Langit Untuk Bintang

Langit Untuk Bintang
keponakan laki-laki


__ADS_3

Langit masuk kedalam ruangan bersama beberapa petugas medis dan dokter. Entah kapan pemuda itu keluar untuk memanggil para medis.


Bintang sudah menangis. Ketakutannya terlalu besar. Ia takut Naura akan seperti ibu dan meninggalkan dirinya untuk selamanya.


"Kakak nggak apa-apa, dek. Jangan nangis". Bahkan ditengah kesakitannya, Naura masih mencemaskan Bintang. Apalagi melihat adiknya itu menangis tersedu-sedu.


"Bunda titip Bintang dulu, ya". Langit yang sejak tadi menatap Bintang akhirnya menoleh menatap bunda yang juga menatap dirinya.


Langit yang akhirnya paham maksud ucapan bunda mengangguk dan berjalan mendekati Bintang yang menangis disisi ranjang.


"Ayo, kita tunggu diluar". Langit mendekap pundak Bintang yang masih enggan meninggalkan Naura meski kini tubuhnya semakin gemetar karena takut.


"Tapi kak Naura.."


"Ada dokter. Ada kak Juna sama Bunda juga..kita tunggu diluar aja". Bujuk Langit lembut. Bunda yang kini sudah ada disamping menantunya tersenyum lembut mendengar Langit membujuk Bintang dengan suara yang amat lembut.


Akhirnya Bintang pasrah dan mengikuti apa yang Langit ucapkan. Lagipula keberadaannya tidak membantu apapun.


"Aaaakkhh.." Naura menjerit saat merasa semakin sakit diperutnya.


"Kak Naura.." Bintang yang masih didalam ruangan berbalik dan semakin takut saat mendengar jeritan Naura.


"Ayo.." Langit sedikit memaksa Bintang. Ia yakin tidak akan baik bagi Bintang jika memaksakan diri tetap berada didalam ruang persalinan Naura.


Bintang yang sejak tadi mencoba meredam suara tangisnya akhirnya tak bisa lagi menahannya. Suara tangisnya pecah, terasa mengiris hati siapapun yang mendengarnya. Tubuhnya bergetar menandakan tangisannya, Bintang menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya.


Langit yang belum tahu tentang ketakutan Bintang terlihat bingung saat Bintang menangis pilu.


Akhirnya ia mendudukkan dirinya disamping Bintang dan menarik Bintang masuk kedalam pelukannya.


Langit tidak berniat menyela tangisan Bintang, ia hanya diam dan memeluk Bintang sambil sesekali mengelus punggung Bintang yang masih bergetar.


"Kak Naura baik-baik aja, Bin". Setelah cukup lama diam, akhirnya Langit bersuara.


"Semua wanita pasti bakal ngerasain apa yang kak Naura rasain". Bintang semakin membenamkan wajahnya kedada bidang Langit. Menyembunyikan wajahnya yang penuh air mata.


"Gue nggak tahu kenapa elo sebegitu takutnya sama rumah sakit.." Langit menjeda ucapannya, namun sepertinya Bintang belum berniat menunjukkan wajahnya pada Langit.


Rupanya Langit memahami situasi saat melihat bagaimana takutnya Bintang tadi. Ia juga teringat saat Bintang menjenguknya, berulang kali gadis itu melirik punggung tangannya yang tertancap jarum infus. Ia ingat sekali bagaimana tatapan takut Bintang kala itu.


Yang tidak ia ketahui adalah alasan dibalik ketakutan Bintang terhadap segala hal yang berbau rumah sakit.

__ADS_1


"Tapi percaya sama gue. Kak Naura sama anaknya bakal baik-baik aja". Langit akan mencari tahu nanti mengapa Bintang sangat takut dan tidak suka pada hal-hal mengenai rumah sakit. Yang menjadi tugas utamanya kini adalah menenangkan Bintang.


"Yang harus kita lakuin sekarang itu cuma doain kak Naura sama calon anaknya". Tangisan Bintang mulai mereda, terlihat dari bahunya yang tak lagi berguncang.


Langit masih senantiasa memeluknya dan mengelus punggung gadis yang ternyata sudah masuk terlalu dalam kehatinya. Bahkan sepertinya gadis itulah yang kini menguasai hati Langit sepenuhnya.


Langit tidak suka melihat Bintang menangis dan bersedih seperti saat ini. Ia lebih suka melihat Bintang mengomel atau memakinya sekalipun.


"Kita doain kak Naura bisa lahirin anaknya, dan semoga anaknya lahir dengan selamat. Pun sama ibunya". Bintang mendongak, menatap Langit yang juga tengah menatapnya.


Sesekali cairan bening itu masih jatuh membasahi pipi Bintang. Dan dengan lembut, Langit menghapusnya dengan ibu jarinya.


Tanpa keduanya sadari, sejak tadi ayah sudah berdiri dibelakang mereka. Mendengar semua yang Langit ucapkan untuk menenangkan putri bungsunya.


Ia meninggalkan rapat penting saat bunda menghubungi dirinya jika menantunya akan melahirkan. Bunda juga mengatakan jika Bintang sudah diberi tahu.


Itulah yang sebenarnya lebih membuat ayah khwatir, keberadaan Bintang dirumah sakit saja sudah membuatnya khawatir. Apalagi jika sampai Bintang melihat Naura kesakitan. Pasti putrinya itu akan semakin trauma dengan yang namanya rumah sakit.


Ayah tersenyum, menghela nafas lega saat melihat ada laki-laki yang sudah menenangkan putrinya.


Ayah merasa tidak salah jika menjodohkan Bintang dengan Langit. Ayah menilai Langit adalah pemuda baik dan bertanggung jawab. Terlepas dari segala kenakalan Langit selama ini.


Ya, ayah tahu segala kenakalan Langit. Bahkan sikap playboy Langit pun ayah tahu semuanya. Tapi melihat bagaimana Langit memperlakukan Bintang, membuat ayah yakin untuk melanjutkan pejodohan Langit dan Bintang.


"Lo tuh jelek kalo nangis tau.." Langit menghapus sisa air mata di pipi Bintang. Kemudian menyentil pelan dahi Bintang yang langsung mencebik kesal.


Ayah berpura-pura tidak mendengar apapun dan seolah baru saja datang. Ia berdehem pelan untuk menyadarkan dua remaja itu tentang kehadirannya.


"Ayah.." Bintang segera berdiri dan memeluk erat ayahnya.


"Bagaimana Naura?". Tanya ayah


"Kak Naura didalam yah.." Wajah Bintang yang sudah sempat tenang kini terlihat mendung lagi.


"Kenapa lama sih yah. Emang kalo orang lahiran lama?". Pertanyaan Bintangvmembuat ayah dan Langit saling menatap.


Bingung mau menjawab apa dengan pertanyaan Bintang.


"Bintang nggak mau punya anak nanti".


"Bintang!!!", Bintang berjingkat saat Langit dan ayah kompak memanggil namanya dengan suara sedikit meninggi.

__ADS_1


"Jangan berbicara hal buruk seperti itu". Ucap ayah yang sudah kembali bersuara lembut. Ia elus pucuk kepala putrinya yang kini menunduk.


Ayah membimbing Bintang untuk kembali duduk. Dibawanya Bintang kedalam pelukannya dan dielus pucuk kepalanya.


"Melahirkan itu adalah kodrat bagi wanita sayang.." Bintang semakin menunduk. Ia tahu apa yang ia ucapkan tidak seharusnya keluar dari bibir seorang wanita.


"Banyak pasangan yang rela melalukan program untuk mendapatkan anak. Jadi, ayah mohon..jangan pernah berkata seperti itu". Bintang mengangguk


"Maaf yah..Bintang cuma takut. Bintang takut seperti ibu.." Ayah menghela nafas panjang, memeluk erat putrinya itu.


"Kamu akan selalu baik-baik saja. Harus". Ayah mengeratkan pelukannya pada Bintang. Sedangkan Langit memilih diam sambil menatap interaksi ayah dan anak yang ada didepannya itu.


Tidak lama bunda Ratih keluar dari ruang persalinan yang sekaligus kamar rawat Naura. Wajahnya tampak berseri dengan sisa lelehan air mata.


Semua kompak menatap bunda kemudian berdiri dan menghampirinya. Semua menatap bunda penuh tanya membuat senyum mengembang di bibir bunda. Bahkan Langit pun menantikan kabar apa yang akan diberikan Bunda.


"Naura sudah melahirkan..seorang anak laki-laki". Semua tahu, ada kebahagiaan besar di setiap apa yang bunda sampaikan.


"Alhamdulillah.." Seru ketiganya kompak. Tampak kelegaan di wajah Bintang dan ayah maupun Langit.


Entah mengapa Langit merasa ikut lega. Seolah yang tengah melahirkan adalah kerabatnya sendiri.


Bintang memeluk ayah dan bunda, air mata yang kini mengalir di kedua pipinya adalah air mata kebahagiaan.


"Kak Naura udah ngelahirin, Lang". Bintang beralih pada Langit dan memeluknya erat. Menyalurkan kebahagiaan sekaligus kelegaan yang tengah ia rasakan.


"Iya.." Langit balas memeluk Bintang sambil menatap sungkan pada kedua orang tua Bintang yang kini memperhatikan mereka.


Entah sadar atau hanya spontanitasnya saja Bintang sampai memeluk Langit. Yang pasti Langit bahagia sekali saat ini. Ia merasa menjadi bagian dari keluarga Bintang.


"Gw punya keponakan Lang. Keponakan laki-laki". Bintang melepaskan pelukannya, senyumnya masih tak luntur bahkan kini terlihat semakin lebar saja senyum yang menghiasi wajah cantik itu.


"Bintang mau lihat, bun". Bunda menahan Bintang yang hendak masuk kedalam ruangan Naura. Membuat dahi Bintang berkerut.


"Kak Naura sedang dibersihkan. Baby nya juga sama..tunggu sebentar lagi ya". Meskipun sebenarnya sudah tak sabar, tapi Bintang mengangguk patuh. Kembali duduk meski tidak tenang dan terus bergerak sejak tadi.


Langit yang gemas hanya bisa mengacak gemas kepala Bintang. Membuat gadis itu menoleh dengan senyum menawan yang tak luntur sedikitpun dari bibir yang pernah Langit cicipi itu.


Ayah dan bunda saling menatap kemudian tersenyum saat melihat bagaimana lembutnya Langit memperlakukan putri tercinta mereka.


...¥¥¥•••¥¥¥...

__ADS_1


...Satu lagi buat readers semua dan semoga suka🥰🥰...


...Happy reading kalian semua..makasih yang masih setia dukung dan baca🙏🏻😘🥰💋💐...


__ADS_2