
Dan disinilah saat ini Bulan berada. Disebuah rumah besar dan mewah milik keluarga Samudra. Kedatangannya sudah disambut hangat oleh mama Mira yang sejak sore sudah menantikan kehadirannya.
Bahkan sudah sejak tadi, mama Mira menyuruh Sam menjemput Bulan.
"Aaaaaa..gw makin kejebak sama permainan ini". Batin Bulan menjerit saat melihat mama Mira yang sudah berdiri didepan pintu. Apalagi melihat senyum tulus mama Mira, benar-benar membuat perasaan bersalahnya kian besar saja.
Meski Sam mengatakan untuk tidak memikirkan, dan akan membuat alasan agar dirinya tidak perlu datang. Nyatanya hati Bulan tak setega itu, membayangkan wajah kecewa mama Mira saja sudah membuatnya merasa berdosa. Ditambah ibu yang menyuruhnya untuk datang sebagai tanda menghargai atas semua kebaikan mama Mira.
"Ntar malem jemput gw Sam". Hanya itu pesan yang ia kirimkan pada Samudra sore tadi.
Membuat Sam langsung menghubunginya untuk memastikan maksud pesan yang Bulan kirimkan.
Sam tidak bisa membohongi hatinya, ada perasaan lega saat Bulan menerima undangan makan malam yang mamanya kirimkan.
"Aaa, Bulan cantik sekali.." Puji mama Mira melihat Bulan memakai gaun yang pernah ia belikan saat pertama kali berjumpa beberapa bulan lalu.
"M-makasih ma.." Sahut Bulan canggung.
"Ayo masuk..kita ngobrol didalam. Papa nya Sam juga sudah nggak sabar mau ketemu Bulan". Mama Mira tersenyum lebar.
glek..
Susah payah Bulan menelan salivanya yang terasa tersangkut di tenggorokan saat mama Mira menyebut jika papa Sam juga ada didalam.
Tiba-tiba Bulan merasa perutnya mulas, dan telinganya terasa berdengung. Takut akan seperti apa ayahanda Sam.
"Duh gw mules. Bokapnya si Sam kaya gimana ya? Jangan-jangan sama kaya si kulkas gini, apa lebih serem". membayangkannya saja Bulan sudah bergidik ngeri.
"Pa..lihat siapa yang datang". Seorang pria paruh baya dengan garis wajah yang sangat mirip dengan Samudra.
Tatapan matanya yang sama-sama tajam dan dingin membuat Bulan semakin takut saja.
"Tenang Bul..tenang". Meskipun tak berhasil membuat hatinya tenang, namun Bulan tetap menyemangati dirinya, jika semua akan baik-baik saja.
"Eh, bukannya malah bagus kan kalo bokapnya Sam kaga suka ama gw". Tiba-tiba Bulan tersenyum ramah pada papa Sam yang belum ia tahu siapa namanya.
"Kamu tidak selevel dengan kami. Tinggalkan putraku dan ini uang untukmu. Hihihi..siapa tau kaya di novel-novel yang suka gw baca kan". Bulan terkikik dalam hati membayangkan beberapa adegan didalam novel yang sering ia baca.
"Sayang, kenalkan. Ini papa Alan, papa nya Samudra". Mama Mira tak meluruhkan senyumnya sedikitpun. Memperkenalkan suaminya pada Bulan.
"Selamat malam om..perkenalkan, nama saya Bulan. Temannya Samudra". Bulan memperkenalkan dirinya sebagai teman Sam, bukan sebagai pacar.
"Dia gadis yang mama ceritakan, pa. Cantik kan". Puji mama Mira sambil mengelus rambut lurus Bulan yang malam ini dibiarkan tergerai.
"Oh, jadi ini ya yang namanya Bulan. Yang bikin Sam jatuh cinta".
__ADS_1
"Eh, kok jadi gini sih". Bulan bingung sendiri, kenapa jadi begini. Bahkan lelaki bernama Alan itu kini tersenyum ramah.
Semua yang ada dalam bayangan Bulan sirna dalam seketika melihat senyuman ayah Sam.
"Hah, ah..enggak om. Kita cuma temenan kok". Tidak bisa, Bulan harus membuat batasan jika tidak ingin terperosok semakin dalam.
"Tidak perlu malu-malu. Kamu ini hebat loh, selama ini Samudra anti sekali kalau sama perempuan". Bulan melongo, melirik Sam yang masih terlihat tenang tidak terprovokasi ucapan ayahnya.
"Eh tunggu. Ini bapaknya ramah, emaknya jangan ditanya lagi. Terus muka datar ama dinginnya ni anak nurun dari siapa woiii". Bulan jadi salah fokus dengan kepribadian Sam yang sangat berbeda dengan kedua orang tuanya.
"Mama udah ceritain semua tentang kamu sayang. Bahkan papanya Sam lebih semangat ingin bertemu gadis yang bisa bikin gunung es ini mencair". Seperti biasa, mama Mira selalu ceria.
Cukup lama mereka mengobrol di ruang tamu, hingga kedatangan bibi yang menyampaikan jika makan malam sudah siap membuat obrolan mereka terhenti.
"Ayo kita makan dulu.." Ajak papa Alan pada semua orang.
Bulan melongo melihat meja makan yang cukup besar itu penuh dengan berbagai makanan.
"Mama nggak tahu makanan apa yang disukai sama Bulan. Jadi papa bilang untuk memasak banyak jenis makanan saja". Bulan tidak bisa berkata-kata lagi mendengar penuturan mama Mira.
"Aaaa, jangan terlalu baik ma. Yang ada Bulan jatuh cinta sama kebaikan mama Mira". Bulan duduk tepat disamping Sam. Masih menatap meja makan yang terisi berbagai macam masakan.
"Harusnya tidak perlu repot begini ma.." Lirih Bulan merasa sungkan mendapat kebaikan berlebihan dari kedua orang tua Samudra.
"Sama sekali nggak repot, Bulan". Papa Alan tersenyum teduh.
"Ayo di makan, jangan sungkan".
"Terimakasih om.." Bulan menundukkan kepalanya sedikit.
"Jangan panggil om. Kamu panggil mama nya Sam kan mama. Harusnya panggil saya juga papa. Itu baru benar..Iya kan Sam?". Bulan melebarkan mata, dirinya benar-benar sudah terjebak dalam permainan mereka sendiri.
"Hem.." Sam hanya berdehem menanggapi ucapan ayahnya. Membuat papa Alan dan mama Mira tersenyum senang.
Bulan melirik tajam pada Sam yang nampak santai duduk disampingnya. Tidak terlihat keberatan sedikitpun, bahkan terkesan menikmati.
"Samudra s*alan!!!". Ingin sekali Bulan memaki Samudra yang telah menyeret dirinya sejauh ini.
"Gw pengen nempeleng kepala lo, Sam!!". Sam hanya tersenyum tipis melihat bibir Bulan komat-kamit.
Makan malam kali ini terasa berbeda karena kehadiran Bulan ditengah mereka. Papa dan mama Sam seperti belum percaya jika putranya sudah mempunyai kekasih.
"Bulan pamit dulu ya ma, p-pa". Bulan masih caanggung memanggil Alan, papa.
"Sering-sering saja main kesini, mama nya Sam suka kesepian". Hah, Bulan hanya bisa menghela nafas perlahan.
__ADS_1
"Kalo bisa saya nggak mau kesini lagi, om. Huaaaaa..pengen nangis gw".
"Haha, iya om..eh pa". Bulan tertawa kaku membuat Sam memalingkan wajah untuk menyembunyikan senyumannya.
Bulan terlihat lucu saat tegang berbalut kesal seperti saat ini.
"Lihat, sepertinya anak mu memang hanya bisa tersenyum jika sedang bersama pacarnya". Ucapan papa Alan membuat semua menatap Sam.
Akhirnya tepat pukul 9, Sam mengantarkan Bulan pulang. Memang sedikit lebih malam dari rencana. Karena mama Mira yang terus mengulur waktu membuat Bulan pulang kemalaman.
"Mama sudah telpon ibumu tadi..jadi tidak perlu takut". Ucapan mama Mira kembali terngiang, namun tetap saja Bulan cemas.
"Tenang aja, lo nggak akan dimarahin. Mama udah telpon ibu". Bulan menoleh menatap Sam yang selalu tahu apa yang dikhawatirkannya.
"Sam, kita udah terlalu jauh boongin semua orang. Gw takut nantinya bakal bikin semua orang kecewa sama kita". Bulan menyuarakan ketakutan hatinya.
Dapat Bulan dengar Sam menghela nafasnya panjang, sepertinya pemuda itu juga sama bingungnya.
"Ayo kita udahin drama ini, Sam. Seenggaknya.." Bulan tak melanjutkan ucapannya, karena sejujurnya juga ragu dengan apa yang baru saja terbesit dipikirannya.
"Aaaaa..kenapa lo bawa-bawa gw segala sih Sam". Percakapan yang tadinya serius berubah menjadi rengekan Bulan.
"Sekarang kita harus gimana dong??". Bulan benar-benar takut dengan apa yang sudah mereka mulai.
"Jangan diem aja sih.." Lama-lama kesal juga, Bulan sudah pusing tujuh keliling, tapi Sam tetap tenang dan diam.
"Samudra..!!!". Bulan berteriak memanggil Sam yang fokus menyetir.
"Pelanin suara elo.." Samudra mengelus telinganya yang terasa berdengung karena teriakan Bulan.
"Ngomong kek, dari tadi diem mulu. Serasa gw ngomong ama batu alam.." Sungut Bulan.
"Ya kita tinggal pacaran beneran, beres kan? Nggak ada bohongin orang tua lagi". Bulan langsung menatap Sam.
"Ha-hahaha, becandaan elo Sam". Bulan tertawa kaku, namun tawanya redup seiring dengan sorot mata serius Sam.
"Gila". Lirih Bulan yang mengalihkan pandangannya ke luar kaca mobil. Ia memilih diam dan tak melanjutkan keluhannya saat melihat sorot mata serius Sam.
"Gila!! Ini bener-bener gila! Lo gila Bulan!", Bulan memaki dirinya sendiri yang justru berdebar saat secara tidak langsung Sam memintanya menjadi pacar sungguhan.
...¥¥¥•••¥¥¥...
...Gantian ceritain Bulan dulu ya pemirsah, kasian dikacangin mulu🤭😅...
...Besok baru Bintang lagi.....
__ADS_1
...Nanti dikasih konflik satu lagi, terus udahnya kita beralih ke masa dewasa mereka ya☺️ Doain othornya biar dapet ide, terus bisa kasih up banyakbanyak buat readers😘...
...Happy reading semua, sarangheo♥️💋💋💋💐🥰😘😘...