Langit Untuk Bintang

Langit Untuk Bintang
berbohong


__ADS_3

"Bintang..!!"


Baik Langit maupun Bintang sama-sama menoleh. Mata keduanya melebar. Pun sorot mata keduanya yang sama-sama menunjukkan ketekejutan dengan kehadiran sosok tersebut.


"B-bunda.." Gumam Bintang membuat Langit menoleh dengan dahi berkerut.


"Bunda?". Bukan hanya Langit yang membeo, Sam dan Roman yang berdiri dibelakang bunda bersama Bulan pun sama terkejutnya.


Wanita yang Bintang panggil bunda itu segera mendekat ke arah ranjang Bintang. Sorot mata penuh kekhawatiran itu terlihat dengan sangat jelas hingga membuat Bintang kembali diliputi perasaan bersalah.


"Kamu kenapa lagi sayang?". Langit menggeser tubuhnya, memberi ruang yang cukup untuk wanita yang ia kenal itu.


"A-aku ng-nggak apa-apa bun.." Lirih Bintang sambil sesekali melirik Langit. Juga Roman dan Sam yang kini menatapnya penuh kecurigaan sekaligus keterkejutan.


Bunda melepaskan pelukannya dan menangkup wajah Bintang. Masih ada beberapa bagian yang menyisakan darah yang sudah mengering.


Sementara Langit tak melepas tatapannya dari Bintang dan wanita yang jelas sangat ia tahu siapa.


Tidak berbeda dengan Langit, Sam dan Roman pun sama bingungnya. Ditambah melihat reaksi dari wanita yang berstatus sebagai istri seorang Henry Laksmana terhadap Bintang.


Mereka mengenal Bintang sebagai sosok gadis sederhana. Lalu bagaimana bisa seorang wanita yang berstatus istri seorang pengusaha kaya raya itu dipanggil Bintang sebagai bunda.


Siapa yang tak mengenal Ratih Laksmana, istri kedua seorang pengusaha ternama tanah air yang bisnisnya merajai setiap bisnis di tanah air. Lalu bagaimana bisa wanita anggun itu kini ada dihadapan mereka.


"Apa mungkin Bintang adalah putri bungsu yang disembunyiin itu?". Batin Langit juga kedua antek-anteknya.


Bintang menyadari situasi ini, ia melirik ketiga lelaki didalam ruangan itu yang terlihat bingung. Ia kemudian melirik Bulan untuk meminta bantuan.


Bulan hanya bisa menggeleng pelan sebagai tanda ia juga bingung bagaimana caranya menjelaskan pada ketiga lelaki yang kini menatap penuh kecurigaan pada Bintang.


"Kenapa bisa terluka seperti ini?". Tanya bunda membuat Bintang tersadar.


"T-tadi nggak sengaja jatuh bunda.." Bunda menatap Bintang penuh selidik. Seolah tak percaya dengan apa yang diucapkan Bintang tentang alasan luka nya.


"B-bunda, t-tolong jangan bilang sama ibu ya.." Alis bunda berkerut mendengar permintaan Bintang. Apalagi tangan Bintang yang meremas lembut tangannya saat ini.


Mata Bintang seolah berbicara dan meminta pertolongannya. Dan bunda Ratih baru menyadari jika ada anak muda lain selain putrinya dan Bulan yang tadinya mengikuti dirinya.


"Ibu?". Gumam Langit semakin bingung saja. Jika wanita anggun didepan mereka ini di panggil Bunda oleh Bintang, lalu siapa ibu yang dimaksud Bintang?


Otak Langit terasa panas memikirkan hubungan antara Bintang dan nyonya Ratih. Pun dengan Roman dan Sam.


Bunda menatap Bintang, sorot mata putri sambungnya itu mengisyaratkan untuk membantu menutupi statusnya.


"Bintang mohon bunda..jangan sampai ibu tahu". Bunda tahu, siapa sosok 'ibu' yang Bintang maksudkan.


Ibu yang Bintang maksudkan adalah ayahnya, Henry Laksmana. Ingin rasanya bunda mengumumkan jika gadis yang kini terbaring karena luka dikepalanya itu adalah putrinya. Namun melihat sorot memohon putrinya itu membuat bunda tak tega.

__ADS_1


Beberapa saat lalu, saat bunda menyusul ayah ke sekolah Bintang untuk memberikan dokumen yang tertinggal, tanpa sengaja bunda mendengar para siswa membicarakan seorang siswi yang terluka dibagian kepalanya.


Awalnya bunda tidak terlalu peduli, hanya sekedar merasa iba saja. Namun setelah mendengar nama siswi yang terluka, jantung bunda seolah dilepaskan paksa dari tempatnya.


Bunda memilih menyuruh pengawalnya untuk memberikan dokumen pada ayah yang masih diruang kepala sekolah dan segera berlari menuju ruang kesehatan setelah bertanya pada beberapa siswa.


Awalnya pengawal bunda tidak mengizinkan bunda pergi, namun bunda berhasil meyakinkannya hingga akhirnya si pengawal menuruti perintah bunda.


Beruntung pula bagi Bintang karena si pengawal bayangannya tengah cuti dalam pekerjaannya. Hingga Alex, si pengawal bayangan tak melaporkan pada ayah perihal kejadian yang baru saja terjadi.


"Bu Ratih?". Bunda segera menoleh saat mendengar seseorang memanggil namanya.


"Benar bu Ratih ternyata..suatu kehormatan bisa bertemu dengan anda". Bunda masih menggenggam tangan Bintang yang sejak tadi terasa dingin, mungkin Bintang sangat takut jika dirinya membuka semua rahasia Bintang.


"Pak Budi ya.." Bunda tersenyum setelah mengingat sosok yang baru saja menyapanya.


"Ah senang sekali, nyonya Laksmana rupanya mengingat saya.." Terlihat jelas pak Budi sangat menghormati bunda.


"Pak Budi berlebihan.." Bunda merendah, karena memang seperti itulah bunda. Sosok rendah hati dan ramah. Tapi jika sudah mengamuk, maka jangan tanyakan bagaimana mengerikannya.


"Maaf jika pertanyaan saya lancang.." Pak Budi terlihat ragu untuk bertanya. Namun melihat bunda menggenggam tangan Bintang menyelipkan suatu rasa penasaran yang besar di benak guru olahraga Bintang itu.


"Bapak pasti penasaran kenapa saya ada disini bukan?". Pak Budi mengangguk pelan, takut menyinggung nyonya besar Laksmana. Bunda paham dengan situasi ini. Ia melirik putrinya yang masih memasang wajah sendu dengan tatapan memohon.


"Bunda mau semua orang tahu kalau kamu itu putri bunda sayang..bunda ingin menghukum siapapun yang menyakiti kamu. Tapi kenapa kamu menyulitkan bunda dengan tatapan mata itu.." Bunda berperang dengan batinnya.


"Maaf bu Ratih jika saya lancang.." Pak Budi kembali menundukkan kepalanya.


Bunda merasakan remasan tangan Bintang semakin kencang, ia tahu putrinya ketakutan. Takut jika dirinya benar-benar menyampaikan berita ini pada ayahnya.


Bunda tatap wajah Bintang yang masih pucat, sungguh bunda tak suka melihatnya. Melihat perban yang menutup pelipis Bintang bahkan sebagian alisnya pun ikut tertutup.


"Satu kali..hanya satu kali ini saja bunda akan diam dan tidak mengatakan apapun pada ibumu. Tapi kalau sekali lagi kamu terluka, bunda benar-benar tidak bisa membantu lagi". Air muka Bintang langsung berubah cerah, kepalanya mengangguk cepat dengan seulas senyum lebar.


Bunda menghela nafas, meyakinkan diri jika kali ini dirinya tidak salah mengambil keputusan dengan menyembunyikan kondisi Bintang dari suaminya.


"Satu kali ini Ratih, hanya satu kali lagi. Jangan luluh lagi nantinya.." Bunda meyakinkan diri sebelum kembali menatap pak Budi dan teman-teman Bintang yang tengah menunggu penjelasannya.


"Bintang ini anak dari seseorang yang sudah saya anggap sebagai saudara saya sendiri pak.." Semakin terkejut saja semua orang mendengar penuturan bunda.


"Makanya saya juga menyayangi dia seperti putri kandung saya sendiri". Imbuhnya lagi.


"M-maksudnya bu?", Pak Budi bersuara meski sedikit terbata.


"Maksud saya.."


"Maksud bunda, maksud saya bu Ratih. Ibu saya, bekerja dirumah beliau pak. Ya, ibu saya bekerja di rumah beliau.." Bunda langsung menoleh mendengar ucapan Bintang. Ada tatapan tak suka dengn apa yang Bintang ucapkan.

__ADS_1


"Iya kan, bunda?". Akhirnya bunda mengiyakan walaupun berat rasanya.


Pak Budi mengangguk paham, namun tidak dengan tiga sekawan yang justru semakin terlihat curiga. Menatap Bintang dengan tatapan penuh curiga.


"Kita pulang ya.." Bunda mengajak Bintang namun Bintang langsung menggeleng.


"B-Bintang tidur dirumah Bulan dulu ya, Bunda? Bintang..Bintang takut ibu marah dan juga khawatir melihat kondisi seperti ini". Bunda kembali menghela nafas, dirinya sudah memutuskan menutupi kasus ini, maka mau tak mau pun dirinya harus menyetujui permintaan Bintang yang ini.


"Pak Budi.."


"Ya, saya bu.." Pak Budi menyahut cepat saat bunda memanggilnya.


"Maaf sebelumnya, apakah boleh tinggalkan kami berdua sebentar?". Tanya Bunda lembut yang langsung dijawab anggukan kepala oleh pak Budi.


"Tentu, tentu saja bisa bu. Sebanyak yang anda butuhkan". Pak Budi membungkuk sedikit, menyuruh Roman dan Sam serta Bulan untuk keluar.


"Langit! Ayo keluar dulu!". Pak Budi memanggil Langit yang masih mematung di ujung ranjang Bintang sambil mengawasi setiap interaksi Bintang dan Bunda.


"Saya permisi dulu bu.." Bunda mengangguk dengan seulas senyum saat Langit berpamitan sambil membungkuk sedikit.


Bunda menatap pintu, memastikan semua orang sudah keluar sebelum kini matanya menyorot sang putri dengan tajam.


Jika boleh jujur, Bintang lebih takut diinterogasi bunda dibandingkan sang ayah. Karena baginya, lebih sulit membohongi bunda daripada ayah.


"Bintang?". Panggilannya begitu lembut, namun mampu membuat jantung Bintang terpompa lebih cepat.


"Aaaaah, mati gue". Batin Bintang berteriak keras. Ingin rasanya ia kabur, tapi tak akan mungkin bisa.


"Maaf bunda..Bintang kurang hati-hati, jadi---"


"Jadi kami tidak bisa menghindar saat temanmu mendorong tubuhmu. Begitu?". Bintang memejamkan matanya, harusnya ia tak perlu berbohong pada Bunda. Karena hasilnya hanya akan sia-sia.


"Tadi itu---"


"Jangan coba bohong Bintang". Bintang yang menunduk segera mengangkat wajahnya. Raut penuh kekhawatiran jelas nampak di wajah ibundanya itu. Dan itu mampu membuat Bintang semakin merasa bersalah.


"Maafin Bintang, bun". Bintang memeluk bunda erat.


"Bintang janji bun, Bintang janji ini yang terakhir kalinya Bintang bikin bunda khawatir. Bintang janji setelah ini, Bintang akan lebih berhati-hati". Bunda luluh, ia elus dengan lembut punggung Bintang penuh kasih sayang.


"Berjanjilah. Karna bunda nggak mau lihat kamu terluka, nak". Bintang mengangguk cepat.


"Kamu sudah melanggar janji satu kali. Jangan pernah menghalangi bunda untuk mengumumkan siapa kamu sebenarnya jika sampai ini terulang. Hari ini bunda sudah berbohong pada banyak orang. Jangan sampai terulang seperti ini lagi sayang.." Bintang kembali mengangguk dalam pelukan Bunda. Ia tahu sebelumnya ia pernah berjanji, dan kini ia ingkari.


Intinya, dirinya harus lebih berhati-hati dan menjauhi si biang masalah saja. Ya, Bintang hanya perlu menjauh dari Langit dan Catherine. Jika itu ia lakukan, maka hidup tenangnya yang dulu akan kembali lagi.


...¥¥¥•••¥¥¥...

__ADS_1


...Meskipun udah malem banget, aku penuhi janjiku untuk kasih double up😊 semoga kalian suka🥰🥰...


...Sarangheo sekebon readers🥰🥰💋💋😘😘😘💐♥️happy reading🥰🥰😊...


__ADS_2