Langit Untuk Bintang

Langit Untuk Bintang
malu


__ADS_3

Iwan kembali diberikan tugas pleh bu Wita untuk mengumpulkan semua lembar jawab teman-temannya. Bahkan beberapa ada yang enggan melepaskan lembar jawabnya saat Iwan memintanya.


"Ibu kenapa sih seneng banget bikin ulangan dadakan? Liat nih kepalanya saya ngebul udah kaya motor dua tak". Protes Roman yang diamini semua temannya. Untuk kali ini semua setuju dengan ucapan Roman.


"Bukannya setiap hari kalian belajar? Lalu mendadak dari mananya?". Semua mendengus pelan. Wali kelasnya memang menyebalkan.


"Kalau kalian belajar sungguh-sungguh, ibu yakin soal tadi tidak sulit". Kembali semua melengos.


"Tidak sulit dari segi mananya?". Batin semua murid berteriak, namun tak ada yang berani bersuara.


"Kalo nilainya kurang bagus jangan diomelin, bu. Kan ibu yang ngasih ulangannya dadakan". Kembali Roman bersuara, didalam kelas memang hanya Roman yang senang sekali protes pada setiap pelajaran. Padahal pemuda itu juga memiliki otak yang cemerlang.


"Kamu ini laki-laki banyak protesnya. Udah kaya ibu-ibu yang protes harga sembako naik". Seisi kelas tertawa mendengar ucapan bu Wita.


"Ini sih lebih-lebih dari sembako naik bu. Pusing tujuh turunan tujuh tanjakan sama tujuh pengkolan". Memang dasar si Roman suka ngomong, ia terus saja membalas setiap ucapan gurunya.


"Ibu tambah..tujuh puteran! Biar komplit". Roman mencebik kesal. Susah sekali melawan guru satu itu, batinnya.


"Ibu ada pertemuan dengan para guru. Sisa waktu pelajaran ibu, pakai untuk belajar sendiri dan jangan membuat keributan. Terutama kalian berdua, Roman, Langit", Bukan tanpa alasan, dua pemuda itu memang selalu menjadi biang kerok keributan jika kelas dalam keadaan kosong tanpa guru.


"Iya bu..." Sahut keduanya kompak.


Bintang menoleh ke belakang, menatap Bulan yang juga tengah menatapnya.


"Ntar gue jelasin". Hanya itu yang bisa Bintang tangkap dari gerak bibir sahabatnya.


"Sana lo pindah". Sepeninggal bu Wita, Bintang langsung mengusir Langit.


"Nggak mau. Jam pelajaran bu Wita belom kelar". Langit berpura-pura membaca buku. Sedangkan Bintang sudah gelisah duduk disamping Langit.


Ia terus menggeser kursinya, namun dengan sebelah tangannya, Langit kembali menggeser kursi Bintang agar lebih dekat dengannya.


"Lang..." Protes Bintang dengan wajah galak.


"Gue cuma mau deket lo aja. Gue nggak akan berisik". Ucap Langit pelan dengan senyuman maut yang mampu membuat Bintang mematung sesaat.


"Aaaahh!!! Kenapa ganteng?!! S*al banget sih. Dasar titisan biawak!!", Batin Bintang berteriak kesal. Ingin ia menendang Langit agar kembali ke bangku nya, namun ia tak berani karena takut Langit akan melakukan sesuatu yang tak ia duga.


Sementara di kursi yang lain, terlihat Bulan yang meletakkan kepalanya diatas meja dengan berbantalkan lengan miliknya. Berlari sejak memasuki gerbang sekolah hingga kedalam kelasnya ternyata sungguh menguras tenaga.


"Nih.." Bintang mengangkat wajahnya saat seseorang meletakkan air mineral didepannya.


Tanpa banyak bertanya Bulan segera meneguk air mineral dari botol yang diberikan Sam padanya.


Bulan menghela nafas lega, dahaganya hilang sudah setelah menghabiskan setengah botol air putih itu.


"Eh..Sam.." Mata Bulan membola dengan bibir sedikit terbuka saat melihat Sam dengan tenang meminum sisa air yang ia minum.

__ADS_1


"I-itu kan sisa gue". Lirih Bulan yang membuat Sam menoleh setelah menghabiskan isi dalam botol.


"Nggak apa-apa. Anggep aja nyicil nyium lo". Wajah Bulan memerah seketika mendengar Sam berbisik hal sefrontal itu.


Bulan melirik kekiri dan ke kanan. Memastikan tak ada yang mendengar semua ucapan Samudra. Sedangkan tersangka nya justu terkekeh melihat wajah panik Bulan.


"Jangan ngaco deh Sam kalo ngomong. Kalo ada yang denger, dikira gue ama lo ada apa-apa". Bulan balas berbisik dengan mata melotot horor ke Sam.


"Apa mau gue cium beneran aja?". Bulan langsung memundurkan wajahnya dan menutup bibirnya dengan tangan.


"Ini batu es kapan mencairnya sih? Kok ngeri-ngeri gimana gitu ya jadinya?", Batin Bulan yang masih syok dengan segala kalimat yang meluncur dari mulut Sam. Ditambah sekarang lelaki itu mengumbar senyuman manis yang tak bisa dilihat oleh sembarang orang.


"Gemesin banget sih lo.." Bulan semakin tak percaya dengan apa yang berlaku saat ini. Sam? Seorang Samudra mengusap kepalanya sambil tersenyum manis?


"Wah, kayanya dunia udah mau kiamat". Bulan hanya terus membatin segala tingkah laku aneh Sam.


Jam pelajaran kosong seperti saat ini tentu saja tidak disia-siakan oleh semua murid. Semua tampak asyik mengobrol dengan teman sebangkunya. Bahkan ada yang sengaja memutar kursinya menghadap ke belakang hanya agar mudah mengobrol.


Tapi diantara semua siswa yang mengobrol, ada dua manusia yang sejak tadi diam tak bersuara. Mereka adalah Bintang dan Langit.


"Dia beneran Langit kan? Kok gue serem ya jadinya". Bintang melirik Langit yang duduk disampingnya. Tak ada suara apapun yang keluar dari bibir pemuda itu.


Langit benar-benar diam seperti janjinya sebelumnya. Dan itu justru membuat Bintang semakin tak nyaman saja. Ia sudah terbiasa dengan Langit yang cerewet dan banyak tingkah. Melihat Langit anteng dengan buku ditangannya justru membuat Bintang bergidik.


"Apa kesurupan ya ni bocah?". Sekali lagi Bintang melirik, bahkan kini gadis itu menoleh sekilas untuk memastikan mahkluk yang duduk disampingnya itu benar-benar manusia.


"A-apaan sih. Kaga jelas banget idup lo.." Jelas Bintang gugup, tertangkap basah tengah menatap Langit meski hanya sekilas.


"Gue tau sih, gue emang ganteng. Jadi mendingan lo mau aja jadi pacar gue". Bintang mendengus, kini ia yakin jika yang duduk disampingnya memang benar Langit, si titisan biawak.


Langit tersenyum lebar hingga menampakkan deretan giginya yang memang rapi dan putih.


"Kaga usah cengar cengir. Serem gue liatnya". Ketus Bintang membuat Langit tergelak.


Belum sempat Langit menyahuti kekesalan Bintang, bel berbunyi tanda berganti nya mata pelajaran. Beberapa siswi mulai berhambur keluar dengan membawa pakaian olahraga mereka.


Langit melirik kesamping, Bintang tak beranjak dari kursinya. Membuat Langit mengerutkan keningnya, bingung.


Tak lama matanya melebar saat tiba-tiba Bintang membuka kancing baju teratasnya.


"Heh, lo mau ngapain". Langit celingukan, didalam kelas masih banyak teman-teman lelakinya. Cukup dirinya saja yang pernah melihat sesuatu dibalik baju Bintang, jangan orang lain.


"Jangan disini". Langit menahan tangan Bintang, tak akan rela jika sampai ada yang melihat aset istimewa Bintang.


"Lo kenapa sih?". Bintang mengernyit bingung melihat reaksi Langit.


Bukan hanya Langit, namun Sam yang juga duduk dengan Bulan dibuat kalang kabut dengan yang dilakukan gadis itu. Hal yang sama seperti Bintang.

__ADS_1


"Yang bener dikit kenapa sih, Bin! Disini masih banyak orang!". Langit menunjukkan raut wajah marah membuat Bintang semakin kebingungan.


"Ya ini juga bener. Lo awas gih, keburu dimarahin pak Budi". Langit masih mencengkeram kedua tangan Bintang.


"Ganti di kamar mandi! Ngaco aja main copot-copotan disini!". Omel Langit. Pun dengan Sam yang juga berusaha menutupi tubuh Bulan dengan jaketnya.


Sedangkan Bulan terlihat kebingungan melihat tingkah Sam. Sebenarnya kenapa dengan lelaki dingin itu? Batin Bulan.


"Ini juga gue mau copot baju gu---"


"Nggak disini. Ayo ikut gue". Langit bangkit, menarik tangan Bintang yang langsung menyentaknya hingga terlepas.


"Nurut sama gue, Bintang". Desis Langit menatap tajam Bintang.


"Bintang!!", Bentak Langit saat Bintang membuka rok panjangnya yang rupanya didalamnya sudah ada celana olahraga.


"Lo..." Langit mengerjap beberapa kali melihatnya.


"Apa?!". Kini gantian Bintang yang melotot. Sejak tadi ia sudah merasa gerah karena merangkap pakaian olahraga dan seragam sekolahnya.


Ingin segera berganti malah justru dihalangi Langit hingga membuatnya semakin kepanasan.


Langit mengusap tengkuknya untuk menyembunyikan rasa malunya. Rupanya Bintang sudah merangkap seragamnya. Pikirannya sudah berkeliaran kemana-mana.


Sedangkan Roman yang sejak tadi melihat tingkah dua sahabatnya hanya bisa tertawa dalam diam. Betapa konyolnya kedua sahabatnya itu. Dan itu sesuatu yang sangat menarik bagi Roman.


Bintang melanjutkan membuka kancing kemejanya hingga kini baju putihnya terlepas dan hanya menyisakan kaos olahraganya saja. Dan bukan hanya Bintang, ada beberapa siswi yang memilih metode yang sama seperti Bulan dan Bintang karena tak ingin repot-repot ke kamar mandi dan mengantri untuk beganti pakaian.


Bintang merapikan seragamnya diatas meja. Sedangkan Langit masih berdiri sambil mengawasi Bintang.


"Awas! Ngalangin jalan aja". Ketus Bintang membuat Langit menggeser tubuhnya agar Bintang bisa lewat.


"Ayo Bul! Lo ngapain malah main petak umpet ama si Sam?". Alis Bintang berkerut melihat Sam menutupi tubuh Bulan dengan jaketnya.


"Tau ni orang". Sahut Bulan yang kini sudah berdiri. Sam yang melihat Bulan sudah memakai pakaian olahraganya langsung menarik jaketnya dari tubuh Bulan.


Sama seperti Langit, dirinya juga sudah sangat malu kini. Wajah kedua pemuda tampan itu tampak memerah karena malu.


"Ayok". Bintang menarik tangan Bulan dan pergi meninggalkan dua lelaki yang sedang menikmati rasa malunya yang diiringi tawa Roman yang menggelegar.


...¥¥¥•••¥¥¥...


...Titisan biawak pikirannya udah travelling aja sih. Ada orang buka baju udah mikir kemana-mana😂😂😂...


...Kuy ah..tampol like nya, jangan ketinggalan komen sama vote nya juga😊😊🥰...


...Happy reading🥰☺️ Lopelope kalian semua, sarangheo sekebon😘😘🥰💋💐♥️...

__ADS_1


__ADS_2