Langit Untuk Bintang

Langit Untuk Bintang
pelampiasan


__ADS_3

Keesokan harinya, Bima benar-benar datang ke kediaman Laksmana untuk menjemput Bintang. Bahkan pemuda itu datang sangat pagi.


"Lo tidur disini semaleman?". Tanya Bintang yang baru saja ikut bergabung di meja makan dan sudah mendapati Bima tengah menyantap sarapannya bersama dua kakaknya dan sang ayah.


"Iya lah..Gimana sih lo, jadi calon istri kedul amat. Bangun siang mulu". Sahut Bima santai membuat Bintang mendecih sebal.


"Cih.."


Sarapan berlanjut dengan diselingi perdebatan Bima dan Bintang yang membuat suasana pagi itu terasa lebih ramai.


"Kita berangkat dulu yah.." Bintang mencium punggung tangan ayah dan bunda. Berlanjut kepada kedua kakak dan kakak iparnya.


"Hati-hati dijalan.." Ucap ayah.


"Bima, ayah titip Bintang ya". Bima mengangguk mantap. Tanpa diminta pun ia akan menjaga Bintang.


"Kami berangkat dulu..assalamualaikum".


"Wa'alaikumsalam.." Sahut semua orang menatap keduanya yang pagi ini pergi menggunakan motor sport milik Bima.


"Kenapa nggak jodohin Bintang sama Bima saja yah?". Ayah dan kedua putranya menatap Kiran.


Kemudian ketiganya justru tertawa mendengar pertanyaan Kiran. Membuat Kiran mengerutkan dahinya karena bingung dengan reaksi ketiga lelaki itu. Memang apa yang lucu dari pertanyaannya?


"Jangan pernah beeharap mereka mau sayang.." Dewa merangkul pundak Kiran.


"Memangnya kenapa mas?". Sebenarnya bukan hanya Kiran. Naura pun sama penasarannya.


"Bima sepertinya anak yang baik..lalu apa salahnya menjodohkan mereka?". Kembali Kiran bersuara.


"Sudah pernah ayah bahas. Kedua orang tua Bima juga setuju..tapi anak-anak itu tidak setuju. Bahkan mereka merencanakan kabur dari rumah saat masih SD". Ayah terkekeh mengenang saat itu.


Seluruh keluarga dibuat panik dengan kepergian Bintang. Keluarga Bima pun sama. Dan betapa terkejutnya mereka saat menemukan surat yang ditinggalkan dua anak itu.


Rupanya kaburnya mereka berdua adalah bentuk dari penolakan atas rencana perjodohan mereka. Meski saat itu Bintang masih kelas 5 SD, dan Bima duduk di bangku SMP, namun kedua anak itu tidak mau dijodohkan.


Bagi Bima, Bintang tak lebih dari seorang adik yang sangat ia sayang. Pun sebaliknya, bagi Bintang, Bima adalah kakak ketiganya. Dan mereka tidak ingin perjodohan itu merusak persahabatan mereka.


"Mungkin sekarang sudah berbeda yah.." Naura ikut buka suara.


"Kecilnya aja mereka berani kabur gara-gara nolak, sayang. Apalagi sekarang..bisa beneran nggak pulang itu anak dua". Arjuna mencubit gemas hidung istrinya.


"Biarkan saja, sepertinya semesta juga tidak menakdirkan mereka bersama". Ucap ayah dengan senyum tipisnya.


"Sudah siang, ayah harus berangkat dulu". Bunda mengangguk dan mencium punggung tangan ayah.


Begitupun Dewa dan Arjuna yang berpamitan pada istri mereka. Kini tinggalah tiga wanita yang tengah menatap kendaraan suami mereka yang kian menjauh.


--

__ADS_1


Bima baru saja memarkirkan motornya dengan Bintang yang masih ada dijok belakang. Kedatangan keduanya cukup menyita perhatian banyak siswa yang kebetulan juga tengah memarkirkan kendaraan mereka atau hanya sekedar melintas disana.


Desas-desus kedekatan Bintang dan Bima kian santer diberitakan. Banyak yang meyakini jika keduanya memang memiliki hubungan khusus. Atau bahkan mungkin keduanya memang berpacaran.


Bima membantu melepaskan helm Bintang. Kemudian merapikan rambut Bintang yang terlihat sedikit berantakan.


"Makasih.." Ucap Bintang tulus disertai senyum manis.


"Manis banget sih..." Gemas, Bima menjembel kedua pipi Bintang hingga membuat gadis itu mendelik kesal.


"Sakit tau.." Sungut Bintang membuat Bima terkekeh.


"Sini-sini..ututututu...jangan manyun gitu dong. Masih pagi ini". Bima mengelus pipi Bintang yang memerah dengan pelan.


"Masuk gih sana.." Ucap Bima yang dijawab anggukan kepala oleh Bintang.


"Kenapa?". Tanya Bima yang melihat Bintang kembali menghadap dirinya.


"Anterin ke kelas". Pinta Bintang membuat alis Bima berkerut.


"Lo beneran pengen bikin gue kaga laku ya disekolah ini". Ucap Bima yang dijawab anggukan kepala oleh Bintang.


"Ck!! Adek laknat emang lo". Cibir Bima membuat Bintang nyengir.


Sebenarnya bukan itu alasan Bintang meminta Bima mengantarnya ke kelas. Namun ia melihat Langit yang tengah menatap dirinya dan Bintang. Ia ingin membuat Langit semakin salah paham pada hubungannya dan Bima. Semakin Langit salah paham, maka akan semakin baik.


"Lang!". Kini Sam yang menahan Langit, karena Roman sudah malas menahan Langit.


Sejak kedatangan Bintang dan Bima di parkiran tadi, Langit sudah menahan amarahnya. Ditambah melihat interaksi keduanya yang semakin hari kian dekat.


Langit mengepalkan tangannya kuat, hingga buku jarinya memutih. Bintang melewati dirinya begitu saja, bahkan membiarkan Bima menggandeng tangannya.


Ingin sekali Langit menarik Bintang dan menyeretnya menjauh dari laki-laki bernama Bima itu. Namun tak berani ia lakukan karena sadar tak memiliki status apapun di mata Bintang.


"Aaarggghhh!!!!". Teriak Langit keras sambil mendaratkan tinjunya ke tembok disampingnya. Roman berjingkat sambil mengelus dadanya karena teriakan Langit lumayan mampu membuat dirinya terkejut.


Tanpa berkata sepatah katapun, Langit berbalik. Kembali menaiki motornya dan memacunya keluar gerbang sekolah.


"Kejar jangan?". Tanya Roman sambil menatap Sam.


"Nggak usah". Sahut Sam lalu berjalan menuju kelasnya diikuti Roman dibelakangnya.


Langit memacu kendaraannya dengan kecepatan tinggi. Bahkan tak peduli saat tadi satpam mencegatnya di gerbang sekolah.


Suara klakson dan makian dari pengendara lain tak membuat Langit mengurangi laju kendaraannya. Ia justru menambah kecepatan kendaraannya.


Langit berhenti di sebuah taman dipinggiran kota yang sepi. Melepaskan helmnya dengan kasar dan meletakkannya diatas tangki motornya.


Dadanya masih terlihat naik turun. Amarahnya belum mereda meskipun sudah berulang kali berteriak.

__ADS_1


Entah mengapa, ia benar-benar tak terima melihat Bintang dekat dengan laki-laki lain. Mungkinkah dirinya memang benar-benar jatuh cinta?


"Bintang.." Gumam Langit menatap foto Bintang yang diam-diam ia ambil saat tengah berlatih kemarin. Bintang terlihat cantik dan seksi dengan peluh yang membasahi wajah dan lehernya.


Langit terus fokus melihat foto-foto Bintang yang beberapa hari belakangan mengisi galeri ponselnya. Foto-foto candid yang ia ambil secara sembunyi.


Langit ikut tersenyum saat melihat foto Bintang yang tengah tersenyum. Ia elus layar ponselnya berulang kali. Seolah tengah menyentuh Bintang.


Langit masih fokus pada ponselnya hingga suara perkelahian terdengar di telinganya. Awalnya ia acuh, tak ingin ikut campur dan berakhir mendapat masalah baru.


Namun rasa penasaran menuntunnya mencari sumber suara. Disudut taman yang lebih sepi, tampak beberapa pelajar tengah menghajar pelajar lain.


"Keroyokan..heuh". Gumam Langit sambil menggeleng. Melihat hal itu selalu mengingatkan dirinya dengan kenakalannya yang dulu. Ia pun sama, senang berkelahi dan main keroyokan hingga membuat musuhnya babak belur. Bahkan seringkali ia harus membuat kedua orang tuanya berurusan dengan polisi.


Langit yang awalnya hanya penasaran lama-lama merasa tidak tega melihat korban yang terlihat sudah tidak berdaya namun masih terus dipukuli bahkan beberapa kali diberi tendangan keras.


"Hah!! Lumayan deh. Gue juga butuh pelampiasan". Gumam Langit sebelum berjalan mendekati gerombolan pelajar yang sepertinya seusia dengannya.


"Rame nih.." Ucap Langit sambil mengarahkan ponselnya pada gerombolan pelajar itu. Langit tengah merekam mereka yang terus memukuli seorang pelajar lain.


"S*al!". Umpat Langit pelan saat orang yang memukuli berbalik badan. Sepertinya niatnya kali ini akan membuatnya terjerat masalah lagi.


"Oh ho..liat siapa yang dateng, bro..." Langit mendengus sambil menyimpan ponselnya kedalam celana.


"Langit...Apa kabar nya bro? Lama kita nggak ketemu". Pemuda itu sepertinya sangat mengenal Langit.


Melihat keberadaan pemuda itu, Langit langsung melihat siapa korban yang sejak tadi dikeroyok. Dan benar saja, laki-laki yang wajahnya sudah babak belur itu sangat Langit kenal.


"Hari ini gue bener-bener s*al". Umpat Langit lagi.


"Terusin aja kegiatan lo semua. Anggep aja gua nggak liat". Langit berbalik, hendak meninggalkan keributan itu.


"Jangan buru-buru lah. Lo nggak mau bantuin sohib lo dulu". Senyum smirk terukir di bibir pelajar yang sangat Langit kenal.


"Lagipula, nggak segampang itu lo pergi. Langit.." Desisnya lagi membuat Langit kembali berbalik.


Keduanya saling menatap. Pandangan Langit tertuju pada pemuda yang sudah babak belur itu. Ia sunggingkan senyum miring penuh ejekan untuk pemuda yang sudah tak berdaya itu.


"Payah". Cibir Langit dengan senyum miringnya.


"Lo semua juga sama. Payah lo semua! Beraninya main keroyokan kaya banci". Ejek Langit membuat lawannya terkekeh.


"Bukannya ini ajaran lo, Lang??". Langit bungkam, laki-laki didepannya ini memang termasuk musuh bebuyutannya saat disekolah sebelumnya.


"Dion..Dion. Masih aja lo jadi bayang-bayang gue, nggak bermutu". Wajah laki-laki bernama Dion itu berubah merah karena marah dengan ucapan Langit.


"Hajar dia!!!". Dion dan kelima temannya maju menyerang Langit yang langsung meladeni serangan mereka. Langit yang tengah kesal memang membutuhkan pelampiasan untuk rasa kesalnya.


...¥¥¥•••¥¥¥...

__ADS_1


...Alhamdulillah, si kang ilham cepet pisan nyampe ke othornya🤭😂 Jadi othornya bisa cepet kasih double upnya😊...


...Happy reading readers🥰🥰 Semoga syuka dan jangan lupa dukungannya ya😊😊 sarangheo sekebon kalian😘😘💋💐♥️...


__ADS_2