
"Itu dia.." Seru sahabat baik daddy Prabu. Mata Langit tak berkedip meski sudah lama ia memandangi sosok yang masih terlihat berdebat dengan seorang pria yang tak ia kenal.
Penampilannya sangat berbeda dari yang sering ia lihat selama ini. Gaun indah berwarna burgundy yang membalut sempurna tubuh indahnya.
Panjang gaun yang hanya sebatas lutut membuat betis putihnya terekspos sempurna hingga Langit bisa dengan mudah menikmati keindahan itu.
"Cantik kan?". Bisik kakek Wira yang tersenyum melihat Langit yang tengah terpesona dengan kecantikan gadis yang ia siapkan untuk Langit.
Kepala Langit mengangguk membuat kakek Wira hampir menyemburkan tawanya.
"Kakek sudah bilang kalau dia sangat cantik. Kamu tidak percaya". Cibir kakek Wira yang masih tersenyum geli melihat reaksi Langit.
"Bintang.." Gumam Langit masih tak percaya dengan apa yang tengah dilihatnya kini.
Sosok gadis yang masih mencoba melepaskan diri dari cekalan pria yang berpenampilan seperti seorang preman.
Bunda bernafas lega melihat Alex bisa menemukan Bintang. Sedangkan ayah Henry hanya tersenyum sambil menggeleng.
Ya, gadis yang dijodohkan dengan Langit adalah Bintang. Gadis yang coba Langit lupakan dan sudah ia curi ciuman pertamanya.
Ayah Henry bangkit dan berjalan mendekati Bintang yang masih coba melepaskan diri dari Alex.
"Kerja bagus.." Ayah Henry menepuk pundak Alex beberapa kali dengan wajah puas karena hasil kerja orang kepercayaannya itu.
Bintang mendengus kesal. Rencananya kabur gagal total karena Alex lebih dulu menemukannya. Ia bahkan belum sejengkal pun melangkah keluar dari mansion ayahnya.
"Abis ini, bang Alex beneran gw pecat". Sengit Bintang menatap galak pada Alex yang justru tersenyum.
flashback dulu bentar ya..
Sepulang sekolah, Bintang disambut oleh bunda dan kedua kakak iparnya. Tak ada yang aneh siang sore itu.
Namun bunda telihat sibuk membuat aneka kue dan berbagai macam masakan yang menurut Bintang jumlahnya cukup banyak.
"Mau ada tamu bun?". Tanya Bintang sambil memasukkan potongan biskuit ke dalam mulutnya.
"Iya..sahabat ayah akan datang berkunjung. Ada sahabat alm. Opa juga.." Bintang membulatkan bibirnya tanda mengerti.
"Kamu jangan kemana-mana ya sayang.." Bintang menganggukkan kepalanya dan berjalan menuju kamarnya tanpa perasaan curiga sedikitpun.
"Bunda yakin Bintang nggak akan marah nanti?". Naura lebih dulu bersuara.
Bunda menghela nafas, bukan tidak takut. Tapi dirinya hanya menuruti perintah sang suami.
"Bun..Bundaaaa..." Bintang kembali dengan menenteng gaun yang sudah tergantung rapi. Membuat percakapan bunda dan Naura terhenti.
"Ini punya siapa? Kok ada di kamar aku?". Tanya Bintang menatap bunda dan kedua kakak iparnya.
"Punya kamu dek. Nanti malam kan ada tamu penting. Nggak sopan kalau pakaiannya terlalu casual kan?". Baik bunda maupun Naura bernafas lega karena Kiran selalu bisa diandalkan dalam hal seperti ini.
"Harus banget pake ini mbak?". Tanya Bintang menatap gaun yang ia pegang.
"Iya dong. Nanti ayah malu kalau kamu pakaiannya kaya biasa mau main sama Bulan". Senyum Kiran terlihat sangat meyakinkan hingga membuat Bintang akhirnya pasrah.
"Tenang aja, nanti mbak bantuin kamu siap-siap". Bintang hanya mengangguk-anggukkan kepalanya saja.
"Huft.." Ketiganya menghela nafas lega saat melihat Bintang sudah kembali ke kamarnya.
"Berasa senam jantung gini, bun". Bunda mengangguk membenarkan ucapan Kiran.
Tepat pukul 4 sore, ayah dan kedua putranya sudah kembali dari kantor. Hal yang sangat jarang terjadi. Karena biasanya, ayah dan kedua kakak Bintang baru kembali dari kantor paling cepat pukul 5 sore.
"Dimana Bintang?". Tanya ayah pada sang istri.
__ADS_1
"Dikamarnya.." Sahut Bunda mengambil alih tas kerja ayah.
"Dia masih belum tahu kan?". Bunda menggelengkan kepalanya sebagai jawaban.
"Ayah.." Ayah yang berjalan menghentikan langkahnya saat bunda memanggilnya.
"Tenanglah..kita hanya akan mengenalkan mereka. Tidak menikahkan mereka, bun". Hanya dengan melihat tatapan mata bunda, ayah tahu jika istrinya itu takut.
"Lagipula ini amanah papa sebelum meninggal". Akhirnya bunda mengangguk. Ia akan mengikuti apa yang suaminya katakan.
Pukul 5, Kiran memasuki kamar Bintang. Adiknya itu tidak ada, tapi Kiran mendengar gemericik air didalam kamar mandi.
"Dia sedang mandi rupanya.." Gumam Kiran yang kemudian duduk di kasur adik iparnya. Hampir 20menit Kiran menunggu, hingga akhirnya pintu kamar mandi terbuka.
"Astagfirullah.." Bintang berjingkat saat melihat Kiran sudah duduk ditepi kasurnya.
"Mbak Kiran bikin kaget ih.." Kiran terkekeh, wajah terkejut Bintang terlihat sangat lucu.
"Maaf deh..abisnya mbak panggil-panggil nggak ada yang nyautin". Bintang hanya menghela nafasnya sambil menggeleng pelan.
"Eh, mau pake baju apa?". Tanya Kiran saat melihat Bintang membuka lemarinya.
"Langsung pakai gaunnya aja". Alis Bintang berkerut.
"Acaranya kan jam 7 mbak. Masih lama banget". Ucap Bintang
"Tapi kan kamu harus mbak make up in, dek". Bintang menimbang
"Aku belakangan aja make up nya". Kiran menggeleng, tugas dari sang ayah. Bintang harus sudah didandani sebelum diberi tahu acara sebenarnya.
"Mbak kan dandannya suka lama, kamu tahu sendiri. Kan nggak lucu pas tamu nya dateng tapi kamu masih polosan gini". Bintang tampak berpikir sejenak kemudian mengangguk patuh.
Diambilnya gaun yang menggantung dilemari nya. Kemudian ia kenakan meski sebenarnya ia merasa kurang nyaman.
Kiran bergerak cepat memoles wajah adik iparnya. Tak perlu banyak yang dipakai di wajah Bintang karena memang sudah cantik.
"Selesai.." Kiran menatap puas hasil kerja nya.
"Ini nggak berlebihan mbak?". Tanya Bintang sambil menatap pantulan wajahnya di cermin.
"Enggak dek. Ini tuh udah natural banget..cocok banget buat kamu". Ucap Kiran meyakinkan Bintang.
Kiran melirik jam diatas nakas Bintang. 18.15, itu artinya sebentar lagi tamunya akan datang. Ia pamit pada Bintang bertepatan dengan ayah yang masuk kekamar si bungsu.
"Wah, anak ayah cantik sekali". Puji ayah yang kagum melihat wajah cantik putrinya.
"Makasih ayah.." Bintang selalu tersipu setiap kali ayah atau kedua kakaknya memuji kecantikannya.
Ayah duduk ditepian ranjang Bintang, lalu melambaikan tangannya agar Bintang juga duduk disebelahnya.
"Ada yang mau ayah bicarakan.." Firasat Bintang mendadak mengatakan ada sesuatu yang tak mengenakkan akan disampaikan ayah.
"Apa yah?". Tanya Bintang mencoba berpikir positif.
"Dengarkan ayah baik-baik dan jangan marah.." Bintang mengangguk patuh.
"Alm. Opa pernah berpesan pada ayah untuk menjodohkan kamu dengan cucu sahabatnya. Kamu masih ingat kan? Ayah pernah membicarakan ini denganmu".
deg..
Jantung Bintang seolah berhenti bekerja untuk sesaat mendengar penuturan ayah. Dari ucapan ayah, Bintang bisa menangkap maksud jika pertemuan malam ini akan membahas tentang hal itu.
Ayah memang pernah membicarakan ini dengan dirinya. Namun Bintang tak menyangka akan secepat ini dilaksanakan.
__ADS_1
"Ayah tidak akan memaksa..hanya saja tolong hargai tamu kita. Setidaknya temui mereka dulu..kalau memang tidak cocok. Ayah akan mencoba berbicara pada sahabat alm. Opa". Bintang masih diam mendengarkan setiap ucapan ayah.
"Apa kamu marah?". Sejujurnya ayah takut jika apa yang disampaikannya membuat sang putri marah. Namun senyuman Bintang membuat ayah menghela nafas lega.
"Hanya bertemu saja kan?". Ayah mengangguk membenarkan.
"Ya, hanya bertemu dan berkenalan saja.." Ucap ayah yakin.
"Baiklah.." Bintang menyetujuinya. Namun ayah tahu, ada sesuatu yang direncanakan putrinya. Tak mungkin putrinya pasrah begitu saja dengan perjodohan yang direncanakan alm. Ayahandanya.
"Kalau begitu, ayah keluar dulu. Ayah harus bersiap menyambut mereka.." Bintang mengangguk. Dalam kepalanya sudah tersusun rencana pelariannya.
"Dan ingat..jangan coba-coba kabur sayang". Bintang kembali tersenyum kaku dan mengangguk.
Tepat saat pintu kamarnya tertutup, senyumnya langsung pudar berganti wajah panik.
"Gw harus kabur. Nggak mau dijodoh-jodohin". Gumam Bintang.
Ia melirik jam diatas nakasnya, hanya tinggal 15menit sampai jam 7. Ia harus cepat bergerak jika ingin lolos dari perjodohan konyol yang akan menjeratnya.
Bintang membuka jendela yang menghubungkan kamarnya dengan balkon. Dilihatnya halaman rumah, tepat di gerbang ada beberapa penjaga.
Kabur melalui jendela kamar sudah hal biasa bagi Bintang. Namun kini dirinya tengah memakai gaun. Tak ada waktu untuk sekedar berganti pakaian.
"Sekarang. atau lo bakal kejebak sama perjodohan konyol ini, Bintang". Gumam Bintang yang sudah bersiap kabur.
Dibalik pintu, ayah tersenyum dan merogoh saku celananya untuk mengambil ponsel.
"Bersiaplah..aku yakin sebentar lagi dia akan turun". Ayah tersenyum setelah mematikan sambungan teleponnya. Ia menggeleng pelan dengan senyuman lebar.
Bintang sudah berhasil turun tanpa diketahui siapapun. Ia segera bersembunyi dibalik pilar saat melihat sebuah mobil mewah memasuki pelataran mansion ayahnya.
Bintang tidak bisa melihat jelas siapa saja yang turun dari mobil karena beberapa orang penjaga terus berlalu lalang.
"Aman.." Gumam Bintang dengan senyum merekah saat mengira rencana kaburnya berjalan mulus.
"Anda mau kemana nona.." Bintang mematung saat mendengar suara yang sangat ia kenali.
"S*al!! Gw lupa ama yang satu ini". Bintang mengumpati kecerobohannya yang melupakan orang yang harusnya paling ia waspadai.
Usahanya untuk kabur sia-sia saja. Tenaga yang ia gunakan untuk turun dari balkon kamarnya terbuang percuma karena pada akhirnya ia tertangkap.
"Mari nona.." Bintang menatap galak sosok yang saat ini justru tersenyum sangat manis padanya.
"Bang Alex nggak usah senyum-senyum". Ketus Bintang yang justru membuat Alex ingin tertawa.
Alex menggiring Bintang untuk memasuki mansion. Sikap waspadanya tak sedikitpun ia kurangi, karena tahu betul watak putri bungsu majikannya itu.
Dan benar saja, secara tiba-tiba Bintang memutar tubuhnya dan melayangkan pukulan pada Alex yang sigap menangkisnya.
"Percuma saja nona..anda tidak akan bisa kabur". Alex sudah memegang kedua tangan Bintang hingga gadis itu tak berkutik.
"Bang Alex ngeselin banget, sumpah!!". Sengit Bintang yang tak mampu mengelak saat Alex menggiringnya masuk ke dalam rumah.
Sampai didalam rumah, Bintang masih coba bernegosiasi dengan Alex. Bahkan mengancam Alex akan memecatnya. Namun jawaban lelaki itu justru semakin membuat Bintang kesal.
"Anda tidak bisa memecat saya nona. Karena tuan yang sudah mempekerjakan saya".
...¥¥¥•••¥¥¥...
...Nggak tau deh, readers suka apa engga🤭 semoga suka deh ya😊😊...
...Ikuti terus kisah Langit dan Bintang ya..jangan lupa kasih dukungan like sama komenannya😊🙏🏻...
__ADS_1
...Terimakasih yang udah selalu dukung..semoga terus dukung semua karya aku. Sayang readers banyakbanyak🥰🥰😘 sarangheo sekebon🥰😘😘💋💐...