Langit Untuk Bintang

Langit Untuk Bintang
membujuk


__ADS_3

"Ada gue.."


Bintang langsung mendongak menatap Langit. Bukannya tenang, Bintang justru semakin panik dan berusaha melepaskan diri dari Langit.


"Gue nggak mau.." Bintang hampir menangis. Rasa takutnya terhadap segala yang berbau rumah sakit mengalahkan rasa sakitnya.


"Ini nggak sesakit yang lo bayangin, Bin.." Suara Langit terdengar sangat lembut. Sangat berbanding terbalik dengn saat Langit berbicara dengan Catherine tadi.


"Tapi gue nggak mau.." Akhirnya air mata Bintang menetes. Bayangan sang ibu yang terbaring diranjang rumah sakit dengan banyak peralatan medis berputar di kepalanya hingga membuat Bintang semakin takut.


"Hey..lo kenapa?". Langit terkejut melihat Bintang benar-benar menangis. Ia dibuat bingung dengan reaksi Bintang.


"Gue nggak mau disuntik." Lirih Bintang yang merasa kepalanya semakin pusing. Sesekali ia merebahkan kepalanya ke dada bidang Langit.


"Bintang, ini nggak akan sakit kok. Percaya deh sama saya.." Bujuk dokter yang melihat ada sesuatu dibalik ketakutan Bintang.


"Tapi saya nggak mau dok. Di perban saja ya". Pinta Bintang membuat dokter tersenyum lembut agar Bintang bisa tenang.


"Luka dipelipis kamu ini dalam. Akan sangat berbahaya kalau tidak tepat penanganannya, Bintang. Nanti bisa infeksi loh..kalau sampai infeksi kan nanti malah harus ke rumah sakit". Bintang tetap menggelengkan kepalanya mendengar bujukan dokter.


"Ini nggak akan lama Bintang. Nggak akan berasa juga kok, percaya deh sama saya.." Kepala Bintang terus menggeleng. Bahkan kini ia mencengkeram tangan Langit kuat-kuat.


Langit menatap intens wajah Bintang yang terlihat memucat. Darah yang keluar bisa dibilang cukup banyak, dilihatnya lagi wajah Bintang. Entah apa yang gadis itu takutkan, tapi yang pasti Langit tahu, gadis itu tidak sedang berpura-pura. Apalagi hanya untuk mencari simpati orang lain.


Sementara di lorong yang menghubungkan kelas satu dengan yang lain, tampak seorang gadis yang berjalan cepat. Pikirannya sudah dipenuhi oleh keadaan sahabatnya.


"Apaan? Lepasin, gue mau ke Bintang". Gadis yang tak lain adalah Bulan menoleh saat tangannya di cekal seseorang.


"Apa yang kalian sembunyiin?". Dahi Bulan berkerut mendengar pertanyaan yang menurutnya sangat tidak jelas.


"Apa sih? Nggak jelas.." Bulan melepaskan tangannya, namun cekalan ditangannya terlalu kuat.


"Lepas Sam. Gue harus cepet ke Bintang". Bulan khawatir Bintang tak mau ditangani.


"Gue yakin, lo sama Bintang nyimpen sesuatu". Sam semakin mendesak, sementara Roman mengamati keduanya.


"Apa sih maksud lo. Ngomong yang jelas, gue nggak ada waktu ladenin omongan lo yang kaga jelas". Bulan kesal karena Sam terus menahannya.


"Kenapa Bintang nggak mau sampe masalah ini di bawa ke guru?". Bulan terhenyak mendengar pertanyaan Roman.


"K-kata siapa. Sok tau banget lo berdua. Udah lepas!". Bulan coba melepaskan namun masih gagal.


"Nggak masuk logika lo bilang Bintang nyariin Langit, sementara selama ini kita tau gimana sikap Bintang ke Langit". Kini Sam yang kembali bersuara.


"Alasan lo nggak masuk akal Bul". Roman menimpali membuat Bulan menelan kasar salivanya. Bagaimana bisa keduanya menyadari ada maksud lain saat dirinya membuat Langit menjauh dari Catherine dan tidak memperpanjang masalah tadi.

__ADS_1


"Dan lagi, ucapan lo ke Catherine tadi--"


"Lo berdua cuma berasumsi aja. Awas! Gue harus dampingin Bintang". Bulan berhasil menghempaskan tangan Sam.


"Gue makin yakin kalo kalian nyembunyiin sesuatu. Bukannya tadi lo udah disana dan rela lari-larian cuma buat nyusul Langit?". Bulan yang sudah berjalan beberapa langkah kembali berhenti. Memejamkan mata sejenak saat menghadapi Sam dan Roman yang kini menunjukkan kepintarannya dalam menganalisa keadaan.


"Dan sekarang lo bilang, lo musti dampingin Bintang? Terus buat apa lo nyusulin Langit ampe lari-lari?". Roman menyunggingkan senyumnya. Seolah tengah menjadi seorang detektif sungguhan yang tengah memecahkan kasus.


"Karna gue sahabat Bintang". Tak ingin berurusan lebih panjang dengan dua antek-antek Langit itu, Bulan segera berlari menuju ruang kesehatan untuk melihat kondisi Bintang.


Kembali ke ruang kesehatan, sudah berlalu cukup lama tapi Bintang belum juga bisa dibujuk.


"Kamu bisa pingsan kalau terus seperti ini, Bintang. Biar dokter menangani luka kamu dulu ya". Pak Budi terus mencoba membujuk Bintang. Gadis itu termasuk murid kesayangannya. Selain sikap sopannya, gadis cerdas itu juga selalu membanggakan sekolah dengan prestasi basketnya.


"Diperban aja..jangan disuntik apalagi di jahit". Pinta Bintang dengan sorot mata memohon. Ia tatap satu persatu orang yang kini ada diruangan itu. Dan tatapannya berakhir pada sosok lelaki yang sorot matanya menunjukkan kekhawatiran besar.


"Nggak bisa dong..nanti lukanya nggak ketutup sempurna. Nanti malah ngebekas". Langit bersuara, posisinya dan Bintang sampai detik ini belum berubah. Bintang masih mencengkeram erat lengan Langit yang memegangi tubuh lemah Bintang.


"Pliis..biarin ada bekasnya juga". Langit terhenyak, belum pernah Bintang terlihat selemah ini.


Tak lama Bulan masuk, air matanya langsung menetes begitu melihat kondisi Bintang. Ia segera mendekat dan mencoba menenangkan Bintang.


"Bubul.." Tangis Bintang akhirnya pecah. Ia menangis didalam pelukan Bulan yang langsung mengelus punggung bergetar sahabatnya.


Hati Bulan terasa sakit melihat kondisi Bintang. Wajah berlumur darah yang mulai mengering, bahkan tetesan darahnya sampai mengenai seragam olahraganya.


"Diobatin ya.." Bagaikan seorang ibu yang tengah membujuk putrinya untuk meminum obat, Bulan bertutur kata sangat lembut.


Tak ada jawaban, hanya gelengan kepala yang Bulan rasakan.


"Semua baik-baik aja..cuma di suntik aja kok. Nggak akan sakit.." Bulan masih mengelus punggung Bintang.


"Nggak mau. Nanti gue kaya ibu.." Bulan memejamkan matanya. Trauma kehilangan ibu dimasa kecil membuat Bintang begitu ketakutan dengan segala hal berbau rumah sakit.


"Nggak akan..justru kalo elo kaya gini.." Bulan tak melanjutkan kata-katanya. Sudah bertahun-tahun bersahabat, namun Bulan masih terus belajar bagaimana cara cepat menenangkan Bintang saat ketakutan seperti ini.


"Ibu pasti sedih liat lo kaya gini Bin.." Tak ada yang bersuara selain Bulan. Semua hanya menjadi pendengar.


Dahi Langit berkerut semakin dalam. Mendengar semua percakapan Bulan dan Bintang yang masih belum bisa ia pahami.


"Ibu? Ibunya siapa yang mereka omongin sih? Bukannya ibunya si Bintang masih ada? Terus ibunya siapa yang mereka omongin?". Langit sibuk dengan pikirannya, hingga suara Bulan membuat nya tersadar.


Bulan memberi kode pada Langit agar membantunya membujuk Bintang. Entahlah, Bulan tak tahu mengapa meminta bantuan Langit.


"Bin.."

__ADS_1


"Gue nggak mau.." Belum Langit berkata apapun. Baru sekedar memanggil nama Bintang saja, gadis itu sudah memberi penolakan.


"ini nggak akan sakit. Beneran deh". Langit berjongkok disamping Bintang dan Bulan. Efek terlalu lelah dan kehilangan banyak darah membuat Bintang tak mampu lagi menopang berat tubuhnya.


Bulan melepaskan pelukannya secara perlahan. Dan Langit kembali mengangkat tubuh Bintang kemudian membaringkannya di atas ranjang. Namun sedetik kemudian, Bintang kembali duduk.


"Bul.." Bintang menatap Bulan dengan tatapan sendu. Sungguh ia benar-benar takut saat ini. Melihat dokter dengan jas putih nya saja Bintang sudah takut. Apalagi jika melihat jarum suntik dan yang lainnya.


"Gue disini.." Bulan berdiri disamping kiri Bintang, sedangkan Langit ada disamping kanan gadis itu.


"Diobatin ya..pliss.." Kini Bulan yang memohon pada Bintang. Ia sudah tak sanggup melihat pelipis Bintang terus mengeluarkan darah.


Tiba-tiba Langit menuntun tangan Bintang agar berpegang pada lengannya. Bintang pun langsung menatap Langit, pun dengan Bulan.


"Kalo lo takut, lo boleh pegangan sama gue. Lo cukup nutup mata lo terus percayain semua sama dokter". Bintang diam masih menatap Langit yang menangkup tangannya yang diletakkan di lengan Langit.


"Nggak akan lama. Gue jamin.." Langit terus coba meyakinkan Bintang yang masih terlihat meragu.


"Nggak akan lebih dari 15menit kan dok?". Langit menatap dokter seolah meminta bantuan untuk meyakinkan Bintang.


"Iya Bintang. Nggak akan sampai 15menit, saya pastikan itu". Dokter langsung memahami kode mata Langit.


"Ada gue sama Bulan disini. Pak Budi juga ada..lo nggak perlu takutin apapun". Bintang diam masih dengan mata berair.


"Lo pegangan sama gue. Kalo kerasa sakit, lo boleh cakar atau pegangan lebih kuat ke tangan gue". Bintang menatap Bulan yang langsung mengangguk meyakinkan.


"Nggak akan lama.." Ucap Bulan lembut.


Perlahan Bintang mulai memejamkan matanya. Tangannya yang tadi hanya diletakkan diatas lengan Langit kini mulai mencengkeram lengan kekar itu. Bukan hanya satu tangan, tapi kedua tangan Bintang berpegangan erat pada lengan Langit. Karena Bulan harus berpindah tempat untuk memudahkan dokter menangani Bintang.


Dahi Bintang berkerut dalam saat jarum suntik menusuk kulit di sekeliling luka yang akan dijahit. Tangannya pun semakin erat mencengkeram lengan Langit hingga kukunya menancap dilengan itu.


Satu detik, dua detik berlalu, kerutan di dahi Bintang perlahan mengendur saat luka nya mulai tak terasa. Bagian luka dan sekelilingnya sudah tak terasa.


"Bintang, kalau saya pegang begini, apa sakit?", Dokter menyentuh sisi luka untuk mengecek apakah obat bius sudah bekerja sempurna atau belum.


Bintang menggeleng sebagai jawaban yang itu artinya bius sudah bekerja sempurna. Dokter dibantu perawat mulai menjahit luka di pelipis Bintang.


Bulan memilih memalingkan wajahnya dari sang sahabat karena tak sanggup melihat jarum yang keluar masuk menembus kulit sahabatnya itu.


Selagi sebelah tangannya dijadikan pegangan Bintang, tangan Langit yang lain menangkup dan mengelus punggung tangan Bintang yang ada di lengannya. Seolah ia memberitahu Bintang jika dirinya akan selalu ada disamping gadis itu.


Dalam diamnya, rahang Langit kembali mengeras mengingat bagaimana kuatnya Catherine mendorong Bintang hingga terluka parah seperti saat ini.


"Kali ini gue nggak akan diem aja Cath.." Batin Langit yang masih diselimuti amarah jika mengingat Catherine.

__ADS_1


__ADS_2