Langit Untuk Bintang

Langit Untuk Bintang
kakak laki-laki baik


__ADS_3

Bulan dan Arsen masih tertawa melihat wajah-wajah masam teman-teman mereka. Sedangkan tersangka utama yang membuat wajah mereka masam tampak santai tanpa beban.


"Gimana? Enak kan masakan aku?", Bertanya dengan wajah tanpa dosa. Membuat yang lain menghela nafas.


"Ayo di makan, jangan malu-malu". Imbuhnya lagi saat melihat teman-temannya tampak ragu memakan mie instan buatannya.


"Ehm..nikmat dunia ini sih". Terus mengoceh sambil memuji hasil masakannya.


Saling melirik sesaat sebelum akhirnya tawa mereka pecah. Menertawakan kekonyolan mereka sendiri yang bisa dengan mudah terkecoh dengan ucapan Bintang.


Bintang pun ikut tertawa melihat wajah tertekan teman-temannya.


"Dari awal aku udah curiga sih, tapi coba positif thinking aja..eh kan bener". Nindy berbicara disela tawanya.


"Iya Nin, sama. Ajaib banget tiba-tiba si Bintang bisa masak". Ardi menimpali masih dengan tawanya.


"Bisa-bisanya ketipu ama ni anak". Roman mengomel namun tetap memakan mie instan buatan Bintang.


"Gimana? Enak kan tapi?", Masih belum merasa puas karena tak ada yang memuji hasil masakannya. Padahal kan hanya tinggal rebus dan menaburkan bumbunya.


"Ya enak. Udah setelan pabriknya enak, kamu tinggal ngerebus mi doang. Kebangetan kalo ampe ngga enak". Cerocos Roman yang kembali memantik tawa teman-teman yang lain.


Malam itu untuk sesaat Bintang bisa melupakan nama Langit. Ia menjalani malamnya seperti manusia normal yang lain.


Hingga teman-temannya berpamitan pulang, Bintang kembali pada kesepian dan kesendiriannya.


Bintang menatap ruang tamu dan dapur apartemennya. Semua sudah kembali rapi seperti sebelum kedatangan Bulan dan lainnya.


Karena teman-temannya memang membantunya merapikan kembali apartemennya sebelum mereka pulang.


"Oke Bintang..waktunya istirahat". Meregangkan otot-otot tubuhnya yang terasa kaku setelah seharian duduk didepan meja kerja untuk menyelesaikan design liontin kalung yang akan segera dirilis bulan ini oleh perusahaannya.


Bintang berjalan menuju kamarnya. Perlahan tangannya meraih sebuah bingkai foto kecil.


Di elusnya foto itu dengan segala perasaan yang berkecamuk didalam hatinya. Ada rindu, namun juga kemarahan dan kekecewaan yang mendalam.


"Mungkin memang udah waktunya aku lepasin semua ini, Lang". Ya, foto yang tengah ia elus itu adalah fotonya dan Langit. Foto yang selalu ada didalam kamarnya tanpa diketahui siapapun.


Dulu foto itu hanya ia simpan didalam laci dilemari kamarnya. Foto yang selalu menemani tangisnya dimalam hari.


Bintang membuka laci nakas disamping ranjangnya. Mengeluarkan sebuah kotak kecil yang berisi gelang serta kalung dan ada beberapa benda kecil didalamnya.


Bibirnya menyunggingkan senyum. Namun ujung matanya sudah kembali menggenang cairan bening.


"Aakh!!! Aku benci selalu kaya gini". Maki nya pada diri sendiri. Bintang benar-benar membenci dirinya yang lemah seperti ini.


Bahkan hanya mengingat kenangannya dan Langit yang tidak terlalu lama itu saja sudah mampu membuat dirinya menangis.

__ADS_1


"Cukup Bintang. Jangan kaya gini terus.." Ia usap air mata yang mengalir dipipinya dengan punggung tangannya.


Kemudian berdiri dan mengambil sebuah kotak yang cukup besar diatas lemari.


"Sudah waktunya kalian masuk kesini. Pergi bersama semua kenangan yang memang ingin aku hapus". Didalam kotak itu, ada beberapa pakaian yang dulu dibelikan Langit. Kini semua hal dan benda apapun yang mengingatkannya pada Langit, akan ia simpan didalam kotak itu.


Meskipun hatinya merasa berat, namun Bintang berhasil memasukkan semua foto dan barang-barang yang mengingatkannya pada Langit. Memasukkannya dalam kotak besar itu dan langsung memasukkan kotak itu dalam lemarinya.


Ia letakkan di sudut lemarinya agar tak ada yang bisa menemukannya lagi.


"Ayo kita mulai hidup baru kita, Bintang". Gumamnya sambil menepuk dadanya yang terasa sedikit sesak.


"Hah.." Menghembuskan nafas kasar sebelum berlalu masuk kedalam kamar mandi untuk membersihkan diri.


Sementara dibelahan bumi yang lain. Tampak seorang pria yang tengah menerima panggilan telepon dari temannya.


Terlihat jelas jika laki-laki itu tengah menahan amarah yang siap meledak kapanpun. Mendengar cerita dari seseorang di seberang sana benar-benar mampu membakar hangus hatinya.


Dia adalah Langit. Anak laki-laki yang dulu suka membuat masalah itu kini sudah tumbuh menjadi seorang pria dewasa yang terlihat semakin tampan dan mempesona dengan segala kharisma yang kini dimilikinya.


"Gw bakal dateng". Ucapnya pada orang yang menelponnya.


Sambungan telepon terputus. Langit meremas kuat ponselnya untuk menyalurkan rasa kesalnya sekaligus emosinya.


"Bintang.." Gumam Langit yang kini sudah beralih menatap pigura besar yang ada didinding kamarnya.


"Jangan pernah berharap kamu bisa lepas dari aku, Bin". Langit mengelus lembut foto Bintang.


"Kamu cuma milik aku..dulu, sekarang dan seterusnya akan begitu.." Gumamnya lagi dengan seraut wajah sendu.


"Maaf jika aku sudah terlalu mengecewakanmu. Tapi aku akan segera kembali..aku kembali untukmu. Untuk memenuhi semua janji yang pernah aku buat". Tak terasa setetes cairan bening menetes daei ujung mata Langit.


"Aku mohon jangan pernah pergi. Bahkan memikirkannya saja jangan.."


___***


Hari berganti dengan cepat. Jumat menyapa tanpa terasa. Itu artinya hanya tinggal menunggu satu hari dari waktu diadakannya reuni sekolahnya.


Hari jumat adalah waktunya Bintang pulang ke rumah orang tuanya. Ia akan meminta Alva menjemput dirinya dirumah ayah dan bunda saja.


Biarlah Alva mengetahui siapa orang tuanya. Lagipula selama berteman dengannya dua tahun ini, Alva tak pernah menanyakan dari keluarga mana dirinya berasal.


"Udah mau pulang?". Tanya Alva yang kini sudah berdiri disamping meja Bintang.


"Iya kak. Kakak belum pulang?". Bintang balas bertanya.


"Nungguin calon pacar". Alva mengedipkan sebelah matanya yang ditanggapi Bintang dengan memutar bola matanya.

__ADS_1


"Besok mau dijemput jam berapa?". Tanya Alva meraih tas laptop milik Bintang dan membawakannya.


Bintang membiarkannya, toh dilarang pun tak ada gunanya. Alva pasti tetap memaksa membawakannya.


"Undangannya sih jam 7 kak. Ba'da magrib aja berangkatnya, gimana kak?". Alva berpikir sejenak sebelum menganggukkan kepalanya.


"Aku jemput dimana?". Tanya Alva yang hingga hari ini belum diberikan alamat rumah oleh Bintang.


"Besok aku sharelok kak.." Alva tak lagi banyak bertanya. Yang jelas ia senang bisa menemani Bintang ke acara reuni.


Keduanya berjalan diiringi obrolan ringan. Bintang tak segan tertawa saat Alva membicarakan hal-hal konyol saat mereka bekerja.


Tak terlewat pembahasan tentang pergantian pimpinan yang selalu rutin dilakukan oleh perusahaan.


Sampai di parkiran, Alva sedikit tersentak saat melihat mobil yang dikendarai Bintang. Ia tak pernah memperhatikan, dan beginilah jadinya saat ia tahu.


Namun dengan cepat Alva mengembalikan ekspresi wajahnya didepan Bintang. Dengan cekatan tangannya membuka pintu kemudi untuk Bintang dan mempersilahkan Bintang untuk masuk.


"Hati-hati dijalan ya, jangan ngebut.." Alva mengusap pucuk kepala Bintang dan diterima gadis itu, karena sejak awal berkenalan, Bintang sudah memposisikan Alva sebagai kakak lelakinya.


"Kakak juga..makasih banyak buat semuanya kak. Kakak laki-laki baik". Bintang berikan senyum manisnya pda Alva yang langsung membeku ditempatnya.


"Daaa kak..sampai ketemu besok". Bintang melambaikan tangannya pada Alva yang masih membeku ditempatnya.


Bahkan setelah mobil Bintang hilang dari pandangannya, Alva masih berdiri ditempatnya tadi.


Ia meraba dadanya, merasakan gemuruh yang kian menggila hanya karena dipuji Bintang sebagai laki-laki baik.


"Aaah..ini adalah hari terbaik dalam hidupku". Alva masih senyum-senyum sambil berjalan menuju mobil miliknya.


"Bintang...ah.." Masih menggumamkan nama Bintang dengan senyum yang semakin merekah.


"Semoga secepatnya kamu bisa buka hati kamu buat aku, Bin". Dan akhirnya tubuh Alva menghilang didalam mobil.


Alva tidak menyadari jika sejak tadi ada sepasang mata yang menghunuskan tatapan setajam pedang padanya.


Bahkan tatapan itu seolah bisa mengoyak tubuhnya karena saking tajamnya.


"Jangan pernah berharap!".


...¥¥¥•••¥¥¥...


...Double up nya nih.....


...Sebentar lagi bakal kita pertemukan ya Langit sama Bintang. Kira-kira bakal gimana ya??🧐🧐🤭😅...


...Sabar tunggu kelanjutannya ya pemirsah semuanya😊🙏🏻...

__ADS_1


...Sayang readers banyakbanyak♥️♥️ sarangheo😘😘🥰💐💋♥️...


__ADS_2