
Sudah satu minggu ini sekolah libur. Bintang merasa jenuh dirumah dan menelpon Bulan untuk mengajaknya jalan-jalan. Sekedar nonton dan makan bersama untuk menghilangkan rasa bosan.
Bintang sudah rapi dengan pakaian casualnya. Seperti biasa, Bintang tidak pernah mau memakai pakaian yang menampakkan lekukan tubuhnya yang bisa dibilang mendekati sempurna itu.
Karena itulah ia memilih memakai baju yang longgar untuk sedikit menyamarkan asetnya yang memang menjadi idaman banyak gadis.
"Kamu sudah siap nak?". Bunda yang tengah bersantai diruang keluarga bertanya saat melihat penampilan Bintang yang sudah rapi.
"Iya bun.." Mendekat pada Bunda kemudian duduk tepat disampingnya. Bintang menyandarkan kepalanya pada pundak bunda. Tangannya merangkul erat lengan sang bunda.
Bintang memejamkan matanya saat tangan lembut bunda mengelus kepalanya. Terasa sangat nyaman dan membuat Bintang merasa damai.
"Kamu sudah besar nak.." Suara lembut bunda tak membuat Bintang segera membuka mata. Bintang memang selalu sedekat ini dengan bunda. Bahkan sejak pertemuan pertama mereka beberapa tahun silam.
Sikap keibuan bunda selalu bisa membuat Bintang betah berlama-lama didekat bunda. Bahkan kini Bintang lebih menunjukkan sikap manja nya pada bunda katimbang pada ayah.
"Pakailah, ajak Bulan belanja. Bunda lihat kalian sudah lama tidak berbelanja". Bintang menatap kartu yang disodorkan bunda. Selama ini memang Bintang tak pernah kekurangan materi.
Baik bunda maupun ayah selalu memberinya cukup uang, bahkan lebih sehingga Bintang sudah memiliki tabungan yang cukup gendut untuk ukuran pelajar.
"Bintang masih punya uang, bunda". Tolak Bintang halus. Namun bunda menggeleng tegas.
"Pakailah..simpan uangmu". Bunda tetap mengasongkan kartu miliknya pada Bintang.
"Tanggal, bulan dan dua angka terakhir tahun lahirmu". Ucap bunda setelah Bintang menerima kartu yang bunda berikan.
Bintang tersenyum haru, bahkan hal pribadi milik bunda pun masih menggunakan tanggal kelahirannya untuk pin kartunya. Sebegitu besar kasih sayang bunda untuk Bintang. Hingga segala hal selalu berkaitan dengan Bintang.
"Makasih bunda". Bintang memeluk bunda, menghadiahkan ciuman bertubi-tubi dipipi bunda sebagai bentuk rasa sayang dan terimakasihnya pada wanita yang sudah menyayangi dirinya bertahun-tahun ini.
"Bintang sayaaaang banget sama bunda". Bintang mengeratkan pelukannya pada bunda yang tersenyum lebar. Ungkapan sayang Bintang bukan kali pertama bunda dengar, namun selalu berhasil membuat hatinya bahagia setiap kali mendengarnya.
"Bunda jauh lebih menyayangimu". Bunda balas pelukan Bintang tak kalah eratnya. Ia kecup pucuk kepala Bintang beberapa kali.
"Bintang tahu.." Sahut Bintang yang melonggarkan pelukannya.
Naura datang membawa sepiring buah yang sudah ia potong-potong. Melihat kedekatan bunda dan Bintang selalu bisa membuat senyumnya mengembang sempurna.
Ia merasa sangat beruntung menjadi bagian keluarga ini. Keluarga yang saling menyayangi dan tak pernah memandang seseorang hanya karena harta dan kedudukan saja.
"Hati-hati nak.." Naura kembali tersenyum, bunda memang wanita penuh perhatian. Tidak hanya pada Bintang, namun pada dirinya dan Kiran yang menjadi menantunya pun Bunda sangat perhatian.
Bintang berpindah dan duduk disebelah Naura. Seperti apa yang setiap hari ia lakukan, Bintang mengelus perut besar kakak iparnya. Ia bahkan tak segan-segan merebahkan kepalanya dipangkuan Naura dan menempelkan telinga diperut besar kakak iparnya itu.
"Tok tok.." Naura terkekeh melihat tingkah menggemaskan Bintang.
"Ish, kamu kira perut kakak ini pintu.." Naura mengelus kepala adiknya yang ada dipangkuannya.
"Keponakan aunty lagi apa?". Setiap harinya, Bintang tidak pernah melewatkan kesempatan untuk menyapa calon keponakan pertamanya yang masih ada didalam perut Naura.
"Aku lagi bobok aunty.." Sahut Naura menirukan suara anak kecil.
__ADS_1
"Kamu jangan nakal ya didalam. Jangan bikin mama kesakitan.." Bintang masih mengelus perut Naura yang terharu setiap mendengar adik iparnya menunjukkan perhatian pada dirinya dan calon anaknya.
"Kalau nanti kamu mau keluar, jangan bikin mama kamu kesakitan ya. Mama kamu cengeng, suka nggak tahan sakit sama gampang nangis". Naura mendengus namun sesaat kemudian tertawa karena apa yang dikatakan Bintang memang benar adanya.
"Baik-baik ya didalam..aunty mau jalan-jalan dulu sama aunty Bulan. Bosen aunty tiap hari dirumah terus".
"Hati-hati aunty.." Naura kembali menjawab. Setelah puas mengobrol dengan calon keponakannya dan mendaratkan ciuman diperut Naura, Bintang bangkit dan duduk disamping Naura.
"Lalu dimana Bulan, dek?". Tanya Naura yang belum melihat sahabat baik adik iparnya itu datang.
"Dia nggak kesini kak. Kita janjian di mall". Naura mengangguk paham.
"Kapan dia keluar kak? Bintang udah nggak sabar mau gendong". Naura tersenyum, menjembel pipi adik iparnya dengan gemas.
"Perkiraan dokter satu minggu lagi". Jawab Naura.
"Hai kamu..lahir lah sebelum aunty kembali masuk ke sekolah. Agar aunty bisa melihat kalian dilahirkan". Bintang kembali mengelus perut Naura.
Bunda menggeleng mendengar ucapan Bintang. Ada-ada saja putrinya itu.
"Mana ada request seperti itu. Kamu ini suka aneh-aneh". Bintang hanya nyengir
"Siapa tahu dia menurutiku kak. Dia kan tahu kalau aku sangat menyayanginya sejak masih dalam perut". Naura mengangguk, memang benar apa yang dikatakan Bintang. Bahkan beberapa kali, Bintang lah yang susah payah memenuhi ngidamnya.
"Udah ah, keburu sore banget. Bintang pergi dulu ya bun, kak.." Kedua wanita beda usia itu mengangguk saat Bintang pamit.
"Sayang, naik apa?". Tanya bunda
"Hati-hati dijalan sayang". Bunda mengelus kepala Bintang saat gadis itu mencium punggung tangannya.
"Siap komandan". Bunda terkekeh, pun dengan Naura. Meskipun hampir berusia 17tahun, Bintang tetap terlihat menggemaskan dimata mereka.
Bunda mengantar Bintang sampai diteras rumah. Memastikan Bintang masuk kedalam taksi yang akan membawanya ke pusat perbelanjaan dengan aman.
"Dia sudah besar.." Gumam bunda yang menatap taksi yang ditumpangi Bintang bergerak menjauh dari pelataran rumahnya.
---
Bintang mengeluarkan ponselnya, mencari nama Bulan dan kemudian menghubunginya untuk menanyakan apakah sahabat baiknya itu sudah datang atau belum.
"Dimana?". Tanya Bintang saat telepon sudah tersambung.
"Masih dijalan nih, agak macet soalnya. Tapi bentar lagi nyampe kok". Dari sebrang sana suara Bulan terdengar.
"Makan dulu aja ya..gw tunggu di resto biasa". Bintang kembali bersuara.
"Oke, pesenin kaya biasanya ya. Bentar lagi nyampe kok". Bintang mengangguk meskipun Bulan tak akan melihatnya.
Setelah berbincang sejenak, Bintang mematikan ponselnya dan kembali memasukkannya kedalam tas selempang kecil yang ia pakai.
Ia bergegas menuju restoran yang memang menjadi tempat makan favoritnya dan Bulan.
__ADS_1
Bintang duduk dan tak lama pelayan datang memberikan buku menu padanya. Tanpa melihat buku yang diberikan pelayan, Bintang memesan dua porsi makanan yang memang menjadi kesukaannya dan Bulan.
"Toilet dulu deh". Gumam Bintang yang kemudian bergegas menuju toilet.
Bulan yang baru datang mengedarkan pandangannya keseluruh isi restoran untuk mencari keberadaan Bintang.
"Ni bocah kemana sih?", Gumam Bulan bertanya pada dirinya sendiri.
Bulan merogoh tasnya untuk mencari ponsel miliknya. Beberapa kali mencoba menghubungi Bintang namun tak mendapat jawaban.
Akhirnya Bulan menuliskan pesan pada Bintang jika saat ini dirinya sudah sampai di restoran yang sudah mereka sepakati untuk bertemu.
"Sayaaang.." Sebuah teriakan dari suara yang cukup Bulan kenal membuatnya mengangkat wajahnya yang tengah tertunduk menatap layar ponsel.
Tatapan matanya bertemu dengan mata tajam seorang pria yang tengah tersenyum entah pada siapa.
Bulan tolehkan kepala ke belakang untuk melihat barangkali ada orang lain yang tengah disapa oleh lelaki itu.
"Sayang.." Kembali lelaki itu berteriak memanggil 'Sayang' yang membuat kening Bulan berkerut.
Ia kembali menoleh kebelakang, namun hasil sama seperti sebelumnya. Tak ada seorangpun di belakangnya.
Lalu siapa yang laki-laki itu panggil dengan sebutan 'sayang' ??
Alis Bulan semakin berkerut saat melihat lelaki yang tak lain adalah Sam itu berjalan cepat menghampirinya, diiringi tatapan tiga pasang mata wanita yang tak ia kenali.
Bulan menatap Sam kemudian menatap tangan lelaki itu yang kini sudah merangkul pundaknya dengan mesra. Bulan melakukannya berulang kali untuk memastikan jika laki-laki itu memang benar Sam.
"Sam?". Gumam Bulan seolah bertanya apa maksud Sam saat ini.
"Lo harus bayar utang ke gw sekarang". Bulan menjauhkan kepalanya saat Sam berbisik tepat ditelinganya.
"Utang ap---" Sam sudah menariknya sebelum Bulan selesai bertanya.
Belum sepenuhnya Bulan mengerti, Sam sudah membawanya mendekat ke meja yang berisi tiga orang wanita. Dua diantaranya mungkin berusia 50an, sedangkan satu lainnya mungkin seusia dengannya dan Sam.
"Ini pacar Sam, ma". Mata Bulan melebar menatap Sam yang memasang senyum semanis madu. Apalagi wanita yang Sam sebut 'ma' itu tersenyum padanya.
"A-pa mak---"
"Sayang kenalin, ini mama aku". Mata Bulan semakin melebar mendengar penuturan Sam. Apa maksud laki-laki ini mengenalkannya sebagai pacar didepan ibunya.
"Kenalin ma, namanya Bulan.." Mata Sam mengedip pelan saat menatap Bulan yang terlihat kebingungan.
"H-halo tante, nama saya B-Bulan".
...¥¥¥•••¥¥¥...
...Hayoloh Bulan, ujugujug udah dikenalin sama mak nya si Sam😂😂 panik nggak? Panik nggak? Ya panik atuh ya Bulan ya😂😂...
...Si Sam kelakuan, anak orang main tarik-tarik aja😏 Gimana kalo si Bubul kena serangan jantung coba?🤦🏼♀️😪...
__ADS_1
...Double up ya, semoga hari ini juga bisa kreji up kaya dua hari kemarin🥰😊 Happy reading kaliaaan🥰🥰☺️ sarangheo sekebon😘😘😘🥰💋💐♥️...