Langit Untuk Bintang

Langit Untuk Bintang
bersabar lah


__ADS_3

Bintang tengah mematut penampilannya didepan cermin. Sebuah kebaya cantik berwarna merah muda itu menempel sempurna ditubuh indah yang ia miliki.


Kulitnya yang putih tampak semakin bersinar dengan kebayanya itu. Rambutnya dibiarkan tergerai, hanya ada dua kepangan kecil disisi kanan dan kiri yang kemudian disatukan dibelakang dengan sebuah jepit rambut berbentuk pita yang sangat cantik. Semua terlihat pas hingga menambah kecantikannya.


Namun sayang, tak ada rona kebahagiaan di wajah yang bisa dibilang sempurna itu. Entah mengapa, ia tidak merasa bahagia saat ini.


Namun untuk membatalkan semuanya juga sangatlah tidak mungkin. Selama ini dirinya sudah terlalu banyak membuat orang tua dan saudara-saudarinya selalu mengkhawatirkan dirinya. Rasanya sudah tidak pantas di umurnya kini ia membuat semua orang terus memikirkan tentang kehidupan percintaannya.


"Intinya jangan coba kabur atau melarikan diri dan membuat kerusuhan saat calon yang dipilihkan ayah datang bersama keluarganya". Ucapan kakaknya siang tadi masih jelas terngiang di telinga Bintang. Dan apa yang diucapkan kakaknya tadi siang memang sangatlah benar.


"Ayolah, Bintang. Ini kan yang kamu mau.. " Bergumam didepan cermin sambil terus berusaha meyakinkan hatinya.


Ia melirik jam diatas nakasnya. Waktu baru menunjukkan pukul 18.30 , masih ada waktu cukup untuk dirinya menenangkan diri. Bunda sudah memberitahu dirinya jika laki-laki yang ayah pilihkan untuknya akan datang nanti pukul 19.00


Terus berdoa dan berserah diri pada sang Pencipta. Itulah yang saat ini bisa Bintang lakukan. Ia mempercayakan seluruhnya pada sang Pencipta juga pada kedua orang tuanya.


Hanya satu yang ia yakini. Kedua orang tuanya tidak akan pernah memilihkan jodoh yang buruk untuknya.


"Waktu... ya.. aku yakin hanya butuh waktu untuk menerima pilihan ayah dan bunda. Seiring berjalannya waktu, aku pasti bisa mencintai laki-laki itu dan melupakan Langit".


Sementara ditempat lain, Langit tengah sibuk berjalan kesana kemari hingga membuat mommy yang duduk kesal.


" Langit.. duduk dong. Mommy pusing lihatin kamu dari tadi bolak balik". Omel mommy Sekar pada putranya.


"Daddy mana sih mom? Ini udah jam berapa??". Masih tidak mau menuruti sang ibu dan malah semakin sering berjalan kesana kemari didepan ibunya.


bugh..!


" Mom.. sakit". Mengelus kakinya yang terasa sakit karena stiletto sang mommy mendarat sempurna dikaki panjangnya.


"Makanya duduk! Mommy pusing liatin kamu bolak balik, belum mulut kamu ngoceh terus dari tadi. Mommy jadi nggak bisa fokus dandan". Langit berdecak, namun tak urung ia mendudukkan tubuhnya.


" Sepatu mommy siniin dong! ". Kembali berdecak karena perintah ibunya.


" Kenapa nggak dari tadi bilangnya. Langit udah duduk baru disuruh bawain". Meskipun menggerutu, nyatanya Langit tetap menuruti perintah mommy.

__ADS_1


"Kamu nggak ikhlas disuruh ibunya!? Dosa tau Lang. Mommy batalin nih.. " Ancaman mommy membuat Langit mendengus.


"Apaan kaya gitu ngancemnya. Nggak seru". Akhirnya diam saja daripada kena omel dan acara malam ini benar-benar dibatalkan.


" Tapi daddy mana sih mom?! ". Baru juga diam, ia sudah tak bisa menahan diri untuk kembali bertanya.


" Sebentar lagi juga keluar. Sabar aja sih, rumahnya juga nggak jauh-jauh amat". Langit menghela nafas panjang dan mengeluarkan nya kasar. Mau protes tapi ancamannya menyebalkan, tidak protes, dirinya sudah tidak sabar.


"Tuh, daddy kamu.. " mommy menunjuk suaminya yang berjalan tenang menuju kearahnya.


"Aku udah ganteng belum mom? ". Bertanya pada sang ibu sambil merapikan kemeja batik panjang yang membalut sempurna tubuh gagahnya.


" Ganteng aja nggak cukup. Percaya diri belum kalau Bintang nggak akan kabur". Ucapan daddy Prabu membuatnya langsung pias.


Ia teringat masa SMA mereka dulu saat dijodohkan. Bintang kabur saat itu. Beruntung ada pengawal yang bisa menangkap Bintang saat itu.


Mommy dan Daddy tertawa melihat wajah panik Langit. Sejujurnya bukan itu yang mommy dan daddy khawatirkan. Mereka justru takut jika nantinya Bintang menolak dengan perjodohan kedua ini.


Karena ayah Henry memastikan jika kali ini putrinya tidak akan kabur seperti beberapa tahun silam. Namun ayah juga tidak bisa menjanjikan dan juga tidak bisa memaksa jika nantinya Bintang menolak perjodohan ini. Karena ayah memang menyerahkan semua keputusan ditangan putrinya.


" Kalau Bintang beneran kabur gimana mom?? ". Tanya Langit lirih, membuat mommy diam sesaat sebelum menjawab dan menenangkan Langit.


" Bintang sudah dewasa, Lang. Dia tidak akan kabur seperti saat kalian masih SMA. Percayalah, dia sudah tumbuh menjadi wanita dewasa yang sangat bijak. Sama seperti mu yang juga sudah berubah, Bintang juga sama... " Langit diam mencerna semua yang dikatakan sang mommy.


"Tapi Lang.. " Langit langsung menatap sang ibu dengan perasaan takut.


"Tolong dengarkan mommy.. "


"Jangan bikin aku takut mom.. " Suara Langit terdengar pelan penuh kekhawatiran. Membuat mommy menghela nafas panjang karena ia harus tetap memberitahu Langit jika apapun nanti keputusan Bintang, dirinya tidak boleh memaksa.


"Apapun nanti keputusan Bintang, kamu harus menerimanya Lang. ? Meskipun ayahnya Bintang sudah meminta Bintang untuk menerima perjodohan ini, tapi om Henry juga tetap memberikan semua keputusan di tangan Bintang. Kita hanya bisa berusaha apa yang kita mampu.. " Mommy mengelus lengan putranya dengan penuh kasih.


"Jadi apapun nanti yang Bintang putuskan, mommy mohon.. jangan paksa dia untuk mau mendampingimu. Kamu paham kan?? ". ? Meskipun mommy Sekar juga sangat menginginkan Bintang menjadi menantunya, namun kebahagiaan gadis itu juga tidak akan pernah ia abaikan begitu saja.


" Langit paham mom.. " Langit tersenyum meski terpaksa, karena itupun yang ada dipikirannya. Jika memang Bintang terpaksa, maka dirinya yang akan dengan sadar diri mundur. Sebesar apapun cintanya untuk Bintang, kalau itu tidak bisa membuat Bintang bahagia, maka dirinya akan melepaskan Bintang meski tak rela.

__ADS_1


"Kalian ini kenapa. Belum apa-apa sudah sedih, berusaha saja dulu. Hasilnya kita serahkan pada Allah saja". Ucapan sederhana daddy mampu membuat Langit kembali optimis.


Sepanjang perjalanan menuju kediaman ayah Henry, Langit tak henti merapalkan doa dalam hati. Berharap agar semuanya berjalan lancar dan ia bisa kembali bersama Bintang.


Ia juga menyiapkan hati dan mentalnya jika seandainya Bintang benar-benar menolak dan mendorongnya menjauh sejauh-jauhnya dari kehidupan gadis itu.


Dan jika itu benar-benar terjadi, maka Langit sudah menyiapkan dirinya. Ia akan pergi lagi seperti dulu, menghilang dari kehidupan gadis itu dan berjanji tidak akan pernah kembali.


Semakin dekat mobil dengan kediaman ayah Henry, jantung Langit berdetak semakin keras. Perasaan berdebar seperti seorang yang baru pertama kali jatuh cinta.


Gerbang tinggi itu dibuka lebar oleh seorang penjaga. Dan terlihat lah rumah yang dulu sering sekali ia kunjungi. Rumah yang juga menyimpan banyak kenangan didalamnya bersama Bintang.


Diteras rumah sudah berdiri ayah dan bunda, sepertinya keduanya memang sengaja menunggu dan menyambut kedatangan Langit dan kedua orang tuanya.


Turun dari mobil, Langit dan kedua orang tuanya disambut hangat oleh ayah dan bunda. Bahkan ayah dan bunda juga memeluknya setelah berpelukan dengan daddy dan mommy nya.


Ayah menepuk pundak Langit beberapa kali. Ia memberikan senyum tulusnya pada laki-laki yang ia pilih untuk kedua kalinya sebagai jodoh untuk putrinya.


"Berjuanglah sedikit lagi". Ucap ayah sambil berlalu meninggalkan Langit. Meninggalkan Langit dengan bunda.


" Bintang terluka karena kamu memilih pergi. Meskipun dia tahu alasan kepergianmu, tapi seperti itulah wanita. Jadi bunda mohon, jika Bintang mau menerima perjodohan ini, bersabarlah menghadapinya.. " Bunda tidak berubah. Wanita anggun itu tetaplah seorang wanita berhati lembut dan penuh kasih.


Langit mengangguk yakin. Mengatakan jika dirinya siap dengan apapun keputusan Bintang dan dirinya berjanji akan menjadi laki-laki yang bisa diandalkan Bintang jika masih diberi kesempatan untuk mendampingi gadis itu. Bunda tersenyum mendengar jawaban Langit. Setidaknya pemuda itu tetap sama seperti beberapa tahun lalu. Bunda percaya cinta Langit untuk putrinya tak berubah, bahkan mungkin semakin besar dan kuat.


"Apapun nanti keputusan Bintang, Langit sudah siap bun. Bahkan jika Bintang mendorong Langit untuk menjauh. Maka Langit akan melakukan nya jika itu membuat Bintang bahagia". Tersenyum meski ia yakin hatinya tak akan pernah siap.


" Dan jika Bintang mau memberi kesempatan kedua untuk laki-laki bodoh ini, jangan pernah meragukanku, bun. Bahkan jika harus bertukar dengan nyawaku sekalipun akan aku lakukan jika itu untuk kebahagiaan Bintang ". Dan apa yang ia ucapkan memang lah benar, bahkan jika harus mengorbankan nyawanya sekalipun akan tetap ia lakukan jika itu bisa membuat Bintang bahagia.


" Bunda percaya.. dan terimakasih sudah mencintai putri bunda begitu tulus".


"Langit yang harus berterimakasih bun, terimakasih sudah memberikan begitu banyak kesempatan dan kepercayaan pada Langit". Bunda mengangguk dan menepuk lembut lengan Langit beberapa kali.


" Ayo kita masuk.. " Langit mengangguk menyetujui dan keduanya berjalan bersama memasuki rumah.


...**¥¥¥•••¥¥¥...

__ADS_1


...Langsung dikasih double up ya readers.. semoga syukaaa😘😘** doakan saja semoga bisa kreji up buat readers semua😍😘😘🌹💐💐...


__ADS_2