Langit Untuk Bintang

Langit Untuk Bintang
kedatangan Alva


__ADS_3

Bintang sudah terlihat cantik dan anggun dengan gaun berwarna burgundy yang membalut tubuh indahnya.


Gaun dengan lengan menutupi siku dengan panjang sampai lutut itu tampak cocok dipakai oleh Bintang. Membuat kecantikannya semakin terpancar.


Rambut panjangnya hanya ia ikat sebagian lalu memberikan jepit berbentuk pita, dan membiarkan sisanya tergerai.


Wajahnya ia poles natural, disempurnakan dengan polesan lipstick berwarna nude yang semakin memancarkan aura Bintang.


Entahlah, malam ini Bintang hanya ingin menunjukkan pada semua orang jika kini dirinya baik-baik saja.


Selain ingin membuat keluarganya tak selalu mengkhawatirkan dirinya, ia juga ingin menunjukkan pada teman-temannya jika dirinya tidak lagi mengingat Langit.


Hanya itu, Bintang hanya ingin dirinya tak lagi dikaitkan dengan Langit. Cukup dirinya saja yang tahu betapa masih terikatnya perasaan yang ia miliki pada seorang pria bernama Langit itu.


"Perfect.." Mengedipkan sebelah matanya setelah menatap pantulan dirinya dalam cermin.


Setengah jam lalu, Alva menelpon dirinya dan mengatakan jika sudah berangkat. Harusnya sebentar lagi laki-laki itu sudah sampai dirumah kedua orang tuanya.


Bintang memeriksa kembali barang-barang yang akan ia bawa. Ponsel, pelembab bibir, pewerbank serta dompet.


Ponselnya berdering, nama Alva tertera dilayar ponselnya.


"Kak Alva? Ngapain video call?", Gumam Bintang dan segera mengangkat panggilan telepon Alva.


"Bin.." Terlihat jika Alva ada didalam mobilnya. Membuat Bintang sedikit khawatir saat melihat wajah Alva.


"Kakak kenapa?? Kakak nggak apa-apa kan?", Tanya Bintang tiba-tiba panik.


"A-aku udah sampe di alamat yang kamu kasih..tapi---"


"Tapi kenapa kak?". Tanya Bintang mendesak.


"Ta-tapi rumahnya--" Alva memindahkan kameranya menjadi kamera belakang. Menunjukkan rumah megah dengan pagar tinggi menjulang.


"A-aku nggak salah alamat kan?". Tanya Alva yang kini sudah kembali membalikkan kameranya.


"Apa kamu salah kasih alamat ya?". Alva kembali bertanya membuat Bintang bernafas lega sekaligus tersenyum geli.


Ia segera menyambar tasnya dan berjalan cepat keluar kamar. Sepertinya ia harus menjemput Alva ke depan karena lelaki itu tampak tak percaya jika rumah yang ada didepannya adalah rumah orang tuanya.


Bintang berjalan melewati keluarganya yang tengah berkumpul diruang keluarga. Mereka menatap Bintang yang berjalan sedikit berlari menuju pintu utama.


"Pak, tolong bukain gerbangnya ya.." Pinta Bintang pada petugas yang menjaga gerbang.


"Baik, nona.." Dengan sigap membuka gerbang seperti perintah Bintang.


Bintang melambaikan tangannya pada Alva. Panggilan telepon keduanya juga belum terputus.


"Sini kak.." Berbicara disambungan telepon karena yakin jika berteriak pun tak akan terdengar.


Bintang memutuskan sambungan telepon, dan melihat Alva membuka jendela mobilnya.


perlahan mobil mulai bergerak mendekati gerbang dimana Bintang berdiri menunggu.

__ADS_1


Untuk sesaat Alva melupakan kegugupannya saat melihat megahnya rumah Bintang, karena melihat betapa cantik dan anggunnya Bintang malam ini.


"Harusnya kakak tadi langsung masuk aja". Ucap Bintang saat mobil Alva berhenti.


"Aku kira tadi aku salah alamat". Cicit Alva membuat Bintang menggeleng dengan seulas senyum tipis.


"K-kamu anaknya---"


"Iya kak. Tapi kan ayah yang kaya, bukan aku". Bertambah saja kekaguman Alva pada Bintang.


"Udah yuk, masuk dulu". Ajak Bintang pada Alva.


Keduanya tidak menyadari jika apa yang mereka pakai benar-benar serasi. Bintang dengan gaun burgundy nya dan Alva dengan kemeja yang warna nya senada dengan yang Bintang pakai.


Keduanya berjalan bersisian masuk kedalam rumah. Kedatangan keduanya belum disadari ayah dan bunda maupun kedua kakak Bintang. Hanya si kecil Revan yang melihat kedatangan mereka.


"Aunty.." Teriak Revan membuat semua mengalihkan fokus mereka.


Reaksi semua orang sama terkejutnya, namun ayah dan kedua kakak Bintang serta bunda yang paling terlihat.


"Selamat malam semua.." Dengan sopan Alva menyapa keluarga dari gadis yang memang ia sukai itu.


"Ah iya, selamat malam.." Bunda yang pertama terlihat mampu menguasai diri dari rasa terkejutnya.


Ia menyenggol lengan suaminya yang masih diam terpaku menatap putrinya. Ayah baru tersadar setelah lengannya sedikit disenggol oleh bunda.


Kini semua orang duduk diruang tamu. Ayah menatap Bintang dan Alva bergantian. Keduanya duduk bersebelahan.


Jika kini Alva terlihat gugup, Bintang sengaja memasang wajah malu-malu demi menyempurnakan aktingnya.


"Kenalin yah, bun..ini namanya kak Alva. Alvaro". Bintang mengenalkan Alva karena tidak melihat jika ayah ataupun kedua kakaknya akan bertanya.


"Namanya bagus, nanti kalau anak mbak laki-laki, boleh ya dinamain sama seperti Alva". Kiran bercakap sambil mengelus perut besarnya.


"Bo---"


"Nggak! Nggak ada disama-samain". Potong Dewa cepat sebelum Alva sempat menjawab.


"Ish, mas Dewa kenapa sih". Gerutu Kiran menatap kesal suaminya.


Dan akhirnya sepasang suami istri yang sebentar lagi akan menjadi orang tua itu sibuk perdebat perihal nama anak mereka.


Bintang dan Alva saling lirik. Merasa kondisi mulai tidak kondusif, Bintang memilih membawa Alva melarikan diri.


"Ehm..ngobrolnya kapan-kapan lagi aja ya. Aku sama kak Alva mau jalan sekarang aja..takut keburu telat". Bintang langsung bangun dari duduknya dan menarik tangan Alva yang termenung melihat pergelangan tangannya digenggam oleh Bintang.


Dua tahun mengenal Bintang, baru kali ini Bintang dan dirinya bersentuhan seperti ini. Karena biasanya, hanya dirinya yang akan mengusak rambut Bintang. Selain itu, tidak ada kontak fisik lain.


"Maaf om, tante dan semua..saya permisi dulu". Alva mencium punggung tangan bunda dan ayah bergantian, kemudian berpamitan pada kedua kakak dan kakak ipar Bintang.


"Titip Bintang ya, Alva". Naura yang berbicara.


"Oh, iya kak. Saya akan jaga Bintang.." Alva menjawab yakin.

__ADS_1


"Bintang sudah besar, nggak usah dititip-titipin". Ketus Juna membuat Naura menatap Alva dengan tatapan bersalah.


Kemudian Naura melirik tajam suaminya yang langsung membuang muka. Tak ingin bertatapan dengan sang istri yang pasti marah karena ulahnya barusan.


"Apa-apaan sih mereka ini. Bisa-bisanya kak Juna ngomong gitu. Terus yang selama ini nganggep aku bocah yang harus terus diawasin siapaaaa???!". Ingin sekali Bintang berteriak didepan kakaknya, namun yang ia lakukan saat ini hanya memasang senyum kaku sambil menatap galak kedua kakaknya.


Alva tersenyum canggung. Ia bukan lelaki yang tidak peka, ia sangat sadar jika ayah dan kedua kakak lelaki Bintang tidak suka pada dirinya. Entah karena alasan apa.


"Kalau begitu, saya permisi dulu om, tante dan semuanya.." Akhirnya Alva dan Bintang keluar dari rumah diiringi tatapan tajam kedua kakak Bintang.


Alva membukakan pintu mobil untuk Bintang, memastikan Bintang masuk dengan aman kemudian menutup pintunya dan berlari memutari mobil untuk masuk kedalam pintu kemudi.


Selepas kepergian Alva dan Bintang, baik Kiran maupun Naura kompak menatap suami mereka. Terlihat jelas kemarahan disorot mata keduanya.


"Sayang.." Seru Juna dan Dewa kompak saat istri mereka berjalan melewati mereka tanpa melirik keduanya sedikitpun. Dan Juna serta Dewa tahu pasti jika istri mereka tengah marah.


"Makanya jangan suka macem-macem". Ledek ayah yang juga tidak menyadari jika bunda menatapnya kesal sekaligus kecewa.


"Ayah juga sama saja seperti mereka. Bunda tahu kalian tidak suka melihat Bintang dengan anak tadi. Tapi sikap ayah dan kalian berdua benar-benar keterlaluan". Ketiga lelaki itu langsung bungkam begitu bunda bersuara.


"Tidak begitu caranya.." Lirih bunda sambil menatap ketiganya satu persatu.


"Kalau Bintang memang bahagia bersama lelaki pilihannya, apa kita akan mencegahnya?",


"Tapi, bun.."


"Bunda juga masih ingin Bintang bersama Langit. Tapi takdir hidup kita hanya Allah yang tahu dan maha menentukan". Potong bunda cepat sebelum putra sulungnya selesai berbicara.


"Jangan bersikap seperti tadi lagi pada teman Bintang. Sekalipun tidak suka dan tidak setuju, kalau laki-laki itu yang membuat Bintang kita bersinar kembali, harusnya kita berterimakasih". Ketiganya hanya bisa menundukkan kepala. Layaknya seorang bocah yang kena omel ibunya.


"Apapun pilihan Bintang nantinya, bunda harap kalian mendukungnya. Jangan sampai karena sikap ayah dan kalian yang seperti tadi malah membuat Bintang kehilangan kebahagiaannya". Semakin tertunduk dalam para lelaki itu didepan bunda.


"Enam tahun, sudah enam tahun lebih.." Lirih bunda.


"Apa bunda merestui---"


"Bukan berarti bunda sudah tidak mendukung Langit, mas". Dewa yang hendak kembali bersuara langsung dipotong bunda yang tahu kemana arah pertanyaan Dewa.


"Tapi bunda juga tidak mau memaksa kehendak bunda pada adik kamu. Jika mereka masih ditakdirkan bersama, maka bunda akan sangat bahagia".


"Tapi jika ternyata takdir yang Allah pilihkan untuk Bintang bukanlah Langit, maka siapapun dia..bunda juga akan mendukungnya selagi laki-laki itu bisa membuat Bintang bahagia dan tersenyum lagi". Pungkas bunda yang kemudian berlalu meninggalkan ayah dan kedua anaknya yang termenung setelah mendapat ceramah panjang dari bunda.


"Memang tadi kita keterlaluan ya, yah?". Tanya Juna pada sang ayah.


"Ya iyalah. Masa seperti itu saja masih tanya". Ketus ayah pada putra keduanya itu kemudian pergi menyusul bunda ke kamarnya.


"Lah, kok jadi kita yang salah sih mas?". Tanya Juna pada sang kakak.


"Iya. Kenapa jadi kita yang disalahin ya?". Keduanya saling menatap seolah mencari jawaban dari pertanyaan mereka.


...¥¥¥•••¥¥¥...


...Nah kan kena sembur bunda😂😂😂 sok macem-macem aja sih ini bapak anak🤦🏼‍♀️😂...

__ADS_1


...Kasian kak Alva digalakin ama ayah Bintang🥺🥺 sini kak Alva sama othor aja, dijamin dielus-elus deh🤭😅😅...


...Double upnya buat readers semua🥰😘 terimakasih buat semua yang masih setia baca🙏🏻🙏🏻 sarangheo readers😘😘😘♥️🥰💋💐💐💐...


__ADS_2