
"Wah, doa ojol tadi kayanya nggak bisa nembus langit deh". Gumam Bintang masih tak percaya dengan yang dilihat matanya saat ini.
Bintang bisa mendengar jelas bisik-bisik para karyawan tentang rupa menawan ceo baru mereka. Membuat Bintang melirik sinis sambil mendengus.
"Nggak nyangka kalau ceo baru kita masih muda.."
"Iya ya. Jadi semangat ke kantor tiap hari kalo kaya gini".
"Lihat tatapan matanya, bisa bikin meleleh cuma ditatap kaya gitu".
Banyak bisik-bisik lain yang bisa didengar oleh telinga Bintang. Tidak ingin mengeluh, tapi sungguh hari ini benar-benar hari yang tak akan dilupakannya.
"Hari ini, tanggal ini, bulan dan tahun ini nggak akan pernah aku lupain". Masih bergumam hingga tidak menyadari jika Alva memperhatikannya sejak tadi. Ya, ceo yang kini menjabat adalah Langit. Laki-laki yang setengah mati ingin ia lupakan dan kini ingin ia hindari justru menjadi pemimpin diperusahaan tempatnya bekerja.
"Takdir macam apa ini?". Batin Bintang meringis.
Sama seperti Bintang. Alva pun begitu terkejut melihat siapa ceo baru mereka. Ceo yang akan memimpin mereka ke depannya.
Seseorang yang Alva yakini adalah laki-laki yang dicintai Bintang. Laki-laki yang mampu membuat Bintang menutup hati bagi laki-laki lain yang ingin mendekati dirinya.
"Wajar saja". Gumam Alva yang mengakui segala kelebihan yang dimiliki Langit. Ia menatap Langit yang terlihat begitu bersinar diantara para petinggi perusahaan yang tengah mengerubunginya.
Entah karena koneksi atau memang lelaki itu memiliki kemampuan yang mumpuni hingga bisa berada di posisi ceo di usia nya yang terbilang masih sangat muda.
Alva akan bisa menilainya setelah nanti melihat hasil kerja ceo baru mereka itu. Ceo baru yang mampu membuat geger seisi gedung karena rupanya yang memang menawan itu.
"Tapi tunggu, bukankah namanya Langit? Lalu kenapa diperkenalkan sebagai pak Anggara?". Masih bergumam dan berperang dengan pikirannya sendiri hingga tidak menyadari jika ceo barunya sudah berdiri tepat didepannya.
"Ini adalah Alvaro, pimpinan bagian design". Alva tersentak saat direkturnya memperkenalkan dirinya pada Langit.
"Selamat pagi tuan.." Alva menyapa sopan sambil menundukkan kepalanya sebagai tanda penghormatan pada atasannya.
"Saya dengar kinerja kamu bagus. Saya menantikannya". Senyum bisnis tersungging dibibir Langit juga Alva. Meski tersirat ketidaksukaan dari mata mereka masing-masing. Namun keprofesionalan kerja tetap yang utama bagi mereka.
"Kemana anak itu?". Batin Alva yang baru menyadari jika Bintang sudah tidak ada lagi disampingnya.
"Ada satu lagi designer kita yang sangat berpotensi, tuan". Sang direktur berniat mengenalkan Bintang. Namun tak menemukan keberadaannya.
"Tapi dimana dia..sepertinya tadi disini". Bergumam yang masih didengar Langit yang langsung menyunggingkan senyum tipis saat matanya menangkap sosok yang tengah mengendap-endap pergi dari keramaian.
"Kamu memang nggak pernah berubah". Batin Langit saat melihat sosok yang dicari itu berlari menjauh sambil menutup wajahnya dengan tas. Bahkan tangannya terlihat menenteng sepatu yang tadi dikenakannya.
Mungkin jika tidak sedang diperhatikan banyak orang, Langit akan tertawa dan berlari mengejar wanitanya. Namun disini ia adalah sosok yang dikenal dingin. Bisa pingsan orang seisi gedung kalau dia sampai tertawa dan berlari mengejar Bintang.
"Bisa-bisanya kabur". Sama seperti Langit, rupanya Alva juga menangkap sosok Bintang yang tengah melarikan diri.
__ADS_1
Bintang baru bisa bernafas lega setelah berhasil melarikan diri dari Langit dan sampai diruangan kerjanya. Tadi, saat Alva sibuk melamun, dirinya melangkah mundur perlahan. Jauh, semakin menjauh dan akhirnya ia melepaskan alas kakinya dan berlari sekuat dirinya bisa.
Ia tidak menyadari jika perbuatannya tertangkap basah oleh ceo nya dan juga oleh Alva yang kini mengagumi keberanian Bintang lari dari ceo mereka.
Ia belum bisa jika harus kembali berhadapan dengan Langit setelah kejadian kemarin didalam mobilnya.
Memukul kepalanya beberapa kali saat bayangan ciuman lembut nan membuai yang diberikan Langit menari-nari diotaknya.
"Dasar gila!", Mengumpati dirinya sekaligus mengumpati sosok ceo barunya.
"Loh, kok neng Bintang disini.."
"Aaakh.." Berteriak kecil saat seorang OB tiba-tiba muncul dibelakangnya. Membuat jantungnya seperti berhenti berdetak sejenak.
"Astagfirullah mang Asep". Bernafas lega setelah melihat siapa yang memergoki dirinya.
"Kenapa neng? Kok kaget begitu sih". Bertanya dengan wajah tanpa dosa. Tidak sadar jika baru saja membuat orang lain hampir terkena serangan jantung.
"Nggak apa-apa mang.." Sahut Bintang yang kini menghempaskan tubuhnya diatas kursi kerjanya.
Bintang mengatur nafasnya yang masih terlihat tidak beraturan. Membuat mang Asep mengernyitkan dahinya.
"Neng Bintang ini sudah seperti habis lari marathon saja". Guraunya membuat Bintang tertawa. Tawa yang bahkan terdengar hambar ditelinga mang Asep.
"Iya mang, barusan habis marathon". Kerutan didahi pria paruh baya itu semakin terlihat jelas.
"Takut.." Semakin membuat pria paruh baya itu penasaran saja.
"Takut apa neng? Jangan bikin mamang ikut takut atuh neng.." Antara ingin tertawa dan kasihan saat melihat wajah panik mang Asep.
"Ada biawak tadi dibawah mang".
"Hah? Yang bener neng?". Bintang mengangguk sambil mengulum bibirnya.
"Masa sih neng, di gedung sebesar dan semewah ini ada biawak berkeliaran". Anggap saja kehadiran mang Asep pelipur hati Bintang yang tengah kalut.
"Beneran mang. Buaya aja ada mang disini mah". Mata yang kulitnya mulai menampakkan keriput itu melebar. Menandakan ketekejutan yang nyata.
"Atuh bahaya neng kalau begitu". Bintang hampir tidak bisa menahan tawanya kala mang Asep terlihat semakin panik.
"lalu pak CEO baru bagaimana neng? Kan ada dibawah sekarang". Bertanya dengan nada khawatir.
"Dia mah udah rajanya buaya dan biawak mang". Menjawab lantang meski hanya dalam hati.
"Saya kabari keamanan dulu ya neng kalau ada buaya". Sudah mau pergi namun mengurungkan niat saat mendengar ucapan Bintang.
__ADS_1
"Keamanan juga nggak bisa nangkapnya mang. Yang ada mereka malah dipecat kalo nangkep buaya nya". Kembali terlihat bingung setelah tadi panik sendiri.
"Kok bisa neng?". Pekerjaannya jadi tertunda akibat ulah Bintang yang mengerjainya.
"Kan buayanya pada pake jas sama dasi mang.. hehehe". Tertawa sendiri karena mang Asep belum mengerti. Masih terlihat berpikir sementara tawanya semakin pecah.
"Duh gusti si eneng.." Ikut tertawa saat sudah memahami buaya yang dimaksud oleh Bintang.
"Untung mamang tadi nggak langsung teriak". Masih tertawa bersama Bintang yang kini sudah terbahak ketika mengingat wajah lucu mang Asep.
"Kalau buaya yang seperti itumah banyak yang antri buat di makan atuh ya neng". Tawanya kian pecah saja.
Buaya yang mereka maksud saat ini adalah para petinggi dengan penampilan rapi, berjas serta berdasi yang bisa memilih mangsa sesukanya dan dari kalangan manapun.
Sudah menjadi rahasia umum jika banyak laki-laki yang sudah mapan sering menggoda bahkan tidak segan memberikan sejumlah uang pada wanita yang bahkan tidak memiliki hak untuk menerima semua itu.
Di perusahaan ini pun hal itu terjadi. Beberapa petinggi yang bermain gila dengan karyawan biasa atau dengan sekretaris yang sengaja mereka pilih sendiri agar bisa bermain-main sepuasnya.
"Ah, si eneng ngajakin ngobrol wae. Mamang jadi lupa sama kerjaan". Bintang nyengir, menampakkan deretan giginya yang rapi.
"Mamang lanjut nyapu dulu ya neng.." Pamit pada Bintang yang langsung mengangguk.
Bintang memang dekat dengan mang Asep. OB yang bertugas membersihkan gedung dilantai dirinya berada.
"Mau kopi apa enggak?". Mang Asep menyembulkan kepalanya dan bertanya pada Bintang yang langsung mengangguk sambil mengacungkan kedua jempol tangannya.
"Siap atuh lah. Tunggu sebentar ya neng.."
"Siap mang Asep..makasih ya mang". Gantian mang Asep yang mengacungkan jempolnya pada Bintang.
Mang Asep memang sangat menyayangi Bintang layaknya putrinya sendiri. Bukan tanpa sebab, selain Bintang yang memang ramah dan selalu memperlakukannya dengan baik, Bintang juga tidak pernah memandang dirinya sebelah mata seperti pegawai yang lain memandang rendah pekerjaannya. Seringkali memerintahnya tanpa perasaan yang kadang membuat mang Asep harus mengelus dada. Bahkan Bintang sering memberi sedikit rejekinya untuk mang Asep dan keluarganya.
Kini tinggallah Bintang sendiri, menyandarkan tubuhnya sambil menatap langit-langit. Memikirkan bagaimana nasibnya kedepan setelah Langit menjadi ceo.
"Ayolah, nggak mungkin setiap hari ketemu. Lagian siapa lah kamu Bintang, bisa ketemu ceo tiap hari". Menenangkan hatinya yang gundah karena keberadaan Langit.
...¥¥¥•••¥¥¥...
...Kreji up nih readers, udah kaya othornya yang kreji mikir jalan ceritanya😂😂🤭...
...Belum ketemu aja udah ketar-ketir ya, Bintang🤭🤭😅😅...
...Awas Bintang, Langit kan iseng bin usil..bisa jadi tiap hari kamu harus berhadapan sama pak ceo baru😅😅...
...Ini sih judulnya pakuat-kuat sama keinginannya ya. Langit pengen deket-deket Bintang terus, Bintang pengen ngehindarin Langit terus🤭😅...
__ADS_1
...Kira-kira siapa yang bakal menang nih readers??🤔🤔...