Langit Untuk Bintang

Langit Untuk Bintang
nasib Catherine 1


__ADS_3

"Pelan-pelan dong Sam. Kaki gw masih sakit". Sam berdecak kesal mendengar ocehan Bulan.


"Tadi gw jalan pelan, lo ngomel. Sekarang lebih cepet masih juga ngomel. Maunya gimana sih elo tuh". Omel Sam yang kesal karena Bulan yang labil.


"Galak banget sih. Kan kaki gw juga masih sakit, yang pengertian dong". Bulan tak mau kalah membuat Sam kembali berdecak sebal.


"Itu suara Bulan kan?". Bintang yang sedang diobati oleh Langit mencoba menajamkan pendengarannya.


"Aw, pelan-pelan gw bilang juga". Suara Bulan semakin jelas terdengar. Membuat Bintang langsung bangun dari duduknya, namun Langit menahannya.


"Gw mau nemuin Bulan". Ucap Bintang


"Duduk disini, gw yang panggilin". Langit bangkit, berjalan keluar bilik dimana Bintang sedang ia obati.


Diluar bilik, ia melihat Sam dan Bulan yang sedang berdebat. Ia berdecak kesal kemudian berjalan menghampiri keduanya.


"Ribut mulu lo berdua. Gw kawinin lo lama-lama". Bulan dan Sam yang tengah berdebat langsung menatap ke sumber suara.


"Kok elo disini? Bintang mana??", Bulan berjalan lebih cepat menghampiri Langit.


"Gw disini Bul.." Bintang berteriak dari dalam biliknya. Membuat Bulan melepaskan pegangannya pada Sam dan berjalan pelan menuju sumber suara Bintang.


"Ck, jalan masih pincang juga ngotot banget nyariin Bintang". Gumam Sam yang melihat Bulan berjalan penuh semangat.


"Bintang!!!". Seru Bulan girang melihat sahabatnya.


Sam dan Langit saling menatap, kemudian mengendikkan bahunya. Masih saja heran melihat reaksi Bulan dan Bintang.


"Udah kaya nggak ketemu setaun aja". Gumam Langit yang rupanya didengar oleh Sam.


"Tau tuh bocah berdua". Balas Sam yang juga heran melihat kedua gadis itu.


Kedua pemuda tampan itu kemudian berjalan beriringan masuk kedalam bilik dimana Bintang berada.


Mereka mendapati Bulan dan Bintang tengah berpelukan, benar-benar sudah seperti terpisah bertahun-tahun saja.


"Kaki lo gimana?". Tanya Bintang menatap kaki Bulan yang masih terlihat sedikit bengkak.


"Udah mendingan. Tadi udah diurut sama Sam.." Bulan melirik Sam sekilas kemudian kembali fokus pada Bintang.


"Banyak banget luka nya.." Lirih Bulan yang melihat banyak luka diwajah Bintang, di leher bahkan ditangan pun ada.


"Si Catherine beneran jelmaan kucing kali ya. Liat, bekas cakaran semua". Ucap Bulan berapi-api sambil menunjuk semua luka yang ada di wajah dan lengan Bintang.


"Pasti sakit banget ya Bin?". Tanya Bulan dengan wajah berubah sendu.


"Maafin gw ya. Kalo tadi gw nggak jatoh, pasti lo nggak perlu sampe kaya gini". Bintang yang mendengar ucapan Bulan hanya menggeleng.


"Bukan salah elo. Ini emang salah si Catherine aja". Bintang menepuk pundak Bulan beberapa kali.

__ADS_1


"Lo berdua---" Bulan dan Bintang langsung menoleh, baru menyadari jika Langit dan Sam juga ada disana.


"Apa?". Tanya Keduanya kompak.


"Lo berdua bukan jeruk makan jeruk kan?". Pertanyaan Sam membuat Bulan dan Bintang langsung melotot galak menatap Sam yang nyengir sambil menggaruk tengkuknya yang sebenarnya tidak gatal.


"Sembarangan aja lo kalo ngomong!". Dan sebuah bantal melayang bebas hingga mengenai wajah Sam.


"Tau lo, kulkas. Kalo ngomong seenaknya kaga disaring-saring dulu". Sembur Bulan yang juga kesal mendengar ucapan Sam.


"Ya abis lo berdua kaya orang pacaran tau kaga sih". Sam masih bersuara, membuat Langit tersenyum.


Mungkin jika tidak pernah mendengar cerita tentang Bulan dan Bintang dari ayah, Langit pun akan berpikiran sama seperti Samudra.


"Kita tuh emang deket kaya gini. Jadi nggak usah mikir aneh-aneh lo". Ketus Bulan


"Iya-iya, sorry. Gitu aja ngamuk". Gumam Sam membuat Bulan mencebik.


Bulan dan Bintang terlibat obrolan seru, membicarakan hal apa saja yang Bintang lakukan pada Catherine sebelum dirinya dan yang lain sampai tadi. Dan Langit serta Sam hanya menjadi pendengar yang baik dari kedua gadis itu.


Mereka bahkan tidak sadar jika saat ini mereka tengah membolos pelajaran dengan berdiam diri diruang kesehatan.


Berbanding terbalik dengan suasana diruang kesehatan yang terlihat seru, diruang bimbingan konseling sekolah, suasana diruangan itu terasa begitu mencekam, khususnya untuk pak Baskoro dan Catherine serta kedua temannya.


"Kamu bisa ceritakan bagaimana awal kejadiannya", Suara Dewa memecah keheningan.


Tatapan matanya tertuju pada Catherine yang sejak tadi terus tertunduk.


"Pak Dewa, pak Juna dan bu Kiran. Apa boleh saya memberi saran?", Suara guru BK membuat semua menatapnya.


"Silahkan bu". Juna menyahut dengan tenang.


"Bagaimana kalau Bintang juga kita hadirkan disini beserta saksi yang lain.."


"Maksud saya, yang terlibat dalam kejadian ini kan bukan hanya Catherine, saya hanya tidak mau nanti cerita dari sebelah pihak akan memberatkan pihak lain". Meski sebenarnya takut, namun si guru bername tag Ety itu memberanikan diri untuk memberi saran yang menurutnya adil untuk semua pihak.


"Tentu saja, saya setuju. Tadi saya hanya ingin adik saya di obati dulu.." Bu Ety tampak menghela nafas lega.


"Nah, jadi guru tuh kaya gitu. Professional, bukannya bawa-bawa status dari rumah". Sindir Kiran tanpa ditutupi jika ia tidak menyukai pak Baskoro dan Catherine.


"Biar saya panggilkan Bintang, mungkin sudah selesai di obati". Bu Ety bangkit dari duduknya, namun pak Budi segera mencegahnya.


"Biar saya saja bu Ety, ibu disini saja". Bu Ety menatap pak Budi yang tersenyum.


"Kenapa pak Budi kaya begitu. Saya mau kabur dari ruangan sesak ini!". Isi hati bu Ety menjerit.


"Maaf bu, saya juga ingin menghirup udara normal diluar ruangan ini sebelum nanti kembali ke ruangan ini lagi": Mungkin itu arti senyuman pak Budi yang bisa bu Ety tangkap.


"Ah, baiklah. Terimakasih pak Budi, maaf merepotkan". Pak Budi kembali tersenyum lebar.

__ADS_1


"Tidak masalah bu..saya permisi sebentar pak, bu.." Pak Budi menundukkan kepalanya sedikit sebelum keluar secepat kilat dari ruang BK.


Mengelus dadanya beberapa kali setelah berada diluar ruang BK, otak pak Budi harus bekerja keras. Jadi ternyata murid kesayangannya itu adalah anak bungsu pemilik sekolah?? Ah bukan, bukan itu yang kini dipikirkan pak Budi.


Tapi bagaimana sekarang kondisi Bintang.? Terkahir ia lihat Bintang sangat berantakan dengan banyak luka cakar. Bahkan luka tamparan pak Baskoro membekas dengan jelas dipipi gadis itu. Sudut bibirnya bahkan terluka karena tamparan itu.


Akan jadi apa pak Baskoro dan putrinya nanti? Membayangkannya saja pak Budi merinding. Apalagi melihat tatapan membunuh dua kakak lelaki Bintang tadi.


"Selamatkan kami tuhan.." Sepanjang jalan menuju ruang kesehatan, pak Budi memanjatkan doa untuk kebaikan semua orang termasuk dirinya sendiri.


Sampai diruang kesehatan, pak Budi segera mencari keberadaan Bintang yang ternyata sedang berbincang dengan Bulan dan juga Langit dan Sam yang ada disana.


"Bintang.." Yang dipanggil segera menoleh.


"Iya pak.." Sahut Bintang sopan. Meskipun pak Budi sudah tahu siapa dirinya, itu bukan alasan bagi dirinya untuk bersikap kurangajar pada gurunya yang memang patut dihormati olehnya itu.


"Sudah selesai mengobati lukanya?". Tanya pak Budi sekedar basa-basi.


Bintang mengangguk sebagai jawaban atas pertanyaan pak Budi.


"Ikut bapak ke ruang BK ya. Kita selesaikan masalah ini secepatnya agar tidak berlarut". Ucap pak Budi. Siapapun Bintang, dirinya adalah seorang guru. Ia tidak mau membedakan murid dilihat dari statusnya, sama seperti yang selama ini ia lakukan. Memperlakukan semua murid dengan sama, apapun statusnya dan siapapun mereka.


Bintang menghela nafas panjang. Sebenarnya enggan kembali keruangan yang sama dengan Catherine dan ayahnya. Bintang takut kembali emosi dan justru memperkeruh masalah.


Tapi pak Budi benar, masalah ini harus secepatnya diselesaikan agar tidak berlarut. Lagipula ia juga menyadari jika ia juga turut bersalah karena langsung menampar Catherine tadi. Tapi meskipun begitu, Bintang tidak menyesal sama sekali telah menampar Catherine.


"Ayo pak, saya udah selesai diobati". Bintang turun dari ranjang dan siap ikut dengan pak Budi.


"Saya ikut pak!". Seru Bulan dan Langit serempak. Membuat pak Budi menatap keduanya.


"Saya jadi saksi pak. Kan sebelum ribut sama Bintang, Catherine ribut sama saya. Saya juga lihat pak Baskoro nampar Bintang tadi". Cerocos Bulan panjang lebar.


"Nggak usah Bul". Cegah Bintang, ia tak mau Bulan ikut terlibat.


"Saya juga ikut pak. Saya juga lihat pak Baskoro nampar Bintang. Kita bakal jadi saksi". Langit ikut menimpali.


"Lo berdua balik ke kelas aja, nggak usah ikut-ikutan lagi. Gw bisa selesaiin ini sendiri". Bintang tetap keukeuh melarang Bulan dan Langit. Apalagi kaki Bulan belum sembuh sepenuhnya.


"Nggak bisa!", Tolak Langit dan Bulan kompak, membuat Bintang dan pak Budi yang sejak tadi diam menghela nafas mereka panjang.


"Kita tetep ikut. Iya kan Lang?", Langit langsung mengangguk mengiyakan ucapan Bulan.


"Baik, kalian bisa ikut. Tapi tunggu diluar dulu sampai saya panggil. Baru kalian bisa masuk". Kedua anak muda itu mengangguk.


"Kalo gitu saya juga ikut pak. Saya juga lihat pak Baskoro nampar Bintang". Sam ikut bersuara. Ia mengangguk saja, karena di larangpun akan percuma juga.


...¥¥¥•••¥¥¥...


...Satu dulu ya..semoga nanti bisa kasih double up nya, sukur-sukur bisa kreji up😁☺️...

__ADS_1


...Happy reading readers..sarangheo banyakbanyak😘😘😘💋🥰💐♥️...


__ADS_2