
"Dia beneran tidur?". Bulan bersuara sepelan mungkin agar tidak mengganggu Bintang yang rupanya benar-benar tertidur.
"Hm.." Langit hanya berdehem menanggapi Bulan. Sejak tadi matanya tak beralih kemanapun, seolah pusat dunianya hanya gadis yang tengah terlelap itu.
"Yah, terus gimana dong ini. Mumpung udah pada masuk anak-anak yang lain". Kini Langit menoleh, ia berdiri dan melihat keluar jendela. Benar saja, kondisi diluar sudah sepi.
"Biar gue gendong aja". Ucapan Langit membuat Bulan menyunggingkan senyum.
"Lo masih inget rumah gue kagak?". Langit menatap Bulan kemudian mengangguk.
"Gue belom bisa ikut pulang. Tadi pak Budi bilang salah satu aja yang nganter". Keduanya terdiam sesaat. Bukan Langit tak mau, tapi ia takut Bintang marah jika tahu Bulan tidak ikut bersama mereka.
"Gue udah telpon ibu. Gue bilang kalo Bintang jatoh pas olahraga, jadi disuruh pulang. Gue juga udah bilang kalo elo yang nganterin Bintang". Langit masih diam berpikir.
"Lang! Lo dengerin gue kaga". Kesal Bulan karena sejak tadi Langit hanya diam saja.
"Kalo dia bangun gimana? Nggak akan ngamuk?", Langit melirik Bintang yang terlihat sangat lelap.
"Kaga punya tenaga dia buat ngamuknya juga". Ucap Bulan sambil terkekeh
"Bukain pintunya.." Langit menyerahkan kunci mobilnya kemudian dengan sangat hati-hati ia menyusupkan tangannya dibawah lutut dan belakang tubuh Bintang.
Dengan perlahan ia mengangkat tubuh Bintang. Ini sudah kedua kalinya ia menggendong Bintang dalam keadaan terlelap.
"Buruan! Kaga usah diliatin mulu. Sohib gue emang cantik". Bulan menyadarkan Langit yang sejak tadi justru terpaku menatap Bintang.
"Ck.." Langit berdecak kesal saat mendengar Bulan menggodanya. Namun ia tetap berjalan mengikuti Bulan.
Dari kejauhan, nampak Catherine yang mengepalkan tangannya saat kembali melihat Langit menggendong Bintang. Kebenciannya pada Bintang kian besar saja.
"Lain kali gue pastiin lo nggak akan bisa lagi cari perhatian Langit!!", Catherine mengepalkan tangannya dengan sorot mata penuh kebencian.
Ia memutuskan kembali ke kelas. Catherine pun merasa menang, karena statusnya sebagai anak kepala sekolah, dirinya terbebas dari hukuman. Bahkan tak ada seorang pun yang berani melaporkan perbuatannya.
"Liat jalan Lang. Liatin Bintang besok lagi bisa". Langit menatap Bulan yang berjalan didepannya. Apa gadis itu juga memiliki mata dibelakang kepalanya? Bagaimana mungkin bisa tahu jika Langit berkali-kali menatapi Bintang yang ada didalam gendongannya.
"Apaan sih lo". Ketus Langit yang sebenarnya merasa malu tertangkap basah tengah menatapi Bintang.
"Ck, kaga usah ngeles deh. Fokus aja ama jalan, gue takutnya malah Bintang ngegelinding gara-gara lo nggak fokus ama jalanan". Gantian Bulan yang berdecak, tanpa melihat pun ia tahu jika Langit pasti menatap Bintang.
Keduanya sampai di mobil Langit yang sudah terparkir tidak jauh dari ruang kesehatan. Tidak ada orang, karena memang letak ruang kesehatan yang berada di bagian belakang gedung sekolah. Lokasinya yang terpisah dari kelas-kelas membuat Langit dengan mudah membawa Bintang tanpa dilihat banyak orang.
Bulan membuka pintu, mengatur kursi agar nantinya nyaman saat digunakan untuk meletakkan tubuh Bintang.
__ADS_1
"Pelan-pelan..." Peringat Bulan saat Langit mulai memasukkan tubuh Bintang ke dalam mobil.
Bintang melenguh saat Langit meletakkan tubuhnya. Langit bahkan sampai menahan nafas sesaat. Mencoba mengatur ritme jantungnya yang tiba-tiba menggila karena melihat wajah Bintang dari jarak yang sangat dekat ini.
"Buruan keluar! Jangan cari kesempatan". Bulan mendorong pelan belakang kepala Langit.
Langit terkesiap dan buru-buru menarik diri. S*alnya karena terlalu buru-buru, kepalanya membentur pintu mobil hingga lelaki itu mengaduh kesakitan.
Bulan hanya bisa tertawa melihat Langit kesakitan. Ia semakin yakin saja jika Langit sang biawak, sudah jatuh terjerat dalam pesona sahabat baiknya itu.
"Baek-baek lo, Lang. Gue takut lama-lama lo jadi gila". Langit mendengus kesal, sejak tadi Bulan terus menggodanya.
"Awas ah lo. Gue mau anterin Bintang". Usir Langit membuat Bulan tergelak.
"Awas lo jangan macem-macemin sohib gue". Langit kembali mendengus mendengar ucapan Bulan.
"Ntar gue bawa pulang biar lo bingung nyarinya". Ketus Langit membuat Bulan justru tertawa.
Bulan masih berdiri disamping mobil Langit, bahkan saat Langit sudah masuk kedalam mobil. Ia ingin memastikan Bintang pergi dengan Langit dulu sebelum ia kembali ke kelas.
"Titip Bintang ya.." Ucap Bulan saat Langit menurunkan kaca mobilnya. Langit mengangguk meyakinkan. Ia tahu betapa dekatnya kedua gadis itu, pasti Bulan mengkhawatirkan Bintang.
"Lo tenang aja. Dia aman sama gue". Bulan mengangguk, menatap mobil yang mulai bergerak menjauh.
"Ada apa?", Tanya Langit saat Bulan berlari dan kini berdiri disamping pintu mobilnya.
"Jangan cerita apa-apa ke ibu. Tadi gue bilang kalo Bintang jatoh pas olahraga. Bisa pingsan mak gue kalo tau anak ceweknya didorong orang ampe dijahit". Cerocos Bulan membuat Langit kembali mengangguk.
"Ada lagi?". Bulan menggeleng
"Yaudah sono deh anterin Bintang". Langit mendengus pelan saat Bulan mengusirnya.
"Bintang..Bintang.." Gumam Bulan sambil menggeleng. Mungkin kalau dirinya yang jadi Bintang, sudah ia depak Catherine meski harus menggunakan kekuasaan ayahnnya. Tapi sahabatnya memang aneh, saat bisa menjadi sultan dan mendapatkan segala yang diinginkan, Bintang justru lebih senang menjadi rakyat jelata yang sederhana.
Mobil Langit sudah keluar dari area sekolah. Ia mengendarai mobilnya dengan pelan, tak ingin kenyamanan Bintang terganggu.
Beberapa kali ia melirik Bintang yang masih terlihat tidur. Kedua sudut bibirnya terangkat sempurna. Menatap wajah ayu Bintang mendatangkan ketenangan sendiri dihatinya.
"Gue beneran udah gila.." Gumam Langit yang kemudian menggelengkan kepalanya.
Ia kembali melirik Bintang sekilas, memastikan jika debaran jantungnya yang menggila bukan karena Bintang. Namun berulang kali ia pastikan, tak ada yang berubah. Memang Bintang lah yang mampu membuat debaran jantungnya menggila.
Sepanjang perjalanan, Langit berkali-kali melirik Bintang. Hanya sekedar memastikan gadis itu nyaman dalam tidurnya.
__ADS_1
Langit membelokkan mobilnya ke sebuah rumah yang pernah ia kunjungi. Sudah kedua kalinya ia datang dengan alasan yang sama. Mengantarkan Bintang.
"Kerjasama nya ya. Awas lo kelepasan". Ucap Langit pada dirinya sendiri. Ia selalu lepas kontrol jika sudah mengobrol. Ia takut kelepasan dan menceritakan kejadian sebenarnya pada ibu Bulan.
Langit kembali melirik Bintang, tak ada tanda-tanda gadis itu akan bangun. Sementara didepan sana, pintu rumah Bulan sudah terbuka dan menampakkan sosok wanita paruh baya yang masih terlihat cantik di usianya.
"Langit.." Sapa ibu saat melihat Langit turun dari mobil. Pemuda itu menyalami tangan ibu dan mencium punggung tangannya.
"Bintang?". Tanya Ibu saat Bintang tak kunjung turun.
"Bintang tidur bu.." Ucap Langit membuat ibu mengangguk paham.
"Bagaimana ceritanya?". Tanya Ibu membuat wajah Langit berubah.
"Ah nanti saja, bawa Bintang masuk dulu ya. Maaf selalu merepotkan nak Langit.." Ucap Ibu sungkan membuat Langit langsung menggeleng.
"Sama sekali enggak kok bu.." Ucap Langit disertai senyum tulus.
Langit membuka pintu mobil, menampakkan Bintang yang terlelap. Seperti saat tadi menggendong Bintang untuk dibawa ke mobil. Langi melakukan hal yang sama, melakukannya dengan sangat perlahan.
"Hati-hati nak.." Ibu membuka lebar pintu rumahnya agar Langit tidak kesusahan masuk.
"Kamarnya sudah ibu buka pintunya, tolong dibawa kesana dulu ya.." Langit mengangguk, entah mau kemana ibu hingga wanita itu tidak mengantarnya.
Langit kembali melangkahkan kakinya, membawa Bintang ke kamar Bulan. Kamar yang sama seperti sebelumnya.
Langkah kaki Langit tidak menunjukkan jika ia keberatan membawa tubuh Bintang, bahkan saat menapaki satu persatu tangga yang akan membawa mereka ke kamar Bulan.
Sampai di kamar, Langit membungkukkan tubuhnya, menurunkan Bintang perlahan. Langit belum menarik tangannya, namun Bersamaan dengan itu, mata Bintang terbuka. Keduanya membeku, posisi keduanya sangat dekat saat ini.
Bintang yang terkejut bergerak cepat hingga membuat Langit kehilangan keseimbangan karena tangannya yang masih menyangga tubuh Bintang.
Karena pergerakan Bintang yang tiba-tiba itu, terjadilah sesuatu yang kembali membuat kedua makhluk itu membeku ditempatnya.
Bibir keduanya saling menempel membuat irama jantung mereka semakin tak terkendali. Mata keduanya melebar saat merasakan sebuah benda kenyal menempel sempurna di bibir mereka.
"Ciuman pertama gue...!!!".
...¥¥¥¥•••¥¥¥¥...
...Holla readers..apakabarnya kalian??? Semoga sehat ya😊, aamiin🤲🏻🤲🏻🤲🏻...
...Jangan lupa tampol like nya ya, komennya jangan ketinggalan😊🥰...
__ADS_1
...Sarangheo sekebon kalian🥰🥰😘😘😘💋💐 happy reading🥰🥰💐💐...