tak pernah bisa membenci. Bahkan hatinya merindu sosok yang sudah merebut dan membawa pergi seluruh cinta yang ia punya.
Membuatnya menjadi sosok yang tak pernah tersentuh laki-laki lain selain ayah dan kedua kakaknya. Kini bertambah keponakannya, Revan.
Bukan tidak ada yang mendekatinya atau mencoba menjalin hubungan dengan Bintang. Namun Bintang membangun tembok kokoh nan tinggi yang tak bisa dirobohkan maupun dicapai laki-laki manapun.
"Enam tahun Lang..udah lewat enam tahun.."
"Bukankah aku sangat bodoh?? Bahkan kamu nggak pernah sekalipun hubungin aku.." Kalah, kalah sudah Bintang, karena air matanya kembali mengalir. Menangisi sosok yang bahkan tak ia ketahui dimana keberadaannya.
Bintang menangis sepuasnya, menikmati kesendiriannya menantikan sosok yang bahkan tidak pernah mengirimkan pesan pada dirinya.
...¥¥¥•••¥¥¥...
...Jeng..jeng..jeeeenggg...Kilat nggak apa-apa ya? Tau-tau udah dewasa🤭...
__ADS_1
...kalo diceritain rinci bisa-bisa ngalahin sinetron tersanjung nanti🤭😅...
...Semoga masih suka ya..selamat membaca🥰🥰 sarangheo♥️♥️💋💋🥰😘😘...