Langit Untuk Bintang

Langit Untuk Bintang
strategi perang


__ADS_3

Disebuah gedung tinggi menjulang, tampak seorang wanita anggun baru saja menginjakkan kaki nya di lobby perusahaan.


Ia membalas sapaan karyawan dengan senyum menawannya. Membuat siapa saja akan berdecak kagum melihat bagaimana rupa dari istri si pemilik perusahaan itu.


"Selamat pagi bu.." Sapa resepsionis yang sudah sangat mengenal wanita cantik itu.


"Pagi.." Balasnya tak kalah ramah.


"Bapak ada?". Tanya nya masih dengan ramah.


"Ada bu.." Dalam hati, para respsionis yang bertugas dibagian depan kantor itu tak henti berdecak kagum. Bukan hanya parasnya yang ayu, namun pribadinya yang ramah dan tidak sombong membuat semua orang justru segan padanya.


"Bisa minta tolong tanyakan sekretaris atau asisten bapak, apakah saya boleh menemuinya sekarang?". Semakin kagum saja si resepsionis pada istri bos nya itu.


Bahkan dengan sangat sopan, wanita itu meminta tolong. Padahal ia bisa saja langsung naik ke lantai dimana suaminya itu berada.


"Baik, tunggu sebentar ya bu.." Wanita cantik itu kembali mengangguk dengan seulas senyum.


Tak perlu menunggu lama, resepsionis yang menelpon sekretaris bos nya memberitahu jika ia bisa naik ke lantai dimana suaminya berada.


"Terimakasih atas bantuannya. Selamat bekerja". Resepsionis menundukkan kepalanya masih dengan senyum kagum.


"Wah..nggak cuma cantik. Istri bos juga baik banget, padahal cuma sama karyawan rendahan kaya kita". Gumaman salah seorang resepsionis diaminkan oleh temannya yang kini masih menatap kagum punggung wanita yang hampir menghilang dibalik pintu lift.


Kirani, wanita cantik yang sedari tadi menjadi pusat perhatian dan perbincangan semua orang itu kini sudah ada didalam lift yang akan membawanya menuju lantai dimana suaminya berada.


Di tangannya ada sebuah lunch bag yang berisi makan siang untuk suaminya. Kini ia selalu menyempatkan waktu untuk mengantarkan makan siang ke kantor suaminya jika suaminya itu tidak sedang ada meeting di luar kantor.


ting..


Lift berdenting tepat di lantai 10. Lantai tertinggi gedung ini, dimana ruang kerja suaminya itu berada.


Kiran berjalan dengan anggun, disana tidak banyak bertemu karyawan suaminya karena memang di lantai itu dikhususkan untuk suaminya dan beberapa orang kepercayaannya saja.


Tubuh Kiran mematung melihat pemandangan didepan matanya. Tepat didepan ruang kerja suaminya, ia melihat suaminya dipeluk oleh seorang wanita yang beberapa waktu lalu menemui dirinya.

__ADS_1


Lunch bag yang ada ditangannya jatuh, menimbulkan suara yang membuat Dewa yang tengah berusaha melepaskan pelukan wanita itu menoleh.


Matanya melebar saat melihat Kiran berdiri dengan mata berkaca-kaca. Dengan kasar ia melepaskan pelukan wanita yang pernah menjadi selingkuhannya dan segera menghampiri Kiran.


"Sayang..ini nggak seperti yang kamu pikirkan". Dewa terlihat panik, jelas saja panik. Ia sudah berjanji pada Kiran untuk tak mengulang kesalahannya. Dan kini Kiran melihat nya dipeluk wanita lain. Meski tak seperti apa yang dilihat Kiran, tapi Dewa takut Kiran salah paham dan marah padanya.


"S-sayang..ayo kita masuk dulu. Nanti mas jelasin didalam ya.." Bujuk Dewa. Lelaki itu mengambil lunch bag di lantai dan segera menggandeng tangan Kiran untuk dibawanya masuk kedalam ruangannya.


"Mas Dewa.." Dewa melirik sinis wanita yang baru saja memeluknya itu. Ia tatap wanita itu dengan tatapan membunuh seolah menyuruhnya untuk enyah.


Kiran masih diam, wajahnya terlihat sangat sedih dan matanya pun berkaca-kaca. Dewa membuka pintu ruangannya dengan siku, karena sebelah tangannya masih menggenggam tangan Kiran, sementara tangan yang lain memegang lunch bag.


Kiran memutar kepalanya, menatap wanita itu masih dengan matanya yang berkaca-kaca. Namun sedetik kemudian, mata wanita yang pernah berselingkuh dengan Dewa itu melebar melihat apa yang Kiran lakukan.


Kiran menjulurkan lidahnya dengan seulas senyum penuh kemenangan hingga membuat wanita yang tak ingin Kiran sebutkan namanya itu mengetatkan rahang melihat penghinaan Kiran.


Tadi, Kiran hampir meledak dan mencakar wajah wanita itu jika saja tadi tak ingat percakapannya dengan adik ipar tersayangnya kala di restoran miliknya waktu itu.


"Jangan main kasar mbak. Main cantik aja, mbak kan orang yang tersakiti. Berperan aja sesuai yang mbak alami". Ucapan Bintang kala itu masih ia ingat dengan jelas.


"Kayanya susah nyingkirin perempuan itu, dek". Ucap Kiran yang disambut tawa oleh Bintang.


"Aku kesel sih sama mas Dewa. Marah malahan, kalopun mbak Kiran waktu itu mau minta cerai juga aku dukung". Kiran langsung melotot.


"Tapi aku percaya sama mas Dewa mbak. Dia pasti kapok kok mbak..hehe". Kiran ikut tertawa, apa yang Bintang ucapkan memang benar adanya. Sejak kejadian waktu itu, Dewa memang lebih perhatian dan lebih menunjukkan kasih sayangnya. Bahkan suami Kiran itu selalu menelpon setiap satu jam sekali, atau paling tidak mengirim pesan jika sedang sibuk.


"Kita harus punya strategi perang mbak buat ngadepin perempuan modelan kaya dia. Jangan sampai kalah strategi dari lawan". Kiran mengangguk, karena ia setuju dengan semua yang Bintang ucapkan.


Dan saat ini, semua ide yang diberikan adiknya ia lakukan dengan sangat apik. Berperan sebagai istri yang terluka, memasang wajah sedih didepan lawannya. Namun sebenarnya Kiran sudah sangat tangguh didalam.


"Sayang.."


"Kita makan dulu aja mas..nggak usah jelasin apa-apa". Kiran memotong ucapan Dewa.


Selain karena ide adiknya tentang bagaimana cara menghadapi wanita tak tahu malu itu, sekretaris Dewa juga merupakan orang Kiran.

__ADS_1


Sebelum dirinya naik ke lantai 10, Kiran sudah mendapat pesan dari sekretaris Dewa jika ada perempuan yang datang menemui Dewa. Sekretaris Dewa juga mengirimkan foto wanita itu, dan semua itu berhasil membuat Kiran meradang.


Rupanya ucapan wanita itu kala menemui Kiran tak main-main untuk tak melepaskan Dewa begitu saja.


Dewa masih takut jika akan kembali bersitegang dengan istrinya. Ia takut Kiran marah dan meninggalkannya. Karena jika sampai itu terjadi, Dewa benar-benar bisa gila.


"Sayang.." Kiran menghentikan kegiatannya mengeluarkan kotak makan dari lunch bag. Ia tatap suaminya yang terlihat tak tenang. Ia semakin yakin jika Dewa memang benar-benar mencintainya dan takut kehilangannya.


"Aku percaya sama kamu, mas". Kiran mengulas senyum lembut yang mampu membuat Dewa bernafas lega.


"Asalkan kamu benar-benar sungguh ingin mengakhiri yang sempat kalian mulai, lambat lain dia pasti akan menyerah". Kiran mengelus lengan suaminya.


"Aku akan segera menyelesaikan semuanya sayang. Aku tidak ingin rumah tangga kita kembali goyah akibat dari ulah bodohku kemarin". Dewa membawa istrinya kedalam pelukannya dan memberikan kecupan bertubi-tubi diwajah ayu Kiran.


Dalam hati ia berjanji akan segera menyelesaikan buntut dari masalah yang ia buat.


--**


Kembali pada si jahil Bintang. Tangannya masih berada di pundak Langit saat Catherine meneriakkan namanya. Bahkan senyumnya semakin mengembang saat melihat Catherine berjalan mendekatinya dan Langit yang masih sibuk mengobati kakinya.


Ia melupakan ancaman sang bunda tentang apa konsekuensi yang akan ia dapat jika sampai dirinya kembali terluka.


Bintang yakin Langit tak akan tinggal diam. Dan itu akan semakin membuat Catherine marah. Tak perlu mengotori tangannya hanya untuk membuat musuhnya kalang kabut bukan?


"Dasar orang miskin!!". Teriak Catherine yang sudah berdiri dibelakang Langit dengan wajah memerah serta mata melotot.


Langit yang masih berjongkok sedikit terlonjak saat tiba-tiba mendengar teriakan dari belakang tubuhnya. Ia memutar kepalanya dan mendapati Catherine sudah menatap horor pada Bintang.


Tahu jika situasi sudah mulai tak kondusif, Langit segera berdiri dihadapan Catherine untuk menutupi tubuh Bintang yang masih duduk.


Bintang tersenyum saat semua prediksinya tak ada yang meleset. Dan sudah bisa dipastikan seperti apa wajah Catherine saat ini.


...¥¥¥•••¥¥¥...


...Segini dulu lah ya, tiba-tiba abis ide🤣🤣🤣 othor macam apa aku ini😂😂🙏🏻🤦🏼‍♀️...

__ADS_1


...Happy reading sayang-sayangkuh😘😘🥰...


...Sarangheo sekebon😘😘🥰🥰💋💐...


__ADS_2